satu dari sekian malam yang akhirnya dua sahabat bisa bertemu dan saling berbagi cerita dan melalukan percakapan kesana-kemari yang berujung tidak pada ujung, tapi pada awal percakapan baru yang entah kapan akan terlaksana (dengan kesibukan masing-masing). satu malam dihari rabu, malam yang akhirnya bintang datang, bulan akhirnya bersinar.

enam bintang dan satu bulan. berada di pelukan langit malam, tidak kelam tapi terang. hangat tidak dingin seperti malam sebelumnya. ini hanya malam biasa, seperti seribu malam sebelumnya, ini juga malam luar biasa, ketika akhirnya busur dan panah kembali saling berbagi cerita.

P: As i grow up, dunia ini udah makin ga kaya filmnya Charlie Caplin, item-putih-abu-abu. Makin sini makin kaya pelangi, warnanya banyak. Tapi yang terang bikin silau, ga nyaman. Pas mata udah biasa, baru deh enak diliat. Suka atau engga.

E: I know, i hate growing up. I’m just like a spoiled baby. Tapi semenjak nginjek 20, makin banyak hal yang gw liat yang bikin ga nyaman, ngehela nafas, tapi mau ga mau harus adaptasi. Pilihannya survive atau jadi korban evolusi diri *sigh

P: Haha…bahasa lo kaya ahli sejarah banget sih. Nih ya, jangan sampe gw keluarin bahasa kedokteran.

E: Iya deh yang bentar lagi dokter. ELAH!

P: Kerja itu cape?

E: Cape dijalan sih iya. Haha. Dibilang cape engga, cuma gw ngerasa waktu gw makin sempit. Rutinitas 8 am till 5 pm. Ngulang lagi hal yang sama. Kurang letupan. Untung gw masih bisa nyambi ngerjain hobi, nulis random atau sekedar baca e-book buku online. KOAS gimana?

P: Belajar tanggung jawab. Selama ini gw belajar dari buku. Praktek ga semudah teori. Gw juga lebih menghargai hidup, seharian di RS membuka mata gw dengan berbagai kejadian yang mungkin aja berakhir fatal. Bukan hanya yang meninggalkan, tapi gw banyak ngeliat saat-saat orang berdebar, atau berduka saat ditinggalkan.

E: Mungkin itu esensi dari beranjak dewasa kali ya. Mata kita dibuka pada fenomena-fenomena yang belum pernah kita liat, akan kita alami atau sederhana aja seenggaknya kita tahu. *sigh

P: Tuh, sekarang lo tau kan kalo idup itu ga seenak fairy tale yang suka lo tonton atau seindah novel yang lo baca. (JLEB)

E: 20 tahun, bentar lagi gw 21. I want a steady boyfriend someday, someone who i count on, run to, hold on, share to. Gedean dikit gw mau tunangan, abis itu nikah. Tapi ga ada yang tau kan ya rahasia kedepannya gimana, sama siapa, kaya apa. Pengen punya mesin waktu.

P: Emang most of girls itu kaya lo kali ya, cita-cita paling tinggi nikah, hidup kaya fairy tale.

E: Thats why, we need a man to keep us on the track, logical ones. Because most of my species using their heart more than the brain. Haha.

P: Kata siapa cewe doang? Cowo juga kalo udah urusannya sama hati sih tetep aja logika dibelakangin. Cuma karena kita tidak menghasilkan estrogen sebanyak kalian, kita lebih statis. Ga dinamis.

E: Berat amat bahasanya.

P: Ini tuh satu malem, kita bisa ngobrol ngaler-ngidul. Jarang-jarang kan?

E: Haha iya.. satu malam, enam bintang, satu bulan.

P: Dangdut lo !

E: …………………… !

\Users\Toshiba\AppData\Local\Temp\msohtmlclip11\clip image002 enam bintang, satu bulan, selimut malam

Mungkin kira-kira gitu sih, isi obrolan sana-sini kita tadi malem. Diantara banyak obrolan entah kenapa yang ini rasanya berat banget. Dan saat akhirnya merebahkan badan di tempat tidur pun, esensi dari penggalan obrolan tadi pun masih saja menari di dalam pikiran yang tidak terbatas ini. pertanyaan demi pertanyaan, jawaban atau setidaknya pernyataan damai dengan berbagai pertanyaan tadi bermunculan. Sampai akhirnya jatuh ke alam mimpi, dilindungi oleh alam bawah sadar, sampai mentari menjelang, dan tepat disore hari ada keinginan untuk berbagi penggalan dialog ini. J

Tags: ,