Posts Tagged random

“Memandang Punggung”

“Memandang Punggung”

Kadang tanpa sadar kita ngeliatin orang, bukan dari depan atau dari samping, tapi dari belakang. Bukan karena ga bisa atau ga berani, tapi lebih karena posisi atau kondisi yang membuat kita hanya bisa memandang punggung. Bahkan saat orang yang kita pandangi berbalik, kita justru mengalihkan pandangan. Tapi ada saatnya, saat dia bebalik dan tersenyum, kita cuma bisa balik tersenyum dan saat dia kembali melangkah ke depan, cuma bisa menghela nafas dan melanjutkan langkah. Memandang punggung.

Betapa jauhnya pikiran melayang saat kita memandang punggung, ada harapan, pertanyaan tidak terjawab, panggilan tanpa jawaban, dan sosok yang semakin jauh. Jika sudah sampai dititik itu, hanya bisa pasrah: sejak awal memang beda. Beda dan beda yang merentangkan jarak yang kasat mata. Untuk apa memulai sesuatu yang akhirnya hanya………….perbedaan tanpa jalan penyatu?

Tags: ,

“Cinta (tapi) Beda”

“Cinta Tapi Beda”

Itu judul film Indonesia yang saat ini beredar di bioskop-bioskop. Pertama liat trailernya itu di film 5cm. Dari situ gue tertarik untuk nonton film tersebut. Ceritanya tentang cinta dua orang insan, yang harus terbentur perbedaan mendasar, agama. Konflik timbul ketika keduanya menuju jenjang yang lebih serius. Masing-masing keluarga tidak ada yang mengalah dan tidak setuju. Keduanya pun tidak ada yang mengalah dengan kepercayaan yang mereka yakini. Gue belum nonton, dan gue gatau akhir dari konflik ini. Tapi film ini membuat gue banyak berpikir. Saat ini gue belum pernah mengalami konflik sepelik ini. Namun, jika (hanya jika) suatu saat mungkin gue terbentur pada perbedaan seperti ini, apa yang akan gue lakukan? Atau dia (ini hanya mungkin) lakukan?

Kalo katanya lagu Marcell sih, Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Intinya ada pada perbedaan sendiri. Cinta itu sendiri bagi gue adalah menyatukan hal-hal yang berbeda menjadi satu, saling melengkapi dan saling memberi, atau dengan kata lain cinta itu saling. Namun, jika tembok yang memisahkan adalah sebuah perbedaan paling mendasar seperti agama, apa yang akan terjadi? Apakah mungkin sebuah kata lima huruf itu akan tetap diagung-agungkan? Bagi gue, seharusnya sih cinta itu tidak mengenal perbedaan, seharusnya cinta itu penuh dengan toleransi. Tapi (selalu ada tapi) kita kan disini tidak hanya berbicara tentang cinta menurut kita. Tapi bagaimana menyatukan rasa cinta itu sendiri, ditengah sebuah perbedaan yang begitu jelas. Jujur, gue pun belum tahu. Jujur (lagi) jika mungkin memang ada masa depan bagi sebuah cinta dengan tembok perbedaan seperti ini, maka harus ada toleransi yang besar, sebuah kata cinta aja menurut gue ga cukup. Jadi, kenapa mesti melanjutkan sesuatu yang pada akhirnya kita ragu akan bisa menyatu atau bahkan kita yakin tidak akan bisa menyatu? Gue juga gatau, tapi kan yang namanya sayang, cinta, itu hadirnya ga sopan, bisa kapan aja, dimana aja dan juga….sama siapa aja.

Hehe. Ngoceh banget deh obrolan gue ini. hihi. Nitey, blogger. Love you :*

Tags: ,

:|

May i ask you for several questions?

Pernah ga, kamu ngerasa ga pernah ngelakuin sesuatu yang salah sama seseorang, setidaknya tidak secara sengaja, tiba-tiba kamu jadi pihak yang disudutkan?

Pernah ga, kamu menghadapi sekumpulan orang-orang yang setiap eksistensi mereka ada, selalu do’a terburuk yang terucap? Bukan tanpa alasan, tapi karena beberapa omongan yang telah menimbulkan sakit hati?

Orang tukang sindir. Orang yang ga menyampaikan maksud secara eksplisit tapi tidak langsung pada objek. Orang yang kerjaannya menggunjing, iri dan akhirnya sindir-menyindir. Dan sebagai pihak yang terpojok hanyak bisa memandang, menahan geram dan mencoba sabar. Ada keinginan untuk membalas, tapi untuk apa? Dinilai sama? Keinginan untuk klarifikasi, tapi untuk apa? Asumsi yang terbentuk bersama, dengan cara memandang cerita dari satu sisi yang keukeuh dipercayai, mau dikasi tau sejuta kali juga menolak goyah.

Tapi sabar itu supaya sadar, namun justru malah melewati batas yang samar. Segitu bangganya pada kedekatan yang timbul karena memiliki topik pembicaraan yang sama: orang lain, kekurangan orang lain, asumsi tentang orang lain. Kalo gue, ga bangga. Justru merasa rendah. Diberkati dengan wajah-wajah yang rupawan, kemampuan untuk sekolah tinggi-tinggi, meraih prestasi yang bisa dibanggakan, tapi mulutnya minus. Menurut gue itu….percuma. Manner does matter.

Tags:

jurusan, kerjaan ?

Sebangun tidur siang yang cukup panjang barusan, yang berawal dari ketiduran, entah kenapa muncul keinginan untuk nanya sama kalian semua, masuk jurusan kuliah kalian saat ini alesannya apasih? Kalo dulu gue masuk fakultas Bisnis dan Manajemen, jujur lebih karena terpaksa dibanding tertarik. Sebenernya sejak awal SMA sudah tertarik untuk mengambil jurusan Teknik Sipil di salah satu universitas negeri di Bandung yang berlambang gajah tersebut, namun apa daya dua kali mengikuti USM belum kedapetan rezeki untuk bisa menjadi salah satu mahasiswa disana. Akhirnya setelah terombang-ambing antara gengsi, keinginan dan tuntutan orang tua, dipilihlah Fakultas Bisnis dan Manajemen sebagai tempat berlabuh.

Namun, setelah menjalani kuliah di jurusan tersebut mata gue mulai terbuka melihat betapa menariknya dunia ‘manajemen’ dan ‘bisnis’ ini. Meskipun pada akhirnya gue tidak begitu tertarik untuk menjadi praktisi langsung dengan membuka ‘bisnis’, gue lebih tertarik untuk bekerja kantoran, dengan bidang kerja yang tidak begitu melenceng (malah sejalan) dengan jurusan dan konsentrasi yang gue ambil. Manajemen Keuangan. Tapi setidaknya gue tidak ‘lari’ dari ‘bekal’ yang gue peroleh selama kuliah tiga setengah tahun lamanya itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, gue tahu, bahwa jurusan yang lo ambil saat kuliah, tidak menentukan jenis pekerjaan yang kamu dapatkan. Tapi nih yaaa..gue sempet berpikir bahwa hal tersebut ga adil untuk sebagian orang yang masuk jurusan tertentu karena memang berminat, lalu mencari lapangan pekerjaan dalam bidangnya, saingannya lebih banyak, karena bahwa dari jurusan-jurusan atau fakultas-fakultas lain yang notabene tidak sejalan dengan jurusan tersebut, berebut kerja di bidang yang sama. Hemm..misalkan di dunia perbankan. Orang-orang non-ekonomi pun memiliki kans yang sama, asalkan memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh perusahaan dalam proses seleksinya. Bukanya merasa tersaingi, namun hal ini jadi pertanyaan sendiri buat gue, lalu apa fungsinya kita kuliah dengan jurusan tertentu? Jika toh pada akhirnya saat ‘praktek’ di dunia nyata bahkan ilmu tersebut bisa campur baur, memulai dari nol di bidang baru? Itu menurut gue lho ya, Cuma pertanyaan yang kadang bikin heran sendiri. Mungkin dari kalian yang iseng baca post ini bisa sharing pendapat dengan gue mengenai pertanyaan ini. hehe.

Tags: ,

those memories

Those memories are still there no matter what we do to wipe them away.

Bukan bermaksud bermellow-mellow dimalam minggu. Tapi apa daya keisengen diri sendiri yang bikin mellow. Bermula dari iseng-iseng baca diary dari zaman SD dulu (yup, SD) agak geli sendiri sih, liat cara nulis zaman dulu. Perbedaan gaya penulisan itu benar-benar ada (malu sendiri). Diary yang ditulis tangan berakhir di akhir 2010. Sejak itu gue berakhir nulis semua cerita, jatuh-bangun, nangis, bahagia gue dalam Flo (laptop gue). Nyalain laptop lah, dari awalnya baca-baca diary berujung ke liat-liat file foto. Banyak diantaranya yang bahkan gue udah ga inget lagi masih disimpen. Dan semua perasaan mellow itu pun datang satu persatu, dari kangen, sedih, marah, pengen ketawa sendiri dan juga keinginan untuk sharing foto tersebut dengan beberapa yang gue tiba-tiba kangenin karena liat foto itu.

Dan sadarlah gue tahun-ke-tahun ada yang berubah dari foto-foto itu. Senyum yang kadang tidak selebar dulu atau bahkan senyum yang lebih lebar dari tahun-tahun sebelumnya. Ada juga orang-orang yang tahun-ke-tahun gue punya foto bareng mereka, gue lihat betapa tahun-ke-tahun membuat mereka berubah secara penampilan, sorot mata dan sama seperti tadi, senyum. Foto itu seperti merekam metamorfosis. Tidak hanya mereka tapi gue pun sama di foto-foto itu. selalu ada yang berubah. Namun, sedikit dari foto-foto tersebut yang menyimpan memori sedih, kebanyakan adalah moment bahagia, dengan senyum yang ter-capture secara sempurna, yang membuat gue kadang sedih melihat beberapa foto, karena beberapa diantaranya gue sadar mungkin ga akan terulang. Ups and downs, friendship made, friendship broken. Those memories brought all of the feelings.

Melihat kembali foto-foto lama memang membangkitkan kenangan dan menimbulkan rasa rindu tersendiri. Terlebih lagi sedih jika ingat beberapa kondisi sekarang ataupun bahagia karena tahu semua berjalan ke arah yang lebih baik. Sekali lagi those memories are still there. Kangen. Itulah perasaan paling dominan yang gue rasakan. Sadar bahwa sekarang masing-masing punya kesibukan sendiri, jangankan untuk bisa mengulang memori (yang ga mungkin terulang) untuk bisa kumpul bareng-bareng seperti dulu aja kadang ga full team.

Beberapa foto juga membuat gue ingin memaafkan dan beberapa membuat gue ingin melupakan. Hal-hal yang bahkan ga akan terlintas dipikiran gue dalam hari yang normal. But, today isn’t my normal day (like i’ve ever had a normal day. Hmpfh)

Foto tetap sama, merekam moment, kenangannya pun tetap ada. Meskipun keadaan dan orang-orang di dalam foto tersebut telah berubah, termasuk kita. Beberapa foto lebih baik dihapus dan tidak pernah dilihat lagi, karena beberapa diantaranya justru membangkitkan rasa sedih, tapi banyak diantaranya juga yang lebih baik disimpan. Meskipun moment yang sama tidak mungkin terulang, tapi seenggaknya gue punya satu rekaman dari kenangan tersebut, just in case gue lupa atau kangen. Seperti saat ini. Dan bahkan beberapa foto bisa mengingatkan bagaimana caranya tersenyum atau tertawa secara lepas.

Tags:

#duasatu

Hay guys, its been a long time since the last time i wrote here. My life is like roller coaster lately. So, apa aja nih yang terlewat selama masa ‘menghilang’ ini? Gue mau berbagi cerita tentang ulang tahun ke duasatu.

6 September 2012 – jadi hari bersejarah tersendiri buat gue. Tepat 00.01 gue menginjak umur duasatu, akhirnya. Meskipun kata orang “your life begins at twenty” gue sendiri merasa perjalanan panjang dimulai diumur duasatu ini. Ada target yang belum tercapai diumur duasatu ini, ada juga yang sudah tercapai dan dengan segala naik turunnya perjalanan dari duapuluh ke duasatu gue sangat bersyukur. Gue merasa ada proses pendewasaan disini. Mudah-mudahan diumur yang baru gue bisa lebih bijak lagi dalam melangkah, tidak mudah tergoda oleh emosi dan banyak hal-hal lain yang gue harap bisa hadir di umur duasatu ini. Kado paling berkesan diumur duasatu? Kabar bahwa penantian gue selama lima bulan akan terbayar, by the end of this year gue akan pindah ke Jakarta untuk memulai petualang hidup sendiri gue. Hehe. Dengan segala hal belum pasti di depannya, gue mohon do’a untuk kelancarannya. icon smile #duasatu

birthday 300x300 #duasatu

duasatu

Hemm…banyak hal yang ingin gue tulis, gue bagi, tapi entah kenapa kata-kata seolah lagi main petak umpet, sulit rasanya. But, soon, gue bakal rajin-rajin lagi posting. Hal-hal absurd, pikiran-pikiran nyeleneh atau pertanyaan-pertanyaan sederhana yang kadang mampir di otak yang kecil ini.

Tags: , ,

isengiseng

kalo iseng lagi melanda, waktu terbentang (berbatas) tampak tanpa batas, yang terjadi adalah editedit iseng begini icon biggrin isengiseng

tumblr isengiseng

dan ini:

header 1 isengiseng

Tags: ,

katanya (perempuan itu)

Katanya…perempuan itu ga mesti sekolah tinggi-tinggi toh nantinya ngikut suami dan balik ke dapur.

Kata siapa, Kartini jadi pintu untuk perempuan bisa berkreasi dan mendapat pendidikan setinggi mungkin, sama halnya dengan pria. Asalkan jangan lupa dengan domestic rules-nya nanti sebagai wanita, istri dan ibu.

Katanya… jadi perempuan itu serba dibatasi.

Kata siapa, sekarang globalilasi kian luas. Dengan teknologi, informasi bisa didapat dengan mudah, termasuk oleh perempuan. Segala keterbatasan yang bersifat fisik? Itu jutsru jadi hak istimewa seorang perempuan. Cuma perempuan yang bisa melahirkan. Cuma perempuan yang dapet tempat khusus di busway, tempat parkir dan ladies area lainnya. Asyik kan.

Katanya…jadi perempuan itu harus pendiem.

Kata siapa, perempuan punya hak yang sama untuk berbicara. Asal pada waktunya, pada tempatnya dan sesuai etikanya.

Jadi perempuan, bukan berarti kamu dibatasi untuk beraktifitas, berkreasi dan bertindak, namun sesuai dengan kodratnya ada hal yang memang harus dilakukan oleh perempuan ada juga hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh perempuan. Hal itu yang menjadikan kita unik dan berbeda dengan kaum adam. Hal itu pulalah yang menjadikan kita layak untuk dijaga dan disayangi oleh mereka. J

Tags: , ,

(dari) provider

Hey, its been along time since the last time I wrote down here, in my second home. The place where I could share almost anything. Here I am now, gonna talking about something.

Iseng-iseng pindahin channel TV, dan akhirnya bisa menyaksikan iklan salah satu provider yang hampir selalu mendapatkan tanggapan positif. Topiknya ringan sebenarnya tentang kebebasan. Satu kata yang sebenernya sampe sekarang pun (selalu) masih belum bener-bener gw belum mengerti maknanya. Tersirat dari iklan tersebut bahwa kebebasan adalah sesuatu yang diberikan terhadap seseorang untuk mendapatkan haknya, menjalankan hidupnya sesuai dengan pilihannya masing-masing. Namun, diakhir setiap kebebasan tersebut selalu terdapat beberapa batasan. So, dimana bebasnya kalo masih dibatasi?

