Thirty minutes to midnight and I still wide awake. So, what can I do? Write something.

Kata orang Jakarta itu macetnya kebangetan, bikin stress dan kemungkinan darah tinggi meningkat. Well, gue ga akan berusaha membantah, emang iya.

Katanya Jakarta itu tebal dengan polusi, megah dengan gedung pencakar langit, dan padat dengan bangunan merayap. Ini pun ga akan gue bantah, emang iya.

Jakarta, ibu kota negara kita. Entah sejak kapan mulai naik daun dengan segala reputasi dari keluhan warganya, tapi tetap saja banyak harapan digantungkan disana, terutama taraf hidup dan karir yang lebih baik. Harapan. Dibalik semua reputasi ‘negatif’ Jakarta, terangnya harapan seolah menjadi nilai seimbang bagi kota yang tidak pernah minta ‘dilahirkan’ untuk jadi ‘ibu’ ini.

Well, gue punya sisi lain dari kilaunya Jakarta ini. Seperti halnya mata pedang, jendela ataupun tambang, ada dua sisi memandang Jakarta, dan gue, ditiga puluh menit menjelang tengah malam akan sedikit berbagi satu petualangan di Jakarta, pusat dari segala pusat (negara Indonesia).

Here there are…

Satu masa di bulan Maret saat salah satu festival Jazz paling besar di Indonesia dilaksanakan, gue dengan keberuntungan yang jatuh dari planet Venus sana, memenangkan tiket gratis untuk menonton tiga hari berturut-turut plus akomodasi. Akhirnya satu hari sebelum festival dimulai, dengan gagah berani, gue yang di Bandung aja masih nyasar memberanikan diri untuk pergi seorang diri ke Jakarta, untuk pertama kalinya. Untuk kemudahan itu gue harus mengucapkan terima kasih pada pencetus usaha travel, jarak Bandung-Jakarta dengan mudah dipangkas, terima kasih juga kepada abang ojeg yang udah jemput dari pool travel di daerah Kemanggisan (yang baru hari itu gue tau letaknya dimana).

Malam pertama gue nginep di kosan Mba Putri, daerah Slipi. Bahkan saat itu pun mata si anak Bandung ini sudah terpesona pada Jakarta. Jakarta di waktu malam begitu….lenggang. Entah memang daerah Slipi saat itu sedang lowong, atau memang malam itu gue keluar pada waktu orang-orang sudah jauh menembus macetnya Jakarta di tempat lain. Tapi menurut gue, Jakarta ga ‘semacet’ itu saat malam menjelang.

goldenboutique 23.30

Golden Boutique Hotel

Saat tiba hari pertama menjelang festival Jazz tersebut digelar, gue dan para pemenang lainnya diantar ke hotel Golden Boutique, Jl. Angkasa No. 1, Jakarta Pusat. Bahkan saat menempuh perjalanan kesana dari bilangan Slipi pun bisa dibilang tidak terjebak macet yang santer dibicarakan orang, atau entah, memang sang Venus masih menaungi gue dengan anugerah keberuntungan. Satu hal yang berbeda dengan macetnya Bandung, menghadapi macet di Jakarta, kesabaran bertarung berbagai arah, selain menghadapi antrian kendaraan yang (seolah) tidak berujung, juga cuaca yang panas. Sepanas-panasnya Bandung, masih ‘adem’, di Jakarta? Well, definisi ‘adem’ mesti diperluas dengan menambahkan AC di bagian belakang uraian kalimat penjelas.

Festival Jazz yang konon dikenal luas dengan Java Jazz 2012 tadi dilaksanakan di daerah Kemayoran, tepatnya di JIEXPO, perjalanan dari hotel menuju venue terbilang singkat, karena jaraknya yang memang sengaja diatur tidak terlalu jauh. Disini kami berangkat sore hari menjelang pembukaan festival tadi, yang bisa dilihat? Banyak. Jakarta sama dengan kota-kota lainnya, pinggiran jalan diisi dengan pedagang kaki lima, jalanan diisi dengan segala macam kendaraan, ada manusia diantara keramaian, mencoba cara kuno memangkas jalan dengan berjalan kaki. Perbedaan paling mencolok adalah tinggi dan besarnya gedung yang mengelilingi jalanan tadi. Rangkaian gedung pencakar langit seolah tidak ada habisnya, juga lebarnya jalan yang jika dibangun di kota lain pastinya sudah jadi solusi macet, tapi kita kan bicara tentang Jakarta. Macet itu tradisi (katanya).

Tiga hari selama festival berlangsung, perjalanan yang akrab adalah hotel-JIEXPO. Akhirnya dihari terakhir gue menghubungi salah seorang teman, dan (dengan sedikit memaksa) mencapai kesepakatan untuk ‘kabur’ dimalam ketiga Java Jazz tersebut, yang kebetulan jatuh pada hari Sabtu (malem minggu). Saat itu yang terbayang adalah macetnya Jakarta. Kalo di Bandung, biasanya Sabtu itu adalah hari saat macet bertahta sebagai raja. Apalagi saat dijemput di daerah parkiran JIEXPO antrian kendaraan sangatlah padat.

But, suprisingly, sehabis keluar dari JIEXPO jalanan justru lancar. Benar-benar lancar. Ini bisa dibilang terpesona bagian dua. Dari JIEXPO itu kami sempat berputar-putar sambil berdiskusi ‘akan

img 20120303 013761 225x300 23.30

at JIEXPO

kemana’. Akhirnya karena gue satu-satunya yang bukan asli warga ibu kota di mobil itu, cuma ngikut aja saat dibawa ke salah satu jalan tempat (katanya sih) pempek paling enak berada. Pempek tersebut masih berada dibilangan Jakarta Pusat tepatnya di daerah Tosari. Well, rasa pempeknya sendiri yah…sama aja kaya pempek biasa.

425270 10150724394679363 594024362 11468338 1403224974 n 300x225 23.30

taman pramuka w/ bramantyo

Dari daerah Tosari kami pun kembali berkeliaran dimalam Jakarta. Saat itu waktu menunjukkan pukul 22.30 malam. Dari JakPus kami menuju ke daerah Taman Lawang, karena menurut para tour guide gue saat itu, belum berkunjung ke Jakarta kalo belum ke Taman Lawang (hmpfh). Dalam perjalanan kesana gue diajak ngelewatin daerah Menteng, ditunjukkin sekolahan Obama, tempat bikin video klip Vidi Aldiano (semacam glass house) dan akhirnya TL. Dari Taman Lawang, yang ternyata gue cuma diajak muter, liat ‘penampakan’ dan ditunjukkin rumah penjabat, gue pun dibawa ke daerah Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Disana, kami berhenti disalah satu kios kecil, warung kopi. Sejenak melepas lelah tertawa yang mengisi sepanjang perjalanan. Luar biasa dari Jakarta Pusat – Menteng – Taman Lawang – Jakarta Timur, kami bahkan tidak bertemu dengan makhluk yang namanya macet. Dan jujur gue terpesona dengan Jakarta diwaktu malam. Begitu tenang, meski jauh dari sunyi, dan taburan lampu di gedung-gedung pencakar langit menjadi subtitusi dari hamparan bintang yang biasa ditemukan di langit malam. Jakarta malam itu seolah begitu…jinak. Setelah waktu menunjukkan pukul 00.00 akhirnya gue kembali diantar ke hotel. Dan selama perjalanan, gue ga bisa ngelepas pandangan dari jalanan Jakarta diwaktu malam, yang entah bagaimana sudah berubah, sulit gue kenali, meskipun sudah beberapa kali ke tempat ini atau itu diwaktu siang. Dan itu bukan kali terakhir gue menikmati sisi lain Jakarta.

420927 231016616995364 100002610829420 464680 2126785242 n 300x225 23.30

w/ Redbuzz crew

Di hari kelima gue di Jakarta, gue mendapat undangan untuk dateng ke kantor Redbuzz, saat itu gue sudah kembali ke daerah Slipi, tapi belum mau  pulang, karena rasanya masih kurang ‘menelanjangi’ Jakarta. Kantor Redbuzz sendiri berada di daerah Palmerah, Jakarta Barat. Dari Slipi sih ‘katanya’ deket, tapi gue percayakan ukuran dekat-jauh itu pada Abang ojeg langganan baru gue, Bang Angga. Berangkatlah kami sekitar pukut 12.30 dari Slipi ke Palmerah. Asyiknya Bang Angga, tanpa gue minta, dia selalu menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati, gedung The Jakarta Post, Kompas, bahkan Pasar Palmerah, sampai akhirnya kami sampai di gedung Cahaya, Palmerah Timur. Gue menghabiskan siang sampai dengan petang, berkeliling dalam gedung yang ternyata meskipun terlihat kecil dari luar tapi punya pesonanya sendiri. Rooftop. Tempat dimana gue dan teman-teman bisa memandangi Jakarta ‘sedikit’ lebih jauh dari ketinggian. Dan gue pun sekali lagi terhenyak, Jakarta itu…luas, besar, dan yahh..megah. Gue jadi bertanya-tanya, butuh berapa tahun untuk gue nantinya bisa mengenal Jakarta sampai dengan bagian paling kecil dan paling jauh?

Well, sorenya, gue diajak ‘cari makan’ yang artinya makan beberapa kali, di beberapa tempat. Tujuan pertama adalah es krim Ragusa. Gue yang memang pengen banget es krim karena gerah dengan cuaca Jakarta senang bukan main.

ragusa 300x225 23.30

penampakan ragusa

Es krim Ragusa sendiri berada di Jalan Veteran, tempatnya kecil, tapi ramai. Apalagi dengan berbagai es krim homemade yang disediakan disana, dengan citra rasa yang termasuk unik. Perjalanan dari Palmerah ke Jalan Veteran lagi-lagi tanpa macet (mungkin si Venus masih minjemin keberuntungan). Gue pun lagi-lagi memandang jalanan luas diwaktu twilight. Statiun Gambir disebelah sana, Tugu Tani disini, gedung ini-gedung itu, satu persatu dari mereka memberikan gue penjelasan tempat-tempat yang kami lewati.

Lagi-lagi mungkin kebetulan, hujan turun saat kami sampai di Ragusa, membuat suasana kian ‘hangat’ dengan gelak tawa, untaian canda menunggu hujan reda. Gue pun memandangi keseluruhan Ragusa, bangunan tua yang sudah dipugar, dengan beberapa arsitektur dan gaya lama yang dipertahankan, foto-foto awal Ragusa dan sekeliling Ragusa sendiri. I felt like home. Ada tempat begini di Bandung and that just felt the same being there for a momment.

Setelah agak lama, kami melanjutkan perjalanan, mengejar tempat makanan berat, hujan masih mengguyur Jakarta dan itu kembali membuat kota yang tangguh dan seolah tak tertebus diwaktu hujan, tampak sendiri saat malam, terlebih saat hujan Jakarta seolah…ditinggalkan. Sepi meskipun tetap jauh dari sunyi dan gelap. Selalu ada laju kendaraan dan binar lampu dimana-mana. Dari jalan Veteran kami menuju daerah Cikini. Sampailah diperempatan Cikini, tepat didepan McD ada tempat makan, lebih besar dari warung, tapi terlalu biasa jika dibilang rumah makan, dikenal dengan sebutan bubur Cikini. Sedikit kedinginan (yang awalnya gue rasa ga mungkin, ini kan Jakarta), akhirnya kami memesan makanan hangat, melihat keluar jalanan dari jendela yang terbuka, gue melihat kota ini mungkin sepi saat hujan dan malam, tapi tidak mati, selalu ada orang-orang yang bahkan saat malam menjelang, tetap berkeliaran untuk urusannya masing-masing.

Diantara rintik hujan, melalui sebuah jendela kecil, gue melihat bahwa Jakarta, sekalipun orang berkeluh kesah hidup di dalamnya, memang menawarkan harapan. Harapan itu juga yang membuat orang-orang ini tetap ‘menghidupkan’ Jakarta, ada disana, di jalanan, saat malam, saat hujan, menyeret langkah demi langkah demi mimpinya, demi harapannya. Satu gelak tawa dan potongan canda membawa gue kembali ke warung bubur tadi. Tapi satu hal yang terlintas sebelum itu adalah, gue juga ingin berada disini, dan meraih mimpi gue, sepenuhnya gue sadar gue terpesona dengan Jakarta melalui perjalanan singkat itu. Gue biasa melihat Jakarta dari sisi matahari, tapi dua perjalanan gue dengan teman-teman ini mengajarkan gue untuk melihat dari sisi bulan. Jakarta yang reputasinya hampir (meskipun masih jauh) mendekati Gotham City, sudah membuat gue jatuh cinta, kota ini memesona dengan caranya sendiri.

jakarta night view 300x225 23.30

Jakarta, diantara lampu pengganti bintang

* Well, itu tadi sedikit dari perjalanan absurd gue ke kota yang meskipun sudah sekian banyak gue kunjungi, baru gue sadari pesonanya. Gue menulis ini di thirty minutes to midnight and now thirty minutes after midnight gue siap membagi ini buat kalian, readers, xoxo.