Satu momen di Sabtu Petang.

Ada satu tempat yang jadi favorit gw untuk didatangi tiap lagi pengen sendiri. Bertempatkan di salah satu mall yang sebenernya cukup ramai, namun di tempat ini selalu agak lebih sepi. Menawarkan pemandangan keluar dengan jendela super lebar, duduk di pojokkan dengan secangkir teh chamomile hangat, iPod, laptop dan koneksi internet, maka dimulailah pula ritual berpikir. Kata orang sih ini sama aja dengan menggalau, padahal heyy bukan, ini cara gw untuk bisa berpikir, jauh dari orang-orang yang dikenal, berada di tempat asing dan secara diam-diam bisa merhatiin orang-orang yang lalu lalang depan jendela. (yah kadang ada sih acara galaunya dikit)

Seperti sore ini, letak mall yang cukup jauh dari rumah gw, jadi perjuangan sendiri untuk sampai di tempat ini sore ini. Macetnya Bandung yang luar biasa, yang hari ini entah kenapa jadi Lautan Manusia dan Kendaraan. Fuuh…kata syukur pun terbisik saat menginjakkan kaki di tempat ini. Pelayan yang sama untuk tiga bulan terakhir, tampaknya dia udah hafal kalo gw kesini selalu sendiri, pesan yang sama, duduk di tempat yang sama (kalo beruntung – dan sayangnya sore ini gw ga seberuntung itu), juga diam untuk waktu yang lama, kadang Cuma buat ngelamun atau ngeliatin orang diluar.

Dateng kesini berarti gw butuh tempat buat berpikir.

Banyak banget hal yang bikin kepala gw rasanya sesek banget akhir-akhir ini. Dari mulai jet-lag status baru, dari mahasiswa jadi job-seeker (gw menolak dibilang job-less), kemudian tekanan dari sana-sini, pertanyaan ini-itu, keinginan gw-orang tua dan banyak lagi. Rasa-rasanya akhir-akhir ini segala sesuatu ga berjalan dengan semestinya. Seperti biasa gw bikin list hal-hal apa yang mesti gw pikirin lebih dulu sampai dengan akhir, ga nyangka lumayan panjang juga daftarnya. Setelah ada list itu gw pun berusah berdamai dengan tiap poin. Yup, berdamai, karena pada akhirnya penyelesaian didapat apabila sudah melewati suatu proses, sementara gw saat ini hanya berpikir yup berpikir.

Secara ga disadari tampaknya gw merasa tertekan.

Sadar ga sadar dengan menyandang status baru sebagai seorang sarjana, itu menambah tekanan, tuntutan dan harapan orang-orang atas apa yang harus gw hasilkan, atas apa yang gw lakukan. Diluar mungkin gw terlihat fine-fine aja, padahal di dalem segala sesuatu gw selalu pikirin (yeah, i’m a thinker). Berasa ga ada break, time-out atau sejenisnya. Sementara gw sendiri sulit untuk punya pegangan. Akhirnya gw pun kadang merasa tertekan dan frustasi sendiri, meskipun dengan segala daya upaya selalu gw tekan sampai batas minimum. Terbiasa ‘menerima’ tuntutan orang, dan jarang protes bikin orang sekeliling gw berpendapat bahwa gw mampu, tapi kadang gw pun punya limit dan cape, hanya saja kadang gw pendem sendiri, ngeluh dikit sama orang terdekat tapi sisanya tetep gw tanggung sendiri. Sampai di satu point batas gw bener-bener abis, dan cape.

Akhirnya gw pun berdamai dengan rasa ‘cape’.

Setelah berpikir (lebih banyak ngelamun) gw akhirnya menemukan titik dimana gw bisa berdamai dengan rasa cape yang akhir-akhir ini kayanya hobi banget ngegelayut. Ada satu saat dimana gw ngeliat keluar kaca, diluar situ ada seorang Ayah, dan dua orang anaknya yang masih kecil, ga terlihat keberadaan sang Ibu. Saat gw berusaha untuk jadi sang Ayah, gw pun sampai pada kesimpulan bahwa pasti beban dia lebih berat daripada gw, yang sampai dengan saat ini batas tanggung jawab adalah mengurusi diri sendiri. Disitu gw pun berpikir bahwa sebenarnya rasa cape yang gw rasakan adalah karena gw membebankan terlalu banyak hal sama pikiran gw sendiri dengan tidak sadar. Bukan tuntutan, keinginan atau pertanyaan orang lain, tapi pikiran gw sendiri yang membuat segalanya terasa berkali-kali lipat lebih berat buat gw.

Saat sampai pada penjelasan itu, gw menarik nafas dalam, sekali lagi ngeliat keluar, nyeruput minuman gw yang dingin (gara-gara kelamaan dianggurin) dan akhirnya balik lagi ke daftar gw. Saat gw berdamai dengan rasa cape itu, justru gw merasa damai juga dengan masalah lainnya. Karena intinya ada disitu, kamu merasa cape ketika kamu ngerasa beban kamu itu terletak seluruhnya dipundakmu. Padahal selalu ada orang lain untuk berbagi. Termasuk para silent-readers.

Well, Tuhan punya skenarionya, punya rencananya, usaha dan tunggu suatu saat pasti ada jawaban buat setiap pertanyaan yang mampir hari kemarin, sebelumnya, hari ini dan bahkan detik ini. Ketika jawaban itu ada pasti dalam keadaan gw sudah siap. Mungkin ini bagian dari ujian-Nya, saatnya gw naik kelas.

Lagi-lagi liat keluar, akhirnya malam pun perlahan menyapa, hiruk-pikuk kota Bandung di malam hari mulai terasa (makin padat?WHAT?) iyalah ini SABTU. Setelah menulis sepenggal kisah (labil) ini gw rasa makin tenang, saatnya kembali lagi ke rumah, tempat dimana gw selalu bisa ‘pulang’ dengan nyaman. Tempat dimana gw merasa aman. So, guys, buat kalian yang lagi banyak pikiran (nyari temen seperjuangan) kalian pasti punya caranya masing-masing untuk ‘berdamai’. Nah, cara gw yaaa ini, diem sendirian, bahkan ketika sekeliling gw menawarkan keramaian, berpikir dan akhirnya menulis. Ciao.

xoxo *kissonthecheeks*, Readers

Tags: , ,