Mata bulat polos yang bening itu menatap tanpa dosa. Meskipun jawaban yang keluar kadang sederhana, tapi disana ada suatu realita dan sesuatu yang masih belum tersentuh oleh ‘pengetahuan’ lebih jauh mengenai dunia. Itulah yang terjadi jika kita bercakap-cakap dengan anak kecil. Kadang saya rindu dengan masa-masa itu. masa ketika kita tidak banyak takut, hanya keingin tahuan yang membuncah begitu hebat untuk mengenal lebih jauh mengenai dunia. Saat lebih dewasa, lebih banyak mengenal intrik yang ada dalan kehidupan sosial, maka dunia pun tidak seaman dulu.

Jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam ruang pikir yang terbatas pun tampak tidak memerlukan jawaban rumit yang berbelit. Dulu, jawaban sederhana adalah jawaban terbaik yang langsung dipercaya tanpa harus menuntut penjelasan lebih jauh. Polos. Putih.

Namun, pada akhirnya kita harus tumbuh dewasa, merasakan asam-manis dunia. Membuka diri pada realita, dan berusaha berdamai dengan realita itu sendiri, dengan cara kita sendiri. Hidup milik kita, hanya satu, tanpa tombol pause, stop, rewind ataupun fast forward. Setiap harinya adalah hadiah (dan mungkin kutukan) tapi itu adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan, hal terbaik yang bisa kita lakukan? Menjalaninya.