Ungkapan “dunia itu kejam”“ibu kota lebih kejam dibanding ibu tiri” itu sudah biasa. Sekarang dunia social media pun ternyata ga tanggung-tanggung dalam menunjukkan kekejamannya. Dunia maya yang notabene para peserta interaksi tidak bertemu pandang secara langsung namun tetap bisa berinteraksi bisa menyebabkan berbagai reaksi. Ada positif tentunya ada negatif. Selalu ada dua kutub berlawanan untuk segala sesuatu. Betul?

Twitter. Wuih siapa sih yang ga kenal sekarang dengan social media yang berlogo burung biru itu? Sebagian besar pengguna internet pasti tahu SocMed satu itu. Nah, awalnya twitter ini dijadikan semacam microblogging, orang-orang bisa ‘nulis’ sepanjang 140 karakter tentang apapun yang melintas dalam pikiran mereka, dan dishare kepada para folllowersnya. Nowadays, twitter banyak dijadikan tempat ‘beriklan’ entah itu produk atau ‘mengiklankan diri’. Nah, salah satu akibat dari proses ‘mengiklankan diri’ tadi banyak akun twitter non-artis/tokoh-tokoh tertentu yang memiliki followers berjibun, beribu-ribu bahkan ratusan ribu. Entah karena isi tweet mereka yang memang kreatif, lucu, galau atau serius dan menotivasi. Munculan akhirnya istilah “selebtwit”From nothing be something, hanya dari share kata-kata atau cerita, ga jarang curhat juga. Ga sedikit dari para selebtwit ini akhirnya bisa mengeluarkan buku, entah itu kumpulan tweet-tweet mereka, atau memang ternyata mereka berbakat menulis dan akhirnya menghasilkan buku yang kebanyakan ga jauh-jauh dari ‘cerita mereka’ yang sering muncul di tweet harian.

Dengan adanya ‘tradisi’ promosi akun yang dikenal dengan #FollowFriday maka para selebtwit ini makin banyak yang nge-follow, ga jarang karena satu sama lain saling mempromosikan, akhirnya para followers pun bertambah. Penikmat dari sharing kata-kata mereka makin banyak. Ga jarang bahkan si pemilik akun ini ga kita kenal, hanya melalui ‘katanya’ kira-kira kita akan tahu tentang si pemilik akun, atau kalo emang super kepo yaaa ampe di googling deh nama si pemilik akun. Bahkan beberapa akun tetap dalam keadaan anonim. “Pemilik” akun atau disini lebih tepat disebut admin akun tersebut tetap dalam status ga dikenal. Hal yang kita tahu adalah tweet mereka worth to read.

So, orang dibalik akun tersebut terasa semu (makin semu maksudnya, di dunia maya kan semua serbu semu *tsah). Belum tentu apa yang mereka share adalah memang diri mereka, tulisan mereka bahkan belum tentu menunjukkan karakter mereka, bisa saja mereka men-tweet sesuai dengan karakter akun tersebut atau karena permintaan pasar (hal-hal yang lagi trend, semacam galau gitu, yang banyak disukai oleh followers). Kebanyakan dari akun ini biasanya memiliki karakter tetap, yang menunjukkan isi tweet mereka, jarang yang random, meskipun ada beberapa. Tapi toh hal tersebut fine-fine aja untuk para followers. Hal yang followers tahu adalah tweet mereka enak dibaca, sesuai dengan mereka atau bagi yang butuh hiburan yahhh tweet mereka itu cukup menghibur.

So, kenapa nih gw ngebahas itu semua? Diawali dari dunia twitter yang disinyalir lebih kejam dibanding dunia nyata (katanya), seleb tweet dan juga karakteristik dari tweet dan followers, gw ingin membahas tentang…..ntar ya dilanjut dipostingan kedua. Hehe.