O.N.L.Y A.D.V.E.N.T.U.R.E

fadillah fauzia akmal

Archive for February, 2016

Evaluation 2

Welcome to the leap year!

Here we are! You just can be here every four years. So, enjoy the day and feel the air. And it’s already the end of the month again. So, lets take a look. It is my sixth post this month. Keep going with this one. Check √. But i missed one week without posting. Gonna work more to make it regular. And i read 2 books this month. Check √. I though it could be 3. But reading Syahrir is not that easy. He is so philosophic. It’s like i read Plato. Need more time. Hatta is gonna be in a long wait in queue then. Or should i just read Hatta first?

HRD division made the other challenges for running. It looks like being a lifestyle nowadays. But i joined it anyway. #after15dayswithoutrunning #lumayandapatthsirtgratis #laribelumikhlas. Hahahaa. You know, the reason i joined the challenge last month because i wanna get the medal. And still waiting for it. Hahaha. But i thank to HRD division for their great idea.

challenge1

I made double the target. Yuhuuu!

challenge2

27 days left. Can i make it 1h:05m?

Another target i succeeded to achieve is not to eat all instant noodles since 5th Februari. Even noodle is my favorite one, it’s not that hard to be honest. But when papa made it, my faith suddenly being in a temptation. I didn’t know what he does, but it always taste different. Much more delicious. It’s like he has this magical hand. I need to keep reminding myself “8 days left. 8 days left. you can do it. you can do it.” And now it feels good because i really can do it.

IMG_20160221_112338

Papa’s noodles is the best

And big things happened this month. Some made me sad, some made me happy. Sometimes when you really think about it, it becomes weird. Like how one time you are sad and after that you are happy. And that circle happens over and over again. Well, that’s what we called life, isn’t it? Yaa. So, welcome March. And let’s be friend :)

Btw, congrats, Leo. Finally you got what you deserve. Effort never betrays. I hope next year’s gonna be your turn, Johnny.

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Dai

Seminggu yang lalu Ibu dan Bumpung asyik bercerita sambil tertawa. Menertawakan bully-an para sepupu durhaka pada saya. Siapa lagi tersangkanya kalau bukan Bang Edo, Dai dan Kak Nil. Tapi Dai yang paling parah! Bully-annya tingkat hardcore. Saya tidak tahu kalau orang lain akan kuat mental jika mengalami hal yang sama. *sorak *sokkuatludil. Hahaha. Tidak, tentu ini tidak bully-an fisik. Hanya sekedar selorohan kalimat saja.

Dan jangan ditanya sejak kapan ini terjadi. Like long long time ago. Entah kenapa saya selalu menjadi sasaran empuk.  Tapi saya tidak pernah sakit hati. Tentu saja saya tidak mengiyakan hasil bully-an mereka. i still defend myself. Tapi sepertinya tidak guna juga. Mereka tidak peduli. Tak dengar pun. Jadi sudah saja saya juga ikut tertawa.

“Tapi wajar juga kalau Dilla dibully seperti itu, toh, dia juga jahil sama abang-abangnya.” Kata Bumpung. Otak saya bekerja. Mencoba mengolah kalimat barusan. Saya jahil? Hmm. “Ingat waktu Dai ditinggal terus dikasi air garam?”

Oooh, hmm. Hahaha. Itu, saya bawa kabur motor waktu Dai sedang jajan di warung sepulang perjalanan dari kantor. Kelimpungan Dai mencari motor yang tetiba hilang. “Dai, cepetaaan! Udah malam nih!” Itu saya, yang berteriak dari jarak 5 meter dari atas motor. Ketika Dai berjalan mendekat, saya menggas motor menjauh. Lalu berhenti dan mengucapkan hal yang sama. Dan begitu terus. Akhirnya Dai berjalan sampai rumah. Di rumah saya bertanya dengan muka polos, “Kok kecape’an, Dai?” Dai sudah duduk selonjoran tak bertenaga di depan pintu sambil melihat saya dan menggelengkan kepala dengan tatapan nanar. Sebagai adik yang baik, maka saya ambilkan air putih. “Minum dulu, Dai.” “Tumben baik?” katanya mengambil gelas lalu minum dan “pyuuurrr!!” Dai menyemburkan tegukan pertamanya. Dan saya tertawa. Itu airnya sudah saya campur garam. “Tega lo, Dill” katanya dengan muka antara tertawa dan menangis.

Atau kejadian waktu saya dijemput, terus pas Dai datang saya pulang naik taksi. Atau waktu saya minta diantar pagi-pagi ke Rumah Puisi nun jauh disana untuk bertemu Taufiq Ismail karena saya cuma dapat izin setengah hari dari kantor. Terus cuma sarapan indomie rebus di pinggir jalan. Itu pun semangkok berdua. Dan pulangnya saya minta diantar lagi ke Padang. Tapi saya diturunin di Kayu Tanam dan disuruh naik tranex. Dan tentu saya minta ongkos pulang *bukanbalasdendam *emangnggaadaduit. Atau yang setiap minggu saya teror dengan pertanyaan yang sama “kapan ke gunung? kapan ke pulau?” Atau pas saya ngambek beberapa hari sewaktu tahu Dai ke pulau tanpa mengajak saya.

Atau sewaktu Dai harus pulang malam karena saya pulang malam. Kantor kami waktu itu berdekatan. “Pulang sendiri kenapa, sih? Bikin repot aja” itu Dai bilang setiap kali kami pulang bareng. “Yee, siapa juga yang minta jemput?” kata saya membela diri. Sambil sesekali menoyor helmnya dari belakang karena tiba-tiba Dai pura-pura ngantuk atau secara mendadak bertepuk tangan sewaktu membawa motor. “Minta jemput sih, ngga. Tapi pas Ibu nelfon terus bilang ngga tahu pulang pake apa dan sama siapa, menurut lo?” Pasti Dai ditelfon Ibu untuk pulang bareng. Hahaha. Saya tertawa saja. Walaupun menye-menye terus, tetap saja saya ditungguin. Abang yang baik *pukpukpuk

Atau pas kemarin, jauh-jauh datang dari kampung untuk mengantar stnk motor dan dengan baik hati menunggu selama 2.5 jam menyelesaikan laporan di kepolisian. Huaa, ternyata saya yang adik durhaka. Huehehe.

Ya, saya rasa itu yang namanya saudara. Bagaimanapun seorang abang akan bertanggung jawab terhadap adiknya. Sebagaimana adik yang akan selalu merepotkan abangnya. Eh? :D

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Selfish

A giraffe’s coffee would be cold by the time it reached the bottom of its throat. Ever think about that? NO. You only think about yourself.
– anon

It’s not my first time to read this quote. But everytime i read it, it always gets me. Always makes me think; are we that selfish, Ag?

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Little World

Dunia itu kecil, ya, Ag.

Dua hari lalu baru saja menyelesaikan AKU-nya Sjuman Djaya. Itu cerita mengenai perjalanan hidup Chairil Anwar, Ag. Menyenangkan membacanya. Karena kau bisa tahu asbabun nuzul puisinya tercipta. Tapi sekaligus penuh kejutan. Karena secara gamblang dijelaskan seperti apa kehidupannya. Gaya hidupnya sejenis bohemian, Ag. Bebas. Tidak mau terikat aturan. Karena itu puisi-puisinya sering ditolak penerbit. Katanya terlalu individualis. Terlalu gelap. Tidak cocok dengan budaya timur.

Buku kedua yang diselesaikan tahun ini

Buku kedua yang diselesaikan tahun ini

Chairil itu sering melanggar norma. Ia kadang mencuri baju temannya untuk dijual dan dibelanjakan untuk mentraktir wanita yang sedang ia sukai. Kadang keluarganya bertanya sepeda siapa yang ia bawa ke rumah. Ia sering berbaju parlente padahal itu sedang masa penjajahan. Tidak pernah mau bekerja eight to five hours. Penghasilan hariannya dari menulis puisi. Kadang ciptaan sendiri, kadang saduran. Kalau anak sekarang bilang; anti mainstream. Dan matanya selalu merah. Kau bisa hitung berapa sering mata merahnya disebutkan. I don’t know, Ag, but when i read the book, for me it felt like he againts the world.

Walau ia tidak menamatkan sekolah, ia menguasai 4 bahasa. Karena itu karya sadurannya diakui oleh beberapa penyair memang terasa lebih berisi. Termasuk Krawang-Bekasi yang fenomenal itu. Aku kira bahwa itu jiplakan adalah isu. Ternyata benar. Itu 90% saduran dari The Young Dead Soulder-nya Archibald McLeish.

Dengan gaya necisnya, ia dengan mudah bisa merayu perempuan. Dan ia suka ‘jajan’ perempuan. (ini bagian yang cukup mengejutkan, Ag.  I mean, aren’t you suppose to keep this bussiness just being yours? Kalau ini mengenai Shakespeare, aku tidak akan ambil pusing. Atau itu moyangmu yang lahir sebelum masehi. Tapi ini kau bahkan masih bisa bertemu putrinya, Ag.)  Puisi-puisinya banyak ditujukan untuk wanita-wanita yang singgah dalam hidupnya- termasuk ibu dan neneknya. Walau akhirnya ia menikah dengan Hapsah, tapi dari semua, bagiku wanita yang paling menarik adalah Ida.

Chairil itu kemana-mana selalu membawa buku. Begitu besar kecintaannya pada buku sampai-sampai dia memacari anak yang punya toko buku agar bisa membaca buku sepuasnya. Atau kalau ketahuan mencuri buku tidak akan kena marah. Ia memang sering mencuri buku (Nope! Betapapun kau suka akan sesuatu, kau tidak boleh mencuri, Ag. Tidak tanpa sepengetahuan pemiliknya).

Terlepas dari cara hidupnya, karya Chairil adalah hal lain. Ia patut dihargai untuk itu. Favoritku adalah surat-suratnya pada Jassin. Tapi jangan tanya apakah aku mengerti semua puisi yang ia tuliskan, Ag. Tentu saja tidak. Puisi terkadang tidak selalu untuk dimengerti, bukan? Pun keteguhan hatinya untuk sesuatu yang ia inginkan patut diacungi jempol. Dia bahkan sudah memutuskan akan jadi seniman sejak umur 15 tahun. Kau tahu slogan, Bung, Ayo, Bung! yang populer itu? Itu Chairil yang cipta. Komentar tiba-tiba yang diucapkannya pada Affandi yang sedang bingung memberi judul apa untuk poster pembakar semangat yang disuruh Sukarno.

Let's be friend, Sjahrir!

Let’s be friend this week, Syahrir!

Fakta mengejutkan lainnya adalah ternyata Chairil Anwar itu keturunan Minang, Ag! Aku kira dulu ia orang Medan karena lahir disana. Dan aku sempat mengerutkan kening ketika Chairil memanggil Syahrir dengan sebutan Oom. Rasanya tidak lumrah memanggil orang sekelas Syahrir Oom. Tapi ternyata ia itu keponakannya Syahrir! Huuaaa. Bukankah kemarin aku baru saja ingin membaca Syahrir? Dan sekarang aku sudah membaca tentang keponakannya terlebih dahulu. Dunia itu kecil, ya, Ag?

Ngomong-ngomong, kemarin aku berselisih jam dengan Pak Taufiq. Beliau berangkat ke bandara pagi. Aku baru sampai di Rumah Puisi siang. Tak apa. Lain waktu masih ada.  Setidaknya aku berhasil membawa Syahrir pulang setelah merengek-rengek ke Kak Sili. Semoga beliau tidak kena marah nanti. Hehehe.

IMG_20160208_113429

Buku ketiga ditahun ini. Yeaay!

Dan liburan kemarin begitu produktif, Ag. Menyelesaikan dua buku ketceh! Seharusnya bulan ini bulannya Hamka #liriktumpukanbukudimeja. Tapi buku Hamka terlalu berat untuk ditamatkan sekali baca. Too much truth, Ag! Setiap paragraf yang ditulis harus dipikirkan. Orang minang bilang diinok manuangan. Buku-buku seperti ini menghabiskan banyak tenaga ketika membacanya. Kau tidak bisa tidak memikirkan setiap katanya, Ag. Aku harus membaca ulang buku ini lagi. Tapi nanti ya, Buya, aku sudah ada janji terlebih dahulu dengan Syahrir. Lalu Hatta. Setelah itu mari kita berdiskusi lagi dengan Falsafah Hidup.

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Banda Neira

Bangun
Sbab pagi terlalu berharga tuk kita lewati dengan tertidur
Bangun
Sbab hari terlalu berharga tuk kita lalui dengan bersungut-sungut

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam

Ini akan menjadi soundtrack lagu bulan ini. Juga lagu-lagu Banda Neira lainnya. Nanti, suatu saat, saya akan ke Banda Neira sambil membaca buku yang ditulis Hatta dan Syahrir. Dan membaca cerita tentang mereka yang dituliskan oleh orang lain. Ooh, how i really love to read and know story about people.

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments