May i ask you for several questions?

Pernah ga, kamu ngerasa ga pernah ngelakuin sesuatu yang salah sama seseorang, setidaknya tidak secara sengaja, tiba-tiba kamu jadi pihak yang disudutkan?

Pernah ga, kamu menghadapi sekumpulan orang-orang yang setiap eksistensi mereka ada, selalu do’a terburuk yang terucap? Bukan tanpa alasan, tapi karena beberapa omongan yang telah menimbulkan sakit hati?

Orang tukang sindir. Orang yang ga menyampaikan maksud secara eksplisit tapi tidak langsung pada objek. Orang yang kerjaannya menggunjing, iri dan akhirnya sindir-menyindir. Dan sebagai pihak yang terpojok hanyak bisa memandang, menahan geram dan mencoba sabar. Ada keinginan untuk membalas, tapi untuk apa? Dinilai sama? Keinginan untuk klarifikasi, tapi untuk apa? Asumsi yang terbentuk bersama, dengan cara memandang cerita dari satu sisi yang keukeuh dipercayai, mau dikasi tau sejuta kali juga menolak goyah.

Tapi sabar itu supaya sadar, namun justru malah melewati batas yang samar. Segitu bangganya pada kedekatan yang timbul karena memiliki topik pembicaraan yang sama: orang lain, kekurangan orang lain, asumsi tentang orang lain. Kalo gue, ga bangga. Justru merasa rendah. Diberkati dengan wajah-wajah yang rupawan, kemampuan untuk sekolah tinggi-tinggi, meraih prestasi yang bisa dibanggakan, tapi mulutnya minus. Menurut gue itu….percuma. Manner does matter.