Archive for July 22nd, 2012

bisik-bisik tetangga #2 (2)

(yuk dilanjut bisik-bisiknya, mumpung udah buka :p)

Dengan kemungkinan reaksi seperti itu, meskipun sifatnya para followers atau penikmat twitter ini tidak terikat dengan hubungan pribadi, pertemanan berdasarkan pertemuan, tapi tetep aja ngenes kalo ampe dicela (meskipun pake no mention) orang kan? Tiap kali baca, ngelus dada kali ya. Nah, untuk itulah siap mental jadi syarat utama buat terjun ke dunia SocMed apalagi kalo emang mau ditekuni *tsah. Belum lagi harus kuat iman dalam nyari bahan untuk ditulis, untuk akun yang bersifat informatif sih bisa manfaatkan buku atau internet, nah kalo untuk akun-akun gombal, nyeleneh, pepatah atau curhat itu kan agak butuh kreatifitas untuk menjaga standar. Kenapa kuat iman? Ya, jangan ampe tergoda melakukan dosa copas mungkin kali ya. Meskipun sebenernya, menurut gw legal-legal aja selama isi twit tersebut ga di copyright, iya ga? Tapi ya itu tadi sanksi social (dari warga Twitterland) yang lebih kejam daripada ibukota, nyerang mental, pertanyaannya siap ga kalo ketauan? Sekali lagi, menurut gw itu beban. Harga yang harus dibayar untuk bisa jadi terkenal. Itupun terkenal sebagai the man behind specific twitter’s account, bukan sebagai pribadi kamu sendiri, dengan prestasi tertentu. Yaa gitu deh. Beban.

Masih belum beres nih, lanjut ntar yaa posting selanjutnya. Malam sudah datang, sudah saatnya saya berdialog malam dengan mimpi dan bintang. Night, readers. Xoxo.

Tags: ,

bisik-bisik tetangga #2 (1)

Previously about bisik-bisik tetangga #1 visit this link #mce_temp_url# :p

Oke nah, setelah jadi selebtwit, ada satu efek tersendiri buat si empunya akun. Ada tuntutan tidak tertulis bahwa mereka bisa menghasilkan tweet-tweet yang tetap disukai, informatif atau menghibur pengikutnya. Itu kan jadi tekanan tersendiri untuk si penulis dibalik akun tersebut, kalo untuk kita-kita para rakyat biasa dengan jumlah pengikut yang seadanya, be your self, share everythings that cross your mine are fun, buat mereka si empunya akun mungkin jadi ada tekanan tersendiri. Pertama, harus sesuai dengan imej akun yang memang sudah dikenal luas. Dua, tiap hari, tiap menit, yang baca ‘hasil karya 140 kata’ mereka itu selalu memantau, tidak semua, tapi sebagian dari mereka pasti melihat, dan tidak jarang berkomentar. Ada yang sekedar meng-RT, komen positif dan yang ngenes ya yang komen negatif. Beban sih kalo menurut gw pribadi, ruang gerak jadi lebih terbatas, tiap gerak-gerik *tulisan* selalu dipantau, oleh orang-orang yang ga dikenal, dan berkomentar pun pasti tanpa merhatiin ‘perasaan’. Namanya juga ga kenal personal, dan dunia maya, ga tatap muka, komentar dikit, banyak yang dukung eh akhirnya adu nyolot muncul deh istilah TWITWAR *ups yang ini ntar kita bahasnya ya.

So, positifnya punya banyak followers itu kalo kamu butuh nanya sesuatu atau ada yang ga kamu tau, kamu bisa post di twitter dan ta-da bala bantuan berupa mention dari orang-orang yang lebih tau akan muncul bak ibu peri. Sebagian mungkin ada yang ga serius, but most of all they’re help so much. Belum lagi kalo kamu punya followers setia, kalo lagi keluh kesah bisa dapet banyak simpati, lumayan jadi penghibur lah ya.

Ada positif ada negatif juga dong, nah disini nih saat-saat mental kamu diuji. Siapkah Anda dengan segala konsekuensi SocMed? Siapkah mental Anda dengan kemungkinan hujatan/selaan masal yang mungkin timbul? Oke, misalkan si akun selebtwit tadi ngetweet yang ga penting dan ga keren, level dada tiarap dari apa yang biasanya muncul di twit mereka, misalkan: aduh sakit perut. Biasanya ini akun ngetweet soal sesuatu yang serius, misalkan pepatah-pepatah cinta. Kalo tiba-tiba muncul twit kaya barusan, ada dua kemungkinan reaksi para warga twitterland: satu, simpati (kemungkinan besar dari followers setia tadi), kedua, yang nyela, mungkin seperti ini: elah. Ga sekalian pengen pup ditwit? Atau elah gitu doang ditwit. Yups. Reality bites. Kalo twitnya bagus diRT, giliran nyeleneh dikit dicela. Tega. Pake bahasa yang jleb. Itu mending reaksinya Cuma gara-gara twit nyeleneh, nah ini misalkan ada kasus copas? Bisa ampe diunfollow plus report as spam, belom lagi diomongin setimeline. Kuatkan hati ya (kaya kasus baru-baru ini gitu deh, salah satu selebtwit diomongin [cela] masal *baru banget malah, kemaren malem).

bentar kita pending dulu lanjutannya *nyeruput susu sapi*

Tags: ,

bisik-bisik tetangga #1

Ungkapan “dunia itu kejam”“ibu kota lebih kejam dibanding ibu tiri” itu sudah biasa. Sekarang dunia social media pun ternyata ga tanggung-tanggung dalam menunjukkan kekejamannya. Dunia maya yang notabene para peserta interaksi tidak bertemu pandang secara langsung namun tetap bisa berinteraksi bisa menyebabkan berbagai reaksi. Ada positif tentunya ada negatif. Selalu ada dua kutub berlawanan untuk segala sesuatu. Betul?

Twitter. Wuih siapa sih yang ga kenal sekarang dengan social media yang berlogo burung biru itu? Sebagian besar pengguna internet pasti tahu SocMed satu itu. Nah, awalnya twitter ini dijadikan semacam microblogging, orang-orang bisa ‘nulis’ sepanjang 140 karakter tentang apapun yang melintas dalam pikiran mereka, dan dishare kepada para folllowersnya. Nowadays, twitter banyak dijadikan tempat ‘beriklan’ entah itu produk atau ‘mengiklankan diri’. Nah, salah satu akibat dari proses ‘mengiklankan diri’ tadi banyak akun twitter non-artis/tokoh-tokoh tertentu yang memiliki followers berjibun, beribu-ribu bahkan ratusan ribu. Entah karena isi tweet mereka yang memang kreatif, lucu, galau atau serius dan menotivasi. Munculan akhirnya istilah “selebtwit”From nothing be something, hanya dari share kata-kata atau cerita, ga jarang curhat juga. Ga sedikit dari para selebtwit ini akhirnya bisa mengeluarkan buku, entah itu kumpulan tweet-tweet mereka, atau memang ternyata mereka berbakat menulis dan akhirnya menghasilkan buku yang kebanyakan ga jauh-jauh dari ‘cerita mereka’ yang sering muncul di tweet harian.

Dengan adanya ‘tradisi’ promosi akun yang dikenal dengan #FollowFriday maka para selebtwit ini makin banyak yang nge-follow, ga jarang karena satu sama lain saling mempromosikan, akhirnya para followers pun bertambah. Penikmat dari sharing kata-kata mereka makin banyak. Ga jarang bahkan si pemilik akun ini ga kita kenal, hanya melalui ‘katanya’ kira-kira kita akan tahu tentang si pemilik akun, atau kalo emang super kepo yaaa ampe di googling deh nama si pemilik akun. Bahkan beberapa akun tetap dalam keadaan anonim. “Pemilik” akun atau disini lebih tepat disebut admin akun tersebut tetap dalam status ga dikenal. Hal yang kita tahu adalah tweet mereka worth to read.

So, orang dibalik akun tersebut terasa semu (makin semu maksudnya, di dunia maya kan semua serbu semu *tsah). Belum tentu apa yang mereka share adalah memang diri mereka, tulisan mereka bahkan belum tentu menunjukkan karakter mereka, bisa saja mereka men-tweet sesuai dengan karakter akun tersebut atau karena permintaan pasar (hal-hal yang lagi trend, semacam galau gitu, yang banyak disukai oleh followers). Kebanyakan dari akun ini biasanya memiliki karakter tetap, yang menunjukkan isi tweet mereka, jarang yang random, meskipun ada beberapa. Tapi toh hal tersebut fine-fine aja untuk para followers. Hal yang followers tahu adalah tweet mereka enak dibaca, sesuai dengan mereka atau bagi yang butuh hiburan yahhh tweet mereka itu cukup menghibur.

So, kenapa nih gw ngebahas itu semua? Diawali dari dunia twitter yang disinyalir lebih kejam dibanding dunia nyata (katanya), seleb tweet dan juga karakteristik dari tweet dan followers, gw ingin membahas tentang…..ntar ya dilanjut dipostingan kedua. Hehe.

Tags: ,