O.N.L.Y A.D.V.E.N.T.U.R.E

fadillah fauzia akmal

Archive for November, 2013

Sumba dan Taufiq Ismail

Terkadang, setiap kali saya mengatakan saya ingin pergi ke Sumba, teman-teman saya balik bertanya, ‘Sumbawa, maksudnya?’

Bukan, teman, bukan. Sumba. Ini Sumba.

 Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bila mana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas mulai dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossanova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak berkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah-padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh

Saya jatuh cinta pada Sumba. Pada bacaan pertama. Savana. Panas. Bau rumput. Kuda liar.
Sumba seolah-olah berada di depan mata saya. Ah, Sumba…

Sumba. Saya sebelumnya tidak tahu banyak tentang Sumba. Begitu juga sekarang. Atau lebih tepatnya memilih untuk tidak tahu lebih banyak. Mencoba menjaga perspektif saya terhadap Sumba tetap sama seperti puisi yang saya baca. Saat saya ke Sumba suatu hari nanti, mungkin Sumba melampaui ekspektasi saya. Atau mungkin juga tidak. Tak apa. Itu bukan masalah. Saya hanya ingin merasakan apa yang Taufiq Ismail rasakan terhadap Sumba.

Taufiq Ismail. Iya, beliaulah  yang bertanggung jawab atas cinta saya pada Sumba. Melalui puisi ini: Beri Daku Sumba. Puisi pertama yang langsung melekat di benak dari sekian banyak puisi yang pernah saya baca. Ini adalah salah satu puisi favorit saya. Karya Taufiq Ismail ini sukses membuat Sumba masuk dalam daftar ‘place to go before i die’ saya.

Tapi, tahukah kalian, ternyata sewaktu membuat puisi ini, Taufiq Ismail pun belum pernah ke Sumba sebelumnya! Puisi ini dibuat pada tahun 1970, sewaktu beliau berada di Uzbekistan. Pemandangan saat itu membuat beliau teringat akan gambaran Sumba yang sering diceritakan Umbu, sang Presiden Malioboro. Taufiq Ismail sendiri baru bisa ke Sumba 20 tahun setelah puisi ini dibuat!

Iya, semoga penantian saya ke Sumba tidak selama Taufiq Ismail. Semoga saya bisa ke Sumba dalam waktu dekat. Amin.

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

it’s about dreams

Well, i watched Monster University two days ago. And have to say,  LOVE IT! Pixar memang tidak pernah mengecewakan! Wuuhuuu!!

Let’s talk about the character. Mike . I do love Mike Wazowski!  It’s just like he believes his dreams and keep going to make it comes true, no matter what happen!! The spirit that he has like never has a limit. Always enthusiast by thing that has to do with his dreams. Wooo, i love Mike!

And you know what?  It’s always nice to be around these people. People who know what they wanna be, or have something that they really care about.  like they have this dazzling eyes when they tell about this thing. Their dreams. And that is just sooo wonderful…

prom

scene dari film Prom

Ya, dreams are not always easy to become true!

It takes courage to keep it alive.
It takes faith to keep believing  when time keeps disappointing you.
And absolutely, it takes big effort to make it real.

There’s no such great thing come easy, sweetheart. That will never be.

walau perjuangan yang besar tidak berarti selalu mendapat apa yang kita inginkan (gonna talk about this topic in other post), tapi itu pantas untuk diperjuangkan. And you know, in some things, i did like Mike did.

1. Beswan
Saya tahu beasiswa ini sejak tahun satu. Dan semenjak itu saya mengatakan, i must get this scholarship! Semenjak itu juga saya mengikuti perkembangan beasiswa ini. Mulai dari stalking twitter dan web-nya. Baca blog para beswan. Berbagi cerita dengan para alumni. Beasiswa ini hanya untuk mereka yang sedang duduk di semester 5. Itu artinya kesempatan untuk mendapat beasiswa ini hanya sekali seumur hidup. Once you miss it,  it means you’ll never get it back. Forever. Ketika resmi jadi beswan, jika teman-teman yang lain baru tahu apa saja programnya, saya sudah hafal di luar kepala. Saya bahkan tahu siapa pemenang lomba tahun kemaren, apa karya mereka, apa hadiah yang mereka dapat. It took about 2 years preparation to make it real.

2. Yogya
Never go to this town, but always love it! That was what i felt for 8 years. It took  8 years! Saya dari dulu ngga pernah minat kuliah di UI atau ITB atau Unpad atau yang lain. UGM always be my dream! But sometimes there are things that weren’t meant for you. Like UGM did. Saya ngga lulus UM UGM. Sedih. Tapi memijakkan kaki di Yogja selalu menjadi impian. Always excited watching tv program about Yogja. Sampai akhirnya pas acara beswan di Semarang, saya extend ke Yogya. Yeeeei! My dream came true!

3. Marapi
Well, this one even longer. Dari dulu saya pengen banget yang namanya naik gunung.  Tiap tahun baru dan agustus-an saya selalu neror abang-abang sepupu saya supaya mereka mau pergi. Apa daya, ibu cuma ngasi izin kalau mereka ikutan. And this dream just came true this year! You know how long it takes to make it real? It took 9 YEARS!

ah, mengingat semua ini saya jadi ingat mantra dari Ahmad Fuadi. Iya, beliau benar. Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan beruntung.

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments