Archive for October, 2012

Sunrise !

Gunung.

Satu tempat yang tiba-tiba sangat dirindukan. Pertama mendaki itu saat SMP, itupun hanya gunung kecil dalam rangka kemah pramuka dan OSIS. Akhirnya saat SMA jadi satu hobi yang ditekuni, meskipun ga esktrim, hanya gunung-gunung di daerah Jawa Barat dan pendakian yang dilakukan hanya untuk refreshing.

Dalam satu bulan ini dua kali mendapat ajakan untuk kembali mendaki di bulan depan. Bromo dan Semeru. Dua-duanya adalah gunung yang memang ingin sekali gue datangi. Kalo ngikutin mau gue sih udah di IYAin deh dua-duanya. haha. Sayangnya hidup gabisa semau gue *tsaah.

Kembali pada masa-masa itu. menikmati proses pendakian yang tidak mudah, kedinginan sampe pernah kena hipotermia, melawan arus dia sungat deras untuk sampai ke sebrang, atau jatuh berkali-kali karena akar yang berbelit dan melintang tersembunyi tertutup semak. Tapi akhirnya begitu sampai di puncak, bisa melemaskan kaki, semua lelah, peluh dan bilur-bilur itu seolah hilang. Kepuasan. Itulah yang dirasakan. Melihat hamparan pemandangan di bawah yang terbentang luas, sebagian tertutup kabut karena ketinggian. Adrenalin yang terpacu saat mendekati puncak, dan senyum yang terkembang saat akhirnya menginjakkan kaki di puncak.

Proses dan perasaan itu semua yang bikin kangen.

Harus banget nih masuk resolusi tahun depan. Mendaki Bromo atau Semeru untuk permulaan. Dan suatu hari jika memungkinkan ingin mencicipi eksotis dan mistisnya Mahameru (amin).

Untuk saat ini cukup bersyukur dengan kesempatan mendaki yang ada. Bedanya kali ini yang dijajaki adalah jalan menuju puncak yang lebih nyata. Mendaki gunung karir. J anyhow, disamping itu semua, tetep gue kangen sama gunung, temen-temen pendakian zaman SMA dulu, daaaaannn pasti, suatu hari saat waktu dan kesempatan ada gue ingin kembali mendaki. Wuzzzz !

 Sunrise !

Sunrise at Bromo

*PS: inget ga nih yang ngasi foto ini, dan notes-nya : “lain kali kesini ya, barengan” gueee tagiihhhh janjinyaa tau depaaan ! :p


Tags: , ,

catatan 23.10.12

21 tahun gue hidup di kota ini. Dari lahir sampai dengan hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini. Ketika kata perkata gue ungkapkan disatu lembar putih. Dan dalam hitungan hari gue akan meninggalkan kota ini, untuk mejemput rezeki, meraih mimpi dan menggapai cita-cita.

Dari satu kota sejuk yang menurut gue sangatlah nyaman ini, ke satu tempat yang bukan bintang yang menghiasi langit malamnya, tapi ribuan lampu di bangunan yang mengangkasa. Gue akan sangat merindukan momen-momen malam saat gue duduk di balkon rumah hanya untuk memandang bulan atau sekedar menyapa bintang. Bintang pasti ada disana, gue yakin, hanya saja rasanya pasti berbeda dengan rumah.

Gue pasti kangen berat sama bingarnya suasana rumah dengan segala kehebohan dan konfliknya. Gue pasti sangat merindukan duduk di pojokkan kamar untuk sekedar berbagi kata seperti hari ini.

Keluar dari zona nyaman. Itulah tantangan gue selanjutnya. Sudah di depan mata. Sanggupkah? Pasti. Keyakinan adalah salah satu kekuatan gue untuk tetap berpijak. Keyakinan bahwa suatu hari nanti pada waktunya, langit disini, pojokkan kamar ini akan kembali menjadi milik gue. Tapi saat ini yang penting adalah gue membangun bata demi bata cita-cita gue, mewujudkan hal-hal yang tadinya hanya berupa do’a atau harapan menjadi sesuatu yang lebih nyata dari sekedar bisikan. I will survive, I promise.

Tags:

merauh cahaya

Biasanya saat kita tenggelam dalam mimpi, lalu terbangun, mimpi tersebut terlupa begitu saja. Lain halnya dengan beberapa mimpi, salah satunya adalah mimpi gue tadi malam. Di mimpi tadi malam, gue berpacu dengan waktu untuk meraih cahaya di kejauhan. Melalui jalan yang berliku, berbukit dan melandai. Jarak terpentang jauh antara tempat gue dan tujuan disana. Tapi toh pada akhirnya gue berpacu untuk mencapai tempat tersebut.

dream big by thejusticeleague 300x197 merauh cahaya

Masih tergambar jelas dalam mimpi gue, setelah melewati kontur perjalanan yang tidak bisa dibilang mudah, gue melewati satu hutan dengan rimbunan pohon yang rapat, namun melalui sela-sela daun yang saling menjalin itu, gue bisa melihat berkas cahaya menyusup. Akhirnya di kejauhan tampak lahan lapang, saat cahaya benar-benar masuk tanpa  terhalangi rimbun pohon itu. Dan dengan seketika gue memacu diri untuk sampai di tempat itu, entah kenapa menurut gue itu adalah tempat tujuan yang tepat, saat cahaya bisa bersinar terang tanpa ada hal yang menghalangi, saat sampai disana, saat itu pula gue terbangun. Dengan jantung masih berdebar akibat adrenalin yang terus terpacu selama gue melewati perjalanan tadi.

Entah apa arti mimpi gue tadi malam itu, tapi mungkin itu adalah pertanda atau jawaban dari kegundahan gue akhir-akhir ini. mengenai betapa sulitnya meraih sesuatu. Mungkin ini berarti, bahwa meskipun jalan terjal dan penuh liku harus dilalui tapi hasil akhirnya memang patut untuk diperjuangkan. Ada hasil akhir yang memuaskan dalam segala perjuangan itu.

Tags:

:|

May i ask you for several questions?

Pernah ga, kamu ngerasa ga pernah ngelakuin sesuatu yang salah sama seseorang, setidaknya tidak secara sengaja, tiba-tiba kamu jadi pihak yang disudutkan?

Pernah ga, kamu menghadapi sekumpulan orang-orang yang setiap eksistensi mereka ada, selalu do’a terburuk yang terucap? Bukan tanpa alasan, tapi karena beberapa omongan yang telah menimbulkan sakit hati?

Orang tukang sindir. Orang yang ga menyampaikan maksud secara eksplisit tapi tidak langsung pada objek. Orang yang kerjaannya menggunjing, iri dan akhirnya sindir-menyindir. Dan sebagai pihak yang terpojok hanyak bisa memandang, menahan geram dan mencoba sabar. Ada keinginan untuk membalas, tapi untuk apa? Dinilai sama? Keinginan untuk klarifikasi, tapi untuk apa? Asumsi yang terbentuk bersama, dengan cara memandang cerita dari satu sisi yang keukeuh dipercayai, mau dikasi tau sejuta kali juga menolak goyah.

Tapi sabar itu supaya sadar, namun justru malah melewati batas yang samar. Segitu bangganya pada kedekatan yang timbul karena memiliki topik pembicaraan yang sama: orang lain, kekurangan orang lain, asumsi tentang orang lain. Kalo gue, ga bangga. Justru merasa rendah. Diberkati dengan wajah-wajah yang rupawan, kemampuan untuk sekolah tinggi-tinggi, meraih prestasi yang bisa dibanggakan, tapi mulutnya minus. Menurut gue itu….percuma. Manner does matter.

Tags:

jurusan, kerjaan ?

Sebangun tidur siang yang cukup panjang barusan, yang berawal dari ketiduran, entah kenapa muncul keinginan untuk nanya sama kalian semua, masuk jurusan kuliah kalian saat ini alesannya apasih? Kalo dulu gue masuk fakultas Bisnis dan Manajemen, jujur lebih karena terpaksa dibanding tertarik. Sebenernya sejak awal SMA sudah tertarik untuk mengambil jurusan Teknik Sipil di salah satu universitas negeri di Bandung yang berlambang gajah tersebut, namun apa daya dua kali mengikuti USM belum kedapetan rezeki untuk bisa menjadi salah satu mahasiswa disana. Akhirnya setelah terombang-ambing antara gengsi, keinginan dan tuntutan orang tua, dipilihlah Fakultas Bisnis dan Manajemen sebagai tempat berlabuh.

Namun, setelah menjalani kuliah di jurusan tersebut mata gue mulai terbuka melihat betapa menariknya dunia ‘manajemen’ dan ‘bisnis’ ini. Meskipun pada akhirnya gue tidak begitu tertarik untuk menjadi praktisi langsung dengan membuka ‘bisnis’, gue lebih tertarik untuk bekerja kantoran, dengan bidang kerja yang tidak begitu melenceng (malah sejalan) dengan jurusan dan konsentrasi yang gue ambil. Manajemen Keuangan. Tapi setidaknya gue tidak ‘lari’ dari ‘bekal’ yang gue peroleh selama kuliah tiga setengah tahun lamanya itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, gue tahu, bahwa jurusan yang lo ambil saat kuliah, tidak menentukan jenis pekerjaan yang kamu dapatkan. Tapi nih yaaa..gue sempet berpikir bahwa hal tersebut ga adil untuk sebagian orang yang masuk jurusan tertentu karena memang berminat, lalu mencari lapangan pekerjaan dalam bidangnya, saingannya lebih banyak, karena bahwa dari jurusan-jurusan atau fakultas-fakultas lain yang notabene tidak sejalan dengan jurusan tersebut, berebut kerja di bidang yang sama. Hemm..misalkan di dunia perbankan. Orang-orang non-ekonomi pun memiliki kans yang sama, asalkan memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh perusahaan dalam proses seleksinya. Bukanya merasa tersaingi, namun hal ini jadi pertanyaan sendiri buat gue, lalu apa fungsinya kita kuliah dengan jurusan tertentu? Jika toh pada akhirnya saat ‘praktek’ di dunia nyata bahkan ilmu tersebut bisa campur baur, memulai dari nol di bidang baru? Itu menurut gue lho ya, Cuma pertanyaan yang kadang bikin heran sendiri. Mungkin dari kalian yang iseng baca post ini bisa sharing pendapat dengan gue mengenai pertanyaan ini. hehe.

Tags: ,