O.N.L.Y A.D.V.E.N.T.U.R.E

fadillah fauzia akmal

Archive for December 31st, 2015

Sudah Jodoh

Sungguh, itu pertemuan yang banyak ilmu di dalamnya.

Dan penghujung tahun baru ini ditutup dengan manis. Akhirnya bertemu dengan salah satu penyair kesukaan; Taufiq Ismail. Dengan setelan baju, jaket, celana dan kaos kaki hitam, beliau terlihat sederhana sekaligus bijaksana. Lalu kami bercerita. Lebih tepatnya saya yang meminta waktu untuk sekedar bicara. Kami memilih kursi, lalu saya menanyakan kabar dan kesibukan beliau saat ini. Beliau bertanya saya darimana dan kuliah dimana. Lalu hening. Kemudian saya bertanya kapan beliau akan balik ke Jakarta dan beliau bertanya jam berapa saya berangkat dari Padang dan dengan apa. Lalu hening. Iya, secanggung itu awalnya.

Saya bercerita lebih panjang. Tentang bagaimana akhirnya beliau menjadi salah dua penyair favorit saya karena puisi Beri Daku Sumba dan Kafetaria Sabtu Pagi. Itu saya bercerita sambil sedikit berlinang air mata. Sedikit saja. Sejenis terharu bisa menyampaikan secara langsung #lempartisu. Beliau menjelaskan penyebab dua puisi tersebut tercipta. Beri Daku Sumba karena Umbu, seperti yang tertulis dalam puisinya, Kafetaria Sabtu Pagi dibuat ketika beliau sedang duduk diramainya kantin kampus di Bogor.

Lalu Pak Taufiq bercerita lebih. Setelah saya memperlihatkan buku Sajak Ladang Jagung yang saya bawa. Tentang ladang jagung yang beliau lihat sewaktu pertukaran pelajar ke AS. Tentang cita-cita beliau sebagai peternak dan penyair. Tentang era Soekarno dan kekaguman beliau terhadap Hatta. Cara beliau bercerita sungguh menggagumkan. Seperti berdongeng. Mengulang-ulang kalimat dan menekankan suara di beberapa kata yang dianggap penting. Lalu menanyakan kembali kepada saya mengenai poin-poin yang baru saja dijelaskan. Mungkin untuk mengetahui apakah saya memperhatikan atau tidak. Walau terkadang di tengah cerita utama beliau melompat ke cerita lain yang berhubungan, namun beliau akan ingat persis dimana cerita utama terpotong. Ini seperti membaca buku beralur maju mundur namun dengan cara mendengarkan.

Sajak Ladang Jagung yang akhirnya ditandatangani Sang Penulis

Sajak Ladang Jagung yang akhirnya ditandatangani Sang Penulis

Saya juga bertanya pada beliau mengenai Pramoedya (setelah rekan kantor berkomentar tentang Pram ketika saya membaca Anak Semua Bangsa -yang masih saja belum ditamatkan- dan cerita yang dituliskan Hamka). Beliau mengambil majalah Horizon terbitan bulan ini dan menyuruh saya membaca sebuah artikel. Tentang Pram. Atau lebih tepatnya seminar antara kubu Marxis-Leninis dan Manifesto Kebudayaan. Sungguh, itu pertemuan yang banyak ilmu di dalamnya.

Itu, saya tidak meminta beliau membacakan Kafetaria Sabtu Pagi, seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya. Pertemuan satu setengah jam itu bahkan masih sangat kurang untuk bercerita. Nanti saja, dipertemuan-pertemuan berikutnya. Dan tentu saja saya tidak lupa menanyakan mengenai Sapardi. Sayang, saya lupa menitipkan salam. Semoga juga bisa bertemu dengan beliau segera.

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments