O.N.L.Y A.D.V.E.N.T.U.R.E

fadillah fauzia akmal

Baca

Bagi saya membaca bukan hanya sekedar hobi, tetapi sudah menjadi sejenis kebutuhan. Dan membaca ini sudah dimulai sedari saya kecil. Ibu dan Papa bukan pembaca akut seperti saya, tetapi beliau mengenalkan dan mengajarkan kami –saya dan saudara saya- dengan buku sejak dini. Di keluarga, saya adalah orang yang kebutuhannya akan bacaan paling tinggi sampai saat ini. Call me nerd, I really don’t mind. Dan jika melihat masa lalu, kebutuhan akan jenis bacaan saya berubah-ubah dari waktu ke waktu. Sesuai lingkungan, sesuai umur.

1.Bobo
Sejauh yang bisa saya ingat, dari SD kami sudah berlangganan majalah Bobo. Setiap hari kamis, jika pulang bareng Papa karena masuk sekolah siang, kami akan berhenti di kios koran di Pasar Bandar Buat. Papa membeli majalah Bola (saya juga membaca majalah ini, tapi hanya kolom si Gundul xD)  dan kami membeli majalah Bobo. Terkadang kalau saya tidak punya uang lebih, saya akan berdiri di depan kios dan menamatkan majalah Bobo disana #anaknya gratisan. Hehehe.

Pun ketika ikut pulang kampung dengan Oom naik bus, saya hanya minta dibelikan bacaan yang dijual oleh pedagang asongan di atas mobil. Entah itu majalah Bobo atau Ino atau komik-komik seperti Doraemon dan P-man. Atau ketika ke pasar, saya sering membeli Bobo yang sudah dibundling dari beberapa edisi lama dan dikemas ulang. Walau covernya sudah berganti jadi fotocopy dan beberapa bagiannya sudah rusak atau tidak utuh, bagi saya tidak masalah. Dengan harga yang sama, saya bisa dapat edisi bacaan yang lebih banyak.

Dulu, saya dan Ica, teman sekomplek saya, pernah membuka pustaka yang menyewakan majalah Bobo ini sewaktu kelas empat atau lima. Rumah Ica sebagai markas. Karena dia yang punya majalah paling banyak. Saya hanya bantu sumbang beberapa. Satu majalah kami sewakan tiga ratus rupiah. Pustaka ini tidak bertahan lama. Mungkin hanya sekitar dua mingguan. Saya tidak ingat pasti kenapa. Tapi saya ingat majalah itu akhirnya berakhir di tangan tukang loak yang sering lewat di depan rumah. Lalu saya waktu itu dengan polosnya meminta ke si Bapak karena tidak ikhlas Bobo-nya berpindah begitu saja.

Saya rasa Bobo adalah bacaan yang menjadi dasar bagi saya untuk belajar menulis. I’ve been having my own diary since then. Setiap membaca kolom-kolom seperti surat pembaca, cerpen, ulasan daerah, pengetahuan umum, atau bahkan Nirmala serta Bona dan Rong-Rong, dalam otak saya juga sudah tergambar cerita lain dengan gaya bahasa yang sama. Jika mereka mengulas tentang Toraja, saya langsung terbayang membuat cerita yang sama dengan Ngarai Sianok. Dan dari sekian banyak bagian, kolom yang paling jarang saya baca adalah kolom soal pelajaran. Hahaha.

Dan bisa tebak saya berlangganan Bobo sampai kapan? Sampai kelas dua SMA. Hahaha. #anaknyasusahmoveon
#15

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 in addition to 7?