Pernah gak.

Kamu dateng ke satu tempat. Asing. Tapi kamu merasa familiar dengan tempat itu.

Kamu ketemu orang yang belum kamu kenal. Tapi kamu merasa dekat.

Iseng-iseng duduk nunggu jemputan, merhatiin rantai pembatas. Entah kenapa kepikiran analogi. Ya, lagi-lagi analogi. Hidup itu seperti lingkaran. Satu dan yang lainnya saling terkait bagai rantai.

Kamu mungkin kenal si A, kemudian tanpa sengaja kamu cerita tentang si X yang ternyata adalah Y-nya si Z yang merupakan ini-nya si A, kemudia ada B yang ternyata ini-itunya XYZ. Lucu ya. Satu sama lain punya cerita berbeda, tapi sumbunya sama. Ada satu kaitan, ada rantai.

Kemudian hari setiap hari berlalu, awalnya hanya satu lingkaran. Kemudian mereka bertautan, membetuk rantai yang lebih kompleks. Seperti kromosom, DNA manusia. Mungkin dulu saat belajar matematika kita mengenal berbagai persamaan, sederhananya Y=a+bx, secara ga sadar logika matematika bisa juga dijadikan analogi dalam kehidupan nyata. Dalam lingkaran tak terputus juga dalam tautan rantai hidup kita. Namun, lingkaran itu belumlah (hampir) sempurna.

gc058e (tanpa judul)

Seiring dengan berlalunya waktu, kita melakukan perjalanan, tidak hanya diam dalam satu lingkaran itu saja, kita berusaha membangun rantai atau terpaksa. Kita harus datang ke suatu tempat asing dan bertemu dengan orang-orang baru yang asing. Kemudian semua menjadi agak tidak asing. Sama sekali tidak asing. Dan akhirnya menjadi lingkungan nyaman yang membuat kita merasa tidak asing. Satu lingkaran baru terbetuk. Awal dari tautan rantai selanjutnya.

Dua kaki ini berpijak di bumi. Entah skenario Tuhan akan membawanya kemana. Satu hal yang jelas, saya punya lingkaran, saya punya ujung rantai. Disana dia punya lingkaran, punya ujung rantai satu lagi. Entah dia siapa, tapi suatu hari dua ujung rantai akan terpaut, membentuk satu lingkaran rantai (hampir) sempurna. Mungkin itulah saat takdir (saya dan dia) bertemu. Mungkin saat itulah disatu titik: lingkaran saya akhirnya utuh.

Senin, 16 April 2012.

Sebuah catatan tanpa judul

Sebuah imajinasi tanpa pagar

Endah

Tags: ,