Archive for category cuma-cumi

“Memandang Punggung”

“Memandang Punggung”

Kadang tanpa sadar kita ngeliatin orang, bukan dari depan atau dari samping, tapi dari belakang. Bukan karena ga bisa atau ga berani, tapi lebih karena posisi atau kondisi yang membuat kita hanya bisa memandang punggung. Bahkan saat orang yang kita pandangi berbalik, kita justru mengalihkan pandangan. Tapi ada saatnya, saat dia bebalik dan tersenyum, kita cuma bisa balik tersenyum dan saat dia kembali melangkah ke depan, cuma bisa menghela nafas dan melanjutkan langkah. Memandang punggung.

Betapa jauhnya pikiran melayang saat kita memandang punggung, ada harapan, pertanyaan tidak terjawab, panggilan tanpa jawaban, dan sosok yang semakin jauh. Jika sudah sampai dititik itu, hanya bisa pasrah: sejak awal memang beda. Beda dan beda yang merentangkan jarak yang kasat mata. Untuk apa memulai sesuatu yang akhirnya hanya………….perbedaan tanpa jalan penyatu?

Tags: ,

#testtost

Well, baru saja selesai membaca ulang novel “Test Pack”, agak sedikit kebawa suasana nih karena saking banyaknya yang nonton film berjudul sama yang diangkat ke layar lebar dari novel ini. Sebenernya dulu pertama baca novel ini waktu zaman masih kuliah, dan sama sekali belum kepikiran soal yang namanya problematika rumah tangga sepelik yang dihadapi Neng dan Kakang di novel ini. Sekarang juga belum sebenarnya, tapi as time goes by, konflik dalam novel karya Ninit Yunita yang dulu menurut gue terasa berat sekali ini, sekarang justru membuka pola pikir baru. Yap, mungkin udah pada bisa nebak kalo gue ga akan membahas tentang isi novelnya sendiri, banyak tulisan diluar sana yang sudah mereview novel dan film ini diluar sana. Gue disini ingin menulis suatu pandangan gue tentang konflik yang disuguhkan dalam novel ini.

Dalam novel ini yang menjadi inti konflik adalah persoalan rumah tangga, yang timbul karena dua insan yang sudah lama menikah tak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya diketahui bahwa sang suami memang infertil dan semakin memupuskan harapan mereka untuk punya anak. Kekecewaan terutama ada di diri sang istri yang sangat menginginkan momongan, fakta bahwa sang suami menyembunyikan ketidakmampuannya memberikan keturunan dan diperpanas dengan dugaan sang suami berselingkuh dengan adanya kehadiran mantan masa lalu yang kala itu juga sedang mengalami konflik rumah tangga.

Selesai membaca novel ini, gue semakin yakin bahwa tes kesehatan menyeluruh antara kamu dan pasangan itu sangat penting dilakukan sebelum menikah. Satu tentunya agar terhindar dari penyakit yang mungkin terjadi karena ‘sejarah’ kamu atau pasangan, atau sama-sama mengidap penyakit yang nantinya akan membahayakan keturunan, seperti diabetes. Kedua adalah untuk mengetahui kemungkinan adanya ketidakmampuan pasangan atau kamu sendiri dalam memberikan keuntungan, mengambil contoh dari novel Test Pack ini, akhirnya akan menjadi bom waktu sendiri. Well, mungkin di negara kita sendiri yang kebanyakan masih berpikiran konvensional, meminta untuk melakukan serangkaian test medical check-up sebelum menikah masih dianggap tabu atau jarang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, hal ini justru penting untuk dilakukan. Sebagai contoh gue pernah membaca artikel juga melakukan obrol langsung dengan aktivis HIV/AIDS bahwa banyak anak yang terlahir mengidap HIV karena orang tuanya, istri yang tertular dari suaminya atau sebaliknya. Bukan menyalahkan pergaulan, karena banyak cara seseorang bisa tertular penyakit tersebut, tapi kita sudah selayaknya berhati-hati. Landasan kepercayaan pada ‘sejarah’ hubungan satu sama lain saat ini tidak menjamin kita terlindungi secara fisik.

Diambil juga dari novel “Test Pack” ini bahwa ‘cinta’ saja tidak jadi jaminan bahwa hubungan bisa lancar tanpa hambatan, tapi di dalamnya harus ada komitmen. Salah satunya adalah siap menerima jika salah satu diantara pasangan memang tidak bisa memberikan keturunan. Nah, jika sebelum menikah sudah dilakukan tes MCU tadi maka kekuatan komitmen akan diuji sebelum melangkah lebih jauh, dan tentunya masalah ini tidak akan jadi bom waktu, karena sebelumnya keduanya bisa saling berdiskusi untuk memecahkan masalah tersebut.

So, menurut gue, ketika akan menikah nanti itu  yang akan gue minta ke pasangan (siapa pun itu). hehe.

“Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai orang karena keadaan sesaat.
Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir, apa jadinya kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.

Will you still love them, then?
That’s why you need commitment
Don’t love someone of what/how/who they are

From now on,
Start loving someone,

because you want to.”

Test Pack – Ninit Yunita

Tags: ,

23.30

Thirty minutes to midnight and I still wide awake. So, what can I do? Write something.

Kata orang Jakarta itu macetnya kebangetan, bikin stress dan kemungkinan darah tinggi meningkat. Well, gue ga akan berusaha membantah, emang iya.

Katanya Jakarta itu tebal dengan polusi, megah dengan gedung pencakar langit, dan padat dengan bangunan merayap. Ini pun ga akan gue bantah, emang iya.

Jakarta, ibu kota negara kita. Entah sejak kapan mulai naik daun dengan segala reputasi dari keluhan warganya, tapi tetap saja banyak harapan digantungkan disana, terutama taraf hidup dan karir yang lebih baik. Harapan. Dibalik semua reputasi ‘negatif’ Jakarta, terangnya harapan seolah menjadi nilai seimbang bagi kota yang tidak pernah minta ‘dilahirkan’ untuk jadi ‘ibu’ ini.

Well, gue punya sisi lain dari kilaunya Jakarta ini. Seperti halnya mata pedang, jendela ataupun tambang, ada dua sisi memandang Jakarta, dan gue, ditiga puluh menit menjelang tengah malam akan sedikit berbagi satu petualangan di Jakarta, pusat dari segala pusat (negara Indonesia).

Here there are…

Satu masa di bulan Maret saat salah satu festival Jazz paling besar di Indonesia dilaksanakan, gue dengan keberuntungan yang jatuh dari planet Venus sana, memenangkan tiket gratis untuk menonton tiga hari berturut-turut plus akomodasi. Akhirnya satu hari sebelum festival dimulai, dengan gagah berani, gue yang di Bandung aja masih nyasar memberanikan diri untuk pergi seorang diri ke Jakarta, untuk pertama kalinya. Untuk kemudahan itu gue harus mengucapkan terima kasih pada pencetus usaha travel, jarak Bandung-Jakarta dengan mudah dipangkas, terima kasih juga kepada abang ojeg yang udah jemput dari pool travel di daerah Kemanggisan (yang baru hari itu gue tau letaknya dimana).

Malam pertama gue nginep di kosan Mba Putri, daerah Slipi. Bahkan saat itu pun mata si anak Bandung ini sudah terpesona pada Jakarta. Jakarta di waktu malam begitu….lenggang. Entah memang daerah Slipi saat itu sedang lowong, atau memang malam itu gue keluar pada waktu orang-orang sudah jauh menembus macetnya Jakarta di tempat lain. Tapi menurut gue, Jakarta ga ‘semacet’ itu saat malam menjelang.

goldenboutique 23.30

Golden Boutique Hotel

Saat tiba hari pertama menjelang festival Jazz tersebut digelar, gue dan para pemenang lainnya diantar ke hotel Golden Boutique, Jl. Angkasa No. 1, Jakarta Pusat. Bahkan saat menempuh perjalanan kesana dari bilangan Slipi pun bisa dibilang tidak terjebak macet yang santer dibicarakan orang, atau entah, memang sang Venus masih menaungi gue dengan anugerah keberuntungan. Satu hal yang berbeda dengan macetnya Bandung, menghadapi macet di Jakarta, kesabaran bertarung berbagai arah, selain menghadapi antrian kendaraan yang (seolah) tidak berujung, juga cuaca yang panas. Sepanas-panasnya Bandung, masih ‘adem’, di Jakarta? Well, definisi ‘adem’ mesti diperluas dengan menambahkan AC di bagian belakang uraian kalimat penjelas.

Festival Jazz yang konon dikenal luas dengan Java Jazz 2012 tadi dilaksanakan di daerah Kemayoran, tepatnya di JIEXPO, perjalanan dari hotel menuju venue terbilang singkat, karena jaraknya yang memang sengaja diatur tidak terlalu jauh. Disini kami berangkat sore hari menjelang pembukaan festival tadi, yang bisa dilihat? Banyak. Jakarta sama dengan kota-kota lainnya, pinggiran jalan diisi dengan pedagang kaki lima, jalanan diisi dengan segala macam kendaraan, ada manusia diantara keramaian, mencoba cara kuno memangkas jalan dengan berjalan kaki. Perbedaan paling mencolok adalah tinggi dan besarnya gedung yang mengelilingi jalanan tadi. Rangkaian gedung pencakar langit seolah tidak ada habisnya, juga lebarnya jalan yang jika dibangun di kota lain pastinya sudah jadi solusi macet, tapi kita kan bicara tentang Jakarta. Macet itu tradisi (katanya).

Tiga hari selama festival berlangsung, perjalanan yang akrab adalah hotel-JIEXPO. Akhirnya dihari terakhir gue menghubungi salah seorang teman, dan (dengan sedikit memaksa) mencapai kesepakatan untuk ‘kabur’ dimalam ketiga Java Jazz tersebut, yang kebetulan jatuh pada hari Sabtu (malem minggu). Saat itu yang terbayang adalah macetnya Jakarta. Kalo di Bandung, biasanya Sabtu itu adalah hari saat macet bertahta sebagai raja. Apalagi saat dijemput di daerah parkiran JIEXPO antrian kendaraan sangatlah padat.

But, suprisingly, sehabis keluar dari JIEXPO jalanan justru lancar. Benar-benar lancar. Ini bisa dibilang terpesona bagian dua. Dari JIEXPO itu kami sempat berputar-putar sambil berdiskusi ‘akan

img 20120303 013761 225x300 23.30

at JIEXPO

kemana’. Akhirnya karena gue satu-satunya yang bukan asli warga ibu kota di mobil itu, cuma ngikut aja saat dibawa ke salah satu jalan tempat (katanya sih) pempek paling enak berada. Pempek tersebut masih berada dibilangan Jakarta Pusat tepatnya di daerah Tosari. Well, rasa pempeknya sendiri yah…sama aja kaya pempek biasa.

425270 10150724394679363 594024362 11468338 1403224974 n 300x225 23.30

taman pramuka w/ bramantyo

Dari daerah Tosari kami pun kembali berkeliaran dimalam Jakarta. Saat itu waktu menunjukkan pukul 22.30 malam. Dari JakPus kami menuju ke daerah Taman Lawang, karena menurut para tour guide gue saat itu, belum berkunjung ke Jakarta kalo belum ke Taman Lawang (hmpfh). Dalam perjalanan kesana gue diajak ngelewatin daerah Menteng, ditunjukkin sekolahan Obama, tempat bikin video klip Vidi Aldiano (semacam glass house) dan akhirnya TL. Dari Taman Lawang, yang ternyata gue cuma diajak muter, liat ‘penampakan’ dan ditunjukkin rumah penjabat, gue pun dibawa ke daerah Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Disana, kami berhenti disalah satu kios kecil, warung kopi. Sejenak melepas lelah tertawa yang mengisi sepanjang perjalanan. Luar biasa dari Jakarta Pusat – Menteng – Taman Lawang – Jakarta Timur, kami bahkan tidak bertemu dengan makhluk yang namanya macet. Dan jujur gue terpesona dengan Jakarta diwaktu malam. Begitu tenang, meski jauh dari sunyi, dan taburan lampu di gedung-gedung pencakar langit menjadi subtitusi dari hamparan bintang yang biasa ditemukan di langit malam. Jakarta malam itu seolah begitu…jinak. Setelah waktu menunjukkan pukul 00.00 akhirnya gue kembali diantar ke hotel. Dan selama perjalanan, gue ga bisa ngelepas pandangan dari jalanan Jakarta diwaktu malam, yang entah bagaimana sudah berubah, sulit gue kenali, meskipun sudah beberapa kali ke tempat ini atau itu diwaktu siang. Dan itu bukan kali terakhir gue menikmati sisi lain Jakarta.

420927 231016616995364 100002610829420 464680 2126785242 n 300x225 23.30

w/ Redbuzz crew

Di hari kelima gue di Jakarta, gue mendapat undangan untuk dateng ke kantor Redbuzz, saat itu gue sudah kembali ke daerah Slipi, tapi belum mau  pulang, karena rasanya masih kurang ‘menelanjangi’ Jakarta. Kantor Redbuzz sendiri berada di daerah Palmerah, Jakarta Barat. Dari Slipi sih ‘katanya’ deket, tapi gue percayakan ukuran dekat-jauh itu pada Abang ojeg langganan baru gue, Bang Angga. Berangkatlah kami sekitar pukut 12.30 dari Slipi ke Palmerah. Asyiknya Bang Angga, tanpa gue minta, dia selalu menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati, gedung The Jakarta Post, Kompas, bahkan Pasar Palmerah, sampai akhirnya kami sampai di gedung Cahaya, Palmerah Timur. Gue menghabiskan siang sampai dengan petang, berkeliling dalam gedung yang ternyata meskipun terlihat kecil dari luar tapi punya pesonanya sendiri. Rooftop. Tempat dimana gue dan teman-teman bisa memandangi Jakarta ‘sedikit’ lebih jauh dari ketinggian. Dan gue pun sekali lagi terhenyak, Jakarta itu…luas, besar, dan yahh..megah. Gue jadi bertanya-tanya, butuh berapa tahun untuk gue nantinya bisa mengenal Jakarta sampai dengan bagian paling kecil dan paling jauh?

Well, sorenya, gue diajak ‘cari makan’ yang artinya makan beberapa kali, di beberapa tempat. Tujuan pertama adalah es krim Ragusa. Gue yang memang pengen banget es krim karena gerah dengan cuaca Jakarta senang bukan main.

ragusa 300x225 23.30

penampakan ragusa

Es krim Ragusa sendiri berada di Jalan Veteran, tempatnya kecil, tapi ramai. Apalagi dengan berbagai es krim homemade yang disediakan disana, dengan citra rasa yang termasuk unik. Perjalanan dari Palmerah ke Jalan Veteran lagi-lagi tanpa macet (mungkin si Venus masih minjemin keberuntungan). Gue pun lagi-lagi memandang jalanan luas diwaktu twilight. Statiun Gambir disebelah sana, Tugu Tani disini, gedung ini-gedung itu, satu persatu dari mereka memberikan gue penjelasan tempat-tempat yang kami lewati.

Lagi-lagi mungkin kebetulan, hujan turun saat kami sampai di Ragusa, membuat suasana kian ‘hangat’ dengan gelak tawa, untaian canda menunggu hujan reda. Gue pun memandangi keseluruhan Ragusa, bangunan tua yang sudah dipugar, dengan beberapa arsitektur dan gaya lama yang dipertahankan, foto-foto awal Ragusa dan sekeliling Ragusa sendiri. I felt like home. Ada tempat begini di Bandung and that just felt the same being there for a momment.

Setelah agak lama, kami melanjutkan perjalanan, mengejar tempat makanan berat, hujan masih mengguyur Jakarta dan itu kembali membuat kota yang tangguh dan seolah tak tertebus diwaktu hujan, tampak sendiri saat malam, terlebih saat hujan Jakarta seolah…ditinggalkan. Sepi meskipun tetap jauh dari sunyi dan gelap. Selalu ada laju kendaraan dan binar lampu dimana-mana. Dari jalan Veteran kami menuju daerah Cikini. Sampailah diperempatan Cikini, tepat didepan McD ada tempat makan, lebih besar dari warung, tapi terlalu biasa jika dibilang rumah makan, dikenal dengan sebutan bubur Cikini. Sedikit kedinginan (yang awalnya gue rasa ga mungkin, ini kan Jakarta), akhirnya kami memesan makanan hangat, melihat keluar jalanan dari jendela yang terbuka, gue melihat kota ini mungkin sepi saat hujan dan malam, tapi tidak mati, selalu ada orang-orang yang bahkan saat malam menjelang, tetap berkeliaran untuk urusannya masing-masing.

Diantara rintik hujan, melalui sebuah jendela kecil, gue melihat bahwa Jakarta, sekalipun orang berkeluh kesah hidup di dalamnya, memang menawarkan harapan. Harapan itu juga yang membuat orang-orang ini tetap ‘menghidupkan’ Jakarta, ada disana, di jalanan, saat malam, saat hujan, menyeret langkah demi langkah demi mimpinya, demi harapannya. Satu gelak tawa dan potongan canda membawa gue kembali ke warung bubur tadi. Tapi satu hal yang terlintas sebelum itu adalah, gue juga ingin berada disini, dan meraih mimpi gue, sepenuhnya gue sadar gue terpesona dengan Jakarta melalui perjalanan singkat itu. Gue biasa melihat Jakarta dari sisi matahari, tapi dua perjalanan gue dengan teman-teman ini mengajarkan gue untuk melihat dari sisi bulan. Jakarta yang reputasinya hampir (meskipun masih jauh) mendekati Gotham City, sudah membuat gue jatuh cinta, kota ini memesona dengan caranya sendiri.

jakarta night view 300x225 23.30

Jakarta, diantara lampu pengganti bintang

* Well, itu tadi sedikit dari perjalanan absurd gue ke kota yang meskipun sudah sekian banyak gue kunjungi, baru gue sadari pesonanya. Gue menulis ini di thirty minutes to midnight and now thirty minutes after midnight gue siap membagi ini buat kalian, readers, xoxo.

Tags: , ,

isengiseng

kalo iseng lagi melanda, waktu terbentang (berbatas) tampak tanpa batas, yang terjadi adalah editedit iseng begini icon biggrin isengiseng

tumblr isengiseng

dan ini:

header 1 isengiseng

Tags: ,

pilih kata, pahami makna (bully)

Well, tadi pagi tiba-tiba terbersit untuk membahas mengenai bully. Tapi bukan dari pelaksanaan bully sendiri, tapi penggunaan kata bully dalam kegiatan sehari-hari. Saat ini hal-hal yang cenderung melibatkan interaksi pojok-memojokkan atau sindir-menyindir rame-rame terhadap kelompok minoritas atau individu tertentu cenderung dikatakan sebagai tindak bully. Selain itu orang semakin mudah menggunakan kata bully sebagai suatu bahan guyonan atau dalam kalimat sekenanya. Seolah-olah kata bully itu sendiri sudah lumrah digunakan atau bahkan mungkin tindakan bully itu sendiri hal yang ‘biasa’ dilakukan. Pertanyaannya, pernahkah Anda menjadi korban pem- bully-an? Bagi kita yang tidak pernah merasakan dibully mungkin tidak apa-apa menggunakan kata tersebut secara bebas, tapi bagaimana halnya dengan mereka yang pernah menjadi korban bully?

Bully sendiri memiliki arti tersendiri, berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, bullying sendiri merupakan perilaku yang meremehkan, melecehkan, atau mengerjai seseorang dengan intensitas tertentu sehingga membuat korban atau objek bully menjadi tidak nyaman bahkan tertekan. Memang pelaksanaan bully ini sendiri bisa terjadi secara verbal maupun fisik. Namun, bukan berarti aktifitas memojokkan rame-rame lantas dikategorikan bullying atau cyber-bullying apalagi kalo si objek masih bisa cengengesan. Saya mungkin bukan ahlinya, tapi ada kriteria tertentu untuk menggolongkan suatu tindakan sebagai bully.

Menurut pendapat saya, bully itu bukan hal yang dengan mudah bisa dijadikan sebagai bahan becandaan, akibat dari tindakan bully sendiri begitu besar terhadap keadaan psikis seseorang, kalo kamu belum pernah ngerasain yang namanya dibully mending cari tau dulu artinya, tanya (jika memungkinkan) korbannya, hormati mereka yang udah bisa survive menghadapi bullying, jangan cuma bisa ngomong tentang bully tapi gatau sebenernya bully itu apa. Banyak diluar sana yang bahkan sampai mengakhiri hidupnya karena jadi korban bully, tidak sedikit diluar sana yang menutup diri, takut bersosialisasi karena pernah dibully. Lebih bijak dalam memilih kata saat akan berbicara baik secara langsung ataupun melalui soc-med.

earlier post this morning:

bully2 pilih kata, pahami makna (bully)

Tags: , ,

bisik-bisik tetangga #2 (2)

(yuk dilanjut bisik-bisiknya, mumpung udah buka :p)

Dengan kemungkinan reaksi seperti itu, meskipun sifatnya para followers atau penikmat twitter ini tidak terikat dengan hubungan pribadi, pertemanan berdasarkan pertemuan, tapi tetep aja ngenes kalo ampe dicela (meskipun pake no mention) orang kan? Tiap kali baca, ngelus dada kali ya. Nah, untuk itulah siap mental jadi syarat utama buat terjun ke dunia SocMed apalagi kalo emang mau ditekuni *tsah. Belum lagi harus kuat iman dalam nyari bahan untuk ditulis, untuk akun yang bersifat informatif sih bisa manfaatkan buku atau internet, nah kalo untuk akun-akun gombal, nyeleneh, pepatah atau curhat itu kan agak butuh kreatifitas untuk menjaga standar. Kenapa kuat iman? Ya, jangan ampe tergoda melakukan dosa copas mungkin kali ya. Meskipun sebenernya, menurut gw legal-legal aja selama isi twit tersebut ga di copyright, iya ga? Tapi ya itu tadi sanksi social (dari warga Twitterland) yang lebih kejam daripada ibukota, nyerang mental, pertanyaannya siap ga kalo ketauan? Sekali lagi, menurut gw itu beban. Harga yang harus dibayar untuk bisa jadi terkenal. Itupun terkenal sebagai the man behind specific twitter’s account, bukan sebagai pribadi kamu sendiri, dengan prestasi tertentu. Yaa gitu deh. Beban.

Masih belum beres nih, lanjut ntar yaa posting selanjutnya. Malam sudah datang, sudah saatnya saya berdialog malam dengan mimpi dan bintang. Night, readers. Xoxo.

Tags: ,

bisik-bisik tetangga #2 (1)

Previously about bisik-bisik tetangga #1 visit this link #mce_temp_url# :p

Oke nah, setelah jadi selebtwit, ada satu efek tersendiri buat si empunya akun. Ada tuntutan tidak tertulis bahwa mereka bisa menghasilkan tweet-tweet yang tetap disukai, informatif atau menghibur pengikutnya. Itu kan jadi tekanan tersendiri untuk si penulis dibalik akun tersebut, kalo untuk kita-kita para rakyat biasa dengan jumlah pengikut yang seadanya, be your self, share everythings that cross your mine are fun, buat mereka si empunya akun mungkin jadi ada tekanan tersendiri. Pertama, harus sesuai dengan imej akun yang memang sudah dikenal luas. Dua, tiap hari, tiap menit, yang baca ‘hasil karya 140 kata’ mereka itu selalu memantau, tidak semua, tapi sebagian dari mereka pasti melihat, dan tidak jarang berkomentar. Ada yang sekedar meng-RT, komen positif dan yang ngenes ya yang komen negatif. Beban sih kalo menurut gw pribadi, ruang gerak jadi lebih terbatas, tiap gerak-gerik *tulisan* selalu dipantau, oleh orang-orang yang ga dikenal, dan berkomentar pun pasti tanpa merhatiin ‘perasaan’. Namanya juga ga kenal personal, dan dunia maya, ga tatap muka, komentar dikit, banyak yang dukung eh akhirnya adu nyolot muncul deh istilah TWITWAR *ups yang ini ntar kita bahasnya ya.

So, positifnya punya banyak followers itu kalo kamu butuh nanya sesuatu atau ada yang ga kamu tau, kamu bisa post di twitter dan ta-da bala bantuan berupa mention dari orang-orang yang lebih tau akan muncul bak ibu peri. Sebagian mungkin ada yang ga serius, but most of all they’re help so much. Belum lagi kalo kamu punya followers setia, kalo lagi keluh kesah bisa dapet banyak simpati, lumayan jadi penghibur lah ya.

Ada positif ada negatif juga dong, nah disini nih saat-saat mental kamu diuji. Siapkah Anda dengan segala konsekuensi SocMed? Siapkah mental Anda dengan kemungkinan hujatan/selaan masal yang mungkin timbul? Oke, misalkan si akun selebtwit tadi ngetweet yang ga penting dan ga keren, level dada tiarap dari apa yang biasanya muncul di twit mereka, misalkan: aduh sakit perut. Biasanya ini akun ngetweet soal sesuatu yang serius, misalkan pepatah-pepatah cinta. Kalo tiba-tiba muncul twit kaya barusan, ada dua kemungkinan reaksi para warga twitterland: satu, simpati (kemungkinan besar dari followers setia tadi), kedua, yang nyela, mungkin seperti ini: elah. Ga sekalian pengen pup ditwit? Atau elah gitu doang ditwit. Yups. Reality bites. Kalo twitnya bagus diRT, giliran nyeleneh dikit dicela. Tega. Pake bahasa yang jleb. Itu mending reaksinya Cuma gara-gara twit nyeleneh, nah ini misalkan ada kasus copas? Bisa ampe diunfollow plus report as spam, belom lagi diomongin setimeline. Kuatkan hati ya (kaya kasus baru-baru ini gitu deh, salah satu selebtwit diomongin [cela] masal *baru banget malah, kemaren malem).

bentar kita pending dulu lanjutannya *nyeruput susu sapi*

Tags: ,

(satu pemikiran)

Kadang ada satu masa setelah hari yang terasa panjang, hal yang ingin gw lakukan hanya diam, melamun. Memutar balik kejadian-kejadian dalam satu hari, kejadian hari sebelumnya, memutar kembali satu bagian dimasa lalu, kemudian tidak lupa membayangkan apa yang mungkin terjadi dimasa depan. Saat kembali tersadar, kembali pada dunia yang dipijak, dan putaran waktu yang berlalu yang gw lakukan adalah mendesah. Seolah lelah, padahal itu ga seberapa lama, tapi otak dan pikiran bawah sadar seolah sudah melakukan perjalanan sejauh berkilo-kilo meter. Adakah yang merasakan hal yang sama?

Tapi moment tersebut juga selalu gw nantikan, selalu ada titik balik dimana gw termotivasi untuk melakukan sesuatu hal, merasa menyesal karena melakukan suatu hal yang saat ini, saat moment itu datangm terasa salah, dan dalam satu putaran moment itu juga gw merasa bersyukur atas apa yang telah gw miliki. Selain helaan nafas lelah, bisikkan terima kasih dan puji syukur selalu terucap pada akhir moment tersebut.

Satu yang gw ambil kesimpulan dari “zona pikiran” tersebut adalah betapa luar biasanya kemampuan manusia dalam menyimpan memori dan luasnya daya khayal juga tingginya imajinasi manusia. Dalam suatu bagian otak yang bahkan sangatlah terlihat kecil, memori yang tersimpan selama tahun-tahun manusia menjalani hidup tetap tersimpan. Kadang mungkin dilupakan, tapi ada saatnya manusia tersebut kembali ingat. Selain dari memori atas kejadian-kejadian yang dialami oleh diri sendiri, ada juga berbagai pengetahuan yang diperoleh selama proses menapaki hidup itu sendiri. Atas semua ini gw kembali bersyukur dengan kemampuan untuk berpikir yang telah diberikan Tuhan dengan sangat murah hati, semoga anugerah ini bisa membawa manusia ke arah yang lebih baik, dan memaksimalkannya untuk hal-hal yang positif.

Tags:

renungan, polos, dan saat ini.

Mata bulat polos yang bening itu menatap tanpa dosa. Meskipun jawaban yang keluar kadang sederhana, tapi disana ada suatu realita dan sesuatu yang masih belum tersentuh oleh ‘pengetahuan’ lebih jauh mengenai dunia. Itulah yang terjadi jika kita bercakap-cakap dengan anak kecil. Kadang saya rindu dengan masa-masa itu. masa ketika kita tidak banyak takut, hanya keingin tahuan yang membuncah begitu hebat untuk mengenal lebih jauh mengenai dunia. Saat lebih dewasa, lebih banyak mengenal intrik yang ada dalan kehidupan sosial, maka dunia pun tidak seaman dulu.

Jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam ruang pikir yang terbatas pun tampak tidak memerlukan jawaban rumit yang berbelit. Dulu, jawaban sederhana adalah jawaban terbaik yang langsung dipercaya tanpa harus menuntut penjelasan lebih jauh. Polos. Putih.

