O.N.L.Y A.D.V.E.N.T.U.R.E

fadillah fauzia akmal

Archive for June, 2016

Proud

I’m a proud sister!

Utan sudah sering sebenarnya bawa mobil sendiri kalau ada acara malam pas sekolah. Kadang antar jemput saya kemana saja. Tapi, kalau ke kampung biasanya masih diawasi Papa plus dicerewetin. Disuruh lebih pelan, disuruh ke kiri dikit, banyaklah. Hari ini si bocah menyetir ke kampung. Jalanan tidak bisa dibilang lancar. Mulai dari macet di Padang Lua, terus hujan lebat pas balik ke Padang Panjang, selisih sama mobil di jalan sempit, mana dia jadi biang kemacetan pas motong jalur yang hadap-hadapan sama truk. And you know what? Papa tidak banyak komen karena banyak tidur selama perjalanan. Yang artinya tidak perlu pengawasan lebiih. Yang artinya lagi secara sah sudah bisa menggantikan Papa untuk menyetir mobil. Yeaaay! Lulus ujiaaan!

Dan, si bocah hari ini jadi imam mulai dari magrib sampai witir! Walau dari isya sampai witir makmumnya cuma saya -yang lain pada ke mesjid #langsungtobatnasuha-, tapi tetap, it’s something! Ya, namanya berhadapan dengan bocah, sabarnya mesti dibanyakin. Pas diajakin shalat, diiyain, tapi ya itu, lama. Akhirnya jam 21.10 shalat baru dimulai. Dan, setiap selesai shalat, si bocah selalu tiduran di sajadah. Mikirin mau bacain surat apa lagi.

“Boi, ayok, lanjut taraweh!”
“Bentar, lagi mikir ayat nih!”
“Baca empat qul aja”
“Ntar, itu disisain buat witir”
“At-tin”
“Ngga hafal”
“Al-qadar”
“Sering kebalik-balik”
“Al-zalzalah”
“Ngga hafal”
“Banyak bener ngga hafalnya. Pesantren ngapain aja? Kan ngafalin ayat?”
“Kemarin Utan nomor satu terus setoran ayat, tahu!”
“Nah, baru juga beberapa haru udah lupa aja”
“Tahun lalu maksudnya, tahun ini ngga ada setoran. Ceramah doang”

Ternyata ini modus si bocah pilih pesantren tidak di mesjid komplek, tapi di Sawahan nan jauh disana; nyantrinya nyantai. Dan demi apa setiap selesai tarawih dia ngecek hape dulu yang ketinggalan di ruang tamu, terus tiduran di kasur sambil minta dipijitin sebelum lanjut lagi. Ebuset si bocah. Manja beneer.

Dan dirakaat pertama witir saya tidak bisa menahan tawa karena Utan salah membaca ayat. Hahaha. Itu shalat langsung batal. Dan dia juga ikutan tertawa. Tapi setelah itu saya langsung merasa berdosa sangat #maafkanakuadik #tidakbermaksud. Setelah mengecek beberapa bacaan di alquran hp, akhirnya sunnah ramadhan ini selesai pukul 22.00 WIB. Alhamdulillah.

Mama Jun, adik papa, tadi juga memuji Utan dan bersyukur karena sudah bisa jadi imam (biasanya Abang atau Afif, anak Mama Jun yang seumuran Abang yang selalu jadi imam). “Badaso punyo anak laki-laki yang pandai jadi imam. Kebahagiaan bagi orangtua kalau diimami anaknya” itu kata beliau. Kalau Mama Jun saja bilang seperti itu, bisa dibayangkan bahagianya Ibu dan kami semua.

Ah, Boi, i’m totally a proud sister!
#17

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Baca #2

2. Teenlit
Memasuki SMP, saya mendaftar menjadi anggota perpustakaan Semen Padang (saya selalu punya kartu pustaka sejak SD). Pustaka untuk keluarga karyawan Semen Padang yang juga terbuka untuk umum. Tempatnya sepi. Mungkin karena tidak banyak yang tahu (siapa juga yang mau sibuk bertanya pustaka di Gedung Serba Guna? Well, I will) Buku disana keren-keren! And it’s like perfect combination; books and solitude.

