O.N.L.Y A.D.V.E.N.T.U.R.E

fadillah fauzia akmal

Archive for December, 2015

Sudah Jodoh

Sungguh, itu pertemuan yang banyak ilmu di dalamnya.

Dan penghujung tahun baru ini ditutup dengan manis. Akhirnya bertemu dengan salah satu penyair kesukaan; Taufiq Ismail. Dengan setelan baju, jaket, celana dan kaos kaki hitam, beliau terlihat sederhana sekaligus bijaksana. Lalu kami bercerita. Lebih tepatnya saya yang meminta waktu untuk sekedar bicara. Kami memilih kursi, lalu saya menanyakan kabar dan kesibukan beliau saat ini. Beliau bertanya saya darimana dan kuliah dimana. Lalu hening. Kemudian saya bertanya kapan beliau akan balik ke Jakarta dan beliau bertanya jam berapa saya berangkat dari Padang dan dengan apa. Lalu hening. Iya, secanggung itu awalnya.

Saya bercerita lebih panjang. Tentang bagaimana akhirnya beliau menjadi salah dua penyair favorit saya karena puisi Beri Daku Sumba dan Kafetaria Sabtu Pagi. Itu saya bercerita sambil sedikit berlinang air mata. Sedikit saja. Sejenis terharu bisa menyampaikan secara langsung #lempartisu. Beliau menjelaskan penyebab dua puisi tersebut tercipta. Beri Daku Sumba karena Umbu, seperti yang tertulis dalam puisinya, Kafetaria Sabtu Pagi dibuat ketika beliau sedang duduk diramainya kantin kampus di Bogor.

Lalu Pak Taufiq bercerita lebih. Setelah saya memperlihatkan buku Sajak Ladang Jagung yang saya bawa. Tentang ladang jagung yang beliau lihat sewaktu pertukaran pelajar ke AS. Tentang cita-cita beliau sebagai peternak dan penyair. Tentang era Soekarno dan kekaguman beliau terhadap Hatta. Cara beliau bercerita sungguh menggagumkan. Seperti berdongeng. Mengulang-ulang kalimat dan menekankan suara di beberapa kata yang dianggap penting. Lalu menanyakan kembali kepada saya mengenai poin-poin yang baru saja dijelaskan. Mungkin untuk mengetahui apakah saya memperhatikan atau tidak. Walau terkadang di tengah cerita utama beliau melompat ke cerita lain yang berhubungan, namun beliau akan ingat persis dimana cerita utama terpotong. Ini seperti membaca buku beralur maju mundur namun dengan cara mendengarkan.

Sajak Ladang Jagung yang akhirnya ditandatangani Sang Penulis

Sajak Ladang Jagung yang akhirnya ditandatangani Sang Penulis

Saya juga bertanya pada beliau mengenai Pramoedya (setelah rekan kantor berkomentar tentang Pram ketika saya membaca Anak Semua Bangsa -yang masih saja belum ditamatkan- dan cerita yang dituliskan Hamka). Beliau mengambil majalah Horizon terbitan bulan ini dan menyuruh saya membaca sebuah artikel. Tentang Pram. Atau lebih tepatnya seminar antara kubu Marxis-Leninis dan Manifesto Kebudayaan. Sungguh, itu pertemuan yang banyak ilmu di dalamnya.

Itu, saya tidak meminta beliau membacakan Kafetaria Sabtu Pagi, seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya. Pertemuan satu setengah jam itu bahkan masih sangat kurang untuk bercerita. Nanti saja, dipertemuan-pertemuan berikutnya. Dan tentu saja saya tidak lupa menanyakan mengenai Sapardi. Sayang, saya lupa menitipkan salam. Semoga juga bisa bertemu dengan beliau segera.

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Ibu

Ah, Ibu, how could I love you even more?

Tadi, selepas shalat isya, melihat Ibu berdoa, saya tergerak mendekati Ibu, lalu berbisik “Bu, kerasin doanya, Bu.” Tetiba saya ingin mendengar doa Ibu. Doa pahlawan saya. Saya menempelkan kepala bagian kiri saya ke pipi Ibu, lalu memejamkan mata. Ibu membaca doa dalam bahasa arab. Saya tidak bisa mendengar jelas. Sayup-sayup sampai. Saya mengulangi lagi permintaan saya. Lalu Ibu mendekatkan mulut beliau ke kening saya, menambah sedikit volume suara dan berdoa dalam bahasa indonesia.

Doa pertama Ibu untuk Kakek. Walau mata saya terpejam, saya bisa merasakan genangan air mata di balik pelupuk mata saya. I know she misses him eventhough she has no single memory about him. Lalu ibu berdoa untuk Nenek. Lalu berdoa sebagai seorang anak. Lalu berdoa untuk Papa. Lalu berdoa sebagai seorang istri. Lalu sebagai seorang ibu. Lalu berdoa untuk anak-anaknya. Semua doa yang dibacakan ikut saya aminkan. Rasanya haru sekali mengetahui doa Ibu. Selesai berdoa, saya mencium Ibu dan langsung bertanya “Bu, tebak apa doa favorit Dilla”. Ibu menjawab. Dan benar! Lalu kami tertawa.

Hari ini Ibu ulang tahun. Beberapa hari sebelumnya saya bertanya Ibu mau hadiah apa. “Hafal arti bacaan shalat?” Saya cengengesan. Ya, tentu hafal, dong!. Tapi itu, hmm, pas masa-masa sekolah. Hihihi. Sekarang sudah hilang-hilang tenggelam. Dan Ibu meminta hafalan bacaan shalat sebagai hadiah. Siangnya abang menelfon. Menanyakan akan memberikan hadiah apa untuk Ibu. “Abang udah hafal belum?” dia langsung tertawa. Walau abang sedang di Jogja, semua anak mendapatkan permintaan yang sama dari Ibu. Malamnya abang menyetor melalui video call. Tentu saja tidak lancar. Salah sedikit sudah kami ejek. Hahaha.

Now, you are more than a half century, Bu. May we always can make you happy. Thankyou for being the best mom ever!

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Postcard

Dan akhirnya dia tiba!

Pagi itu saya dikejutkan dengan selembar kertas di atas meja kantor. Sebuah postcard! Itu postcard yang saya kirimkan untuk diri saya sendiri sewaktu backpackeran ke Toba. Tertulis 8 Agustus 2015. 4.5 bulan yang lalu! Alhamdulillah, kali ini berhasil. Karena postcard yang saya kirim dari Jogja pada bulan April entah dimana keberadaannya saat ini.

Saya mulai menyurati diri saya sendiri sewaktu backpackeran di Jogja. Dalam rangka seru-seruan. Sekaligus bukti kenangan akan perjalanan indah yang pernah dilalui. Saya jadi teringat, seminggu sebelumnya, postcard Toba yang juga saya kirimkan untuk ibu tiba terlebih dahulu. Walau setiap hari bertemu di rumah, mendapat ungkapan cinta berbentuk surat agaknya tetap berbeda. Terlebih ditulis dari tempat nan jauh. Ibu langsung menelfon. Berbicara dengan suara bergetar. Terharu. Ah, manisnya!

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Penulis

Penulis mati di tangan pembaca.

Begitu kalimat yang pernah saya baca entah dimana. Dan saya rasa itu benar adanya. Ketika cerita telah dilempar, maka selesai sudah tugas si penulis. Mereka tidak bisa memaksa pembaca untuk melihat cerita persis sama dengan yang mereka lakukan. Malah sebaliknya, pembaca berhak mengartikan semaunya. Setiap pembaca menginterpretasikan tulisan dengan sudut pandangnya sendiri. Maka cerita itu tumbuh dengan cara yang berbeda-beda pula. Tapi tentu saja mereka tidak terbebas dari konsekuensi yang ada. Saya jadi teringat cerita seorang blogger yang tetiba beberapa temannya minta maaf. Mereka merasa bahwa tulisan yang dibuat oleh blogger tersebut untuk mereka. Padahal tidak sama sekali. Eh, ada yang baper. Hehehe.

Tidak semua kamu yang aku tuliskan adalah kamu
pun tidak semua aku adalah aku

-anonymous-

Kebanyakan orang menulis untuk menyalurkan apa mereka pikirkan. Sejenis menjaga agar tetap waras. Sometimes your mind consumes you. And you need to let it out. Dan tentu saja apa yang mereka tuliskan tidak berarti itu terjadi pada mereka. Kita tidak harus menjadi seorang psikopat untuk menulis novel thriller, kan?

Jadi, nikmati saja.
Selamat menulis.
Selamat membaca.

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments