(yuk dilanjut bisik-bisiknya, mumpung udah buka :p)

Dengan kemungkinan reaksi seperti itu, meskipun sifatnya para followers atau penikmat twitter ini tidak terikat dengan hubungan pribadi, pertemanan berdasarkan pertemuan, tapi tetep aja ngenes kalo ampe dicela (meskipun pake no mention) orang kan? Tiap kali baca, ngelus dada kali ya. Nah, untuk itulah siap mental jadi syarat utama buat terjun ke dunia SocMed apalagi kalo emang mau ditekuni *tsah. Belum lagi harus kuat iman dalam nyari bahan untuk ditulis, untuk akun yang bersifat informatif sih bisa manfaatkan buku atau internet, nah kalo untuk akun-akun gombal, nyeleneh, pepatah atau curhat itu kan agak butuh kreatifitas untuk menjaga standar. Kenapa kuat iman? Ya, jangan ampe tergoda melakukan dosa copas mungkin kali ya. Meskipun sebenernya, menurut gw legal-legal aja selama isi twit tersebut ga di copyright, iya ga? Tapi ya itu tadi sanksi social (dari warga Twitterland) yang lebih kejam daripada ibukota, nyerang mental, pertanyaannya siap ga kalo ketauan? Sekali lagi, menurut gw itu beban. Harga yang harus dibayar untuk bisa jadi terkenal. Itupun terkenal sebagai the man behind specific twitter’s account, bukan sebagai pribadi kamu sendiri, dengan prestasi tertentu. Yaa gitu deh. Beban.

Masih belum beres nih, lanjut ntar yaa posting selanjutnya. Malam sudah datang, sudah saatnya saya berdialog malam dengan mimpi dan bintang. Night, readers. Xoxo.