O.N.L.Y A.D.V.E.N.T.U.R.E

fadillah fauzia akmal

Dai

Seminggu yang lalu Ibu dan Bumpung asyik bercerita sambil tertawa. Menertawakan bully-an para sepupu durhaka pada saya. Siapa lagi tersangkanya kalau bukan Bang Edo, Dai dan Kak Nil. Tapi Dai yang paling parah! Bully-annya tingkat hardcore. Saya tidak tahu kalau orang lain akan kuat mental jika mengalami hal yang sama. *sorak *sokkuatludil. Hahaha. Tidak, tentu ini tidak bully-an fisik. Hanya sekedar selorohan kalimat saja.

Dan jangan ditanya sejak kapan ini terjadi. Like long long time ago. Entah kenapa saya selalu menjadi sasaran empuk.  Tapi saya tidak pernah sakit hati. Tentu saja saya tidak mengiyakan hasil bully-an mereka. i still defend myself. Tapi sepertinya tidak guna juga. Mereka tidak peduli. Tak dengar pun. Jadi sudah saja saya juga ikut tertawa.

“Tapi wajar juga kalau Dilla dibully seperti itu, toh, dia juga jahil sama abang-abangnya.” Kata Bumpung. Otak saya bekerja. Mencoba mengolah kalimat barusan. Saya jahil? Hmm. “Ingat waktu Dai ditinggal terus dikasi air garam?”

Oooh, hmm. Hahaha. Itu, saya bawa kabur motor waktu Dai sedang jajan di warung sepulang perjalanan dari kantor. Kelimpungan Dai mencari motor yang tetiba hilang. “Dai, cepetaaan! Udah malam nih!” Itu saya, yang berteriak dari jarak 5 meter dari atas motor. Ketika Dai berjalan mendekat, saya menggas motor menjauh. Lalu berhenti dan mengucapkan hal yang sama. Dan begitu terus. Akhirnya Dai berjalan sampai rumah. Di rumah saya bertanya dengan muka polos, “Kok kecape’an, Dai?” Dai sudah duduk selonjoran tak bertenaga di depan pintu sambil melihat saya dan menggelengkan kepala dengan tatapan nanar. Sebagai adik yang baik, maka saya ambilkan air putih. “Minum dulu, Dai.” “Tumben baik?” katanya mengambil gelas lalu minum dan “pyuuurrr!!” Dai menyemburkan tegukan pertamanya. Dan saya tertawa. Itu airnya sudah saya campur garam. “Tega lo, Dill” katanya dengan muka antara tertawa dan menangis.

Atau kejadian waktu saya dijemput, terus pas Dai datang saya pulang naik taksi. Atau waktu saya minta diantar pagi-pagi ke Rumah Puisi nun jauh disana untuk bertemu Taufiq Ismail karena saya cuma dapat izin setengah hari dari kantor. Terus cuma sarapan indomie rebus di pinggir jalan. Itu pun semangkok berdua. Dan pulangnya saya minta diantar lagi ke Padang. Tapi saya diturunin di Kayu Tanam dan disuruh naik tranex. Dan tentu saya minta ongkos pulang *bukanbalasdendam *emangnggaadaduit. Atau yang setiap minggu saya teror dengan pertanyaan yang sama “kapan ke gunung? kapan ke pulau?” Atau pas saya ngambek beberapa hari sewaktu tahu Dai ke pulau tanpa mengajak saya.

Atau sewaktu Dai harus pulang malam karena saya pulang malam. Kantor kami waktu itu berdekatan. “Pulang sendiri kenapa, sih? Bikin repot aja” itu Dai bilang setiap kali kami pulang bareng. “Yee, siapa juga yang minta jemput?” kata saya membela diri. Sambil sesekali menoyor helmnya dari belakang karena tiba-tiba Dai pura-pura ngantuk atau secara mendadak bertepuk tangan sewaktu membawa motor. “Minta jemput sih, ngga. Tapi pas Ibu nelfon terus bilang ngga tahu pulang pake apa dan sama siapa, menurut lo?” Pasti Dai ditelfon Ibu untuk pulang bareng. Hahaha. Saya tertawa saja. Walaupun menye-menye terus, tetap saja saya ditungguin. Abang yang baik *pukpukpuk

Atau pas kemarin, jauh-jauh datang dari kampung untuk mengantar stnk motor dan dengan baik hati menunggu selama 2.5 jam menyelesaikan laporan di kepolisian. Huaa, ternyata saya yang adik durhaka. Huehehe.

Ya, saya rasa itu yang namanya saudara. Bagaimanapun seorang abang akan bertanggung jawab terhadap adiknya. Sebagaimana adik yang akan selalu merepotkan abangnya. Eh? :D

posted by fadillahfa in Uncategorized and have No Comments

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 multiplied by 7?