SMP adalah puncaknya saya gila sekali membaca. Sehari saya bisa menamatkan satu buku. Terkadang dua (p.s: when I said book, it refers to everything except text book). Tentu dengan catatan jam tidur yang berkurang atau curi-curi waktu sewaktu guru menerangkan pelarajan. Hehehe. Suatu kali saya ditelfon oleh pustakawannya untuk menjemput hadiah uang tunai sebagai peminjam buku terbanyak dalam periode itu. Saya bahkan tidak tahu kalau ada kompetisi semacam itu. Wong sudah boleh pinjam buku gratis saja sudah syukur.

Di kelas dua, pustaka di sekolah saya berbenah. Ruangannya diberi karpet tebal, diberi AC, disulap menjadi senyaman mungkin. Dan bagian terbaiknya adalah mereka membeli banyaaaaaaak sekali novel-novel remaja. Bertumpuk-tumpuk buku baru terletak di meja. Sebagian belum boleh dipinjam karena belum didata atau disampul. Baru kali itulah saya melihat antrian panjang siswa untuk meminjam buku. Bisa dibayangkan, kan, saya meminjam buku dari dua pustaka sekaligus? Hahaha. Saat-saat bahagia itu.

Itu adalah masa jaya-jayanya teenlit; Fairish, Dealova, Dua Pasang Mata, Satria November, you name it. Saya lahap semua. Bahkan saya masih melihat novel Fairish di Gramedia. Beeuuh, masih naik cetak aja sampai sekarang. Itu juga pertama kali saya menemukan buku Raditya Dika; Kambing Jantan. Buku yang ketika saya membaca judulnya langsung menerbitkan kebingungan. “Kenapa sekolah mau membeli buku semacam ini dalam jumlah yang cukup banyak? Memangnya kami akan belajar berternak?

And, absolutely I wrote my own novel too. Saya menulisnya di buku tulis isi empat puluh. Dan tidak pernah tamat. Paling kuat hanya beberapa bab. Lalu terbengkalai. Hahaha.
#16

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Baca

Bagi saya membaca bukan hanya sekedar hobi, tetapi sudah menjadi sejenis kebutuhan. Dan membaca ini sudah dimulai sedari saya kecil. Ibu dan Papa bukan pembaca akut seperti saya, tetapi beliau mengenalkan dan mengajarkan kami –saya dan saudara saya- dengan buku sejak dini. Di keluarga, saya adalah orang yang kebutuhannya akan bacaan paling tinggi sampai saat ini. Call me nerd, I really don’t mind. Dan jika melihat masa lalu, kebutuhan akan jenis bacaan saya berubah-ubah dari waktu ke waktu. Sesuai lingkungan, sesuai umur.

1.Bobo
Sejauh yang bisa saya ingat, dari SD kami sudah berlangganan majalah Bobo. Setiap hari kamis, jika pulang bareng Papa karena masuk sekolah siang, kami akan berhenti di kios koran di Pasar Bandar Buat. Papa membeli majalah Bola (saya juga membaca majalah ini, tapi hanya kolom si Gundul xD)  dan kami membeli majalah Bobo. Terkadang kalau saya tidak punya uang lebih, saya akan berdiri di depan kios dan menamatkan majalah Bobo disana #anaknya gratisan. Hehehe.

Pun ketika ikut pulang kampung dengan Oom naik bus, saya hanya minta dibelikan bacaan yang dijual oleh pedagang asongan di atas mobil. Entah itu majalah Bobo atau Ino atau komik-komik seperti Doraemon dan P-man. Atau ketika ke pasar, saya sering membeli Bobo yang sudah dibundling dari beberapa edisi lama dan dikemas ulang. Walau covernya sudah berganti jadi fotocopy dan beberapa bagiannya sudah rusak atau tidak utuh, bagi saya tidak masalah. Dengan harga yang sama, saya bisa dapat edisi bacaan yang lebih banyak.

Dulu, saya dan Ica, teman sekomplek saya, pernah membuka pustaka yang menyewakan majalah Bobo ini sewaktu kelas empat atau lima. Rumah Ica sebagai markas. Karena dia yang punya majalah paling banyak. Saya hanya bantu sumbang beberapa. Satu majalah kami sewakan tiga ratus rupiah. Pustaka ini tidak bertahan lama. Mungkin hanya sekitar dua mingguan. Saya tidak ingat pasti kenapa. Tapi saya ingat majalah itu akhirnya berakhir di tangan tukang loak yang sering lewat di depan rumah. Lalu saya waktu itu dengan polosnya meminta ke si Bapak karena tidak ikhlas Bobo-nya berpindah begitu saja.

Saya rasa Bobo adalah bacaan yang menjadi dasar bagi saya untuk belajar menulis. I’ve been having my own diary since then. Setiap membaca kolom-kolom seperti surat pembaca, cerpen, ulasan daerah, pengetahuan umum, atau bahkan Nirmala serta Bona dan Rong-Rong, dalam otak saya juga sudah tergambar cerita lain dengan gaya bahasa yang sama. Jika mereka mengulas tentang Toraja, saya langsung terbayang membuat cerita yang sama dengan Ngarai Sianok. Dan dari sekian banyak bagian, kolom yang paling jarang saya baca adalah kolom soal pelajaran. Hahaha.

Dan bisa tebak saya berlangganan Bobo sampai kapan? Sampai kelas dua SMA. Hahaha. #anaknyasusahmoveon
#15

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Doa

Tidakkah kau rasa doa itu indah, Ag? Penghubung antara hamba dengan Tuhannya? Penanda bahwa selemah apapun kita, ada Dia sebagai penguat. Tak peduli seberdosa apapun kita, ada Dia tempat berkeluh kesah. Dia, penampung segala harap. Dia, penyampai apa yang tak tersampai.

Kalau begitu, mari kita berdoa, Ag. Semoga yang akan berjuang diberi kekuatan, diberi kemudahan, diberi kelancaran dalam perjuangannya. Dan nantinya diberi keikhlasan dan kelapangan hati dalam menerima hasilnya. Amiin.
#14

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Nenek#2

Nenek hanya mencicip pendidikan sampai kelas dua SD. Membaca pun masih mengeja. Beliau juga tidak pernah sekolah agama. Tapi beliau istiqamah dengan amalan wajib dan sunnahnya. Bahkan diusia yang sudah sesenja ini, dhuha, puasa senin-kamis, sunnat rawatib, witir, tahajud masih beliau jalankan dengan rutin. She has been doing it since young. Dan jangan tanya kearifan beliau terhadap hidup. Beliau juaranya! Nenek mengamalkan petatah minang; alam takambang jadi guru.

Beliau mengajarkan ilmu dagiang; cubo piciak dagiang tangan awak, kalau sakik di awak, jan dikarajoan ka urangBeliau mengajarkan untuk hidup rukun dengan tetangga; “Bialah mangalah-mangalah saketek asa tajago hubungan baiak.” Beliau selalu mewanti-wanti kami sebagai perempuan untuk selalu membawa senjata. Apa itu? Mukenah! Nenek selalu mengatakan nasihat ini kalau waktu shalat sudah masuk dan kami masih berleha-leha; menaikkan intonasi di kalimat terakhir sambil memukulkan tangan ke paha untuk menekankan kata marah.

Shalat kamu diawal waktu, redha Allah ta’ala
Shalat kamu dipertengahan waktu, dimaafkan Allah ta’ala
Shalat kamu diakhir waktu, marah Allah ta’ala.

Daaan, beliau sangat pantang dengan yang namanya mubazir (i’m totally on her side about it!). Pernah suatu kali saat kami makan di restoran, nenek minta bungkus pulang makanan yang tidak sanggup beliau habiskan. Padahal itu cuma kuah soto yang isinya tidak seberapa lagi. Kalaupun ada makanan yang tidak lagi bisa dimakan, beliau akan kumpulkan lalu meletakkannya di depan pagar. “Ini rejeki kucing”

Selalu menyenangkan melihat dan mendengar ibu bercerita tentang nenek. I can see how she really respects and love her. Bagaimana ketika Ibu bertangkar dengan saudara yang lain, nenek hanya tersenyum dan berkata “ndak baa do, palamak makan di kalian mah.” Dan beliau masih mengatakan hal yang sama ketika cucu-cucnya bertengkar;
ndak baa do, palamak makan mah,
limo urangnyo, limo pulo kalakuannyo.
limo urangnyo, limo pulo saleronyo.
Nan surang katuju bana jo jariang,
nan surang nampak jariang ndak namuah makan”

Dengan usia sudah diatas 80 tahun, beliau masih tergolong cukup sehat, tetapi beliau sudah mulai pikun. Terkadang beliau bercerita hal yang sama dengan jarak 5 menit saja. Saya mendengarkan sambil tersenyum. Terkadang beliau lupa siapa saya. Hiks. Hiks. But i still love her absolutely. Minggu depan nenek akan tinggal di rumah. Yeaayy, welcome home, Nek! :)
#13

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments