Posts Tagged analogi

Kerjaan = Pacar

Iseng-iseng gitu deh tadi sore tiba-tiba terlibat percakapan dengan ka johantectona tentang masa depan dan segala galaunya (emang trend banget nih kata satu ini). Dimulai dari kebimbangan ikutan blog competition dilanjut dengan kebimbangan lain yang sama sekali jauh dari topik awal. Lalu munculah satu pemikirian kalau cari kerja itu sama kaya cari pacar. Iya ga sih? Ga apa-apa sih kalo setelah baca post ini ga setuju. Haha.

Attraction

Hal pertama kalo kalian mau saling pendekatan dengan katakanlah target yang entarnya diharapkan bisa jadi pacar adalah adanya ketertarikan. Coba deh, pas kalian mau cari kerja, hal pertama yang dilihat itu tampilannya dulu. Perusahaan apa sih? Seperti apasih perusahaan tersebut? Kemudian posisi apasih yang available?

Iya kan? Sama kaya cari pacar, menarik ga? Available ga? Baru deh tahap selanjutnya. Cari cara gimana caranya bisa terhubung dengan si target tadi. Cari kerja juga gitu, kalo udah ada target, akhirnya dicari cara gimana supaya bisa terhubung dengan perusahaan tadi. Masukin lamarannya lewat apa sampai akhirnya masukin CV kalian ke perusahaan tadi.

Pendekatan (PDKT)

Setelah bisa terhubung akhirnya kalian masuk ditahapan kedua. Tahapan ini kalo di tahapan pendekatan lawan jenis, adalah tahapan penuh kebimbangan, harapan juga ketakutan ditolak. Ditahap ini kalian cari sinyal positif, tebak-tebakan itu sinyal maju atau sinyal supaya mundur, mulai ada harapan kalo bisa bakal terus lanjut. Tahapan dimana kalian memberikan kesan terbaik kalian supaya dapet sinyal positif.

Kalo dalam cari kerjaan, tahapan ini adalah proses mendapatkan pekerjaan itu sendiri melalui serangkaian tes. Nah, dinyatakan lolos administrasi akhirnya dimulailah perjuangan kalian untuk bisa menunjukkan kesan terbaik, hingga akhirnya bisa saling meminang dengan sang perusahaan target tadi. Proses PDKT-nya sendiri bisa cepet, bisa lama (banget). Disitulah adrenalin bermain, ada harapan yang kian berkembang, ada ketakutan gagal dijalan. Hihi. Mirip kan ya?

PINANG-MEMINANG

Setelah melewati sekian tahapan pendekatan yang penuh rasa deg-deg-an tadi sampailah ditahap akhir, yaitu peminangan. Bedanya, kalo biasanya kan yang gencar pedekate yang ngajuin pinangan akhir, di dunia kerja, setelah sekian lama akhirnya perusahaanlah yang meminang kita. Akhirnya kembali pada prinsip: perusahaan boleh memilih, tapi kita yang memutuskan. Disini banyak yang dipertimbangkan dari mulai mas kawin yang ditawarkan (tunjangan, sallary, dsb) apakah sesuai dengan ekspetasi atau standar yang kalian terapkan di diri kalian sendiri, pertimbangan orang tua, jenjang karir kedepannya dan pertimbangan lainnya. Bisa saja dalam sekali waktu lebih dari satu perusahaan yang berusaha meminang kalian, disitulah saatnya keputusan dibuat, dan memang bukan perkara mudah. Butuh keyakinan dan keberanian untuk menghadapi segala hal yang mungkin terjadi di depan.

Sama kan kaya proses nerima-ga nerima ajakan pacaran. Bisa aja dalam satu waktu ada beberapa yang ngajak pacaran. Harus dipilih satu kan? Yang menurut kalian terbaik atau pertimbangan yang masak. Hihi.

Itu sih persamaan antara cari kerja dan cari pacar yang menurut gw prosesnya agak-agak mirip. Mungkin ini Cuma sekedar intermezo dari kepala yang kecil tapi penuh sesak ini. *peluk beruang*

Tags: , , ,

Donat Kentang

Donat Kentang.

Tampilannya sederhana, bulat dengan bolong ditengah layaknya donat pada umumnya. Ditaburi gula tepung putih yang menambah citra rasa manis diantara gurihnya adonan tepung campur kentang dan sedikit pembumbu rasa. Ukurannya tidak besar, hanya sebesar telapak tangan. Adonannya yang kental membuat donat tersebut berisi dan tidak kosong. Sehingga satu buah donat bisa mengganjal perut yang belum mendapat jatah makan siang.

