Better early than late. But waiting is still suck.

Itulah sedikitnya yang beulang kali suara jahat di kepala saya bisikan. Menunggu memang selalu jadi hal yang paling saya benci. Tapi menunggu bukan berarti tanpa makna. Ketika menunggu biasanya kita sibuk dengan gadget kita. Supaya ga kelihatan mati gaya, atau kalo ga sibuk baca buku, sementara otak terus berputar memikirkan seribu cara terbaik itu ‘memutilasi’ pihak yang ditunggu. Istilahnya emosi sesaat, belum lagi menyiapkan mental untuk menerima kenyataan kalau-kalau yang ditunggu justru ga dateng. zzz..

Tapi aktivitas favorit saya ketika menunggu adalah (selain merancang seribu skenario ‘pemutilasian’ atau merangkai kata repetan) melamun. Mungkin orang-orang disekeliling saya akan melihat dengan heran atau justru itu sebenarnya adalah pikiran kita sendiri ‘merasa diperhatikan’ padahal who carese, anyway? Saat menunggu ada santuary sendiri sebenarnya. Contohnya ketika pikiran kita berkelana sendiri tanpa ada interupsi, kita memikirkan banyak hal. Salah satunya adalah : mungkin inilah yang orang lain rasakan ketika kita membuat mereka menunggu. Hey, tanpa disadari kita pun pasti pernah membuat orang lain menunggu. Dan sebagian dari mereka mungkin tidak cukup lapang untuk menunggu dengan sabar seperti kita. Jadi saya berusaha menepatkan posisi saya di ‘sepatu orang lain’ dan ini adalah keadaan saat kaki saya diinjak oleh orang lain, sakit. Berarti itu pula yang dirasakan oleh orang lain.

Dari situ terbersit sebuah pemikiran bahwa saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk tidak membuat orang lain menunggu. Menunggu (apalagi sendirian) itu terasa seperti seabad. Banyak pikiran negatif melintas, marah, merusak mood, dan banyak lagi. Kenapa mesti merusak mood seseorang hanya karena selisih lima menit? Itu bahkan tidak baik untuk kesehatan kita. J

waiting wa i ting