Posts Tagged intermezo

“Cinta (tapi) Beda”

“Cinta Tapi Beda”

Itu judul film Indonesia yang saat ini beredar di bioskop-bioskop. Pertama liat trailernya itu di film 5cm. Dari situ gue tertarik untuk nonton film tersebut. Ceritanya tentang cinta dua orang insan, yang harus terbentur perbedaan mendasar, agama. Konflik timbul ketika keduanya menuju jenjang yang lebih serius. Masing-masing keluarga tidak ada yang mengalah dan tidak setuju. Keduanya pun tidak ada yang mengalah dengan kepercayaan yang mereka yakini. Gue belum nonton, dan gue gatau akhir dari konflik ini. Tapi film ini membuat gue banyak berpikir. Saat ini gue belum pernah mengalami konflik sepelik ini. Namun, jika (hanya jika) suatu saat mungkin gue terbentur pada perbedaan seperti ini, apa yang akan gue lakukan? Atau dia (ini hanya mungkin) lakukan?

Kalo katanya lagu Marcell sih, Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Intinya ada pada perbedaan sendiri. Cinta itu sendiri bagi gue adalah menyatukan hal-hal yang berbeda menjadi satu, saling melengkapi dan saling memberi, atau dengan kata lain cinta itu saling. Namun, jika tembok yang memisahkan adalah sebuah perbedaan paling mendasar seperti agama, apa yang akan terjadi? Apakah mungkin sebuah kata lima huruf itu akan tetap diagung-agungkan? Bagi gue, seharusnya sih cinta itu tidak mengenal perbedaan, seharusnya cinta itu penuh dengan toleransi. Tapi (selalu ada tapi) kita kan disini tidak hanya berbicara tentang cinta menurut kita. Tapi bagaimana menyatukan rasa cinta itu sendiri, ditengah sebuah perbedaan yang begitu jelas. Jujur, gue pun belum tahu. Jujur (lagi) jika mungkin memang ada masa depan bagi sebuah cinta dengan tembok perbedaan seperti ini, maka harus ada toleransi yang besar, sebuah kata cinta aja menurut gue ga cukup. Jadi, kenapa mesti melanjutkan sesuatu yang pada akhirnya kita ragu akan bisa menyatu atau bahkan kita yakin tidak akan bisa menyatu? Gue juga gatau, tapi kan yang namanya sayang, cinta, itu hadirnya ga sopan, bisa kapan aja, dimana aja dan juga….sama siapa aja.

Hehe. Ngoceh banget deh obrolan gue ini. hihi. Nitey, blogger. Love you :*

Tags: ,

#testtost

Well, baru saja selesai membaca ulang novel “Test Pack”, agak sedikit kebawa suasana nih karena saking banyaknya yang nonton film berjudul sama yang diangkat ke layar lebar dari novel ini. Sebenernya dulu pertama baca novel ini waktu zaman masih kuliah, dan sama sekali belum kepikiran soal yang namanya problematika rumah tangga sepelik yang dihadapi Neng dan Kakang di novel ini. Sekarang juga belum sebenarnya, tapi as time goes by, konflik dalam novel karya Ninit Yunita yang dulu menurut gue terasa berat sekali ini, sekarang justru membuka pola pikir baru. Yap, mungkin udah pada bisa nebak kalo gue ga akan membahas tentang isi novelnya sendiri, banyak tulisan diluar sana yang sudah mereview novel dan film ini diluar sana. Gue disini ingin menulis suatu pandangan gue tentang konflik yang disuguhkan dalam novel ini.

Dalam novel ini yang menjadi inti konflik adalah persoalan rumah tangga, yang timbul karena dua insan yang sudah lama menikah tak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya diketahui bahwa sang suami memang infertil dan semakin memupuskan harapan mereka untuk punya anak. Kekecewaan terutama ada di diri sang istri yang sangat menginginkan momongan, fakta bahwa sang suami menyembunyikan ketidakmampuannya memberikan keturunan dan diperpanas dengan dugaan sang suami berselingkuh dengan adanya kehadiran mantan masa lalu yang kala itu juga sedang mengalami konflik rumah tangga.

Selesai membaca novel ini, gue semakin yakin bahwa tes kesehatan menyeluruh antara kamu dan pasangan itu sangat penting dilakukan sebelum menikah. Satu tentunya agar terhindar dari penyakit yang mungkin terjadi karena ‘sejarah’ kamu atau pasangan, atau sama-sama mengidap penyakit yang nantinya akan membahayakan keturunan, seperti diabetes. Kedua adalah untuk mengetahui kemungkinan adanya ketidakmampuan pasangan atau kamu sendiri dalam memberikan keuntungan, mengambil contoh dari novel Test Pack ini, akhirnya akan menjadi bom waktu sendiri. Well, mungkin di negara kita sendiri yang kebanyakan masih berpikiran konvensional, meminta untuk melakukan serangkaian test medical check-up sebelum menikah masih dianggap tabu atau jarang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, hal ini justru penting untuk dilakukan. Sebagai contoh gue pernah membaca artikel juga melakukan obrol langsung dengan aktivis HIV/AIDS bahwa banyak anak yang terlahir mengidap HIV karena orang tuanya, istri yang tertular dari suaminya atau sebaliknya. Bukan menyalahkan pergaulan, karena banyak cara seseorang bisa tertular penyakit tersebut, tapi kita sudah selayaknya berhati-hati. Landasan kepercayaan pada ‘sejarah’ hubungan satu sama lain saat ini tidak menjamin kita terlindungi secara fisik.

Diambil juga dari novel “Test Pack” ini bahwa ‘cinta’ saja tidak jadi jaminan bahwa hubungan bisa lancar tanpa hambatan, tapi di dalamnya harus ada komitmen. Salah satunya adalah siap menerima jika salah satu diantara pasangan memang tidak bisa memberikan keturunan. Nah, jika sebelum menikah sudah dilakukan tes MCU tadi maka kekuatan komitmen akan diuji sebelum melangkah lebih jauh, dan tentunya masalah ini tidak akan jadi bom waktu, karena sebelumnya keduanya bisa saling berdiskusi untuk memecahkan masalah tersebut.

So, menurut gue, ketika akan menikah nanti itu  yang akan gue minta ke pasangan (siapa pun itu). hehe.

“Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai orang karena keadaan sesaat.
Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir, apa jadinya kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.

Will you still love them, then?
That’s why you need commitment
Don’t love someone of what/how/who they are

From now on,
Start loving someone,

because you want to.”

Test Pack – Ninit Yunita

Tags: ,

katanya (perempuan itu)

Katanya…perempuan itu ga mesti sekolah tinggi-tinggi toh nantinya ngikut suami dan balik ke dapur.

Kata siapa, Kartini jadi pintu untuk perempuan bisa berkreasi dan mendapat pendidikan setinggi mungkin, sama halnya dengan pria. Asalkan jangan lupa dengan domestic rules-nya nanti sebagai wanita, istri dan ibu.

Katanya… jadi perempuan itu serba dibatasi.

Kata siapa, sekarang globalilasi kian luas. Dengan teknologi, informasi bisa didapat dengan mudah, termasuk oleh perempuan. Segala keterbatasan yang bersifat fisik? Itu jutsru jadi hak istimewa seorang perempuan. Cuma perempuan yang bisa melahirkan. Cuma perempuan yang dapet tempat khusus di busway, tempat parkir dan ladies area lainnya. Asyik kan.

Katanya…jadi perempuan itu harus pendiem.

Kata siapa, perempuan punya hak yang sama untuk berbicara. Asal pada waktunya, pada tempatnya dan sesuai etikanya.

Jadi perempuan, bukan berarti kamu dibatasi untuk beraktifitas, berkreasi dan bertindak, namun sesuai dengan kodratnya ada hal yang memang harus dilakukan oleh perempuan ada juga hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh perempuan. Hal itu yang menjadikan kita unik dan berbeda dengan kaum adam. Hal itu pulalah yang menjadikan kita layak untuk dijaga dan disayangi oleh mereka. J

Tags: , ,

Kerjaan = Pacar

Iseng-iseng gitu deh tadi sore tiba-tiba terlibat percakapan dengan ka johantectona tentang masa depan dan segala galaunya (emang trend banget nih kata satu ini). Dimulai dari kebimbangan ikutan blog competition dilanjut dengan kebimbangan lain yang sama sekali jauh dari topik awal. Lalu munculah satu pemikirian kalau cari kerja itu sama kaya cari pacar. Iya ga sih? Ga apa-apa sih kalo setelah baca post ini ga setuju. Haha.

Attraction

Hal pertama kalo kalian mau saling pendekatan dengan katakanlah target yang entarnya diharapkan bisa jadi pacar adalah adanya ketertarikan. Coba deh, pas kalian mau cari kerja, hal pertama yang dilihat itu tampilannya dulu. Perusahaan apa sih? Seperti apasih perusahaan tersebut? Kemudian posisi apasih yang available?

Iya kan? Sama kaya cari pacar, menarik ga? Available ga? Baru deh tahap selanjutnya. Cari cara gimana caranya bisa terhubung dengan si target tadi. Cari kerja juga gitu, kalo udah ada target, akhirnya dicari cara gimana supaya bisa terhubung dengan perusahaan tadi. Masukin lamarannya lewat apa sampai akhirnya masukin CV kalian ke perusahaan tadi.

Pendekatan (PDKT)

Setelah bisa terhubung akhirnya kalian masuk ditahapan kedua. Tahapan ini kalo di tahapan pendekatan lawan jenis, adalah tahapan penuh kebimbangan, harapan juga ketakutan ditolak. Ditahap ini kalian cari sinyal positif, tebak-tebakan itu sinyal maju atau sinyal supaya mundur, mulai ada harapan kalo bisa bakal terus lanjut. Tahapan dimana kalian memberikan kesan terbaik kalian supaya dapet sinyal positif.

Kalo dalam cari kerjaan, tahapan ini adalah proses mendapatkan pekerjaan itu sendiri melalui serangkaian tes. Nah, dinyatakan lolos administrasi akhirnya dimulailah perjuangan kalian untuk bisa menunjukkan kesan terbaik, hingga akhirnya bisa saling meminang dengan sang perusahaan target tadi. Proses PDKT-nya sendiri bisa cepet, bisa lama (banget). Disitulah adrenalin bermain, ada harapan yang kian berkembang, ada ketakutan gagal dijalan. Hihi. Mirip kan ya?

PINANG-MEMINANG

Setelah melewati sekian tahapan pendekatan yang penuh rasa deg-deg-an tadi sampailah ditahap akhir, yaitu peminangan. Bedanya, kalo biasanya kan yang gencar pedekate yang ngajuin pinangan akhir, di dunia kerja, setelah sekian lama akhirnya perusahaanlah yang meminang kita. Akhirnya kembali pada prinsip: perusahaan boleh memilih, tapi kita yang memutuskan. Disini banyak yang dipertimbangkan dari mulai mas kawin yang ditawarkan (tunjangan, sallary, dsb) apakah sesuai dengan ekspetasi atau standar yang kalian terapkan di diri kalian sendiri, pertimbangan orang tua, jenjang karir kedepannya dan pertimbangan lainnya. Bisa saja dalam sekali waktu lebih dari satu perusahaan yang berusaha meminang kalian, disitulah saatnya keputusan dibuat, dan memang bukan perkara mudah. Butuh keyakinan dan keberanian untuk menghadapi segala hal yang mungkin terjadi di depan.

Sama kan kaya proses nerima-ga nerima ajakan pacaran. Bisa aja dalam satu waktu ada beberapa yang ngajak pacaran. Harus dipilih satu kan? Yang menurut kalian terbaik atau pertimbangan yang masak. Hihi.

Itu sih persamaan antara cari kerja dan cari pacar yang menurut gw prosesnya agak-agak mirip. Mungkin ini Cuma sekedar intermezo dari kepala yang kecil tapi penuh sesak ini. *peluk beruang*

Tags: , , ,

(satu pemikiran)

Kadang ada satu masa setelah hari yang terasa panjang, hal yang ingin gw lakukan hanya diam, melamun. Memutar balik kejadian-kejadian dalam satu hari, kejadian hari sebelumnya, memutar kembali satu bagian dimasa lalu, kemudian tidak lupa membayangkan apa yang mungkin terjadi dimasa depan. Saat kembali tersadar, kembali pada dunia yang dipijak, dan putaran waktu yang berlalu yang gw lakukan adalah mendesah. Seolah lelah, padahal itu ga seberapa lama, tapi otak dan pikiran bawah sadar seolah sudah melakukan perjalanan sejauh berkilo-kilo meter. Adakah yang merasakan hal yang sama?

Tapi moment tersebut juga selalu gw nantikan, selalu ada titik balik dimana gw termotivasi untuk melakukan sesuatu hal, merasa menyesal karena melakukan suatu hal yang saat ini, saat moment itu datangm terasa salah, dan dalam satu putaran moment itu juga gw merasa bersyukur atas apa yang telah gw miliki. Selain helaan nafas lelah, bisikkan terima kasih dan puji syukur selalu terucap pada akhir moment tersebut.

Satu yang gw ambil kesimpulan dari “zona pikiran” tersebut adalah betapa luar biasanya kemampuan manusia dalam menyimpan memori dan luasnya daya khayal juga tingginya imajinasi manusia. Dalam suatu bagian otak yang bahkan sangatlah terlihat kecil, memori yang tersimpan selama tahun-tahun manusia menjalani hidup tetap tersimpan. Kadang mungkin dilupakan, tapi ada saatnya manusia tersebut kembali ingat. Selain dari memori atas kejadian-kejadian yang dialami oleh diri sendiri, ada juga berbagai pengetahuan yang diperoleh selama proses menapaki hidup itu sendiri. Atas semua ini gw kembali bersyukur dengan kemampuan untuk berpikir yang telah diberikan Tuhan dengan sangat murah hati, semoga anugerah ini bisa membawa manusia ke arah yang lebih baik, dan memaksimalkannya untuk hal-hal yang positif.

Tags:

mulai, belajar

Hi, guys. How are you? Well, i’ve been missing for a week. I have so much things to do, and the reality is even it was almost three months, i still feels jel-lag about being a worker. And this week, i’m so busy. The busiest week for three months. Well, that’ss enough for being such a spoiled girl who always complaining about her magnificent’s life.

Ada satu hal baru yang gw pelajarin minggu ini, Jum’at kemarin terlibat suatu percakapan dengan atasan, dia bilang: “alasan yang bagus untuk membangun sesuatu adalah belajar, terutama dalam membangun karir”. And i agreed with him. Kalo kamu memulai sesuatu dengan alasan ingin belajar, kamu akan mendapatkan lebih banyak hal baru, tidak terduga, dan disisi lain kamu akan menikmati hal tersebut, dan kata ‘cape’ akan jadi kata terakhir dalam kamus kamu. Dan asyiknya kamu dibayar untuk belajar.

Hal tersebut juga berlaku dalam membangun hubungan, dengan seseorang. Bukan hanya dalam hal romantis, tapi juga dalam pertemanan, in the short adalah dalam membangun segala bentuk hubungan, yang melibatkan makhluk lain. Mulai dari ingin belajar, belajar mengenal mereka, kehidupan mereka. Teman, pacar, saudara, sahabat adalah label, tapi intinya adalah kualitas dari hubungan itu sendiri. Ciao J

Tags:

renungan, polos, dan saat ini.

Mata bulat polos yang bening itu menatap tanpa dosa. Meskipun jawaban yang keluar kadang sederhana, tapi disana ada suatu realita dan sesuatu yang masih belum tersentuh oleh ‘pengetahuan’ lebih jauh mengenai dunia. Itulah yang terjadi jika kita bercakap-cakap dengan anak kecil. Kadang saya rindu dengan masa-masa itu. masa ketika kita tidak banyak takut, hanya keingin tahuan yang membuncah begitu hebat untuk mengenal lebih jauh mengenai dunia. Saat lebih dewasa, lebih banyak mengenal intrik yang ada dalan kehidupan sosial, maka dunia pun tidak seaman dulu.

Jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam ruang pikir yang terbatas pun tampak tidak memerlukan jawaban rumit yang berbelit. Dulu, jawaban sederhana adalah jawaban terbaik yang langsung dipercaya tanpa harus menuntut penjelasan lebih jauh. Polos. Putih.

Namun, pada akhirnya kita harus tumbuh dewasa, merasakan asam-manis dunia. Membuka diri pada realita, dan berusaha berdamai dengan realita itu sendiri, dengan cara kita sendiri. Hidup milik kita, hanya satu, tanpa tombol pause, stop, rewind ataupun fast forward. Setiap harinya adalah hadiah (dan mungkin kutukan) tapi itu adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan, hal terbaik yang bisa kita lakukan? Menjalaninya.

Tags: ,

hantu, hantu, hantu

Hari senin adalah hari yang paling dibenci oleh kebanyakan orang. Since i got work, Monday haunted me too. Tapi di atas semua itu gw mencoba untuk menyukai hari senin, menikmati hari senin dan menghargai senin yang gw punya, gw rasain. Ini semua kembali pada perspektif. Setiap orang punya perspektifnya masing-masing, itu yang membentuk pemikiran kita dalam menghadapi sesuatu.

Nah, pada awalnya bagi gw senin itu kaya hantu, dateng ga diundang bisanya nakut-nakutin. Senin itu semacam kuman, ganggu banget weekend waktu santai-santai. Senin itu kaya nyamuk, suaranya bikin emosi.

Lalu gw pun sampai pada suatu hari, disatu waktu, membawa gw pada satu perenungan. Sabtu ada karena senin ada. Hari bisa utuh menjadi tujuh karena senin ada di dalamnya. Weekend menjadi sangat disyukuri karena ada senin. Gw harus bersyukur karena dengan ada senin hidup gw ga stagnan, hidup gw ada tantangannya, hidup gw penuh penantian. Banyak orang diluar sana saking ga ada aktivitas, lupa hari, lupa tanggal, akhirnya weekend bagi mereka sama dengan hari lainnya. Tapi dengan adanya aktivitas weekdays yang diawali dengan senin, gw lebih produktif, dan saat weekend datang berucap syukur adalah hal pertama yang dilakukan, lebih menikmati waktu bersantai.

So, guys, if you don’t mind just change your perceptions. Membenci sesuatu, contoh simplenya membenci hari senin, itu sesuatu yang buang-buang tenaga dan ga ada manfaatnya. Kamu Cuma bisa ngedumel, ngegedein aura negatif. Rubah perspektif untuk menghasilkan pemikiran yang lebih positif itu lebih baik, untuk kamu, diri kamu, orang lain dan lingkungan kamu. Your life gonna be more brighter. J

Tags:

Siap Mental? Baca ini

Alasan orang galau itu bermacam-macam, berdasarka riset (ceileh) yang dilakukan secara pribadi (tanya sana-sini plus praktek sendiri), kesimpulannya adalah begini:

1. KEPO

Nih seperti sudah sering diingatkan kepo itu membutuhkan mental yang kuat dan jiwa yang sehat. Kalo kurang persiapan akibatnya adalah down dan g a l a u. Apalagi ngepo-in gebetan atau mantan yang ternyata eh udah asyik ama yang lain.

2. LAGU

Lagu itu selalu punya cerita. Tiap orang biasanya punya soundtrack masing-masing, sesuai keadaan. Nah, biasanya yang bikin galau itu lagu sendu, atau lagu yang liriknya mendadak JLEB banget. Jadi misalkan dengerin lagu Korea, Jepang atau Inggris, enak, ga usah iseng nyari liriknya. Biarkan ketidaktahuan melindungi dirimu, Nak. Meskipun penasaran itu baik, tapi lebih baik menjaga kestabilan jiwamu.

3. FOTO

Foto itu punya cerita juga, apalagi kalo yang ngambil foto itu EHEM atau eh fotonya bareng EHEM. Nah ga usah iseng deh liat foto-foto lama, mending bakar (oke, fokus endah fokus). Nih, kalo hati masih ngarep ga usah iseng liat foto-foto lama, ntar keingetan berabe sendiri, langsung bikin tweet galau. CK! Maka simpan di folder dalam folder yang nyarinya aja udah males saking dalam di dalam dan di dalam lagi (tapi jangan dalem hati) EH !

4. PERCAKAPAN SENDU (HALAH!)

Nah kalo ini, kadang-kadang ga sengaja, mengarah pada arah yang ga direncakan. Misalnya niat baik dengerin temen yang curhat eh taunya malah jadi ikutan galau. Berasa kita yang putus, diputusin, diselingkuhin, nyelingkuhin atau berniat mutusin (LHO!). atau percakapan ceria yang belok arah jadi kesana-kemari, nah kalo ini kamu harus pinter-pinter nyetir arah pembicaraan (awas ditilang).

5. HANG-OUT

Koq bisa? Bisa banget. Misalkan kalian jalan ke tempat-tempat yang biasanya atau pernah didatengin berdua. So pasti dong dengan mudah dan gampang itu bikin keingetan dan berakhir nelangsa di pojok kamar sambil nyebar virus. Virus galau.

Well, dari sekian hal di atas, masih ada beberapa lagi. Buat kali ini gw posting yang kaitannya sama galau kronis (ck!) buat galau jenis lain ntar gw posting deh. Galau masa depan, galau jurusan, galau kerjaan atau galau calon teman hidup (fokus endah fokus). Happy reading! YEAYEYE !

Tags: ,

buku. kisah. tokoh. baca.

Buku. Kisah. Cerita. Tokoh. Alur. Skenario.

Membaca.

Kadang setelah selesai membaca sebuah buku, novel atau cerita saya suka bengong sendiri. Antara masih berada dalam cerita atau terlalu terkesima dengan isi buku tersebut (novel sih biasanya). Tidak jarang pula, jika sebuah novel begitu menarik, setebal apapun akan sulit bagi saya untuk berhenti membacanya, seolah-olah jika berhenti maka kisah tersebut akan gantung ga jelas, sampai terbawa mimpi. Disituasi lain, kadang saya merasa menjadi salah satu tokoh dalam kisah novel tersebut. Entah karena ada kesamaan alur ataupun ada penggalan cerita dari novel yang saya baca memang pernah saya alami.

Bagi sebagian orang mungkin hal tersebut terdengar aneh, tapi itulah yang sering saya rasakan, bahkan ketika saya membaca Harry Potter, kadang saya merasa menjadi bagian dari cerita tersebut, menempatkan diri saya sebagai salah satu dari sekian banyak tokoh dalam cerita tersebut. Yap, memang jatohnya kaya mengkhayal, apa yang akan terjadi jika sekolah sihir itu benar-benar ada? *sigh* itulah yang kerap terjadi saat saya membaca novel, cerpen atau apapun yang membawa saya ke alam imajinasi tanpa batas, mengilustrasikan rangkaian kata dalam benak saya. Itulah alasan lebih suka novel dibanding komik dan teman-temannya.

Well, tapi bukan itu yang ingin saya bagi. Pagi ini dalam endahsjournal.tumblr.com saya memposting sebuah kalimat yang entah kenapa tiba-tiba terlintas tanpa stimulus (atau mungkin terstimulus secara tidak sadar):

“….kujadikan buku sebagai kitabku. Menyimpan setiap alur cerita yang tertulis tanpa rencana” – endah”

Yap. Novel kadang menjadi panduan sendiri bagi saya untuk mengenal suatu masalah, merasakan apa yang dirasakan suatu tokoh dalam cerita membuat saya lebih mengerti tentang banyak hal, berusaha melebur dengan cerita yang saya baca. Pada akhirnya saat mengalami suatu situasi yang terasa mirip dengan cerita yang pernah saya baca, tidak jarang saya mencari novel atau cerita yang saya baca tersebut, kemudian membacanya kembali. Bagi saya novel-novel tersebut atau cerita-cerita tersebut adalah buku pintar atau …kitab.

Saya mungkin memang bukan penulis, saya hanya hobi menulis. Tapi berdasarkan apa yang saya rasakan, menulis itu membutuhkan inspirasi, dan inspirasi bisa berasal dari mana saja. Hal yang paling dasar, inspirasi itu berasal dari hal-hal yang berada di sekitar kita, termasuk pengalaman, baik itu pengalaman si penulis, teman atau bahkan orang lain. Namun, seperti sinetron atau film, meskipun ada unsur imajinasi penulis, namun yang ditumpahkan di dalamnya adalah sebuah konsep realita yang mungkin terjadi pada hidup seseorang….diluar sana.

 buku. kisah. tokoh. baca.

So, bukan tanpa alasan dan landasan, ketika menghadapi suatu situasi saya kadang merasa familiar dengan keadaan tersebut, karena saya pernah membacanya. Namun, tentu saja kisah tersebut hanya dijadikan sebagai suatu referensi, karena meskipun situasi serupa, tapi realita tetap tidaklah sama. Tokoh yang diciptakan oleh si penulis, karakternya dibentuk oleh si penulis, sementara saya adalah saya, dengan karakter saya. Hanya saja dengan membaca kisah tersebut, pikiran saya merasa lebih terbuka. Ini sama dengan mendapatkan pengetahuan kan? So, memang benar kalo banyak baca itu membuka jendela dunia, termasuk baca novel, meskipun kisah di dalamnya hanya fiksi, tapi ditulis berdasarkan pengetahuan yang ada, malah kadang ilmunya lebih random. Hehe.

*tulisan kali ini bener-bener random

Xoxo, *kissonthecheeks*, Readers

Love

Tags: , ,