Well, baru saja selesai membaca ulang novel “Test Pack”, agak sedikit kebawa suasana nih karena saking banyaknya yang nonton film berjudul sama yang diangkat ke layar lebar dari novel ini. Sebenernya dulu pertama baca novel ini waktu zaman masih kuliah, dan sama sekali belum kepikiran soal yang namanya problematika rumah tangga sepelik yang dihadapi Neng dan Kakang di novel ini. Sekarang juga belum sebenarnya, tapi as time goes by, konflik dalam novel karya Ninit Yunita yang dulu menurut gue terasa berat sekali ini, sekarang justru membuka pola pikir baru. Yap, mungkin udah pada bisa nebak kalo gue ga akan membahas tentang isi novelnya sendiri, banyak tulisan diluar sana yang sudah mereview novel dan film ini diluar sana. Gue disini ingin menulis suatu pandangan gue tentang konflik yang disuguhkan dalam novel ini.

Dalam novel ini yang menjadi inti konflik adalah persoalan rumah tangga, yang timbul karena dua insan yang sudah lama menikah tak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya diketahui bahwa sang suami memang infertil dan semakin memupuskan harapan mereka untuk punya anak. Kekecewaan terutama ada di diri sang istri yang sangat menginginkan momongan, fakta bahwa sang suami menyembunyikan ketidakmampuannya memberikan keturunan dan diperpanas dengan dugaan sang suami berselingkuh dengan adanya kehadiran mantan masa lalu yang kala itu juga sedang mengalami konflik rumah tangga.

Selesai membaca novel ini, gue semakin yakin bahwa tes kesehatan menyeluruh antara kamu dan pasangan itu sangat penting dilakukan sebelum menikah. Satu tentunya agar terhindar dari penyakit yang mungkin terjadi karena ‘sejarah’ kamu atau pasangan, atau sama-sama mengidap penyakit yang nantinya akan membahayakan keturunan, seperti diabetes. Kedua adalah untuk mengetahui kemungkinan adanya ketidakmampuan pasangan atau kamu sendiri dalam memberikan keuntungan, mengambil contoh dari novel Test Pack ini, akhirnya akan menjadi bom waktu sendiri. Well, mungkin di negara kita sendiri yang kebanyakan masih berpikiran konvensional, meminta untuk melakukan serangkaian test medical check-up sebelum menikah masih dianggap tabu atau jarang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, hal ini justru penting untuk dilakukan. Sebagai contoh gue pernah membaca artikel juga melakukan obrol langsung dengan aktivis HIV/AIDS bahwa banyak anak yang terlahir mengidap HIV karena orang tuanya, istri yang tertular dari suaminya atau sebaliknya. Bukan menyalahkan pergaulan, karena banyak cara seseorang bisa tertular penyakit tersebut, tapi kita sudah selayaknya berhati-hati. Landasan kepercayaan pada ‘sejarah’ hubungan satu sama lain saat ini tidak menjamin kita terlindungi secara fisik.

Diambil juga dari novel “Test Pack” ini bahwa ‘cinta’ saja tidak jadi jaminan bahwa hubungan bisa lancar tanpa hambatan, tapi di dalamnya harus ada komitmen. Salah satunya adalah siap menerima jika salah satu diantara pasangan memang tidak bisa memberikan keturunan. Nah, jika sebelum menikah sudah dilakukan tes MCU tadi maka kekuatan komitmen akan diuji sebelum melangkah lebih jauh, dan tentunya masalah ini tidak akan jadi bom waktu, karena sebelumnya keduanya bisa saling berdiskusi untuk memecahkan masalah tersebut.

So, menurut gue, ketika akan menikah nanti itu  yang akan gue minta ke pasangan (siapa pun itu). hehe.

“Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai orang karena keadaan sesaat.
Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir, apa jadinya kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.

Will you still love them, then?
That’s why you need commitment
Don’t love someone of what/how/who they are

From now on,
Start loving someone,

because you want to.”

Test Pack – Ninit Yunita

Tags: ,