O.N.L.Y A.D.V.E.N.T.U.R.E

fadillah fauzia akmal

Archive for July, 2016

Pram

Dear, Pram.

Aku harus bilang apa? Tapi kau benar- benar… jenius! Tulisanmu padat tapi mudah untuk dipahami. Kau tahu, di chapter awal aku sudah berhenti membaca di beberapa halaman untuk menarik nafas dan menenangkan perasaan. Karena tulisanmu terasa benar sekali. Lalu aku berkata-kata pada diriku sendiri. Berdiskusi. Bahwa apa yang kau tulis masih juga berlaku sampai saat ini.

Katakan aku berlebihan, tapi perasaan membuncah ketika membaca seperti ini sudah lama agaknya tak kurasakan. Mungkin karena buku terakhir yang aku baca, Syahrir, cukup berat dari bahasan maupun tata bahasa terlebih menggunakan ejaan lama. Sehingga sulit aku mengerti. Dan terkadang ketidakmengertianku itu membuat aku kesal juga. Padahal sudah aku baca ulang. Maka membacamu jadi seperti menemukan oase. Menyegarkan.

6 books Pram; done. Many to go. Masih hutang 3 buku lagi dari target

6 books Pram; done. Many to go. Dibaca dari atas ke bawah. Acak. Dan masih utang 2 buku lagi dari target.

Aku rasa kita tidak bisa benar-benar objektif menilai sesuatu. Kita menilai seobjektif mungkin kesubyektifan kita. Aku tidak mengatakan kau jenius karena aku sudah membaca sebelumnya mengenai kekaguman orang padamu. Aku mengatakan ini karena yang aku rasa kau memang begitu.

Tapi kau hampir membuatku membencimu, Pram. Tahukah kau aku emosi jiwa membaca chapter 13 Rumah Kaca-mu itu? Susah payah aku mengikuti Minke dari awal dan kau akhiri dia seperti itu. Begitu saja!? Tanpa basa-basi?! God, Pram! Mataku sampai sabak menahan emosi. Kau tidak bisa sekejam itu. Ya, walau aku tahu ceritamu memang terjadi di dunia nyata, tapi tetap saja aku kesal. Agaknya aku lebih menyukai happy ending, Pram. Cukuplah di dunia nyata saja kita bersusah payah. Biarkan fantasi akan dunia yang sempurna kita temukan di buku-buku. Menjadi pelarian indah sementara setidaknya.

teater

Pementasan yang akan berjalan dengan apik

Dan bersyukurlah akan chapter 14, Pram. Kau masih sisakan satu bab penutup. Menjabarkan keadaan yang sama saja tidak menyenangkannya. Setidaknya cukup untuk mengalihkan pikiranku akan akhir cerita Minke yang susah payah kuterima. Dan, seperti sewajarnya semesta bekerja bak jaring laba-laba, berhubungan satu sama lain, kau akan dimainkan, Pram! Bukan dalam bentuk film seperti yang aku kira sebelumnya, tetapi teater! Lebih baik lagi itu namanya. Dimainkan oleh 2 aktor favoritku dan disponsori oleh foundation beasiswaku dulu. Keterkaitan yang menyenangkan. Semoga ada kesempatan untuk menonton secara langsung. Amiin.
#3

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Abadikan

Pikiran-pikiran ini tidak bisa didiamkan saja di otak, Ag. Terlalu lincah. Melompat kesana kemari. Belum selesai satu sudah terbang lagi. Semua ingin dihinggapi. Membuatku bingung. Ia harus dijejakkan ke tanah. Agar berbekas. Agar aku tahu kemana saja ia sudah dan akan melangkah. Agar aku menemukan pijakan.
#2

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Bandara

Kalau kau mau perhatikan sedikit saja, Ag, bandara itu sangat menarik. Sebagaimana yang selalu aku rasakan. Lalu lalang orang dengan ceritanya masing-masing. Ada yang baru datang lalu disambut peluk hangat oleh keluarga. Kau lihat senyum di wajah mereka, Ag. Tertawa lepas walau tidak ada kata yang diucapkan. Bahagia. Lalu ada yang menangis tertahan. Seolah tak rela melepas. Tetapi hidup begitu, kan? Ada yang datang, ada yang pergi.

Dan mereka yang berkeliaran dengan ransel, entah yang datang atau yang pergi adalah yang paling menarikku, Ag (i automatically imagine myself as them. i still obsess by this). Mereka bau petualangan. Darimana mereka? Akan kemana meraka? Apa saja tempat yang mereka kunjungi? Apa cerita Ibu-Ibu penjual makanan kecil yang mereka temui di perjalanan? Lalu aku teringat akan gambar yang aku temukan di media sosial beberapa waktu yang lalu. Ah, Sumba, i’m still not over you. #1

sumba

Dear, Sumba. There you are; under the cloud, above the sea. One day. One day.

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments