Pernyataan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan 60% atau 50,15 juta orang pekerja yang dibayar (karyawan) di Indonesia masih berpenghasilan rendah (Rata-rata penghasilan mereka US$ 2.284 per tahun) membuktikan hal itu. Jika setiap pekerja menanggung seorang istri dan 2 anak, maka setiap orang pendapatannya cuma US$ 1,5/orang/hari.  Secara matematis, lebih dari 75% rakyat Indonesia penghasilannya di bawah dari US$ 2/orang/hari!

(source : http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/01/04/angka-kemiskinan-di-indonesia-bertambah-3-16/)

orang miskin Dia Tidak Meminta Lahir Sebagai Orang Miskinanak ini bahkan ga tau ketika dilahirkan nasib apa yang ada dihadapnnya.

Kemiskinan di Indonesia sebenernya bukan hal yang baru, namun yang membuat miris adalah bagaimana pemerintah menanganinya. Kemiskinan bukanya berkurang, namun justru bertambah dari waktu ke waktu. Dengan segala janji manis para ParPol negara kita saat menjelang Pemilu, bahwa mereka akan memberantas kemiskinan, rupanya memang hanya janji manis. Sampai dengan saat ini yang menjadi sorotan hanyalah tindakan-tindakan yang bisa menaikan citra di mata masyarakat melalui media. Jika kita cermati, bahkan tindakan pemerintah dalam memberantas kemiskinan sendiri sangatlah minim. Tindakan yang kecil dan banyak dilakukan oleh para relawan saja langsung diliput media, seolah-oleh itu adalah perbuatan dewa padahal hanya pencitraan semata.

Bukan berarti pemerintah tidak melakukan sesuatu, hanya saja sesuatu itu tidaklah cukup. Sistem penjamin kesejahteraan di negara kita ini masih sangat dipertanyakan. Jaminan sosial, jaminan sekolah dan jaminan kesehatan saja masih menjadi misteri bagi saya. Bagi saya yang bertambah di Indonesia tidak hanya orang miskin, tapi juga orang kaya, sementara tingkat kesejahteraan masyarakat diluar golongan menengah keatas semakin dipertanyakan.

Well, alasan saya bilang bahwa orang kaya semakin bertambah adalah karena semakin padatnya jalanan di Indonesia, terutama kota-kota besar. Menurut pandangan awam saya, itu membuktikan bahwa semakin banyak orang yang mampu membeli kendaraan pribadi sendiri, membiayai bensin dan perawatan kendaraan tersebut. Dan hal ini menjadi fakta yang menjadi sebuah ironi, di negara yang tampak makmur justru kemiskinan malah merajalela. Bukanya membantu sesama, justru malah mendahulukan menambah kesejahteraan pribadi. Contohnya : korupsi merajalela. Kalau dipikir, gimana pemerintah mau ngurusin kemiskinan, kalo mereka justru sibuk untuk membuat taktik licin melakukan praktek korupsi. Haha. Ironis kan? Tidak semua memang, tapi kita juga tidak buta. Memang, kita tidak 100% menyalahkan pemerintah dan antek-anteknya, tapi kenyataannya negara yang harus menjamin kesejahteraan rakyatnya saat ini semakin dipertanyakan perannya.

So, mesti gimana ya kita? Menurut saya, jika kita mampu maka bantu orang-orang yang dekat dengan kita. Hal kecil seperti memberikan sumbangan pakaian bekas atau sekedar menyumbang bahan makanan, bagi mereka yang membutuhkan adalah suatu hal yang besar. Tidak usah banyak bersuara melalui demo dan mendesak pemerintah untuk melakukan banyak hal dalam memberantas kemiskinan, lebih baik kita memulai dari diri kita. Semakin banyak orang peduli, semakin banyak yang akan tertolong. Yuk, mari kita mulai peduli.

Tags: , ,