Sebuah percakapan kecil ngelantur sana-sini dengan seorang teman diwaktu makan siang yang ternyata kecepetan. Bertempatkan di sebuah cafe yang menawarkan suasana playful, bikin betah dan pesan lagi dan lagi (makanannya). Random sih tapi ini dia penggalan-penggalan diantaranya:

R : lo pernah diselingkuhin?

E : nope. Tapi dibohongin pernah, mungkin rasanya ga jauh beda kali ya? Lo pernah?

R : gw pernah selingkuh….dan juga diselingkuhin.

E : ….well, i’ll not judge you. (i try)

R : selingkuh itu seperti candu. Sekali lo nyoba, sekali lo ga ketauan, sekali lo dimaafin, lo bakalan tertarik buat nyoba lagi.

E : …….

….jujur gw bukan seorang yang bisa memaafkan dengan mudah ketika dibohongi atau secara umum disakiti. Dan menurut gw selingkuh adalah salah satu hal yang tabu dalam sebuah hubungan. Gw sangat menghargai kesetiaan. Tapi seiiring dengan bertambahnya kisah, cerita, dan pengetahuan (halah), gw memutuskan selalu ada alasan dari dua sudut cerita. Jangan langsung menghakimi, dengarkan, baru dari situ bentuklah pendapat. Dan jangan dengarkan cerita dari orang ketiga, keempat atau sederhananya orang lain, tapi dengarkan dari tangan pertama, tanpa bumbu. Lebih mudah menepatkan diri sebagai korban, tapi sesekali cobalah berpikir seperti pelaku. Pada akhirnya semua itu bergantung pada satu hal, pilihan (diri sendiri).

in the other topics…

E : *sigh* I think I’m in love.

R : then you’re not in love

E : what?

R : if you’re really in love, you’re not think. You just simply…feel it.

….suddenly i know he is right. Too much thinking makes that feel unreal, too much doubt, then the conversation between both of you will not as comfort as before. Then you’ll find the feeling is gone. Suddenly, isnt love, its only hemm…well, just a feeling. Thats it.

in the other topics…

R : gw pengen balik ke Jakarta tadinya, tapi dasar sial, yang demo bikin ketar-ketir.

E : fuuh…Mama juga gitu, kemaren liat berita, dan langsung nyuruh ade gw ga kuliah, gw disuruh ga jalan-jalan. Udah jelaskan siapa yang seneng, siapa yang nelangsa.

R : mereka cuma pengen didengar, diperhatikan.

E : gw mungkin ga pernah ikut demo, tapi bukan berarti ga peduli, cuma kadang ada kalanya terlalu banyak ngomong bikin cape, akhirnya lebih baik diam.

R : yup. Sama kaya kalo lagi pacaran terus berantem, kalo udah ga didenger, diam itu pilihan paling ideal yang ditawarin.

E : tapi kan lo jomblo

R : lo juga, dan gw bilang kan andai (sambil lirik ga santai)

E : well,….haha

R : harusnya yang demo dikasih maicih level 10. Supaya mereka pindah demo ke WC. WC PERTAMINA.

E : …………….

….disitu juga akhirnya gw memutuskan sudah waktunya bagi dia untuk Jum’atan, berharap dia bisa selesai dengan kepala yang lebih jernih. Satu lagi siang dihari yang antara mendung dan panas terlewati, bersama seorang sahabat dan percakapan yang meninggalkan banyak hal untuk…dipikirkan (dan diungkapkan dalam tulisan).

Friday, March 30th 2012

Xoxo, *kissonthecheeks*, Readers