Archive for category sebentuk pemikiran

catatan 23.10.12

21 tahun gue hidup di kota ini. Dari lahir sampai dengan hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini. Ketika kata perkata gue ungkapkan disatu lembar putih. Dan dalam hitungan hari gue akan meninggalkan kota ini, untuk mejemput rezeki, meraih mimpi dan menggapai cita-cita.

Dari satu kota sejuk yang menurut gue sangatlah nyaman ini, ke satu tempat yang bukan bintang yang menghiasi langit malamnya, tapi ribuan lampu di bangunan yang mengangkasa. Gue akan sangat merindukan momen-momen malam saat gue duduk di balkon rumah hanya untuk memandang bulan atau sekedar menyapa bintang. Bintang pasti ada disana, gue yakin, hanya saja rasanya pasti berbeda dengan rumah.

Gue pasti kangen berat sama bingarnya suasana rumah dengan segala kehebohan dan konfliknya. Gue pasti sangat merindukan duduk di pojokkan kamar untuk sekedar berbagi kata seperti hari ini.

Keluar dari zona nyaman. Itulah tantangan gue selanjutnya. Sudah di depan mata. Sanggupkah? Pasti. Keyakinan adalah salah satu kekuatan gue untuk tetap berpijak. Keyakinan bahwa suatu hari nanti pada waktunya, langit disini, pojokkan kamar ini akan kembali menjadi milik gue. Tapi saat ini yang penting adalah gue membangun bata demi bata cita-cita gue, mewujudkan hal-hal yang tadinya hanya berupa do’a atau harapan menjadi sesuatu yang lebih nyata dari sekedar bisikan. I will survive, I promise.

Tags:

merauh cahaya

Biasanya saat kita tenggelam dalam mimpi, lalu terbangun, mimpi tersebut terlupa begitu saja. Lain halnya dengan beberapa mimpi, salah satunya adalah mimpi gue tadi malam. Di mimpi tadi malam, gue berpacu dengan waktu untuk meraih cahaya di kejauhan. Melalui jalan yang berliku, berbukit dan melandai. Jarak terpentang jauh antara tempat gue dan tujuan disana. Tapi toh pada akhirnya gue berpacu untuk mencapai tempat tersebut.

dream big by thejusticeleague 300x197 merauh cahaya

Masih tergambar jelas dalam mimpi gue, setelah melewati kontur perjalanan yang tidak bisa dibilang mudah, gue melewati satu hutan dengan rimbunan pohon yang rapat, namun melalui sela-sela daun yang saling menjalin itu, gue bisa melihat berkas cahaya menyusup. Akhirnya di kejauhan tampak lahan lapang, saat cahaya benar-benar masuk tanpa  terhalangi rimbun pohon itu. Dan dengan seketika gue memacu diri untuk sampai di tempat itu, entah kenapa menurut gue itu adalah tempat tujuan yang tepat, saat cahaya bisa bersinar terang tanpa ada hal yang menghalangi, saat sampai disana, saat itu pula gue terbangun. Dengan jantung masih berdebar akibat adrenalin yang terus terpacu selama gue melewati perjalanan tadi.

Entah apa arti mimpi gue tadi malam itu, tapi mungkin itu adalah pertanda atau jawaban dari kegundahan gue akhir-akhir ini. mengenai betapa sulitnya meraih sesuatu. Mungkin ini berarti, bahwa meskipun jalan terjal dan penuh liku harus dilalui tapi hasil akhirnya memang patut untuk diperjuangkan. Ada hasil akhir yang memuaskan dalam segala perjuangan itu.

Tags:

jurusan, kerjaan ?

Sebangun tidur siang yang cukup panjang barusan, yang berawal dari ketiduran, entah kenapa muncul keinginan untuk nanya sama kalian semua, masuk jurusan kuliah kalian saat ini alesannya apasih? Kalo dulu gue masuk fakultas Bisnis dan Manajemen, jujur lebih karena terpaksa dibanding tertarik. Sebenernya sejak awal SMA sudah tertarik untuk mengambil jurusan Teknik Sipil di salah satu universitas negeri di Bandung yang berlambang gajah tersebut, namun apa daya dua kali mengikuti USM belum kedapetan rezeki untuk bisa menjadi salah satu mahasiswa disana. Akhirnya setelah terombang-ambing antara gengsi, keinginan dan tuntutan orang tua, dipilihlah Fakultas Bisnis dan Manajemen sebagai tempat berlabuh.

Namun, setelah menjalani kuliah di jurusan tersebut mata gue mulai terbuka melihat betapa menariknya dunia ‘manajemen’ dan ‘bisnis’ ini. Meskipun pada akhirnya gue tidak begitu tertarik untuk menjadi praktisi langsung dengan membuka ‘bisnis’, gue lebih tertarik untuk bekerja kantoran, dengan bidang kerja yang tidak begitu melenceng (malah sejalan) dengan jurusan dan konsentrasi yang gue ambil. Manajemen Keuangan. Tapi setidaknya gue tidak ‘lari’ dari ‘bekal’ yang gue peroleh selama kuliah tiga setengah tahun lamanya itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, gue tahu, bahwa jurusan yang lo ambil saat kuliah, tidak menentukan jenis pekerjaan yang kamu dapatkan. Tapi nih yaaa..gue sempet berpikir bahwa hal tersebut ga adil untuk sebagian orang yang masuk jurusan tertentu karena memang berminat, lalu mencari lapangan pekerjaan dalam bidangnya, saingannya lebih banyak, karena bahwa dari jurusan-jurusan atau fakultas-fakultas lain yang notabene tidak sejalan dengan jurusan tersebut, berebut kerja di bidang yang sama. Hemm..misalkan di dunia perbankan. Orang-orang non-ekonomi pun memiliki kans yang sama, asalkan memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh perusahaan dalam proses seleksinya. Bukanya merasa tersaingi, namun hal ini jadi pertanyaan sendiri buat gue, lalu apa fungsinya kita kuliah dengan jurusan tertentu? Jika toh pada akhirnya saat ‘praktek’ di dunia nyata bahkan ilmu tersebut bisa campur baur, memulai dari nol di bidang baru? Itu menurut gue lho ya, Cuma pertanyaan yang kadang bikin heran sendiri. Mungkin dari kalian yang iseng baca post ini bisa sharing pendapat dengan gue mengenai pertanyaan ini. hehe.

Tags: ,

240912

24 September 2012

tumblr lqj9vkU1qi1qajjdco1 500 240912

Akhirnya setelah hampir lima bulan menjalani proses yang lapisannya lebih banyak dibanding kue rainbow cake, tepat pukul 16.30 kemarin gue dapet kepastian dipinang oleh salah satu bank terbesar di Indonesia. Hal yang cukup random adalah, pertama kali gue menginjakkan kaki di bank yang tempat pendidikannya berada di daerah Slipi itu di bulan Maret 2012 lalu, menemani dua orang teman, yang salah satunya baru saja menjalani seleksi masuk di bank tersebut. Tidak pernah terpikir bahwa nantinya, enam bulan kemudian, justru gue akan menjadi salah satu bagian dari perusahaan tersebut. Komentar pendek gue saat itu hanya: “wah, gede ya bangunannya”. Mungkin ini yang dinamakan dengan rahasia dan jalan Tuhan. Jatuh, bangun, masa-masa menunggu yang seolah ga ada akhir, pada akhirnya terbayar. Akhir bulan Oktober nanti gue akan pindah ke Jakarta untuk memulai pendidikan selama satu tahun, untuk itu gue meminta do’a restu untuk kelancaran kegiatan di depannya. Gue gatau, apa yang akan gue hadapi, ada juga ketakutan untuk bisa survive sendiri di kota besar dan tinggal sendiri, tapi sekali lagi gue akan belajar.

“Misteri paling mengasyikan dari rencana Tuhan adalah menjalani hidup itu sendiri” – random dipagi hari J

Tags: ,

Kerjaan = Pacar

Iseng-iseng gitu deh tadi sore tiba-tiba terlibat percakapan dengan ka johantectona tentang masa depan dan segala galaunya (emang trend banget nih kata satu ini). Dimulai dari kebimbangan ikutan blog competition dilanjut dengan kebimbangan lain yang sama sekali jauh dari topik awal. Lalu munculah satu pemikirian kalau cari kerja itu sama kaya cari pacar. Iya ga sih? Ga apa-apa sih kalo setelah baca post ini ga setuju. Haha.

Attraction

Hal pertama kalo kalian mau saling pendekatan dengan katakanlah target yang entarnya diharapkan bisa jadi pacar adalah adanya ketertarikan. Coba deh, pas kalian mau cari kerja, hal pertama yang dilihat itu tampilannya dulu. Perusahaan apa sih? Seperti apasih perusahaan tersebut? Kemudian posisi apasih yang available?

Iya kan? Sama kaya cari pacar, menarik ga? Available ga? Baru deh tahap selanjutnya. Cari cara gimana caranya bisa terhubung dengan si target tadi. Cari kerja juga gitu, kalo udah ada target, akhirnya dicari cara gimana supaya bisa terhubung dengan perusahaan tadi. Masukin lamarannya lewat apa sampai akhirnya masukin CV kalian ke perusahaan tadi.

Pendekatan (PDKT)

Setelah bisa terhubung akhirnya kalian masuk ditahapan kedua. Tahapan ini kalo di tahapan pendekatan lawan jenis, adalah tahapan penuh kebimbangan, harapan juga ketakutan ditolak. Ditahap ini kalian cari sinyal positif, tebak-tebakan itu sinyal maju atau sinyal supaya mundur, mulai ada harapan kalo bisa bakal terus lanjut. Tahapan dimana kalian memberikan kesan terbaik kalian supaya dapet sinyal positif.

Kalo dalam cari kerjaan, tahapan ini adalah proses mendapatkan pekerjaan itu sendiri melalui serangkaian tes. Nah, dinyatakan lolos administrasi akhirnya dimulailah perjuangan kalian untuk bisa menunjukkan kesan terbaik, hingga akhirnya bisa saling meminang dengan sang perusahaan target tadi. Proses PDKT-nya sendiri bisa cepet, bisa lama (banget). Disitulah adrenalin bermain, ada harapan yang kian berkembang, ada ketakutan gagal dijalan. Hihi. Mirip kan ya?

PINANG-MEMINANG

Setelah melewati sekian tahapan pendekatan yang penuh rasa deg-deg-an tadi sampailah ditahap akhir, yaitu peminangan. Bedanya, kalo biasanya kan yang gencar pedekate yang ngajuin pinangan akhir, di dunia kerja, setelah sekian lama akhirnya perusahaanlah yang meminang kita. Akhirnya kembali pada prinsip: perusahaan boleh memilih, tapi kita yang memutuskan. Disini banyak yang dipertimbangkan dari mulai mas kawin yang ditawarkan (tunjangan, sallary, dsb) apakah sesuai dengan ekspetasi atau standar yang kalian terapkan di diri kalian sendiri, pertimbangan orang tua, jenjang karir kedepannya dan pertimbangan lainnya. Bisa saja dalam sekali waktu lebih dari satu perusahaan yang berusaha meminang kalian, disitulah saatnya keputusan dibuat, dan memang bukan perkara mudah. Butuh keyakinan dan keberanian untuk menghadapi segala hal yang mungkin terjadi di depan.

Sama kan kaya proses nerima-ga nerima ajakan pacaran. Bisa aja dalam satu waktu ada beberapa yang ngajak pacaran. Harus dipilih satu kan? Yang menurut kalian terbaik atau pertimbangan yang masak. Hihi.

Itu sih persamaan antara cari kerja dan cari pacar yang menurut gw prosesnya agak-agak mirip. Mungkin ini Cuma sekedar intermezo dari kepala yang kecil tapi penuh sesak ini. *peluk beruang*

Tags: , , ,

bisik-bisik tetangga #1

Ungkapan “dunia itu kejam”“ibu kota lebih kejam dibanding ibu tiri” itu sudah biasa. Sekarang dunia social media pun ternyata ga tanggung-tanggung dalam menunjukkan kekejamannya. Dunia maya yang notabene para peserta interaksi tidak bertemu pandang secara langsung namun tetap bisa berinteraksi bisa menyebabkan berbagai reaksi. Ada positif tentunya ada negatif. Selalu ada dua kutub berlawanan untuk segala sesuatu. Betul?

Twitter. Wuih siapa sih yang ga kenal sekarang dengan social media yang berlogo burung biru itu? Sebagian besar pengguna internet pasti tahu SocMed satu itu. Nah, awalnya twitter ini dijadikan semacam microblogging, orang-orang bisa ‘nulis’ sepanjang 140 karakter tentang apapun yang melintas dalam pikiran mereka, dan dishare kepada para folllowersnya. Nowadays, twitter banyak dijadikan tempat ‘beriklan’ entah itu produk atau ‘mengiklankan diri’. Nah, salah satu akibat dari proses ‘mengiklankan diri’ tadi banyak akun twitter non-artis/tokoh-tokoh tertentu yang memiliki followers berjibun, beribu-ribu bahkan ratusan ribu. Entah karena isi tweet mereka yang memang kreatif, lucu, galau atau serius dan menotivasi. Munculan akhirnya istilah “selebtwit”From nothing be something, hanya dari share kata-kata atau cerita, ga jarang curhat juga. Ga sedikit dari para selebtwit ini akhirnya bisa mengeluarkan buku, entah itu kumpulan tweet-tweet mereka, atau memang ternyata mereka berbakat menulis dan akhirnya menghasilkan buku yang kebanyakan ga jauh-jauh dari ‘cerita mereka’ yang sering muncul di tweet harian.

Dengan adanya ‘tradisi’ promosi akun yang dikenal dengan #FollowFriday maka para selebtwit ini makin banyak yang nge-follow, ga jarang karena satu sama lain saling mempromosikan, akhirnya para followers pun bertambah. Penikmat dari sharing kata-kata mereka makin banyak. Ga jarang bahkan si pemilik akun ini ga kita kenal, hanya melalui ‘katanya’ kira-kira kita akan tahu tentang si pemilik akun, atau kalo emang super kepo yaaa ampe di googling deh nama si pemilik akun. Bahkan beberapa akun tetap dalam keadaan anonim. “Pemilik” akun atau disini lebih tepat disebut admin akun tersebut tetap dalam status ga dikenal. Hal yang kita tahu adalah tweet mereka worth to read.

So, orang dibalik akun tersebut terasa semu (makin semu maksudnya, di dunia maya kan semua serbu semu *tsah). Belum tentu apa yang mereka share adalah memang diri mereka, tulisan mereka bahkan belum tentu menunjukkan karakter mereka, bisa saja mereka men-tweet sesuai dengan karakter akun tersebut atau karena permintaan pasar (hal-hal yang lagi trend, semacam galau gitu, yang banyak disukai oleh followers). Kebanyakan dari akun ini biasanya memiliki karakter tetap, yang menunjukkan isi tweet mereka, jarang yang random, meskipun ada beberapa. Tapi toh hal tersebut fine-fine aja untuk para followers. Hal yang followers tahu adalah tweet mereka enak dibaca, sesuai dengan mereka atau bagi yang butuh hiburan yahhh tweet mereka itu cukup menghibur.

So, kenapa nih gw ngebahas itu semua? Diawali dari dunia twitter yang disinyalir lebih kejam dibanding dunia nyata (katanya), seleb tweet dan juga karakteristik dari tweet dan followers, gw ingin membahas tentang…..ntar ya dilanjut dipostingan kedua. Hehe.

Tags: ,

Donat Kentang

Donat Kentang.

Tampilannya sederhana, bulat dengan bolong ditengah layaknya donat pada umumnya. Ditaburi gula tepung putih yang menambah citra rasa manis diantara gurihnya adonan tepung campur kentang dan sedikit pembumbu rasa. Ukurannya tidak besar, hanya sebesar telapak tangan. Adonannya yang kental membuat donat tersebut berisi dan tidak kosong. Sehingga satu buah donat bisa mengganjal perut yang belum mendapat jatah makan siang.

Yups. Siang yang panas, terdampar di jalan Buah Batu, Bandung. Lapar. Sejak pagi perut yang merana hanya diisi nasi goreng setengah piring dan sisanya air putih yang rutin diteguk untuk mencegah dehidrasi. Karena perut yang terus bernyanyi dan entah kenapa sejak kemarin rasanya kangen sama donat, akhirnya kedua kaki dan sedikit informasi membawa kedua kaki ke sebuah mall. Satu kios kecil menyajikan pemandangan sebuah papan dengan tulisan utama “DONAT KENTANG” dengan huruf meliuk-liuk menarik mata dan paduan warna yang sulit dilewatkan. Dibandrol dengan harga Rp 2.000/potong, akhirnya sampailah si donat kentang dengan selamat di dua tangan yang sudah ga sabar membawanya ke dalam proses panjang pencernaan.

Lalu sebuah ide analogi pun muncul. Kalo jadi manusia, kira harus seperti donat kentang. Tampilannya mungkin sederhana, tidak terlihat mewah, namun memberikan manfaat yang besar, berisi. Bisa memberikan kepuasan pada rasa penasaran, pemenuhan kebutuhan dari yang membutuhkan. Sudah memiliki daya tarik alami dari citra rasa adonannya, ditambah dengan sedikit sentuhan yang memberikan daya tarik lebih. Donat kentang. Sederhana.

Tags: ,

(dari) provider

Hey, its been along time since the last time I wrote down here, in my second home. The place where I could share almost anything. Here I am now, gonna talking about something.

Iseng-iseng pindahin channel TV, dan akhirnya bisa menyaksikan iklan salah satu provider yang hampir selalu mendapatkan tanggapan positif. Topiknya ringan sebenarnya tentang kebebasan. Satu kata yang sebenernya sampe sekarang pun (selalu) masih belum bener-bener gw belum mengerti maknanya. Tersirat dari iklan tersebut bahwa kebebasan adalah sesuatu yang diberikan terhadap seseorang untuk mendapatkan haknya, menjalankan hidupnya sesuai dengan pilihannya masing-masing. Namun, diakhir setiap kebebasan tersebut selalu terdapat beberapa batasan. So, dimana bebasnya kalo masih dibatasi?

Pertanyaan yang sama yang selalu terjadi setiap kali kebebasan tersebut diberikan pada gw. Sebagai contoh: waktu SMP dan akan memasuki SMA orang tua memberikan kebebasan untuk gw memilih SMA yang gw inginkan, namun tetap dengan syarat dekat dengan rumah, dianter jemput dan sebagainya. Bebas main jam berapa aja asalkan jam delapan malam sudah di rumah. Bebas pilihan jurusan apa saja saat kuliah, asalkan sesuai dengan pertimbangan orang tua, dan masih banyak lagi. Disinilah saat gw benar-benar mempertanyakan arti kebebasan. Ini bukan bebas, ini berbatas. Selalu ada garis samar yang membuat gw selalu merasa berada dalam satu kubah, luas, namun tetap garis itu tetap ada.

fear (dari) provider

Seperti anak lainnya, remaja lainnya, ada satu keinginan untuk melanggar batasan-batasan tersebut. Misalnya hal yang ringan seperti pulang lebih malam dari jam malam, risikonya? Grounded, uang saku dikurangi, dan sejuta telepon dan sms mengiringi setiap kali keluar rumah. Tapi pada akhirnya gw tau bahwa segala batasan yang ada tersebut yang akhirnya menjaga gw selalu aman, merasa lebih tenang. Akhirnya gw pun belajar untuk berdamai dengan semua batasan-batasan tersebut, memaksimalkan apa yang gw punya dalam batasan-batasan tersebut. Pada dasarnya kebebasan tersebut memang harus berbatas, kebebasan yang berbatas menjadikan kita hemm apa yaa istilahnya lebih mature. Bagi yang berjiwa petualang mungkin hal ini jadi sebuah hambatan, lebih menarik untuk selalu way out the line, tapi buat gw justru dengan batasan tersebut gw jadi dimana harus berdiri. Lebih mudah untuk berdamai dengan segala batasannya, toh pada akhirnya kebebasan tersebut akan lebih luas seiring dengan “prestasi” kita tetap mematuhi batasan, kepercayaan (dan usia) meningkat akhirnya kita akan mendapatkan “kebebasan” versi kita sendiri. Namun, selama menjadi anak, maka nikmati saja kebebasan dengan segala batasannya itu. for you own good J

Tags:

mulai, belajar

Hi, guys. How are you? Well, i’ve been missing for a week. I have so much things to do, and the reality is even it was almost three months, i still feels jel-lag about being a worker. And this week, i’m so busy. The busiest week for three months. Well, that’ss enough for being such a spoiled girl who always complaining about her magnificent’s life.

Ada satu hal baru yang gw pelajarin minggu ini, Jum’at kemarin terlibat suatu percakapan dengan atasan, dia bilang: “alasan yang bagus untuk membangun sesuatu adalah belajar, terutama dalam membangun karir”. And i agreed with him. Kalo kamu memulai sesuatu dengan alasan ingin belajar, kamu akan mendapatkan lebih banyak hal baru, tidak terduga, dan disisi lain kamu akan menikmati hal tersebut, dan kata ‘cape’ akan jadi kata terakhir dalam kamus kamu. Dan asyiknya kamu dibayar untuk belajar.

Hal tersebut juga berlaku dalam membangun hubungan, dengan seseorang. Bukan hanya dalam hal romantis, tapi juga dalam pertemanan, in the short adalah dalam membangun segala bentuk hubungan, yang melibatkan makhluk lain. Mulai dari ingin belajar, belajar mengenal mereka, kehidupan mereka. Teman, pacar, saudara, sahabat adalah label, tapi intinya adalah kualitas dari hubungan itu sendiri. Ciao J

Tags:

perempuan, wanita, ibu

Well, i know moment Kartini sudah lama berlalu (almost a month ago). Tapi ada sebuah obrolan dengan seorang ibu muda yang membuat saya ingin menulis atau lebih tepatnya menyampaikan pendapat mengenai wanita masa kini. Ibu muda ini (identitas dirahasiakan) memilih untuk menikah muda diusia 20 tahun dengan alasan ingin segera membangun rumah tangga dan alasan lainnya adalah karena dijodohkan oleh keluarga. Tapi melihatnya sekarang, saya merasa dalam usia semuda itu harusnya beliau belum menikah. Kenapa? Dari kecil saya diajarkan bahwa usia dewasa seorang wanita itu at least 21 tahun (pandangan keluarga saya). Berangkat dari situ diumur yang saat ini menuju 21, saya sendiri belum berpikir serius untuk menikah, banyak yang ingin saya lakukan, banyak hal yang ingin saya coba, selain itu diumur 20 masih banyak pengalaman yang harusnya dirasakan oleh seorang wanita sebelum akhirnya mungkin diusia 23 atau 24 akhirnya menikah. Melalui akun twitter @endahpurnama saya menyampaikan beberapa pendapat:

wanita meskipun pd akhirnya kembali pd domestic-roles, bukan berarti tdk berhak membangun karir dan berpendidikan tinggi. (1)

itulah alasannya wanita mencoba segala hal sejak muda, saat diri sendiri masih utama. saat sudah menikah keluarga dan suami jd utama (2)

pendidikan yg baik jg akan menentukan bagaimana nanti seorang wanita memberikan pendidikan pd anak2nya. pembentukan arah pola pikir. (3)

so, saran buat para wanita, tinggikan cita2 kalian dr sekedar menjd-IRT-yg-baik tp menjadi ibu-rumah-tangga-yg-mampu-memberikan-yg-terbaik.

Itu hanya beberapa pandangan. Menurut saya tidak ada yang salah dengan menikah muda, tapi sekali lagi ga ada salahnya juga mempersiapkan dengan baik selagi kita memiliki waktu, karena nantinya setelah kita berkeluarga, kita memiliki tanggung jawab bukan hanya diri kita sendiri, tapi juga orang lain (anak, suami, keluarga suami). So, ketika masih ada waktu untuk mempersiapkan yang terbaik agak bisa memberikan yang terbaik manfaat sebisa mungkin. J

Tags: