“…cinta itu sesuatu yang asing. aku hanya tau sayang. lebih membumi. meskipun tanpa garansi. tapi akhirnya kembali. (pada satu hati) disuatu hari.” -endah”(source: endahsjournal.tumblr.com)

ada yang bilang jatuh cinta itu awal dari merasakan sakit, yang artinya kamu akan bertambah dewasa seiring dengan proses jatuh cinta itu sendir. Berdasarkan buku Manusia Setengah Salmon – Raditya Dika disana dianalogikan jika kamu sudah pernah merasa sakit, maka artinya kamu bertambah dewasa. Seperti proses tumbuhnya gigi. Tapi ini bukan kisah tentang tumbuh gigi, ini kisah tentang definisi sederhana jatuh sayang, bukan cinta, karena sampai sekarang (seperti tulisan sebelum-sebelumnya) saya ga ngerti cinta itu apa. Ini satu cerita dari cerita-cerita lainnya, cerita yang kalo ini sinetron, masih ada season selanjutnya, tapi penulis skenario memilih untuk menulis cerita untuk sinetron lain terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

Jadi dia ini seseorang, disana, bukan disini. Awalnya kenal hanya saling tahu. Lalu karena perkembangan teknologi semua mulai berkembang, tumbuh perlahan. Diawali dari tuker-tukeran pin bbm (awal-awal Cuma say hi), follow mem-follow twitter sampai saling temenan di FB. Sampai suatu saat setelah berbulan-bulan tahapan sekedar saling tahu, diawali dari bertanya tentang sesuatu, berkembang jadi obrolan sulit diakhiri via bbm (yuph, memang ngobrol via bbm ini susah banget diudahinnya), sedikit demi sedikit meningkat jadi akrab. Lalu tiba-tiba dari akrab sebatas teman, mulai berani saling ejek, dari saling ejek, berantem, debat-debat (meskipun topiknya ga penting), we’re looks like tom and jerry. Dibilang PDKT bukan, dibilang HTS juga bukan, dibilang sahabat (ga rela), dibilang ade-kaka-an juga engga, apalagi dibilang pacaran (ga ada komitmen). Akhirnya ini hanya ini, saling nyaman iya, saling perhatian oke (meskipun lewat gaya slengeean), saling curhat (meskipun kadang gengsi dan pilih-pilih topik), saling ejek, sering. Sekilas kami sahabat, di bagian lain kami ade-kaka, diujung lain kami musuh abadi, disatu saat kami bisa juga lovey-dovey. Tapi kenyataannya kami tidak berlabel.

Sampai akhirnya titik jenuh (bukan jenuh, tapi kesal) itu datang. Situasi diam di tempat, menuntut pada suatu kepastian, bertanya gengsi, akhirnya diam dan ambil jalan putar arah. Saling menjauh, sampai masing-masing punya label dengan orang lain, sama sekali bukan saling melabeli. Bahkan dia lebih dulu (ya, dia). Tapi kami kembali lagi pada situasi lama, saling menyapa, saling bercerita, saling mengejek, saling menjatuhkan, saling memberi support, saling kangen, tapi saling diam, namun tetap saling mengucap tanpa tersurat hanya tersirat. Tapi disatu sisi kami tidak saling bercerita tentang label masing-masing dengan yang lainnya, sadar, tapi tetap saling diam. Seolah-olah kami berada dalam balon, isinya hanya kami. Tahu tentang satu dengan yang lainnya, tapi saat berdua, kami saling mengingkari. Intinya hanya kami dan kami.

ljs heart11 semu itu meramu

Bedanya, saya merasa sakit hati. Sakit hati ketika tahu dia dengan yang lain, tanpa cerita terlebih (padahal kami dekat, bukan?), sakit hati ketika sadar mungkin ini hanya disatu sisi, sisi saya, sakit hati ketika saya sendiri memilih menjauh, dan dia menjauh. Saya sadar saya main hati. Lalu saat kami kembali pada kami yang dulu (dengan segala batasannya), semua sakit hati itu seolah ga pernah ada. Tapi saya ga lupa dengan sakit hati itu, sampai saya teringat satu penggalan percakapan……..

“…..kalo lo disini juga, gw milih lo kali ndah”

Satu pernyataan iseng, bermakna ambigu, namun dari situ ada kesimpulan. Ini masalah jarak. Jarak yang sebenarnya hanya ditempuh dengan 2 jam. Namun ini tetap masalah jarak. Bagi dia. (mungkin juga sebenarnya bagi saya)

Cerita lama, terasa baru. Itu kali ya yang disebut situasi semu. Entah maunya gimana, jalanin yang ada. Tapi dari pengalaman tersebut saya banyak belajar. Belajar memahami, belajar menghargai. Mungkin ini bukan jalan kami, tapi ini cerita kami. Berada disatu situasi semu ini sangatlah menyebalkan, menguras tenaga, dan juga olahraga hati. Tapi akhirnya punya cerita, pengalaman untuk dibagi. Meskipun banyak sakit hati, tapi cerita bahagianya juga lebih banyak. Satu sih yang pasti, dulu waktu saya ngalamin situasi ini, banyak pertanyaan seandainya. Banyak hal ga tersampaikan karena gengsi, takut, akhirnya menyisakan lebih banyak rasa penasaran. So, buat kamu yang mungkin berada dalam situasi yang sama, say it anything you feel, before the time is running, you lost the moment, then you endlessly questioning.

*tulisan ini dalam rangka meramaikan Euforia menulis tentang Euforia Jatuh Cinta. Tapi ini bukan cerita cinta, ini hanya cerita saya, tentang dua, dua insan, dan pilihan. *cheers

Tags: , ,