Yups. Siang yang panas, terdampar di jalan Buah Batu, Bandung. Lapar. Sejak pagi perut yang merana hanya diisi nasi goreng setengah piring dan sisanya air putih yang rutin diteguk untuk mencegah dehidrasi. Karena perut yang terus bernyanyi dan entah kenapa sejak kemarin rasanya kangen sama donat, akhirnya kedua kaki dan sedikit informasi membawa kedua kaki ke sebuah mall. Satu kios kecil menyajikan pemandangan sebuah papan dengan tulisan utama “DONAT KENTANG” dengan huruf meliuk-liuk menarik mata dan paduan warna yang sulit dilewatkan. Dibandrol dengan harga Rp 2.000/potong, akhirnya sampailah si donat kentang dengan selamat di dua tangan yang sudah ga sabar membawanya ke dalam proses panjang pencernaan.

Lalu sebuah ide analogi pun muncul. Kalo jadi manusia, kira harus seperti donat kentang. Tampilannya mungkin sederhana, tidak terlihat mewah, namun memberikan manfaat yang besar, berisi. Bisa memberikan kepuasan pada rasa penasaran, pemenuhan kebutuhan dari yang membutuhkan. Sudah memiliki daya tarik alami dari citra rasa adonannya, ditambah dengan sedikit sentuhan yang memberikan daya tarik lebih. Donat kentang. Sederhana.

Tags: ,

hujan, analogi, dan hidup ‘nano-nano’

Pagi-pagi iseng selancar timeline twitter. Ada satu teman yang tampaknya terlalu mendalami makna hujan, akhirnya bikin twit-twit yang nyenggol galau. Well, ini dia beberapa tweet-nya:


Dulu,kamu seperti cahaya matahari yg datang membawa kehangatan serta harapan disaat pagi hujan. #sajak

Tapi sekarang, kamu cuma bayangan yg akan luntur diguyur rintik hujan. #sajak

Aku berbicara pada hujan..lirih..lirih sekali..mengulas kenangan walau harus berujung perih. #sajak

source: @dado_bedul

see? Hujan emang bikin efek macem-macem, bisa membawa kenyamanan, perasaan ga terburu-buru, mendadak mellow atau juga emosi. Tapi yang luar biasa dari hujan adalah menghadirkan inspirasi. Salah satunya adalah analogi hidup. Dalam hidup kita, orang itu datang dan pergi sudah jadi hal yang lumrah, itu seperti sebuah siklus ga terputus. Satu orang pergi, satu orang datang. Jujur, diantara proses menerima, membiasakan kehadiran seseorang dan merelakan kepergian seseorang, paling susah adalah merelakan. Tidak hanya seseorang tapi barang atau hal-hal lain yang siklusnya datang dan pergi. Tapi akhirnya semua itu kembali pada penerimaan, cara kita menyikapinya, orang-orang yang hadir di hidup kita itu membawa kita pada tingkat kedewasaan tertentu, belajar, dan akhirnya membawa kita semakin bijak menyikapi problema hidup. (ceilah)

nah akhirnya dasar ini otak lagi iseng, gw pun membalas tweet-tweet tersebut dengan sebuah analogi yang kejadiannya memang pernah nyata gw alamin. (#nomention dan sedikit nyindir sih haha)


Gini dulu hp gw sempet ilang. Terus gw teleponin+sms masih aktif,nyambung. Dua hari dia g ada. Trus gw ikhlas-in. Ga ngarep itu hp balik lg.

Saat udah ikhlas itu, gw pikir buat terakhir kali gw telepon itu hp. AHA! Taunya ada yg ngangkat, dan dia mau nyimpenin hp gw. Dia balik lg.

Jd apapun yg prnah kamu milikin, trus lepas dr kamu, kalo misalkan memang itu buat kamu, pasti balik lg. Ikhlas aja dulu (tp usaha haha).

Dilain kasus,iPod gw yg dulu ilang di taxi, dan ga mungkin kn dicari, udh kemana jg. Ngedumel iya, ga ikhlas iya. Tp akhirnya nerima.

Trus ga beberapa lama gw dapet gantinya, lebih baik dr yg lama, baru. Nah, jd emang ada alesannya yg lama ilang: ada yg lebih baik buat km

source: @endahpurnama

Hal-hal di atas adalah bukti nyata ngerelain barang aja kita susah (apalagi orang kan?). tapi kita bisa, masalahnya adalah waktu yang diperluin untuk proses tersebut, ada cepet, lambat tapi akhirnya life goes on. Hidup ga bisa dipause buat kita bisa istirahat, hidup juga gabisa direwind supaya bisa ngulang, bisa sih distop, tapi emang rela untuk ngebuang sesuatu dimasa depan yang bahkan kita belom tau gimana didepannya? Apalagi hanya karena seseorang atau sesuatu ilang dari hidup kita, baik sementara atau selamanya. There is always a reason, the hard part is find out what the reason is. But, the choice is on your own hands.

2717964188 cd1d3274de hujan, analogi, dan hidup nano nano

Hal terbaik yang bisa kita lakuin kalo menurut gw adalah ngejalanin hidup itu sendiri. Ngeluh boleh, cape iya, tapi seengaknya kita ga nyerah. Pikirin deh, hidup ini sesuatu yang menarik, banyak unsur kejutannya. Buat yang suka kejutan, kalian bisa bikin plan, seenggaknya kalian bisa tau hal-hal apa aja yang mungkin terjadi. So, buat yang mungkin lagi merasa kehilangan baik sesuatu atau seseorang, coba pikirin apa yang kalian punya saat ini, gimana kalian hidup sebelum seseorang atau sesuatu itu ada. Sebelum ada mereka atau ‘sesuatu’ itu kalian bisa survive, kenapa sekarang engga? Just bring it guys.

Selasa, 08 Mei 2012

Keputusan kamu, masa depan kamu

*PS: buat yang tweet-nya gw publish di atas ini request lo lho. haha

Tags: ,

dialog, secangkir kopi, secangkir teh

…sedikit pahit. sedikit manis. menemani pagi. memastikan hari. secangkir kopi” -endah”(source: endahsjournal.tumblr.com )

Jujur saya bukan tipe kopi, saya tipe teh. Saat sampai pada satu titik dimana banyak hal yang dipikirkan, banyak hal mesti diselesaikan, dibatasi waktu, tangan hanya ada dua, kaki untuk berdiri pun hanya dua, singkatnya saat stress, teh jadi pilihan pertama. Saat minum teh, ada perasaan hangat, tenang, dan siap untuk berpikir. Nyaman, itu adalah kata yang terlintas yang mendefinisikan teh menurut saya.

Sampai akhirnya, saya mencoba untuk mengenal kopi. Minuman yang saya tidak suka, malah cenderung pantang, karena (katanya) banyak efek negatifnya (tentunya, jika dikonsumsi berlebihan). Kopi yang saya coba adalah kopi dengan cream dan gula kadang sedikit susu ataupun kopi berasa, cappucino, moccacino, atau frappucino. Sedikit pahit, sedikit manis, namun bisa membuat saya bertahan menghadapi hari. Itu definisi saya tentang kopi. Saat minum kopi ada perasaan bersemangat, siap untuk menjalani hari, namun ada juga rasa takut karena tahu efek negatif dari mengkonsumsi kopi.

Kemudian saya kembali beranalogi…..

Teh itu seperti sahabat, memberikan rasa hangat dan nyaman, tanpa takut adanya bahaya, meskipun bahaya itu sebenarnya ada, tapi ada perasaan terlindungi. Jika teh itu lawan jenis, maka teh itu lawan jenis baik-baik, sedikit membosankan, namun sesuatu yang ideal ada pada teh, jenisnya banyak, tapi hasilnya sama, menghadirkan rasa aman, nyaman dan hangat. Tidak banyak menuntut, teh itu seperti secangkir persahabatan, sepotong kasih sayang tanpa syarat.

wpid 15792 secangkir teh dialog, secangkir kopi, secangkir teh

Kopi itu seperti orang yang baru kita kenal, persuatif, menyenangkan, namun selalu ada perasaan insecure karena belum terlalu kenal. Sekali mencoba, bisa mengakibatkan ketagihan, menawarkan berbagai macam rasa berbeda, spontan. Jika kopi itu lawan jenis, maka kopi itu lawan jenis yang termasuk tipe bad boys or bad girls. Tidak berarti buruk, bisa berarti baik, namun bisa juga benar-benar buruk. Sulit ditolak saat sudah mencoba, menawarkan permainan adrenalin yang membuat ketagihan, menjanjikan pengalaman yang membuat penasaran, namun bisa membuat kita lupa rasanya jika terus-terus dicoba, juga bisa berakhir pahit jika kebanyakan dicoba. Kopi itu asyik dicoba, tapi harus dengan kewaspadaan, kehati-hatian.

coffe bean  dialog, secangkir kopi, secangkir teh

Satu lagi analogi yang muncul ga sengaja, agak random sebenernya, kopi dan teh. Sekalipun penasaran sama kopi, tetap mencoba kopi, mencoba terbiasa dengan kopi pada akhirnya selalu membatasi konsumsi kopi. Kembali lagi pada teh, karena rindu akan rasa aman, hangat dan nyaman yang ditawarkan teh. Kopi itu seperti penyemangat, membuat saya siap menjalani hari yang dimulai dipagi membuka mata. Tapi saat penghujung hari, teh tetap jadi pilihan utama.oiya, favorite saya chamomile tea, favorite kalian?

Jum’at, 04 Mei 2012

Di satu sudut

Hujan, petang

Endah

Tags: ,

(tanpa judul)

Pernah gak.

Kamu dateng ke satu tempat. Asing. Tapi kamu merasa familiar dengan tempat itu.

Kamu ketemu orang yang belum kamu kenal. Tapi kamu merasa dekat.

Iseng-iseng duduk nunggu jemputan, merhatiin rantai pembatas. Entah kenapa kepikiran analogi. Ya, lagi-lagi analogi. Hidup itu seperti lingkaran. Satu dan yang lainnya saling terkait bagai rantai.

Kamu mungkin kenal si A, kemudian tanpa sengaja kamu cerita tentang si X yang ternyata adalah Y-nya si Z yang merupakan ini-nya si A, kemudia ada B yang ternyata ini-itunya XYZ. Lucu ya. Satu sama lain punya cerita berbeda, tapi sumbunya sama. Ada satu kaitan, ada rantai.

Kemudian hari setiap hari berlalu, awalnya hanya satu lingkaran. Kemudian mereka bertautan, membetuk rantai yang lebih kompleks. Seperti kromosom, DNA manusia. Mungkin dulu saat belajar matematika kita mengenal berbagai persamaan, sederhananya Y=a+bx, secara ga sadar logika matematika bisa juga dijadikan analogi dalam kehidupan nyata. Dalam lingkaran tak terputus juga dalam tautan rantai hidup kita. Namun, lingkaran itu belumlah (hampir) sempurna.

gc058e (tanpa judul)

Seiring dengan berlalunya waktu, kita melakukan perjalanan, tidak hanya diam dalam satu lingkaran itu saja, kita berusaha membangun rantai atau terpaksa. Kita harus datang ke suatu tempat asing dan bertemu dengan orang-orang baru yang asing. Kemudian semua menjadi agak tidak asing. Sama sekali tidak asing. Dan akhirnya menjadi lingkungan nyaman yang membuat kita merasa tidak asing. Satu lingkaran baru terbetuk. Awal dari tautan rantai selanjutnya.

Dua kaki ini berpijak di bumi. Entah skenario Tuhan akan membawanya kemana. Satu hal yang jelas, saya punya lingkaran, saya punya ujung rantai. Disana dia punya lingkaran, punya ujung rantai satu lagi. Entah dia siapa, tapi suatu hari dua ujung rantai akan terpaut, membentuk satu lingkaran rantai (hampir) sempurna. Mungkin itulah saat takdir (saya dan dia) bertemu. Mungkin saat itulah disatu titik: lingkaran saya akhirnya utuh.

Senin, 16 April 2012.

Sebuah catatan tanpa judul

Sebuah imajinasi tanpa pagar

Endah

Tags: ,

“Pindah Rumah”

Senin, 09 April 2012.

Malam hari setelah pulang kantor, dan bbm an sama seorang temen yang kebetulan lagi didera sindrom sehabis ‘game over’ tiba-tiba terinspirasi untuk nge-tweet tentang ‘pindah rumah’. Sebenarnya bukan inspirasi murni, istilah ‘pindah rumah’ didapat setelah membaca buku Manusia Setengah Salmon – Raditya Dika. Well, untuk followers setia @endahpurnama diharapkan ga merasa terganggu dengan inspirasi yang mendadak membanjir atau malah jadi ikutan galau atau malah merasa terganggu (maaf yaa) hehe.

Mari kita bermain analogi.

Kemarin sore Bandung didera macet dimana-mana, ga hanya macet tapi juga hujan keroyokan, banjir dan paling parah adalah mati lampu. Sialnya saya salah ngambil belok jalan, dan akhirnya terjebak macet berkepanjangan. Dari situ pikiran berkelana dan menghasilkan satu pemikiran: Salah ngambil jalan itu ibarat jatuh cinta salah orang. Terjebak macet. Tersendat-sendat. Namun ketika kamu menemukan jalan yang benar, terbebas dari macet, rasanya itu seperti bebas. Ga terpaksa mau ga mau.

Pulang ke rumah, tiba-tiba ngobrolin ‘pindah rumah’ dengan salah satu teman, beberapa pemikiran pun akhirnya kembali lahir:

Dr segala rutinitas ‘pindah rumah’ paling susah itu nyari ‘rumah baru’. Banyak pertimbangan, takut ini-takut itu, ngebandingin. Tp ‘harus’.

Nah,perjuangan ‘pindah rumah’ ini harus seiring jg sama perjuangan buat ngelupain. Ngelupain hal2 nyaman, kenangan2.

Pas dapet ‘rumah baru’ pasti yg pertama dilakuin ngebandingin sama ‘rumah lama’. Padahal beda rumah, beda jg ceritanya. Adaptasi kuncinya.

Well, nikmatin aja proses nyari rumah baru, banyak cerita, kalo cocok ya ‘pindah’, kalo engga masi bs nyari referensi lain. Yg pnting nyoba.

Source: @endahpurnama

Kirain topik ‘pindah rumah’ Cuma hangat tadi malam, nyatanya kembali dapet inspirasi siang tadi saat makan siang dengan rekan kantor. Semuanya sudah menikah, alhasil sebagai paling bontot, Cuma bisa ngedengerin dan berusaha (tertatih-tatih) ngikutin arah obrolan. Tibalah kita pada obrolan tentang rumah.

F: Ternyata mending beli tanah dulu baru ngebangun dari 0. Soalnya kalo nyicil jatohnya bisa lebih mahal.

A: Iya sih, tapi ngebangunnya juga lebih mahal, Cuma memang karena dari 0 jadi lebih kerasa perjuangannya kali ya.

I: Aku sih beli rumah lama, tapi sampai sekarang masih rudet banyak yang mesti dibenerin.

Nah, buat saya percakapan tadi bisa juga berarti:

· Membangun bersama dari 0 dengan seseorang itu akan lebih terasa perjuangannya, semua kita mulai dari ketidaktahuan, sampai perlahan-lahan saling memaklumi, saling toleransi, dan akhirnya bisa saling nyaman.

· Nah, kalo nyicil nih, kelamaan PDKT, akhirnya jatohnya memang lebih kenal, tapi belum tentu lunas, belum tentu diakhir memang jadi. Dan kadang melalui proses itu sendiri malah ada kemungkinan bikin kita mundur perlahan.

· Beli rumah lama, atau balikan, hemm…enak sih bisa tinggal jalanin, tapi saking udah kenalnya, dan pernah ada satu titik dimana sama-sama memutuskan untuk pisah, akhirnya masalah lama lah yang kembali menghantui.

aeerr4 Pindah Rumah

So, kalo menurut saya sendiri pilihan paling baik itu memulai kembali dari 0, dari tingkat ketidaktahuan yang sama. Biar waktu yang memutuskan sampai mana perjalanan tersebut, yang jelas sama-sama membangun keadaan.

Balik lagi ke ‘pindah rumah’, memang susah sih, kaya kata temen saya bilang: saat pindah kita mesti packing, nah makin keingetan kan itu waktu masukin barang-barang untuk dibawa ‘pindah rumah’ malah makin susah dong pindahnya?

Saya Cuma bisa bilang, kalo yang dibutuhkan itu hanya ‘menerima’, kalo kita udah menerima, susah sih buat beres-beres, tapi kita akan sampai pada tahap bisa melangkah, ninggalin apa yang tertinggal di belakang, dan membawa apa yang tertinggal (sebagian) ke depan, rumah baru.

‘pindah rumah’ ini juga hampir sama kaya maen game. Diibaratkan kita udah maen game jauh-jauh, tiba-tiba game over, dan yang harus dilakukan adalah press new game. Malesin emang. Udah tau tahapannya apa, ngulangin lagi dari awal. Tapi saat kita sampai pada level baru, lewat dari level terakhir kita game over, pasti senengnya ga ada dua.

Well, ininya adalah kita harus siap mencoba. Ibaratnya kalo kita naik gunung, bawa ransel, trus ransel kita rusak dan dikasih penggantinya, supaya beban kita lebih ringan, kita harus nyimpen dulu ransel lama dan baru siap untuk yang baru kan? Pisah sama sesuatu yang terasa akrab itu susah, saya akui, tapi saat kita siap melangkah, berani nyoba, pasti ga nyesel dan kesempatan baru makin terbuka lebar. By the end of the post, mungkin kalian udah bisa nebak kan maksudnya ‘pindah rumah’ itu apa? Well, gimana pengalaman kalian ‘pindah rumah’? atau justru sebagian ada susah banget buat ‘pindah rumah’? I ever in that position, I feel you guys, but finally, i’m moved. J

Tags: , ,