Namun, pada akhirnya kita harus tumbuh dewasa, merasakan asam-manis dunia. Membuka diri pada realita, dan berusaha berdamai dengan realita itu sendiri, dengan cara kita sendiri. Hidup milik kita, hanya satu, tanpa tombol pause, stop, rewind ataupun fast forward. Setiap harinya adalah hadiah (dan mungkin kutukan) tapi itu adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan, hal terbaik yang bisa kita lakukan? Menjalaninya.

Tags: ,

day of sucky

Hari ini saya punya sebuah cerita tentang pengalaman saya yang merasakan langsung pelayanan masyarakat. Jadi hari ini saya menuju ke kecamatan dengan misi untuk mencetak ulang KK baru karena ada kesalahan pada tanggal lahir salah seorang anggota keluarga. Sesuai prosedur saya menuju meja penerima tamu kecamatan tersebut dan menanyakan perihal perbaikan pada KK tersebut, dan minta untuk bertemu dengan petugas yang berwenang untuk menangani masalah tersebut. Hal pertama yang membuat saya kecewa adalah petugas penerima tamu tersebut sangat tidak ramah, tidak mengucapkan salam, menjawab salam atau bahkan membalas senyum. Hal sepele memang, tapi hey, saya disini sebagai masyarakat yang membutuhkan bantuan. Kedua, saat saya menanyakan petugas yang berwenang, petugas tersebut meninggikan suara dan menyatakan bahwa petugas yang dimaksud sedang sibuk dan tidak dapat diganggu. Bahkan petugas penerima tamu tersebut tidak melakukan kontak terlebih dahulu dengan bagian yang berwenang ataupun dengan petugas yang dimaksud. Padahal saya yakin bahwa petugas yang menangani masalah data penduduk tentunya bukan hanya seorang yang menurut petugas yang beinteraksi dengan saya sedang sibuk. Ketiga, saat saya menanyakan kapan petugas yang menangani kasus saya kira-kira, beliau bilang malam. Hell-o bahkan kecamatan punya jam kerja ‘normal’ dalam menangani keluhan masyarakat kan? Ketika saya menanyakan kembali, waktu siang kapan saya bisa bertemu langsung dengan petugas tersebut dia bilang: tidak tahu, datang saja besok lagi. GREAT ! udah ga sopan, sok kuasa, tidak disiplin, meremehkan customer. Itulah yang ada dalam pikiran saya saat itu, dengan satu kata saya merasa kecewa.

Tapi tentunya saya tidak bisa melakukan penilaian sepihak hanya dari ‘hasil’ interaksi saya dengan petugas satu itu saja. Tidak putus asa saya menuju bagian belakang kecamatan dan menemukan dua petugas wanita, kemudian saya menyampaikan keluhan saya, dan voilaa petugas wanita tersebut membawa saya ke satu ruangan, yang ternyata merupakan ruangan data dan disana ada petugas yanga available untuk menangani kasus saya. Bahkan saat petugas tersebut mengalami kesulitan berkaitan dengan data saya, petugas tersebut memanggil petugas yang seharusnya saya temui tadi (yang ternyata bisa berkompromi, asal diberi tahu) dan akhirnya menangani kasus tersebut. Meskipun ada waktu tunggu, namun secara keseluruhan pelayanannya cukup memuaskan.

Hal-hal yang saya petik dari kejadian hari ini adalah:

1. Jangan menilai keseluruhan, hanya karena bagian kecil atau sebagian. Terbukti di atas, bahwa sekalipun ada bagian-bagian yang cukup mengecewakan dari birokrasi dan jalannya pelayanan masyarakat di negara ini, namun di dalamnya ada petugas-petugas yang memang berdedikasi untuk memberikan pelayanan yang tebaik bagi masyarakat.

2. Kesabaran adalah hal yang mutlak harus kita miliki. Dengan kasus di atas, jujur saya memang awalnya merasa tidak sabar dengan birokrasi yang terasa bertele-tele. Namun, jika kita mau menjadi warga yang baik, semua harus mengikuti prosedur. Toh disitu akan tetap selesai, dan itu mendidik kita untuk lebih menghargai proses.

Tags: