“Memandang Punggung”

Kadang tanpa sadar kita ngeliatin orang, bukan dari depan atau dari samping, tapi dari belakang. Bukan karena ga bisa atau ga berani, tapi lebih karena posisi atau kondisi yang membuat kita hanya bisa memandang punggung. Bahkan saat orang yang kita pandangi berbalik, kita justru mengalihkan pandangan. Tapi ada saatnya, saat dia bebalik dan tersenyum, kita cuma bisa balik tersenyum dan saat dia kembali melangkah ke depan, cuma bisa menghela nafas dan melanjutkan langkah. Memandang punggung.

Betapa jauhnya pikiran melayang saat kita memandang punggung, ada harapan, pertanyaan tidak terjawab, panggilan tanpa jawaban, dan sosok yang semakin jauh. Jika sudah sampai dititik itu, hanya bisa pasrah: sejak awal memang beda. Beda dan beda yang merentangkan jarak yang kasat mata. Untuk apa memulai sesuatu yang akhirnya hanya………….perbedaan tanpa jalan penyatu?

Tags: ,