Pertanyaan yang sama yang selalu terjadi setiap kali kebebasan tersebut diberikan pada gw. Sebagai contoh: waktu SMP dan akan memasuki SMA orang tua memberikan kebebasan untuk gw memilih SMA yang gw inginkan, namun tetap dengan syarat dekat dengan rumah, dianter jemput dan sebagainya. Bebas main jam berapa aja asalkan jam delapan malam sudah di rumah. Bebas pilihan jurusan apa saja saat kuliah, asalkan sesuai dengan pertimbangan orang tua, dan masih banyak lagi. Disinilah saat gw benar-benar mempertanyakan arti kebebasan. Ini bukan bebas, ini berbatas. Selalu ada garis samar yang membuat gw selalu merasa berada dalam satu kubah, luas, namun tetap garis itu tetap ada.

fear (dari) provider

Seperti anak lainnya, remaja lainnya, ada satu keinginan untuk melanggar batasan-batasan tersebut. Misalnya hal yang ringan seperti pulang lebih malam dari jam malam, risikonya? Grounded, uang saku dikurangi, dan sejuta telepon dan sms mengiringi setiap kali keluar rumah. Tapi pada akhirnya gw tau bahwa segala batasan yang ada tersebut yang akhirnya menjaga gw selalu aman, merasa lebih tenang. Akhirnya gw pun belajar untuk berdamai dengan semua batasan-batasan tersebut, memaksimalkan apa yang gw punya dalam batasan-batasan tersebut. Pada dasarnya kebebasan tersebut memang harus berbatas, kebebasan yang berbatas menjadikan kita hemm apa yaa istilahnya lebih mature. Bagi yang berjiwa petualang mungkin hal ini jadi sebuah hambatan, lebih menarik untuk selalu way out the line, tapi buat gw justru dengan batasan tersebut gw jadi dimana harus berdiri. Lebih mudah untuk berdamai dengan segala batasannya, toh pada akhirnya kebebasan tersebut akan lebih luas seiring dengan “prestasi” kita tetap mematuhi batasan, kepercayaan (dan usia) meningkat akhirnya kita akan mendapatkan “kebebasan” versi kita sendiri. Namun, selama menjadi anak, maka nikmati saja kebebasan dengan segala batasannya itu. for you own good J

Tags:

renungan, polos, dan saat ini.

Mata bulat polos yang bening itu menatap tanpa dosa. Meskipun jawaban yang keluar kadang sederhana, tapi disana ada suatu realita dan sesuatu yang masih belum tersentuh oleh ‘pengetahuan’ lebih jauh mengenai dunia. Itulah yang terjadi jika kita bercakap-cakap dengan anak kecil. Kadang saya rindu dengan masa-masa itu. masa ketika kita tidak banyak takut, hanya keingin tahuan yang membuncah begitu hebat untuk mengenal lebih jauh mengenai dunia. Saat lebih dewasa, lebih banyak mengenal intrik yang ada dalan kehidupan sosial, maka dunia pun tidak seaman dulu.

Jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam ruang pikir yang terbatas pun tampak tidak memerlukan jawaban rumit yang berbelit. Dulu, jawaban sederhana adalah jawaban terbaik yang langsung dipercaya tanpa harus menuntut penjelasan lebih jauh. Polos. Putih.

Namun, pada akhirnya kita harus tumbuh dewasa, merasakan asam-manis dunia. Membuka diri pada realita, dan berusaha berdamai dengan realita itu sendiri, dengan cara kita sendiri. Hidup milik kita, hanya satu, tanpa tombol pause, stop, rewind ataupun fast forward. Setiap harinya adalah hadiah (dan mungkin kutukan) tapi itu adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan, hal terbaik yang bisa kita lakukan? Menjalaninya.

Tags: ,