Archive for August 28th, 2011

Dia Tidak Meminta Lahir Sebagai Orang Miskin

Pernyataan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan 60% atau 50,15 juta orang pekerja yang dibayar (karyawan) di Indonesia masih berpenghasilan rendah (Rata-rata penghasilan mereka US$ 2.284 per tahun) membuktikan hal itu. Jika setiap pekerja menanggung seorang istri dan 2 anak, maka setiap orang pendapatannya cuma US$ 1,5/orang/hari.  Secara matematis, lebih dari 75% rakyat Indonesia penghasilannya di bawah dari US$ 2/orang/hari!

(source : http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/01/04/angka-kemiskinan-di-indonesia-bertambah-3-16/)

orang miskin Dia Tidak Meminta Lahir Sebagai Orang Miskinanak ini bahkan ga tau ketika dilahirkan nasib apa yang ada dihadapnnya.

Kemiskinan di Indonesia sebenernya bukan hal yang baru, namun yang membuat miris adalah bagaimana pemerintah menanganinya. Kemiskinan bukanya berkurang, namun justru bertambah dari waktu ke waktu. Dengan segala janji manis para ParPol negara kita saat menjelang Pemilu, bahwa mereka akan memberantas kemiskinan, rupanya memang hanya janji manis. Sampai dengan saat ini yang menjadi sorotan hanyalah tindakan-tindakan yang bisa menaikan citra di mata masyarakat melalui media. Jika kita cermati, bahkan tindakan pemerintah dalam memberantas kemiskinan sendiri sangatlah minim. Tindakan yang kecil dan banyak dilakukan oleh para relawan saja langsung diliput media, seolah-oleh itu adalah perbuatan dewa padahal hanya pencitraan semata.

Bukan berarti pemerintah tidak melakukan sesuatu, hanya saja sesuatu itu tidaklah cukup. Sistem penjamin kesejahteraan di negara kita ini masih sangat dipertanyakan. Jaminan sosial, jaminan sekolah dan jaminan kesehatan saja masih menjadi misteri bagi saya. Bagi saya yang bertambah di Indonesia tidak hanya orang miskin, tapi juga orang kaya, sementara tingkat kesejahteraan masyarakat diluar golongan menengah keatas semakin dipertanyakan.

Well, alasan saya bilang bahwa orang kaya semakin bertambah adalah karena semakin padatnya jalanan di Indonesia, terutama kota-kota besar. Menurut pandangan awam saya, itu membuktikan bahwa semakin banyak orang yang mampu membeli kendaraan pribadi sendiri, membiayai bensin dan perawatan kendaraan tersebut. Dan hal ini menjadi fakta yang menjadi sebuah ironi, di negara yang tampak makmur justru kemiskinan malah merajalela. Bukanya membantu sesama, justru malah mendahulukan menambah kesejahteraan pribadi. Contohnya : korupsi merajalela. Kalau dipikir, gimana pemerintah mau ngurusin kemiskinan, kalo mereka justru sibuk untuk membuat taktik licin melakukan praktek korupsi. Haha. Ironis kan? Tidak semua memang, tapi kita juga tidak buta. Memang, kita tidak 100% menyalahkan pemerintah dan antek-anteknya, tapi kenyataannya negara yang harus menjamin kesejahteraan rakyatnya saat ini semakin dipertanyakan perannya.

So, mesti gimana ya kita? Menurut saya, jika kita mampu maka bantu orang-orang yang dekat dengan kita. Hal kecil seperti memberikan sumbangan pakaian bekas atau sekedar menyumbang bahan makanan, bagi mereka yang membutuhkan adalah suatu hal yang besar. Tidak usah banyak bersuara melalui demo dan mendesak pemerintah untuk melakukan banyak hal dalam memberantas kemiskinan, lebih baik kita memulai dari diri kita. Semakin banyak orang peduli, semakin banyak yang akan tertolong. Yuk, mari kita mulai peduli.

Tags: , ,

City of Ashes ~ Review

City of Ashes

Cassandra Clare

city of ashes City of Ashes ~ Review

City of Ashes merupakan seri kedua dari buku The Mortal Instruments yang ditulis oleh Cassandra Clare. Belem jelas buku ini akan berakhir diseri keberapa, yang jelas buku ini bisa dibilang adalah the next twilight series. Dalam buku pertama City of Bones dikisahkan bahwa Clarissa Mongerstern adalah seorang Pemburu Bayangan yang bahkan tidak tahu jati dirinya sampai dengan ia berusia 16 tahun dan terungkap dengan kejadian yang terpaksa. Ia jatuh cinta pada Jonathan atau akrab dipanggil dengan Jace yang diakhir buku diceritakan sebagai kakaknya, mereka sama-sama anak dari Valentine. Yaitu seorang musuh utama Kunci.

Di buku kedua ini diceritakan bahwa Clary dan Jace masih berusaha membiasakan diri dengan hubungan sebagai kakak-adik yang bahkan bagi mereka dan orang-orang sekeliling merupa itu merupakan hal yang aneh. Valentine masih berkeliaran dengan teror dan rencana jahatnya. Terlepas dari itu semua tiba-tiba sahabat Clary, Simon berubah menjadi vampir. Jace harus berurusan dengan Inkuisitor yang menganggap dia sebagai mata-mata Valentine. Petualangan mereka bertambah seru ketika ternyata rencana sang Inkuisitor untuk bernegosiasi dengan Valentine gagal, dan Valentine telah memanggil iblis-iblis jahat untuk menyerang para pemburu bayangan. Hubungan Jace dan Clary semakin rumit karena adanya ulah iseng sang Ratu Peri. Diatas semua itu pernyataan mencengangkan dan Ratu Peri bahwa Clary dan Jace adalah hasil percobaan Valentine : Jace memiliki bakat sang Malaikat, sementara bakat Clary adalah berkaitan dengan hal-hal tidak terucap.

Setelah saya selesai dengan buku ini : dibandingkan dengan buku sebelumnya, buku kedua ini menjadi agak membosankan, mungkin karena terlalu banyak pemaparan. Namun saat mencapai tengah buku, maka buku ini akan semakin terasa menarik. Bukan kisah romance-mystery seperti Twilight Saga, buku ini lebih menekankan pada kisah petualangan secara keseluruhan. Tidak meletakkan inti cerita hanya pada dua tokoh utama yaitu Jace dan Clary. Buku ini cukup bagus untuk terus dilahap. Saat ini saya dalam proses menggigit buku selanjutnya yaitu City of Glass. Cheers !

Tags: , , ,

sedikit cerita *sigh*

Susah banget rasanya milih kata yang tepat buat ngegambarin betapa bingungnya saya sekarang. Bingung kenapa? Bingung ngerasaain apa.

Betapa sebuah kalimat atau kata-kata yang ga sengaja kebaca bisa jadi perusak mood. Kalo diibaratkan itu kaya tolakan detik. Satu detik kita merasa baik-baik saja. Detik berikutnya dalam satu tarikan nafas (bahkan setengah) langsung jadi kesel.

Manusiawi, eh? Akhirnya berlindung lagi dibawah amandemen kemanusiawian. Ternyata sebanyak apapun waktu sudah berlalu, selama apapun kita hidup, sebanyak apapun pengalaman yang kita punya. Kesulitan yang sama selalu ada membayangi. Salah satunya adalah menjaga perasaan dan bereaksi terhadap sesuatu.

Belum tentu itu tentang kita
Sesuatu yang kita baca dan tiba-tiba menjadi perusak mood nomor satu itu belum tentu ditujukkan untuk kita. Tapi karena kita membuat asumsi satu pihak tanpa menuntut penjelasan, jadi merasa bahwa hal tersebut untuk kita. Dan akhirnya jadi ngedumel sendiri. Shhh.. inginnya terus positive thingking, tapi sulit bahkan untuk hal yang kecil..

#curhat

elsi tresandi putri sedikit cerita *sigh*

Tags: , ,