Buku. Kisah. Cerita. Tokoh. Alur. Skenario.

Membaca.

Kadang setelah selesai membaca sebuah buku, novel atau cerita saya suka bengong sendiri. Antara masih berada dalam cerita atau terlalu terkesima dengan isi buku tersebut (novel sih biasanya). Tidak jarang pula, jika sebuah novel begitu menarik, setebal apapun akan sulit bagi saya untuk berhenti membacanya, seolah-olah jika berhenti maka kisah tersebut akan gantung ga jelas, sampai terbawa mimpi. Disituasi lain, kadang saya merasa menjadi salah satu tokoh dalam kisah novel tersebut. Entah karena ada kesamaan alur ataupun ada penggalan cerita dari novel yang saya baca memang pernah saya alami.

Bagi sebagian orang mungkin hal tersebut terdengar aneh, tapi itulah yang sering saya rasakan, bahkan ketika saya membaca Harry Potter, kadang saya merasa menjadi bagian dari cerita tersebut, menempatkan diri saya sebagai salah satu dari sekian banyak tokoh dalam cerita tersebut. Yap, memang jatohnya kaya mengkhayal, apa yang akan terjadi jika sekolah sihir itu benar-benar ada? *sigh* itulah yang kerap terjadi saat saya membaca novel, cerpen atau apapun yang membawa saya ke alam imajinasi tanpa batas, mengilustrasikan rangkaian kata dalam benak saya. Itulah alasan lebih suka novel dibanding komik dan teman-temannya.

Well, tapi bukan itu yang ingin saya bagi. Pagi ini dalam endahsjournal.tumblr.com saya memposting sebuah kalimat yang entah kenapa tiba-tiba terlintas tanpa stimulus (atau mungkin terstimulus secara tidak sadar):

“….kujadikan buku sebagai kitabku. Menyimpan setiap alur cerita yang tertulis tanpa rencana” – endah”

Yap. Novel kadang menjadi panduan sendiri bagi saya untuk mengenal suatu masalah, merasakan apa yang dirasakan suatu tokoh dalam cerita membuat saya lebih mengerti tentang banyak hal, berusaha melebur dengan cerita yang saya baca. Pada akhirnya saat mengalami suatu situasi yang terasa mirip dengan cerita yang pernah saya baca, tidak jarang saya mencari novel atau cerita yang saya baca tersebut, kemudian membacanya kembali. Bagi saya novel-novel tersebut atau cerita-cerita tersebut adalah buku pintar atau …kitab.

Saya mungkin memang bukan penulis, saya hanya hobi menulis. Tapi berdasarkan apa yang saya rasakan, menulis itu membutuhkan inspirasi, dan inspirasi bisa berasal dari mana saja. Hal yang paling dasar, inspirasi itu berasal dari hal-hal yang berada di sekitar kita, termasuk pengalaman, baik itu pengalaman si penulis, teman atau bahkan orang lain. Namun, seperti sinetron atau film, meskipun ada unsur imajinasi penulis, namun yang ditumpahkan di dalamnya adalah sebuah konsep realita yang mungkin terjadi pada hidup seseorang….diluar sana.

 buku. kisah. tokoh. baca.

So, bukan tanpa alasan dan landasan, ketika menghadapi suatu situasi saya kadang merasa familiar dengan keadaan tersebut, karena saya pernah membacanya. Namun, tentu saja kisah tersebut hanya dijadikan sebagai suatu referensi, karena meskipun situasi serupa, tapi realita tetap tidaklah sama. Tokoh yang diciptakan oleh si penulis, karakternya dibentuk oleh si penulis, sementara saya adalah saya, dengan karakter saya. Hanya saja dengan membaca kisah tersebut, pikiran saya merasa lebih terbuka. Ini sama dengan mendapatkan pengetahuan kan? So, memang benar kalo banyak baca itu membuka jendela dunia, termasuk baca novel, meskipun kisah di dalamnya hanya fiksi, tapi ditulis berdasarkan pengetahuan yang ada, malah kadang ilmunya lebih random. Hehe.

*tulisan kali ini bener-bener random

Xoxo, *kissonthecheeks*, Readers

Love

Tags: , ,