Satu dari sedikit pengalaman traveling yang gue inget adalah liburan bareng ke Yogyakarta di bulan Januari 2012 lalu. I was very excited that time. Why? Simply. Gue jarang bahkan ga pernah traveling tanpa adanya pengawasan orang dewasa, well, maksud gue cuma gue dan teman-teman sebaya, apalagi jarak jauh seperti Bandung-Yogyakarta. But, we did it. And here the story of our Yogyaventure.

img00990 20120112 1917 300x225 20.00

Chronicles of Yogyakarta

20.00 adalah jam keberangkatan yang tertera di tiket keberangkatan Bandung-Yogyakarta kami. Tepat pukul 18.00 kami berenam (gue, Reza, Icus,  Andy, Tides dan Indi) sudah berkumpul di stasiun Bandung pintu timur. Bukannya memang niat kepagian, tapi kami berniat makan malam bersama  sebelum menempuh perjalanan delapan jam menuju Yogyakarta. Suasana stasiun sendiri saat itu ramai, sepertinya memang selalu ramai dan ini adalah  kali keempat gue naik kereta dalam rentang 20 tahun hidup gue. Setelah makan malam, ngobrol ini-itu dan perpisahan yang tidak terlalu mengharukan  dengan para pengantar (well, kami kan hanya pergi 3 hari, dan ke Yogya pula) akhirnya tepat pukul delapan malam kereta pun berangkat menuju  Yogyakarta. Perjalanan malam, artinya tidak banyak pemandangan yang disajikan diluar jendela kereta sana. Akhirnya, cara terbaik menghabiskan  malam adalah dengan sedikit obrolan dan tidur. Beruntung kami berada di kereta kelas eksekutif, sehingga masih bisa tidur cukup enak dalam perjalanan  panjang tersebut.

First day of Yogyaventure

427412 3215146666312 1495685873 33249040 822011209 n 300x225 20.00

Lost in Stasiun Tugu

4.00 kereta sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta. Masih pagi buta, mau jalan keluar pun dipastikan masih sepi, sementara pihak yang menjemput kami baru datang di tengah hari. Akhirnya kami mendamparkan diri di salah satu pojokkan Stasiun Tugu, tepatnya pelataran mesjid stasiun, sambil menunggu pukul 06.00 saat penitipan barang buka, dan kami bisa menitipkan barang bawaan tersebut sampai tengah hari. Lagi-lagi obrolan ringan dan candaan menyela pagi kami, disertai tidur-tidur ayam. Banyak yang bisa diamati di stasiun tersebut. Bahkan sepagi itu suasananya sudah ramai dengan pendatang atau penjemput, pedagang makanan, dan petugas-petugas stasiun. Tepat pukul 05.00 untuk pertama kalinya gue merasakan mandi di stasiun. Seru, buru-buruan, yang jelas sensasinya beda. Ini s t a s i u n. Gue udah berasa pelarian aja yang gapunya tempat berteduh (agak berlebih :p).

429976 3215173226976 1495685873 33249072 1108731202 n 300x225 20.00

Breakfast at Malioboro

Pukul 06.00 pun datang, ditemani cahaya pagi yang masih mengintip malu-malu. Kami pun menitipkan barang bawaan kami, dan memutuskan untuk menjelajah Malioboro sepagi itu. Keluar dari Stasiun Tugu yang letaknya bersebelahan dengan kawasan Malioboro, kami langsung disambut dengan keramaian, bukan keramaian khas Malioboro diwaktu penuh dengan wisatawan, tapi keramaian pagi hari. Malioboro masih lenggang dari rentetan kendaraan atau turis, tapi mulai ramai dengan para pedagang yang sudah mulai menjajakan dagangannya sepagi itu. Berjalan sepelan mungkin menyusuri Malioboro sambil mencari sarapan, tentunya toko-toko sendiri belum buka saat itu. Sebisa mungkin merengkuh pemandangan Malioboro dilenggangnya pagi itu.

393794 3215211427931 1495685873 33249101 2124959654 n 300x225 20.00

UGM, I Love You

Dari Malioboro sekitar pukul 07.00 kami memutuskan untuk mengunjungi Universitas Gadjah Mada, kalo liat di googlemaps, Yogyakarta bukan kota yang terlalu besar, tapi tetap saja dari Malioboro menuju ke UGM terbentang jalan yang panjang. Saat itu kami naik angkutan sejenis busway (TransYogya) dari halte Malioboro, dan turun tepat di pelataran UGM. Menghabiskan waktu sepanjang pagi menuju siang mengelilingi UGM, dan lagi-lagi kulineran sekitar UGM. Harga makanan di Yogyakarta ini cukup mencengangkan, dengan harga miring, porsi yang ditawarkan banyak. Gimana ga ketagihan coba, jarang banget di Bandung nemu makanan enak, murah porsinya banyak. Hehe.

Dari UGM, kami kembali ke Malioboro dengan tujuan Stasiun Tugu, untuk mengambil barang dan menunggu jemputan. Tepat pukul 12.00 kami pun dijemput menuju LPP Garden yang letaknya di dekat  bandara. Dari hotel, kami dibawa ke Rumah Makan Lestari, disana kami bertemu dengan peserta liburan lainnya, ada sekitar 40 orangan setelah di jumlah-jumlah. Seru pokoknya, makan barengan, satu penginapan kayanya diisi kami semua. Hehe. Dari RML tadi, kami kembali ke penginapan dan menghabiskan malam disana, dengan menjelajah isi hotel dari mulai berenang di sore hari, sampai pesta barbeque di malam hari (yang terpaksa dipindah ke pelataran hotel karena hujan mengguyur).

Second Day of Yogyaventure

RAFTING. MAGELANG.

397313 3215422313203 1495685873 33249202 1166011661 n 300x225 20.00

Amazing Magelang

Itu dia agenda utama hari kedua di Yogyakarta itu. Sepagi yang dimungkinkan setelah malamnya begadang, gue dan teman-teman lainnya siap untuk menuju Magelang, untuk rafting iya rafting. Gue yang main arung jeram Dufan aja pegangan masih super kenceng mau rafting beneran di sungai beneran. Amazing. Kami masuk ke dua bis yang sudah disediakan, lalu memulai perjalanan Yogyakarta- Magelang. Jaraknya ga terlalu jauh, selain itu karena untuk pertama kalinya gue ke Magelang, akhirnya sepanjang jalan buka mata liat kanan-kiri, kebetulan hari itu hari agak kelabu, bahkan beberapa waktu diiringi hujan rintik. Kesan gue selama menempuh jarak Yogyakarta-Magelang ini adalah kota ini bersih, sepi dan seolah masih tidak tersentuh pembangunan modern, maksud gue adalah dengan intesitas mall yang memadari berbagai kota besar, Yogyakarta-Magelang ini masih bisa mempertahankan keasliannya, keunikannya dan daya tariknya terhadap wisatawan, jauh dari ingar-bingar apalagi reputasi kota ‘gaul’ modern. Di pinggiran jalan terdapat toko-toko kecil oleh-oleh atau sekedar toko kerajinan, bangunan-bangunan yang berjajar pun kebanyakan masih jauh dari kesan modern, apalagi saat memasuki Magelang, suasananya hampir seperti desa yang udah lama ga ditemuin.

Setelah satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di Magelang. Kami berhenti di meeting point rafting, dari situ kami berganti pakaian dan dibawa ke start point rafting dengan menggunakan mobil kecil, karena jalanan yang menanjak dan agak sempit serta parkir terbatas disebelah sungai. Nama sungai itu adalah sungai Elo, letaknya di desa Pare, Kabupaten Magelang. Pertama langsung gue cek keadaan sungai, ini sungai beneran, lebar, airnya coklat, batu disana-sini, kiri-kanan rimbun tanaman, pengamatan singkat memutuskan yang kebayang adalah tempat syutingnya Anaconda jauh di Kalimantan sekarang, saking stressnya gue sempet-sempetnya mikir ada buaya, anaconda atau apa gitu, tapi akhirnya cuma bisa pasrah.

img01045 20120114 1247 300x225 20.00

A-Team

Sebelum memulai rafting kami dipersenjatai pelampung, helm, dan dayung serta pengarahan singkat mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama rafting. Termasuk cara-cara menghadapi panik kalo misalkan terlempar dari perahu (gue do’a paling kenceng). Dan dimulailah rafting tersebut. Jarak yang ditempuh sekitar 12 KM dengan satu rest area, dipertengahan jalan, waktu yang diestimasi adalah 2,5-3 jam. Selama rafting gue cukup terpesona dengan asrinya daerah sungai tersebut, pinggiran sungai dipadati rimbunan pohon, dan kadang di kejauhan terlihat rumah penduduk yang masih sangat sederhana, khas-khas desa. Andai saja saat itu gue ga tegang karena takut terlempar dari perahu, gue pasti sangat menikmati pemandangan tersebut, apalagi udara segar bebas dari polusi yang dihirup sepanjang perjalanan. Kami mengambil rafting untuk pemula, sehingga katanya (menurut guide) rintangan dan rutenya tidak terlalu sulit (hmpfh), tidak jarang diantara pohon gue liat ada biawak ngintip atau ular menampakan diri. Perjalanan selama tiga jam akhirnya selesai, akhirnya kami sampai di garis finish.

img01046 20120114 16541 225x300 20.00

A Girl w/ Dragon Tatoo

Dari Magelang kami dibawa kembali ke Malioboro. Kali ini disore hari, Malioboro benar-benar berbeda dengan suasana pagi waktu itu. Kata pertama yang terlintas adalah padat. Padat oleh kendaraan yang terparkir di pinggiran jalan, becak dan juga manusia. Dimulailah perjalanan menyusuri Malioboro di sore itu, berjuang menembus padatnya manusia dari satu toko ke toko lain, ga jarang sampai bertabrakan dengan beberapa diantaranya saking padatnya. Saking padatnya gue sampe kurang menikmati acara belanja dan jalan-jalan sore itu. Akhirnya gue menemukan satu gelaran di depan sebuah toko, disitu penjaganya yang bernama Tejo (katanya) menawarkan untuk menggambar tatoo temporari, well, why not? Sambil beristirahat sejenak gue pun akhirnya setuju untuk ditatoo dengan harga yang cukup murah yaitu Rp 25.000 untuk satu tatoo berukuran sedang. Bisa dibilang gue kurang menikmati sore di Malioboro sore itu saking padatnya, ini bukan liburan kalo masih harus berjuang menembus lautan manusia, tapi kebetulan hari itu adalah hari Sabtu, dan gue berusaha menghibur diri, mungkin besok Malioboro tidak sepadat hari ini. Akhirnya gue kembali ke hotel tanpa membeli buah tangan apapun.

Third Day of Yogyaventure

edit2 300x200 20.00

We are The Champhion

p1150238 300x225 20.00

The Art of Kopi Joss

Last day. Dari hotel kami langsung diantar ke Malioboro, kebanyakan karena akan pulang dengan menggunakan kereta ke kota asal masing-masing. Sementara gue (sementara teman-teman Bandung lainnya sudah pulang jadwal siang) dan beberapa teman mendapatkan jadwal kereta malam, akhirnya menghabiskan waktu sepanjang hari untuk menjelajahi Maliboro (lagi) yang ternyata masih sama padatnya dengan hari  sebelumnya. Kali ini gue mulai dapet mood untuk belanja, lagi-lagi tercengang dengan murahnya harga barang-barang disana. Pernak-pernik, oleh-oleh, makanan gue beli semampu memungkinkan dibawa, pantes aja rame, harganya murah, penjualnya ramah, barangnya beragam. Selain itu meskipun ramai, sebenarnya memang banyak yang ditawarkan sederhananya Malioboro. Kami mengunjungi Mirota, House of Raminten dan beberapa toko lainnya. Malamnya kami berkeliling untuk makan di angkringan, namanya adalah Kopi Joss, lagi-lagi makan murah dengan porsi yang memuaskan. Meskipun udara Yogyakarta tidak bisa dibilang adem, tapi karena masih jauh dari ‘terinfeksi’ polusi, udara disana cukup segar, warganya ramah, kotanya yang masih sepi. Yogyakarta gue rasa kota yang tepat untuk nanti menghabiskan hari tua.

Tepat pukul 22.00 kami kembali ke Stasiun Tugu, saat itu kereta gue dijadwalkan berangkat pukul 11.15. Sementara dua teman lainnya mendapat kereta pukul 00.00 jurusan Malang. Dengan kombinasi percaya diri, memberanikan diri, dan lelah setelah seharian bisa dibilang ‘jalan’ tepat pukul 11.15 saat ada kereta datang, gue pun naik ke kereta tersebut. Setelah beberapa lama sampai di tempat duduk sesuai tiket datang seorang bapak mengatakan itu tempat duduk beliau. Tepat saat gue siap mendebat dengan mengeluarkan bukti tiket kereta, teman gue (GENTHONK) masuk ke kereta dan berteriak “ENDAH, KERETA KAMU BELUM DATENG, INI KERETA YANG SALAH”. Gue pun dengan kombinasi malu, bingung cepat-cepat merapihkan barang langsung keluar dari kereta bahkan tanpa sempat minta maaf pada bapak tersebut (maluuuuuu). Ternyata selidik punya selidik kereta gue jurusan Bandung telat, dan tadi gue hampir aja kebawa ke antah berantah. Sendirian. Thanks to my saviour. Bisa dibilang liburan singkat gue itu ditutup dengan tragedi hampir salah kereta. Akhirnya baru pukul 01.00 kereta gue (dan bener) tiba di stasiun, dengan penuh syukur gue naik kereta menuju Bandung. Bye, Yogyakarta.

Well, overall, penutupan tadi ga bikin gue kapok untuk kembali ke Yogyakarta lagi. Yogyakarta dengan sepinya, ramahnya, dan murahnya harga-harga disana menjadi pilihan baik untuk liburan, selain itu ga mesti melulu keliling Yogya-nya aja, tapi tempat-tempat sekitar Yogya. Disana ga perlu gengsi untuk jalan kaki, jarak jauh pun ga akan terlalu kerasa, dengan banyaknya yang bisa dilihat dan dinikmati. Mungkin suatu hari, dimasa tua nanti gue akan kembali kesini, untuk menetap. Well, who knows? :p