Dear Ladies, did you know: Recent studies have shown that the heart grows weaker, everytime we do something opposite of how we feel #randomsources

Then, lets take a look to ourselves. Have you ever did some of things below here:

#1st

A : Kamu kenapa?

Kamu : Engga koq ga apa-apa

Padahal jelas kamu lagi ‘kenapa-kenapa’, hanya saja kamu berharap orang tersebut (apalagi si penyebab kamu kenapa-kenapa) ngerti bahwa kamu itu sebenernya ada apa-apa. Well, bingung? Gw juga. Tapi denial itu sering banget kita lakuin. Padahal simple-nya sih langsung aja sih ngomong, supaya komunikasi lancar terhindar dari tebak-menebak, atau lebih parah: ga nyadar akhirnya malah kita yang lebih bete. Ngomong gampang sih. Hehe.

#2nd

A : Kamu mau kita kemana?

Kamu : Terserah

Ada beberapa kemungkinan, antara kamu udah cape berdebat, udah tau hasilnya akhirnya keputusan dia yang diambil atau kamu pengen dia tau sebenernya kamu mau kemana tanpa harus nanya. Kamu pengen dia inisiatif. Ironisnya, dia itu bukan mind-reader probabilitas dia tahu kamu kemana itu ibarat nyari jarum di tumpukan jerami. Hehe.

#3rd

A : Kamu marah ya sama aku?

Kamu : Engga koq, biasa aja

Padahal sesungguhnya kamu marah. Bener-bener marah. Tapi ya booo ngerti dong ah marah gara-gara siapa. Nah, sayangnya lagi pikiran orang itu beda-beda, beberapa sangat simple. Begitu kamu bilang ga marah, yaudah that’s it.

#4th

A : Kenapa manggil? Kangen ya?

Kamu : Idih, apasih. Nyapa doang kali.

Padahal sebenernya IYA KANGEN. Cuma gengsi menang, atau nyadar diri kamu bukan di posisi yang boleh kangen, atau kalo iya bilang kangen ntar ge er lagi. CK! Serba salah emang, tahan harga harus, bilang engga takut fatal, bilang iya siapa gw. Mungkin itu kali ya yang ada di pikiran kalian (gw, lo) pas ketemu situasi di atas.


Well, cukup contoh empat situasi di atas. Pernah ngerasain beberapa? Atau jangan-jangan sering semuanya lagi #EH. Nah, itu adalah bentuk komunikasi yang ga baik, kenapa? Karena inti dari pesannya sama sekali ga sampai, atau samar, dan akhirnya timbul kesimpulan berdasarkan dugaan. Akhirnya receiver bereaksi tidak sesuai yang diharapkan, dan justru akhirnya malah menimbulkan kesalah pahaman. Ulangi lagi skenario di atas, dan akhirnya…ga berujung. Sampai kamu bilang apa yang sebenernya kamu pengen, kamu rasain, kamu tuju. SUSAH. BANGET. Iya emang, apalagi buat cewe, kadang muter dulu ke brazil buat sampai di Bali. But, hey, ini 2012, malu ah sama Kartini kalo masih pake bahasa zaman Siti Nurbaya. Even not straightly to the point, at least, give him or them the code more clearly. Bukan Cuma satu atau dua kata. Alternatif lainnya adalah give a clear body language, yang ini agak susah kalo komunikasinya ga tatap muka, tapi cobalah dengan menggunakan kata-kata yang ga biasanya, atau kata-kata bermakna ambigu. DO IT. Komunikasi itu penting, tapi lebih penting lagi adalah berpikir sebelum melakukan komunikasi, ketidakjelasan sedikit aja bisa berakibat sedikit fatal, fatal atau bahkan sangat fatal. Think before you talk, act and react. Ciao.

…tapi memang ada kalanya, ketika kata, tak lagi jadi penjelas makna, diam itu jadi bahasa yang bisa dimengerti.

Tags: ,