Archive for September, 2012

240912

24 September 2012

tumblr lqj9vkU1qi1qajjdco1 500 240912

Akhirnya setelah hampir lima bulan menjalani proses yang lapisannya lebih banyak dibanding kue rainbow cake, tepat pukul 16.30 kemarin gue dapet kepastian dipinang oleh salah satu bank terbesar di Indonesia. Hal yang cukup random adalah, pertama kali gue menginjakkan kaki di bank yang tempat pendidikannya berada di daerah Slipi itu di bulan Maret 2012 lalu, menemani dua orang teman, yang salah satunya baru saja menjalani seleksi masuk di bank tersebut. Tidak pernah terpikir bahwa nantinya, enam bulan kemudian, justru gue akan menjadi salah satu bagian dari perusahaan tersebut. Komentar pendek gue saat itu hanya: “wah, gede ya bangunannya”. Mungkin ini yang dinamakan dengan rahasia dan jalan Tuhan. Jatuh, bangun, masa-masa menunggu yang seolah ga ada akhir, pada akhirnya terbayar. Akhir bulan Oktober nanti gue akan pindah ke Jakarta untuk memulai pendidikan selama satu tahun, untuk itu gue meminta do’a restu untuk kelancaran kegiatan di depannya. Gue gatau, apa yang akan gue hadapi, ada juga ketakutan untuk bisa survive sendiri di kota besar dan tinggal sendiri, tapi sekali lagi gue akan belajar.

“Misteri paling mengasyikan dari rencana Tuhan adalah menjalani hidup itu sendiri” – random dipagi hari J

Tags: ,

those memories

Those memories are still there no matter what we do to wipe them away.

Bukan bermaksud bermellow-mellow dimalam minggu. Tapi apa daya keisengen diri sendiri yang bikin mellow. Bermula dari iseng-iseng baca diary dari zaman SD dulu (yup, SD) agak geli sendiri sih, liat cara nulis zaman dulu. Perbedaan gaya penulisan itu benar-benar ada (malu sendiri). Diary yang ditulis tangan berakhir di akhir 2010. Sejak itu gue berakhir nulis semua cerita, jatuh-bangun, nangis, bahagia gue dalam Flo (laptop gue). Nyalain laptop lah, dari awalnya baca-baca diary berujung ke liat-liat file foto. Banyak diantaranya yang bahkan gue udah ga inget lagi masih disimpen. Dan semua perasaan mellow itu pun datang satu persatu, dari kangen, sedih, marah, pengen ketawa sendiri dan juga keinginan untuk sharing foto tersebut dengan beberapa yang gue tiba-tiba kangenin karena liat foto itu.

Dan sadarlah gue tahun-ke-tahun ada yang berubah dari foto-foto itu. Senyum yang kadang tidak selebar dulu atau bahkan senyum yang lebih lebar dari tahun-tahun sebelumnya. Ada juga orang-orang yang tahun-ke-tahun gue punya foto bareng mereka, gue lihat betapa tahun-ke-tahun membuat mereka berubah secara penampilan, sorot mata dan sama seperti tadi, senyum. Foto itu seperti merekam metamorfosis. Tidak hanya mereka tapi gue pun sama di foto-foto itu. selalu ada yang berubah. Namun, sedikit dari foto-foto tersebut yang menyimpan memori sedih, kebanyakan adalah moment bahagia, dengan senyum yang ter-capture secara sempurna, yang membuat gue kadang sedih melihat beberapa foto, karena beberapa diantaranya gue sadar mungkin ga akan terulang. Ups and downs, friendship made, friendship broken. Those memories brought all of the feelings.

Melihat kembali foto-foto lama memang membangkitkan kenangan dan menimbulkan rasa rindu tersendiri. Terlebih lagi sedih jika ingat beberapa kondisi sekarang ataupun bahagia karena tahu semua berjalan ke arah yang lebih baik. Sekali lagi those memories are still there. Kangen. Itulah perasaan paling dominan yang gue rasakan. Sadar bahwa sekarang masing-masing punya kesibukan sendiri, jangankan untuk bisa mengulang memori (yang ga mungkin terulang) untuk bisa kumpul bareng-bareng seperti dulu aja kadang ga full team.

Beberapa foto juga membuat gue ingin memaafkan dan beberapa membuat gue ingin melupakan. Hal-hal yang bahkan ga akan terlintas dipikiran gue dalam hari yang normal. But, today isn’t my normal day (like i’ve ever had a normal day. Hmpfh)

Foto tetap sama, merekam moment, kenangannya pun tetap ada. Meskipun keadaan dan orang-orang di dalam foto tersebut telah berubah, termasuk kita. Beberapa foto lebih baik dihapus dan tidak pernah dilihat lagi, karena beberapa diantaranya justru membangkitkan rasa sedih, tapi banyak diantaranya juga yang lebih baik disimpan. Meskipun moment yang sama tidak mungkin terulang, tapi seenggaknya gue punya satu rekaman dari kenangan tersebut, just in case gue lupa atau kangen. Seperti saat ini. Dan bahkan beberapa foto bisa mengingatkan bagaimana caranya tersenyum atau tertawa secara lepas.

Tags:

#testtost

Well, baru saja selesai membaca ulang novel “Test Pack”, agak sedikit kebawa suasana nih karena saking banyaknya yang nonton film berjudul sama yang diangkat ke layar lebar dari novel ini. Sebenernya dulu pertama baca novel ini waktu zaman masih kuliah, dan sama sekali belum kepikiran soal yang namanya problematika rumah tangga sepelik yang dihadapi Neng dan Kakang di novel ini. Sekarang juga belum sebenarnya, tapi as time goes by, konflik dalam novel karya Ninit Yunita yang dulu menurut gue terasa berat sekali ini, sekarang justru membuka pola pikir baru. Yap, mungkin udah pada bisa nebak kalo gue ga akan membahas tentang isi novelnya sendiri, banyak tulisan diluar sana yang sudah mereview novel dan film ini diluar sana. Gue disini ingin menulis suatu pandangan gue tentang konflik yang disuguhkan dalam novel ini.

Dalam novel ini yang menjadi inti konflik adalah persoalan rumah tangga, yang timbul karena dua insan yang sudah lama menikah tak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya diketahui bahwa sang suami memang infertil dan semakin memupuskan harapan mereka untuk punya anak. Kekecewaan terutama ada di diri sang istri yang sangat menginginkan momongan, fakta bahwa sang suami menyembunyikan ketidakmampuannya memberikan keturunan dan diperpanas dengan dugaan sang suami berselingkuh dengan adanya kehadiran mantan masa lalu yang kala itu juga sedang mengalami konflik rumah tangga.

Selesai membaca novel ini, gue semakin yakin bahwa tes kesehatan menyeluruh antara kamu dan pasangan itu sangat penting dilakukan sebelum menikah. Satu tentunya agar terhindar dari penyakit yang mungkin terjadi karena ‘sejarah’ kamu atau pasangan, atau sama-sama mengidap penyakit yang nantinya akan membahayakan keturunan, seperti diabetes. Kedua adalah untuk mengetahui kemungkinan adanya ketidakmampuan pasangan atau kamu sendiri dalam memberikan keuntungan, mengambil contoh dari novel Test Pack ini, akhirnya akan menjadi bom waktu sendiri. Well, mungkin di negara kita sendiri yang kebanyakan masih berpikiran konvensional, meminta untuk melakukan serangkaian test medical check-up sebelum menikah masih dianggap tabu atau jarang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, hal ini justru penting untuk dilakukan. Sebagai contoh gue pernah membaca artikel juga melakukan obrol langsung dengan aktivis HIV/AIDS bahwa banyak anak yang terlahir mengidap HIV karena orang tuanya, istri yang tertular dari suaminya atau sebaliknya. Bukan menyalahkan pergaulan, karena banyak cara seseorang bisa tertular penyakit tersebut, tapi kita sudah selayaknya berhati-hati. Landasan kepercayaan pada ‘sejarah’ hubungan satu sama lain saat ini tidak menjamin kita terlindungi secara fisik.

Diambil juga dari novel “Test Pack” ini bahwa ‘cinta’ saja tidak jadi jaminan bahwa hubungan bisa lancar tanpa hambatan, tapi di dalamnya harus ada komitmen. Salah satunya adalah siap menerima jika salah satu diantara pasangan memang tidak bisa memberikan keturunan. Nah, jika sebelum menikah sudah dilakukan tes MCU tadi maka kekuatan komitmen akan diuji sebelum melangkah lebih jauh, dan tentunya masalah ini tidak akan jadi bom waktu, karena sebelumnya keduanya bisa saling berdiskusi untuk memecahkan masalah tersebut.

So, menurut gue, ketika akan menikah nanti itu  yang akan gue minta ke pasangan (siapa pun itu). hehe.

“Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai orang karena keadaan sesaat.
Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir, apa jadinya kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.

Will you still love them, then?
That’s why you need commitment
Don’t love someone of what/how/who they are

From now on,
Start loving someone,

because you want to.”

Test Pack – Ninit Yunita

Tags: ,

#duasatu

Hay guys, its been a long time since the last time i wrote here. My life is like roller coaster lately. So, apa aja nih yang terlewat selama masa ‘menghilang’ ini? Gue mau berbagi cerita tentang ulang tahun ke duasatu.

6 September 2012 – jadi hari bersejarah tersendiri buat gue. Tepat 00.01 gue menginjak umur duasatu, akhirnya. Meskipun kata orang “your life begins at twenty” gue sendiri merasa perjalanan panjang dimulai diumur duasatu ini. Ada target yang belum tercapai diumur duasatu ini, ada juga yang sudah tercapai dan dengan segala naik turunnya perjalanan dari duapuluh ke duasatu gue sangat bersyukur. Gue merasa ada proses pendewasaan disini. Mudah-mudahan diumur yang baru gue bisa lebih bijak lagi dalam melangkah, tidak mudah tergoda oleh emosi dan banyak hal-hal lain yang gue harap bisa hadir di umur duasatu ini. Kado paling berkesan diumur duasatu? Kabar bahwa penantian gue selama lima bulan akan terbayar, by the end of this year gue akan pindah ke Jakarta untuk memulai petualang hidup sendiri gue. Hehe. Dengan segala hal belum pasti di depannya, gue mohon do’a untuk kelancarannya. icon smile #duasatu

birthday 300x300 #duasatu

duasatu

Hemm…banyak hal yang ingin gue tulis, gue bagi, tapi entah kenapa kata-kata seolah lagi main petak umpet, sulit rasanya. But, soon, gue bakal rajin-rajin lagi posting. Hal-hal absurd, pikiran-pikiran nyeleneh atau pertanyaan-pertanyaan sederhana yang kadang mampir di otak yang kecil ini.

Tags: , ,

Persimpangan (menuju kesana)

Menurut pendapat gue, membuat keputusan lebih sulit dari menyelesaikan persamaan aljabar. Variabelnya tidak hanya terdiri dari x dan y tapi banyak juga variabel lain, yang tidak diketahui, contohnya adalah efek dari keputusan yang dibuat. Beberapa reaksi atau probabilitas masih mungkin untuk diperhitungkan, tapi banyak variabel lain yang tidak diprediksi karena terbatasnya pengetahuan tentang apa yang mungkin terjadi dimasa depan itu sendiri. Sekarang, inilah gue, berada diantara beberapa pilihan untuk ehem masa depan. Dan sampai detik ini gue menulis (mengetik) kata perkata gue belum berani mengambil keputusan. Biasanya jika gue berada dalam keadaan saat dihadapkan dalam beberapa pilihan, gue akan membuat tabel perbandingan dari hal-hal tersebut dan mengambil pilihan yang memberikan lebih banyak (kemungkinan) benefit untuk gue. Saat ini, untuk pilihan-pilihan di hadapan gue ini, gue sudah melakukan saringan pertama dengan tabel tadi, tapi sekali lagi gue belum bisa menentukan tindakan apa atau keputusan apa atau pilihan mana yang akan gue ambil. Karena disini semua pertimbangan berakhir pada hal-hal baik yang mungkin terjadi dimasa depan, kemampuan gue untuk menjalani keputusan tadi dan jika gue bisa atau mampu menjadi amoeba, pasti gue memilih untuk melakukan semuanya, memilih semuanya, dan setelah menjalani baru mulai melakukan proses gugur. Tapi sayangnya gue hanya satu, dan gue diharuskan memilih satu diantara beberapa hal yang baik untuk masa depan gue.

Sekali lagi menurut gue proses mengambil keputusan adalah proses paling menakutkan dan paling sulit. Pilihan itu sendiri ada untuk dipilih, tapi berbagai konsekuensi di depannya adalah hal yang harus diperhitungkan. Semakin banyak tahu, semakin membuat proses mempertimbangkan menjadi alot. Semakin terbatas pengetahuan akan variabel-variabel tertentu membuat tingkat keraguan meningkat. Pilihan. Keputusan. Hidup. Gue benar-benar ada di persimpangan menuju kesana. Tujuan.

Tags: