Bersembunyi di Balik Nama

June 27th, 2013 by faisalabdmusin No comments »

Ninety Six Point One Prima Radio Your Teenage Station. Masih barengan sama Abdul Maliq di Ruang Cinta. Tanpa Sekat Silahkan Curhat. Afgan dengan Pesan Cintanya mengawali perjumpaan kita di senin malam ini ya muda-mudi. Mungkin kalo lo yang suka kirim pesan cinta ke pacar, gebetan, mantan, mantan gebetan, atau pacar orang mungkin. Haha. Dan pesannya nyangkut di jalan. Lo bisa kirim pesan cinta atau curhatan lo ke gue di nomor telfon 0838 121 99 961 atau bisa juga lo mention gue ke @radioprima dengan hashtag #RuangCinta..oke. Silahkan curahkan isi hati lo ke gue karena gue bakalan nemenin sampe jam 12 nanti. So… sekarang kita dengerin dulu lagu dari Abdul & The Coffee Theory. Tanda-tanda cinta. Enjoy!” Kata gue sehabis Talk pertama sambil menaikan volume untuk lagu. Gue melepas Headset dengan tampang lesu.

Sudah 3 minggu ini gue nggak mendengar suara Melody dari balik telfon radio. Gue sama sekali nggak tahu dia pergi ke mana. Yang jelas, sejak awal program ruang cinta ini mengudara satu bulan yang lalu, gue kecanduan sama cerita Melody, Apalagi suaranya. Mungkin lebih tepatnya, gue udah jatuh cinta sama Melody.

Menurut gue, manusia bisa aja jatuh cinta tanpa perlu bertemu atau kontak fisik secara langsung. Nggak kaya di FTV-FTV di mana cowok-cewek jatuh cinta harus ditabrak gerobak siomay dulu. Si cewek marah-marah sampai mulut berbusa, si cowok minta maaf sejuta kali sambil beresin siomaynya yang berceceran, besoknya mereka ketemu lagi dan langsung jatuh cinta.

Contohnya gue. Gue jatuh cinta pada pendengaran pertama sama Melody. Selama satu tahun siaran, baru kali itu gue mendengar suara sesyahdu suara Melody melalui program Ruang cinta.

Jarum jam sudah menunjukan tepat jam sebelas malam. Sudah 2 jam gue siaran, tapi sama sekali belum ada telfon yang masuk. Cuma baru ada beberapa mention aja yang masuk ke akun @radioprima. Itu juga Cuma ritwitan twit promosi program gue, sama beberapa akun alay yang minta difollback. “Folbek eeaaaaa qaqa….”.

Saat itu gue yang langsung pesimis gitu sama program baru ini karena sepi penelfon. Gue pun sering keluar masuk ruangan siaran.

“Kampret, udah hampir 2 Jam gue siaran belum ada penelfon juga bro..” Kata gue ke Rizki, Program Director gue di radio yang hobinya makan sate ayam tiap malam. Perutnya nggak usah ditanya. Pernah suatu hari dia memakai kaos ketat. Perut besarnya sampai mencuat.

“Santai aja kali bro…namanya juga baru minggu pertama, wajar lah… kaya baru jadi penyiar aja. “ Kata Rizki meneruskan mengunyah Sate Ayamnya.

“Iya juga sih…Cuma berasa sepi aja gitu bro.. ini juga kan pertama kalinya gue siaran sendirian. Kedinginan bro..hahaha” kata gue sambil garuk-garuk kepala.

“Hahaha..dasar lu!”

“Hahaha..Okeh gue masuk dulu ya..” Gue kembali masuk ke ruang siaran.

“Oke bro..!”

Baru aja gue berbicara setengah talk, tiba-tiba telfon radio berdering. Sontak gue yang langsung kaget sekaligus senang gitu ada telfon masuk. Gue diem sejenak. Begitu deringan keempat, gue langsung mengangkat telfon itu.

“Halo..selamat datang di ruang cinta tanpa sekat silahkan curhat, dengan siapa ini?” Tanya gue sambil senyum kegirangan.

“Halo…gue Melody…” Jawab Melody lembut di balik telfon. Gue langsung hening selama dua detik ketika mendengar suara Melody. Lalu gue jawab lagi.

“Hai melody….nama lu bagus banget kaya suaranya. Hehehe..”

“Makasih liq..”

“Oke Melody, mau curhat ke gue soal apa nih malam ini? Oh iya…karena lu orang pertama yang curhat ke Ruang cinta, lu berhak mendapatkan hadiah berupa…..Tempe Mendoan dari gue..hehehe” Kata gue berusaha mencairkan suasana.

“hahaha…gue mau hadiahnya elu aja gimana?”

“Oh! Boleh banget kalo itu….Oke langsung kirimin alamat lu ya..hehehe…oke..oke Melody mau curhat apa nih?” Tanya gue masih senyum-senyum.

“Hahaha..gini liq, gue mau curhat soal temen deket gue yang gue suka…”

“Ohh..gitu…wah…seru nih kayanya….heheh oke langsung cerita aja mel..”

“Jadi………………”

Hampir 15 Menit Melody bercerita, dan gue sangat menikmati bagaimana dia menyampaikan cerita itu ke gue. Terlebih dengan suaranya yang syahdu banget. Gue nggak berhenti senyum sampai gigi gue kering. Selesai cerita, tiba-tiba Melody menawarkan diri untuk menyanyikan sebuah lagu buat gue.

“Makasih liq udah mau dengerin cerita gue.”

“Sama-sama Mel…gue enjoy banget dengerin lu cerita. Suara lu syahdu banget..hehhe”

“Oh ya liq…gue boleh nyanyiin satu lagu buat lu?”

“Hah? Nyanyi? Serius? Ya boleh banget lah mel….hahha mau nyanyi lagu apa??” Tanya gue yang sedikit kaget. Nggak kebayang gue suaranya dia kalo nyanyi kaya apa.

“ Nyanyi lagu firasatnya Raisa..” Jawab dia lembut.

“Waaaahh… I love that Song!! Hehehe.. Yuk, udah siap dengerin nih…”

“Kemarin….ku lihat awan membentuk wajahmu..Desau angin meniupkan namamu..Tubuhku terpaku…Semalam…”

Seketika Gue terdiam. Senyum perlahan gue mengembang.

“bulan sabit..melengkungkan senyummu..tabur bintang serupa kilau auramu..Akupun sadari, ku segera berlari..”

Tiba-tiba gue merinding mendengar suara Melody. Suaranya benar-benar kaya suara dari surga menurut gue.

“Cepat pulang..cepat kembali jangan pergi lagi..Firasat..ku ingin kau tuk cepat pulang cepat kembali jangan..pergi lagi…”

Jantung gue kali ini beneran mau berhenti. Tubuh gue serasa mau terbang.

“Alirnya..bagai sungai yang mendamba samudera…ku tau pasti kemana ku kan bermuara..semoga ada waktu..sayangku…Ku percaya alam pun berbahasa…ada makna di balik semua pertanda..firasat ini..rsa rindukah ataukah tanda bahaya..aku tak peduli…ku terus berlari….. cepat pulang..cepat kembali jangan..pergi lagi…firasatku ingin kau tuk cepat pulang…cepat kembali jangan pergi…lagi… Aku pun sadari..kau takkan kembali…la…gi….”

“……..”
“liq?”

“Eh…sori Mel..abis meleleh tadi denger lu nyanyi….Indah banget mel….”

“Makasih banyak liq…udah mau dengerin gue…dah…”

“Eh mel….”

Tut..tut..tut… Suara telfon terputus.

Sejak saat itu, Degup jantung gue terasa lain. Rasanya gue udah jatuh cinta sama suara Melody. Seorang cewek yang entah dari mana asalnya, wajahnya seperti apa, dan sifatnya seperti apa. Tapi kalo dari suranya, bisa gue pastiin wajah dan sifatnya sebelas dua belas sama maudy koesnaedi.

Setiap gue siaran, Melody selalu telfon ke radio. Gue pun selalu menikmati ketika mendengarkan dia bercerita. Begitu selesai cerita, Melody juga selalu menyanyikan lagu untuk gue. Hal itulah yang membuat gue selalu nggak sabar untuk menyambut hari senin untuuk siaran.

Tapi sekarang… segalanya berubah. Udah 3 Minggu ini Melody nggak menelfon ke Radio. Gue pun jadi males-malesan untuk siaran. Gue kehilangan semangat gue. Melody. Suaranya yang Syahdu membuat gue rindu. Meskipun gue tahu, Melody cuma sekedar bayangan semu.

Selesai closing siaran, gue langsung mematikan komputer dan juga mixer. AC ruangan sengaja nggak gue matikan karena Kang Arip, yang jagain kantor, suka tidur di ruang siaran. Gue pun keluar ruangan dan langsung menghampiri Rizki yang lagi sibuk mengetik di depan layar komputer.

“Bro…Ruang Cinta kayanya dicut aja deh bro..gue udah nggak nyaman bawainnya.” Kata gue sambil masang muka nggak bergairah.

“Lho kenapa Liq? Programnya bagus kok..pendengar lu juga udah mulai banyak kan? Sayang aja lagi kalo dicut.” Kata Rizki yang masih fokus dengan layar komputernya.

“Ya..tapi gue udah nggak semangat aja gitu bawainnya..” kata gue yang langsung duduk di sebelahnya.

“Kenapa gitu? Apa jangan-jangan gara si melody itu?” Rizki menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah gue sambil menyeruput kopi hitamnya.

“Iya…bro.. udah 3 minggu ini, nggak ada telfon dari dia. Gue yang berasa ilang semangat aja gitu tiba-tiba. Kayanya gue emang jatuh cinta deh sama Melody..tapi kayanya juga percuma..toh gue nggak tahu dia di mana juga kan.” Kata gue lesu.

“Ya lu cari tau lah liq…hahha” kata Rizki sedikit bercanda.

“Cari ke mana?? Google? Secara kalo gue ketik Melody ya yang muncul pasti Melody JKT 48 bro…”

“Hahaha iya juga ya…”

“Apa gue diganti sama Luna aja ya? Dia kayanya juga cocok deh bawain ruang cinta. Gantian aja gitu…sekarang cewek yang bawain.. gimana??” Tanya gue.

“Luna?hmmmmm boleh juga sih..yaudah lu ngomong aja langsung ke Luna bro..dia mau atau nggak, soalnya kan siarannya sampe malem..” Jawab Rizki melanjutkan ketikannya.

“Iya juga sih..yauda deh nanti gue coba ngomong ke Luna. Gue balik dulu ya bro…” Kata gue sambil beranjak dari kursi.

“Oke bro..eh. iya..minggu depan lu bisa ngisi acara buat ultah prima kan??nanti gue sediain gitar akustiknya..santai..hehe”

“Beres…siap aja gue mah…oke ya gue balik..”

“Oke..hati-hati bro..”

“Sip”

Ketika Lagi santai menyetir motor menuju kos-kosan, tiba-tiba selintas muncul wajah Luna. Teman dekat sekaligus junior gue di kampus maupun di radio. Gue terbayang tingkah laku Luna yang menyenangkan setiap kali ketemu di kampus. Wajahnya yang manis serta memiliki bola mata yang indah, menjadikan Luna bahan Incaran senior-senior di kampus untuk dijadikan gebetan. Termasuk gue. Tapi kayanya kedekatan gue sama Luna Cuma sebatas kakak Adekan. Nggak Lebih.

Entah apa yang terjadi di Otak gue, tiba-tiba bayangan Luna terhapus oleh bayangan nama Melody. Setelah itu, muncul wajah Maudy Koenaedi. Kemudian muncul pertanyaan yang sering muncul di otak gue. Melody ke mana ya? Lagi apa dia sekarang? Apa dia udah menemukan cintanya? Gue menggeleng-gelengkan kepala gue berusaha membuyarkan khayalan.

Keesokan harinya gue bertemu dengan Luna di kantin Kampus pada saat jam makan siang. Setiap makan sama gue, dia selalu memesan kwetiaw goreng dan minumnya selalu Iced Coffee. Gue udah khatam banget. Dia selalu minta kwetiawnya pedas, tapi nggak pernah habis. Akhirnya gue yang sering menghabiskan kwetiaw Luna.

“Kwetiaw Gorengnya 2 ya mas. Dua-duanya pedes banget. Sama minumnya…satu oren jus, satu lagi iced coffee.” Kata gue ke mas-mas tukang kwetiaw yang lagi sibuk mengoseng nasi goreng.

“Oke mas…” Sahut mas-masnya sambil sedikit senyum.

“Dih…kok lu tau banget liq gue mau pesen kwetiaw sama iced coffee..??” Tanya Luna Sedikit heran.

“Hahaha udah berapa kali ya kita makan bareng, elu mesennya selalu kwetiaw goreng. Dan gue selalu ngabisin punya lu gara-gara lu kepedesan. Hahaha” kata gue sambil berjalan mencari tempat duduk.

“Duh maliq…..sampe segitunya merhatiin gue….hehehe” Kepala Luna menyender ke bahu gue.

“Dih ge er lu..” Kata gue sambil duduk. Kita berdua duduk berhadapan.
“Hahahah…”

“Eh gini Lun, maksud gue ngajak lu ketemu..gue mau minta tolong lu gantiin gue siaran..mau nggak?” Tanya gue santai.

“Ruang Cinta..?” kata luna sambil menaikan satu alisnya.

“Iya…mau nggak…”

“Hmmmm gimana ya…..menurut gue itu acara udah cocok sama lu deh liq..gue suka kok dengerin lu siaran..asik. hehe” kata Luna sambil tersenyum.

“Hhaha…tapi gue udah nggak semangat semenjak penelfon setia gue udah nggak telfon-telfon lagi Lun..”

“Oh…yang Melody-melody itu..?”

“Iya..”

“Oh iya…dia bagus banget ya kalo cerita..suaranya juga oke lho..” kata Luna sambil mengangkat kedua jempol tangannya.

“Banget..gue kayanya jatuh cinta deh sama dia” Kata gue datar. Luna sempat hening.

“Eh..kwetiawnya udah jadi..yeiiy…makan dulu ah liq…”

“Silahkan mba..mas…” Mas-mas kwetiaw menaruh piring berisi kwetiaw yang masih panas di atas meja.

“Hahaha cepet banget lu kalo soal makanan…”

“Kaya lu nggak aja deh liq…”

“Hahahaha…Eh..sabtu ini lu dateng kan ke ultah prima?” Tanya gue sambil meniup kwetiaw gue.

“Dateng dong…hehhe”

“Sip….nanti nyanyi lah..gue yang main gitar..” kata gue sambil menyuap kwetiaw panas ke dlam mulut.

‘Oke..siapa takut..hehehe” kata Luna setuju sambil sibuk meniup gulungan kwetiaw di garpu.

“Hhaha.. eh ,jadi gimana? Lu bisa nggak gantiin gue?” Tanya gue.

“Oke gue coba deh…” Kata Luna sambil tersenyum.

“Asik…thanks ya Lun….hehhe” Pandanfan gue nggak berhenti melihat Luna asik melahap kwetiawnya.

Nggak tahu kenapa gue pingin banget menghabiskan waktu lebih lama sama Luna. Gue ngerasa, ketika bareng sama dia, gue bisa melupakan bayang-bayang sosok Melody.

SABTU MALAM

Panggung kecil berukuran 5×6 meter terpasang kokoh dengan tambahan lighting dan sound yang di taruh tepat di atas panggung. Di setiap sudut panggung terdapat obor yang menyala. Suasana Cafe Oregon malam itu cukup ramai oleh muda-mudi yang sedang melakukan program rutin malem mingguan. Ditambah dengan Adjis yang membawakan acara dengan kocak sehingga membuat malam itu semakin hangat oleh tawa pengunjung maupun crew Prima Radio yang hadir.

Berhubung gue datangnya agak sedikit terlambat karena motor Vespa gue mogok di tengah jalan, gue duduk di kursi paling belakang. Cukup jauh dari panggung. Gue pun celingak celinguk mencari Rizki. Tetapi, pandangan gue terhenti pada sosok perempuan yang mengenakan dress tanpa lengan berwarna ungu. Rambutnya terurai indah sebahu. Sesekali dia mengenyampingkan rambutnya sambil tertawa. Perempuan itu ternyata Luna.

“Hey Lun…” Sapa gue yang langsung menghampiri Luna.

“Hey Liq! Kok baru dateng sih lu?” Jawab Luna sedikit kaget.

“Hahaha iya…motor gue mogok tadi…” Gue langsung duduk di samping Luna.

“Oh iya??duuuh kasian…haha” Luna mengacak-acak rambut gue sambil tertawa.

“Eh, Lu cantiik banget malem ini asli…pangling gue” Kata gue spontan.

“Hehehe makasih liq…Lu juga ganteng pake jas itu”

“Hahaha bohong aja lu..”

“Dihhh serius…sini bayar gue 2 juta. Kan udah gue bilang ganteng. Hahaha”

“Kampret…hahha”

“Oke….Selanjutnya kita bakal dihibur oleh announcer paling ganteng di Prima Radio. Yang Membawakan program Ruang Cinta..Tanpa Sekat..Ayo Solat…” Teriak Adjis mencairkan suasana.

“HAHAHAHA” Seluruh penonton tertawa.

“Eh maksud gue…tanpa sekat silahkan curhat..langsung aja kita panggil..Maliq….!!!” Adjis membenarkan.

“Aaaaak…..” Teriak suara cewek dari jauh.

Gue pun langsung naik ke atas panggung, lalu mengambil gitar dan duduk di kursi sambil memasukan kabel jack sound ke gitar.

*Jreng….

“Selamat malam….semuanya…malem ini gue nggak sendirian. karena gue bakal duet sama wanita cantik berbaju ungu. Penyiar Prima juga..yang bawain program Siang Cantik. Langsung aja gue panggil, Luna!!” Teriak gue penuh semangat. Luna pun berjalan dengan anggun ke atas panggung.

“Selamat malam semuanya…” Sapa Luna lembut.

“Malaaaaaammm” Jawab penonton.

“Mau nyanyi apa Lun?” Bisik gue ke Luna.

“Hhhhmmm Firasatnya Raisa bisa liq?” Kata Luna pelan sambil menatap mata gue. Lalu dia tersenyum.

“Hah? Firasat?Ng…..Oke..” Gue kaget. Seketika gue langsung inget Melody. Gue pun langsung memetik gitar gue sambil memejamkan mata. Berusaha menikmati lagu.

“Kemarin….ku lihat awan membentuk wajahmu..Desau angin meniupkan namamu..Tubuhku terpaku…Semalam…”

Mata gue langsuNg terbuka. Gue merasakan suara Luna nggak asing di telinga gue. Gue kaget, jantung gue mulai berdetak nggak beraturan

“bulan sabit..melengkungkan senyummu..tabur bintang serupa kilau auramu..Akupun sadari, ku segera berlari..”

Tiba-tiba gue merinding. Gue memejamkan mata gue lagi. Berusaha memastikan apakah suara ini beneran sama dengan suara Melody.

“Cepat pulang..cepat kembali jangan pergi lagi..Firasat..ku ingin kau tuk cepat pulang cepat kembali jangan..pergi lagi…”

Kali ini gue yakin. Ini suara Melody. Gue nggak salah. Gue menatap wajah Luna yang sedang menghayati lagu. Senyum gue mengembang.

“Alirnya..bagai sungai yang mendamba samudera…ku tau pasti kemana ku kan bermuara..semoga ada waktu..sayangku…Ku percaya alam pun berbahasa…ada makna di balik semua pertanda..firasat ini..rsa rindukah ataukah tanda bahaya..aku tak peduli…ku terus berlari….. cepat pulang..cepat kembali jangan..pergi lagi…firasatku ingin kau tuk cepat pulang…cepat kembali jangan pergi…lagi… Aku pun sadari..kau takkan kembali…la…gi….”

*Riuh suara tepuk tangan penonton.

“Ninety Six Point One Prima Radio Your Teenage Station. Masih barengan sama Luna di Ruang Cinta, tanpa sekat silahkan curhat. Barusan kita dengerin lagu dari Afgan, Jodoh pasti bertemu. Nah buat muda-mudi yang masih jomblo nih, jangan khawatir..karena jodoh itu pasti ketemu kok. Hehehe. Nah buat lo yang mau curhat bisa langsung telfon ke 0838 121 99 961. Atau mention aja ke…”

“Driiiiingggg…..

“Oh…udah ada telfon masuk rupanya..” Luna langsung mengangkat telefon

Haloo selamat datang di ruang cinta, tanpa sekat silahkan curhat. Dengan siapa?”

“Halo…gue abdul..”

“Hai abdul…mau curhat apa nih malam ini..?”

“Hmmm…gini..gue mau curhat soal…seseorang yang udah membuat gue jatuh cinta karena suaranya..”

Luna hening sejenak.

“Hmmm menarik nih kayanya..terus terus?” Tanya Luna.

“Iya…gue yang sempet merasa kehilangan dia gitu selama 3 Minggu. Dan gue nggak tau mesti nyari dia ke mana. Tapi ternyata…orang yang selama ini gue cari..ada di deket gue….namanya…” Perlahan gue membuka pintu ruang siaran. Tangan kanan gue masih memegang handphone.

“Melody Alinka Puri…dan dia biasa dipanggil Luna…” Kata gue begitu membuka pintu ruang siaran. Mata gue dan Luna bertemu. Gue melihat Luna kaget yang melihat gue tiba-tiba masuk ke ruang siaran.

“Dan….sekarang…gue Cuma mau bilang ke dia. Kalo gue… sayang banget sama dia..”

Sekarang gue berdiri tepat di depan Melody. Gue melihat mata melody yang indah mulai berkaca-kaca. Nggak lama, air mata membasahi kedua bola matanya. Seketika Melody langsung bangkit dari bangkunya dan meraih tubuh gue. Dia memeluk gue erat. Gue pun perlahan membalas pelukannya.

“Gue juga sayang sama lu Liq..maaf kalo selama ini gue bersembunyi dibalik nama Luna…” Kata Luna sambil menangis di pelukan gue.

“Iya…gapapa kok lun..eh melody…hehe” Gue tersenyum sambil
meregangkan pelukan. Kali ini wajah kita begitu dekat.

“Maliq…..kok lu bisa tau sih…??” Tanya Melody sedikit cemberut.

“Kan ada mbah google…hahaha” Kata gue bercanda.

“Hahahaha dasar lu…” Melody memeluk gue lagi.

*Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Apabla ada kesanamaan nama mohon dimaaafkan. Kan sebentar lagi puasa. Jangan lupa beli marjan. Lah kok ngiklan.

*Merupakan cerita yang dibuat dari bahan yang sama oleh seorang teman beda platform. huhehehehe

Sekelibat Menghilang. Saatnya Pulang.

June 25th, 2013 by faisalabdmusin 1 comment »

Mungkin kebanyakan orang menganggap kalau Albert Einsten itu hebat karena menciptakan teori relativitas. Ada juga yang menganggap Leonardo Da Vinci itu hebat karena bisa membuat catatan 7000 halaman yang isinya berupa penemuan-penemuan hebatnya. Bahkan ada juga yang menganggap Harry Houdini itu hebat karena bisa melepaskan diri dari rantai yang udah digembok. Tapi menurut gue, orang hebat itu ya kaya Uya Kuya, dia bisa membuat orang lupa begitu aja sama apa yang udah terjadi Cuma dengan cara tepuk tangan. Ini kan ampuh banget buat jomblo-jomblo ngelupain mantan. Termasuk gue.

“Eh Mbing!! Lu kesurupan? Nuangin sambel ke bubur segitu banyak??!!” Seru Naya sambil memukul pundak gue.

“Hahaha…santai kali Nay… gue tuh kalo makan ya emang kudu pedes banget. Sampe bibir gue megap-megap. Nih… kaya gini..nyuuuu” Kata gue sambil memonyongkan bibir ke wajah Naya meniru gaya ikan cupang mabok.

“Hahaha bego lu ah!” Spontan tawa Naya lepas. “Ya tapi nggak sebanyak itu juga kali mbiiing… nanti lu bisa kena usus buntu lho….” Kata naya mengingatkan sambil menuangkan banyak kecap di buburnya.

Malam itu, gue baru aja pulang dari stasiun Gambir untuk menjemput Naya, sahabat gue dari kecil yang berencana menghabiskan liburan kuliahnya di Jakarta. Berhubung kita sama-sama belum makan malam,
gue pun mengajak Naya makan Bubur Ayam Cirebon di tempat langganan gue. Tempat yang dulu biasa gue datengin setiap pulang malam dari kampus sama Sally. Mantan gue.

“Ah..elu nay, omongan lu tuh sama persis kaya mantan gue! Udah apal banget deh gue kalo makan sama cewek pasti nasehatinnya kaya gitu. ‘Duh…kamu nuangin sambelnya banyak banget..nanti bisa kena usus buntu lho..’ kaya gitu terus. Kenapa nggak ‘Duh…kamu nuangin sambelnya banyak banget..nanti bisa ketiban rejeki lho..’ Kalo kaya gitu kan bisa gue aminin..” Kata gue sambil mengimpresionis gaya cewek.

“HAHAHAHA” Kanaya tertawa terbahak. Hampir saja bubur yang sedang dikunyahnya keluar dari mulutnya. Beruntung dia segera menutup mulut dengan tangannya. Gue ikut tertawa melihat Naya.
“hahaha kambing lu, sampe kesedak gue..”

“Nih minum dulu minum dulu…” Gue menuangkan air putih hangat ke dalam gelas dan memberikan ke Naya.

“Cieeeee…keingetan mantan….hehehe belum bisa move on??” Kata Naya sedikit meledek. Ada bekas air menempel di atas bibir tipisnya.

“Apasih ciaaaa cieee… kaya Abege aja lu. jelas-jelas gue udah Move On gini.” Kata gue sedikit sewot. Mulut gue asik mengunyah bubur.

“Iya…tapi masih JOMBLO!! Hahaha..” kata naya sambil mencubit pipi gue yang masih penuh dengan bubur.

“So What?? Kan gue masih punya lu….hehehe” kata gue sedikit meledek. Gue melihat Naya kaget sepersekian detik.

“Enak aja….gue udah taken kali…”

“Taken kontrak?”

“Hahahaha..”

Udara pinggiran Kota Jakarta yang dingin karena habis diguyur hujan malam itu perlahan menjadi hangat karena candaan kita berdua. Sesekali suara sumbang pengamen membuyarkan obrolan kita.

“Tapi ya nay, Gue nggak ngerti. kenapa ya di saat kita susah lupa sama mantan, tapi dianya yang gampang banget ngelupain kita gitu.. Kaya, dia tuh nggak pernah kenal sama kita gitu. Kampret banget nggak sih? Gue curiga dia minta bantuan Uya Kuya deh. Yakin gue.” Tanya gue ke Naya. Bubur di mangkok gue sudah tinggal setengah.

“Hahaha…ya mungkin… kenangan kalian terlalu pahit atau ada suatu hal yang membuat dia sakit kalo harus terus inget. Atau…. dia udah nemuin orang yang baru kali mbiing..” Jawab Naya santai. Bubur di mangkoknya masih terlihat penuh.

“Nah….Poin terakhir tuh nay… kayanya emang dia udah nemuin sosok yang lebih baik dari gue gitu. Mungkin cowok yang suka kecap. Nggak suka sambel kaya gue. Dia takut kalo ciuman sama gue bibirnya ikutan pedes. Hahaha. Tapi kayanya gue nggak pernah sampe buat dia sakit hati gitu deh.” Kata gue sambil mengaduk Teh manis hangat gue.

“Hahaha gila lu! Ya… tapi lu berpikir positif aja lagi mbiiing… mungkin dia yang masih inget lu gitu, Cuma dianya agak gengsi untuk menunjukan kalo dia masih inget sama lu…” Kata Naya santai.

“Oh gitu ya nay…ah tapi tetep aja dia nggak pernah tuh ngeBBM gue duluan lagi, seenggaknya nanya kabar kek. Ngucapin met pagi kek. Met bobo kek. Sekalinya BBM isinya Test Kontek doang. Kampret!” Kata gue sedikit sewot.

“Hahahaha….sabar ya mbiiiing.. lu kan masih punya gue..hehe” Kata Naya sambil mengacak-acak rambut gue.

“Dih..siapa elu..elu mah udah punya orang lain. Males gue. Gih balik lagi ke Semarang!” Kata gue sambil menggeserkan duduk gue sedikit jauh dari Naya.

“Dih… kok lu gitu…mbiiing…” respon Naya sambil berusaha ngelitikin perut gue. Ketika gue berusaha menghentikan Naya, nggak sengaja gue memegang tangannya. Gue bisa merasakan kulitnya yang lembut dan dingin. Meskipun Cuma sepersekian detik, degup jantung gue terasa lain.

“hahaha….Nay ah… mainnya kelitikan lu ah dari dulu..”

“Hahaha ya kan Cuma itu kelemahan lu mbiiingg…”

“Sial lu… Eh, diabisin dong buburnya.. sayang banget, enak gitu..” gue menunjuk mangkok naya yang masih ada sisa bubur setengah mangkok.

“Iya Sih…tapi gue udah kenyang mbing makan angin..hehehe..”

“Hmmmm…yaudah, nanti gue beliin tolak angin.”

“Oke Ganteng! hehe” Kata naya sambil mencubit pipi gue.

“Bang..jadi berapa ya semua? Buburnya 2, sate ususnya 3, Teh manis Angetnya 2.” Kata gue memanggil abang tukang bubur yang lagi duduk sambil main handphone di samping gerobaknya.

“Bubur 2, usus 3, teh manis 2…jadi Dua puluh satu ribu bang..”

“Oke…sebentar bang..” Gue mengmabil dompet dari kantong belakang.

“Pacar barunya nih bang?? Cakepan yang sekarang daripada yang dulu. Hehehe” Kata abang tukang bubur bercanda.

“Hahahaha… pengennya sih bang..tapi sayang udah ada yang punya…” Gue masih sibuk mengeluarkan uang dari dompet.

“Ohhh…haha sayang banget. Padahal keliatan cocok banget bang.” Kata tukang bubur.

“Mbiiiiiing…..apaan deh!” Naya mencubit paha gue keras.

“Awwww…sakit nay!! Gile cubitan lu… nih bang, kembaliannya ambil aja, bakal amal. Hehe” Kata gue sambil menyodorkan uang 25ribuan ke abangnya.
“Hehehe makasih banyak bang..”

“Sama-sama bang..makasih ya…”

“Makasih ya bang…” Susul Naya.

“Sama-sama neng..”

“Lu apa-apaan sih mbing ah ngomong gitu…” Kata naya sambil terus mencubit badan gue ketika kita meninggalkan tempat makan menuju mobil.

“Hehehe..bercanda sayang….” Kata gue sambil memencet hidung mungilnya. Naya tersenyum malu.

Jakarta malam itu diisi oleh obrolan 2 sahabat tentang masa lalu. Salah satu dari mereka sebenarnya menyimpan rindu. Di dalam situ, ada cinta yang bersembunyi karena malu.

Perjalanan Pulang gue dan Naya diiringi lagu dari Float yang judulnya ‘Pulang’.

DUNIA BATAS

June 21st, 2013 by faisalabdmusin 5 comments »

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Seringkali gue mengalami yang namanya fase takut jatuh cinta setelah putus. Biasanya, gue berubah menjadi idealis gitu. Nggak mau pacaran dulu sampai nanti gue bisa melamar pasangan gue. Cewek sekelas Dian Sastro pun kalo suka sama gue pas gue baru putus, bisa gue tolak. Setelah itu gue nyesel 7 turunan.

Tapi, semesta berkehendak lain. Idealisme gue dikalahin gitu aja sama cinta yang datang tiba-tiba. Gue selalu dipertemukan oleh seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruang hati gue yang lagi kosong. Beruntung bukan pikiran gue yang kosong, bisa-bisa gue kemasukan setan laut kaya di acara pemburu hantu. Gue males kalau harus buang-buang tenaga untuk teriak-teriak nggak jelas. Apalagi mesti kena semburan jigong dukun yang mengaku ustadz.

Gue pernah, setelah putus dari pacar gue yang udah berjalan 2 tahun lebih karena diselingkuhin, gue mengikrarkan diri untuk tidak berpacaran lagi. Tapi… gue malah suka sama junior gue di kampus. Nggak lama kita jadian, Nggak lama juga kita putus. Gitu-gitu terus siklusnya sampai sekarang.

Udah hampir 3 bulan handphone gue sepi sama ucapan ‘selamat pagiii’ dan ‘met bobo yah…have a nice dream’. Sekalinya ada itu juga Broadcast Message dari orang yang Hpnya dibajak. Miris. Gue pikir, kali ini idealisme gue bisa bertahan, ternyata nggak. Lagi-lagi gue dipertemukan oleh seseorang yang emang nggak pernah gue duga sebelumnya. Sahabat gue sendiri. Namanya Vela.

Waktu itu, gue ketemu sama Vela di Jakarta pas lagi acara tahunan organisasi yang kita geluti. Selama 4 hari gue memang sering barengan terus sama dia dan 2 teman gue yang lainnya. Sarapan bareng, renang di hotel bareng, begadang bareng sampai ke toi…..kalo itu sih nggak.

Awalnya sih biasa-biasa aja, sampai kita balik ke kota masing-masing juga masih biasa-biasa aja, paling ya masih kangen-kangenan bercandaan gitu. Dua minggu setelah acara itu, keadaan semua berubah ketika Vela menginvite akun Yahoo Messenger gue. Kita jadi sering curhat-curhat gitu dan suka membahas segala hal tentang rahasia dunia sampai menjelang subuh.

Setiap hari, pikiran gue jadi penuh bayang-bayang Vela. Gue yang jadi setia menunggu pesan dari dia. Panik ketika tiba-tiba aplikasi chatting gue error. Senyum-senyum sendiri ketika ada chat yang sedikit lucu. Nggak, setiap baca pesan dari dia, gue selalu senyum-senyum sendiri. Tanpa sadar gue udah masuk ke dalam dunianya.

Sampai akhirnya semesta mempertemukan kita lagi. Kali ini lewat hadiah lomba menulis. Kebetulan kita berhasil menjadi pemenang yang berangkat liburan ke Pulau Komodo Gratis selama 5 hari. Nggak usah ditanya perasaan gue kaya apa, yang jelas perasaan gue lebih senang daripada Arya Wiguna yang dapet jodoh setelah tenar di Youtube. Vela pun juga sama, dia yang sangat exited gitu pas baca pengumuman pemenang ada nama gue tertera di bawah nama dia. Kita sama-sama nggak sabar untuk ketemu.

17 November 2012. Bandara Soetta.

Pukul 10.25 WIB, gue masih menunggu kedatangan Vela dari Malang. Dari jam 10 gue sudah tiba di Bandara sambil melihat orang lalu lalang di depan terminal kedatangan. Nggak tahu kenapa begitu tiba di Bandara gue jadi deg-degan nggak karuan. Telapak tangan gue mulai mengeluarkan keringat. Cukup lama menunggu, gue pun mengambil botol minuman dari tas carill gue. Gue duduk di sebelah bapak-bapak yang sedang asik membaca koran dengan kemeja yang kancingnya dibuka 3. Bulu dadanya menjuntai indah, perut buncitnya sedikit terlihat. Sesekali gue melihat ke pintu gerbang kedatangan, tapi Vela belum juga datang.

Nggak lama, tiba-tiba ada yang menarik kuping gue dari belakang.

“Kambiiiiiing…..” Teriak Vela sambil menjewer kuping gue. Spontan gue langsung menengok ke arahnya. Degup jantung gue berubah. Makin cepat.

“Adaaaww…sakit kambiiing…lepasin nggak!!” Teriak gue sambil mengusap kuping gue. Kita emang saling manggil kambing gitu gara-gara Arya Wiguna.

“Uuwuwuwu sakit ya mbiiing??hahaha maaf-maaf..” Kata Vela sambil mengusap kuping gue. Gue tersenyum malu-malu.

“Kambing lu ah…ketemunya nggak keren banget sih. Harusnya tuh kita yang nggak sengaja tabrakan gitu, isi koper lu berceceran, terus gue yang beresin celana dalem lu, terus kita yang saling tatap-tatapan ala-ala FTV gitu mbiing…ini malah diJewer. Nggak seru ah..” Seru gue. Kali ini mata kita benar-benar bertemu. Tapi rasanya sangat beda dengan pertemuan sebelumnya.

“Hahahahaha…kampret lu ah, ya nggak celana dalem juga kali kambiiing…” Vela tertawa lepas. Kali ini gue benar-benar melihat tawa dia lagi. Bukan sekedar huruf di layar HandPhone.

“Hahahaha….Eh!” Tiba-tiba Vela memeluk gue.

“Gue kangen lu kambiiingg….” kata Vela pelan. Degup jantung gue seakan berhenti sesaat. Pelukannya beda. Gue bisa merasakan rindu di dalamnya. Belum sempat membalas pelukannya, dia melepas pelukannya.

“Hahahah…gue juga kambiiing…” kata gue sambil mengacak-acak rambutnya yang saat itu sedang digerai. Dia terlihat manis ketika membenarkan rambutnya ke belakang kuping.

“Masa siiiihhh??? Lu mah paling nggak kangen sama gue. Bercanda doang kan lu…ya kan mbiiing…?”

“Hahahah..apaan sih lu mbiiing…yuk ah.. langsung check bagasi..lu telat banget datengnya..” kata gue sambil merangkul pundaknya dan berjalan menuju gerbang keberangkatan.

“Ya…namanya juga Singa terbang mbiingg..belum afdol kalo nggak delay..haha”

“hahha…iya ya… Eh.. gaya lu udah asik pake kemeja flanel, celana jins sedengkul, sepatu converse, tapi kenapa koper lu hello kitty sih mbiing?” Tanya gue sambil terus berjalan.

“Ya biarin sihh… suka-suka gue.. nggak seneng lu..??berantem sama gue! Hahah” Kata dia sambil memamerkan tinjunya ke depan mata gue.

“Yaelah…. lu mah kalo gue tinggal sendirian di sini juga nangis..hahaha..”

“Sialan!! Tau aja..haha” dia tersenyum.

“haha…eh tadi dianter ke Bandara sama cowok lu?” tanya gue yang sebenernya sangat takut untuk bertanya ke dia. Gue takut cemburu ketika dia bilang iya.

“Iya!” Jawab dia singkat.

“Oh..”

Selama menunggu pesawat Boarding, kita nggak berhenti mengobrol sambil menunggu 2 orang pemenang lain. Selama gue ngobrol sama Vela, dia sama sekali nggak pernah membahas soal cowoknya, hati gue pun menolak untuk bertanya soal cowoknya. Gue membiarkan kita apa adanya.

Nggak lama Surya dan Fani muncul berbarengan. Kita berempat langsung membaur satu sama lain. Berkenalan, sharing berbagai info layaknya sahabat sudah lama kenal.

***
Ketika pesawat sudah mau mendarat di Bandar Udara Labuan Bajo, Vela yang langsung takjub gitu melihat dari balik jendela pesawat.
“Mbing lihat deh…keren bangetttt…Subhanallah..biru banget lautnya…” Vela terlihat bahagia.

“Mana..mana? “ Gue langsung menggeser tubuh gue ke dekat jendela. Wajah gue dan Vela jadi begitu dekat. Gue bisa merasakan hembusan nafasnya. Tiba-tiba mata kita nggak sengaja bertemu. Kita tersenyum malu-malu.

Setibanya di Pulau Komodo, kita langsung ditemenin sama Mas Chandra. Guide perjalanan kita berempat selama di pulau Komodo. Mas Chandra sebenarnya asli orang Jakarta yang menetap di Pulau Komodo karena jatuh cinta sama pulaunya. Jadi, gue bisa ambil kesimpulan ketika seseorang sudah jatuh cinta, mereka akan sulit untuk kembali.

Selama 4 hari itu liburan kita super duper menyenangkan. Karena kita berempat tinggal di Kapal bareng crew-crew kapal yang seru banget gitu. Ada yang jago masak, ada juga yang jago ngelawak. Kapten kapalnya juga asik banget. Hebatnya, dia bisa menyelam tanpa tabung oksigen lebih dari 5 Menit. Mungkin dia ada keturunan manusia ikan. Namanya Mas Manto.

Hari pertama kita pergi ke Pulau Kalong. Melihat kalong terbang dari pulau tersebut untuk mencari makan. Gue berasa kaya di film Batman. Cuma bedanya ini di pulau, bukan di Gua. Hari kedua kita pergi ke Kampung Rinca dan ke Loh Buaya untuk melihat Komodo. Itu pertama kalinya gue melihat komodo di kepulauan Komodo. Lalu, Sorenya ditutup dengan snorkeling di Pulau kambing yang airnya jernih banget.

Hari ketiga dan keempat kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk snorkeling. Menurut gue sih, snorkeling yang paling Epic Cuma di Pink Beach. Karena memang pantainya beneran berwarna Pink. Satu hal yang paling membuat gue takjub waktu snorkeling adalah, gue bisa berenang di atas apari Manta yang besarnya kurang lebih hampir 4 Meter. Gue kaya ngeliat monster.

Selama itu juga gue menunggu kapan bisa ada waktu berdua sama Vela. Secara selama 4 hari kita berempat selalu berbagi keceriaan bareng. Tapi entah kenapa gue pingin banget berbagi keceriaan berdua saja bareng Vela. Membicarakan dunia yang udah kita bangun. Dunia batas.

Akhirnya, doa gue terkabul di malam terakhir sebelum kembali ke Jakarta. Gue yang sedang asik tiduran di bagian atas kapal sambil menghitung bintang jatuh, mendengar suara langkah yang berjalan ke arah gue.

“Eh elu Mbing…kok lu nggak tidur??nggak cape emang?” Tanya gue yang sedikit kaget.

“Udah,,,tapi nggak tau kenapa gue kebangun..” Jawab Vela sambil menggaruk kepalanya. Kemudian dia duduk di sebelah gue.

“Oh.. yaudah sini temenin gue. Lagi ngitung bintang jatoh nih. Hehehe”

“Iya kambing…gue temenin..” Vela mencubit idung gue. Gue tersenyum.

“Eh mbiiing..” panggil gue.

“Apa..?” sahut Vela sambil merilekskan tubuhnya.

“Lu liat deh, di atas sana Tuhan pasti masih banyak nyimpen rahasia yang belum kita tahu ya. Dan mungkin, nggak akan pernah kita tahu sampai kita mati. Iya nggak sih?”

“Iyalah mbing…Tuhan menyimpan banyak rahasia dan ngebiarin manusia tahu rahasianya. Bahkan setan aja nggak boleh tahu.” Dia melihat gue sambil tersenyum.

“Iya.. Einstein yang memecahkan teori relativitas yang bisa memberikan pengaruh besar terhadap dunia aja itu baru sebagian kecil ya mbing.” Pandangan gue masih tertuju pada langit.

“Iya..bener banget mbiiing…Eh..eh bintang jatoh…aaaaakkk…indah banget..!!” Teriak Vela kegirangan sambil menunjuk ke arah bintang yang jatuh.

“hahah norak lu…gue udah 11 kali ngeliat bintang jatoh..sama ini jadi udah 12 kali..hahha”

“Seriusss!!? Ah elu kenapa nggak bangunin gue sih mbiinggg??jahat..”

“Ya abis gue nggak enak..lu kayanya cape banget sama anak-anak yang lain juga. Hehe”

“Nggak kali mbiiing…” Vela merebahkan tubuhnya di sebelah gue. Degup gue mulai lain.

“Eh tapi ya mbiing… sampe sekarang gue masih bingung kenapa Bintang dinamain bintang??kan belum tentu namanya bintang?? Sama aja kaya binatang. Kambing, apabener nama aslinya kambing..siapa tahu Tuhan nyiptain dengan nama yang lebih keren. Ya nggak??” Tanya gue berusaha santai.

“Hhhhmmm menurut gue ya mbing, Manusia itu egois dengan pemberian nama dan pemberian makna. Manusia juga egois dalam kata-kata. Misalnya aja itu rindu. Rasa yang sebegitu kaya-nya diberi nama dengan lima huruf aja. Yaaaa apalah artinya nama sih” Jelas Vela.

“Eh iya juga sih..” kata gue mengiyakan.

“Tapi manusia juga memonopoli makna. Apalagi yang berkuasa. Rindu dimaknai rasa yang indah, ditaroh kamus, trus kita ‘dipaksa’ setuju dengan makna yang mereka buat. Padahal mungkin aja kan buat kita makna rindu itu berbeda. Rindu buat kita bisa saja lebih indah” Lanjut Vela.

“ bisa juga malah menyakitkan…kalo rindunya ke orang yang salah” Gue menambahkan.

“Hahaha dasar kambiing…Kalo kata Jose Ferrater Mora, manusia itu bisa tersesat, kalah, menang, selamat, dalam dan dengan kata-kata. Tapi pada akhirnya gue sadar kalo sebenernya tujuan semua itu adalah menyamakan persepsi. Biar manusia bisa saling memahami. Karena ‘mengerti’ & ‘memahami’ adalah gak mungkin tanpa kata-kata. Tanpa bahasa. Yaaa meski tanpa gue bilangpun lu pasti tau kalo gue sayang sama lu…” Jelas Vela. Dia masih asik menatap langit. Sementara gue asik menikmati wajahnya ketika dia berbicara.

“Mbiiing…jawaban lu keren asli… lu kesurupan setan lumba-lumba ya??’ Kata gue bercanda.

“Hahaha kambing lu…”

“Eh mbiiing, lu bilang kita bisa tau kita sayang sama seseorang tanpa perlu bilang. Tapi..bukannya itu harus diungkapin yah..ya…biar ada kepastian aja gitu..” Kata gue.

“Nggak mbiing…cukup kita rasakan aja itu bisa membuat kita yakin”

“hhhmm…mungkin kaya apa yang gue rasain sekarang ke elu ya mbiing. Gue kaya ada di dunia batas gitu. Di mana gue Cuma bisa merasakan dan mendengarkan lu tanpa bisa memiliki lu..”

“Maksudnya mbiing?” Tanya dia sambil menatap gue. Dia tersenyum. Gue salah tingkah.

“Ya….maksud gue…ummm… kaya kita ngobrol hampir setiap hari..kan bisa aja tuh sampe kebawa perasaan, terus gue yang jadi suka sama lu. Tapi gue tau..gue nggak akan bisa milikin lu..akhirnya… gue Cuma bisa sedih atau bahagia melihat lu sama orang lain.” Gue sedikit panik. Tapi Vela nggak berhenti menatap gue sambil senyum. Jantung gue berasa mau copot. Kalo aja gue bisa berenag, mungkin gue udah lompat dari kapal.

“Ohhh..gitu…” Tiba-tiba vela meraih tangan gue. “Mbing…Kita nggak akan pernah tau kedepannya lagi. Yang jelas, apa yang gue rasain saat ini sama lu, gue merasa nyaman dan seneng banget. Gue bisa lupa waktu ngobrol sama lu…setiap saat bisa sentum baca isi chat lu..itu udah cukup buat gue mbiing..dan gue nggak mau kehilangan lu..” Kata vela pelan. Diakhiri dengan senyuman. Tubuh gue kaku perlahan. Gue Cuma bisa tersenyum melihat wajahnya.

Udara malam yang dingin tiba-tiba menjadi hangat ketika jemari Vela mengisi sela-sela jemari gue. Gue bisa merasakan perasaannya. Sama seperti yang gue rasain. Malam itu, kita habiskan dengan telentang sambil menatap bintang.

“Mbing…bintang jatuh lagiii…hahahha” teriak vela.

“Wooooww.. Udah berapa tadi?? Lupa kan gue..elu sih…”

“Nggak tau…hahahaha bweee…”

“Kambing lu…hahaha”

PS : “Tulisan ini hanya fiksi belaka yang mana si penulis terinspirasi dari albumnya Payung Teduh yang ‘Dunia Batas’ dan juga Kamu.”

Kebetulan

May 25th, 2013 by faisalabdmusin 7 comments »

Dari dulu, gue belum paham sama yang namanya istilah kebetulan. Misalnya secara kebetulan gue satu angkot sama Dian Sastro. Kebetulan dia duduk di sebelah gue, dan kebetulan aja di depan angkot ada motor yang menyalip mendadak dari kiri, terus abang angkotnya kaget dan langsung ngerem mendadak. Terus Dian Sastro langsung mepet ke gue sambil nggak sengaja meluk gue gitu. Terus dia senyumin gue sambil merapihkan rambutnya ke samping kuping. Apakah itu sebuah kebetulan? Gue rasa nggak.

Menurut gue, kebetulan itu terjadi karena ada sebab dan memang udah ditakdirkan sama Tuhan. Mana mungkin tiba-tiba seorang Dian Sastro naik angkot. Bisa rusak nanti rambutnya gara-gara kena asep rokok mas-mas. Semua pasti ada sebabnya. Mungkin aja Dian Sastro naik angkot gara-gara cekcok sama suaminya di dalem mobil gara-gara suaminya nggak dikasih jatah semalam. Dian Sastro diturunin di pinggir jalan, terus disuruh naik angkot sama suaminya. Akhirya ketemu deh sama gue.

Sama kaya waktu gue lagi menginap di Hotel bareng teman-teman di daerah Jakarta. Secara kebetulan terjadi kontak mata antara gue dan seorang cewek cantik dengan rambutnya yang terurai, berusaha menahan pintu lift yang mau tertutup.

“Eh…Tunggu…!!” Teriak si Cewek sambil setengah berlari.

“Oh. Sorry..” Kata gue sambil melemparkan senyum. Dia juga bales senyuman gue.

“Lantai berapa ?” Tanya gue

“3 Mas..” Gue dikira mas-mas.

“Oke!” Gue memencet tombol angka 1 dan 3.

Sial, gue dikira mas-mas. Emang iya sih, secara gue belom mandi. Baru gosok gigi doang. Itu juga nggak pake odol. Beda sama dia yang udah wangi dan mukanya kelihatan bercahaya gara-gara abis mandi. Dia terlihat begitu cantik meskipun Cuma memakai kaos polos berwarna biru dongker dan celana pendek selutut berwarna coklat muda.

Sementara gue asik menghirup wangi parfumnya diam-diam, dia sibuk menguncir rambutnya ke belakang. Sesekali gue melirik ke arahnya untuk memastikan bulu keteknya nggak nongol pas lagi kunciran. Ternyata Halus. Begitu dia sadar gue melirik kea rah dia, gue pura-pura liat jam. Padahal di lengan gue cuma memakai gelang. Canggung.

“Mau ke lobby mas?” Tanya dia yang masih sibuk menguncir rambutnya.

“Iya nih..mau sarapan..” Jawab gue sambil melempar senyum.

“Oh..” dia tersenyum. Manis.

“Mau ke lantai 3?” Gue balik Tanya.

“Iya..tadi kan mas yang mencet. Haha gimana sih..” Jawab dia. Muka gue berubah merah.

*DING!* Lift sudah sampai di lantai 3.

“Saya duluan ya mas” Kata dia sambil melemparkan senyum.

“Oh iya..mari..” Gue tersenyum. Dilihat dari belakang aja udah cantik banget.

*DING* nggak lama lift tiba di Lobby. Di meja makan udah ada Nuary, Fina dan Wiwin lagi asik dengan menu sarapannya masing-masing.

“Lama banget sih dul….gue mah udah ronde kedua nih sarapannya” Kata Wiwin yang sedang asik mengunyah sarapannya.

“Sori..ngantuk banget gue, semalem abis nonton Fashion Tv. Lagi peragaan bikini soalnya. Emang lu sarapan apa sih?” kata gue sambil garuk-garuk kepala.

“Yogurt dong…” kata Wiwin santai.

“Yeeee… mules-mules lu ntar. Eh win, Thanks ya, gara-gara lu bangunin guenya pas, jadi aja gue ketemu cewek cantik di lift. Gila..tipe gue banget gitu. Hahaha”

“Ah elu mah dul…Kambing dibedakin juga lu sebut tipe lu..” Ceplos Nuary sambil ngunyah nasi gorengnya. Sesekali dia membetulkan kacamatanya yg turun.

“Kampret luh!, Eh..bentar ya gue ambil sarapan dulu”

“Sarapan ala bule lagi? haha” Kata Fina yang asik dengan menu serealnya.

“Offcourse…haha” kata gue sumringah.

Selama menginap di hotel, menu makanan gue berubah. Dari menu anak kos-kosan, jadi menu ke barat-baratan. Sosis, Smoked Beef, Lasagna (re: lasanya), Kentang, sama minumnya oren jus. Karena menurut gue, makan nasi di hotel bintang 4 itu terlalu mainstream banget. Hmmm…meskipun gue jadi sering bulak balik ke toilet.

“Eh..gue mau tanya sama lu pada nih ya, menurut l… kebetulan itu apa sih?” Tanya gue sambil menaruh sarapan gue di atas meja. Gue duduk berhadepan dengan Wiwin.

“Kebetulan itu ya…bukan kesalahan..” Nuary spontan jawab.

“Kambing lu!! Serius nih…” kata gue sedikit sewot.

“Ya…kalo menurut gue sih kebetulan itu ketika takdir bertemu kesempatan yang sebetulnya adalah keinginan terpendam yang sudah dibisikan dalam do’a..gitu..” Kata wiwin dengan penuh semangat.

“Hmmmm…Bisa diulang nggak?” kata gue nggak ngerti apa yang dia omongin.

“Yeeee kambing!!” Dia sewot. Gue dilempar Yogurt.

“Hahahah abis..gue kaga ngerti omongan lu…” kata gue.

“Hahaha iya win..kemasukan apa sih lu bisa ngomong begitu?” Tambah Nuary.

“Nggak kemasukan apa-apa ih kalian….gitu” kata wiwin yang sedikit sebel.

“Kalo lu Fin?” Tanya gue ke Fina sambil mengunyah sosis sapi di garpu gue.

Fina mengelap bibirnya dengan tisu. “Well… menurut gue sih sebenernya nggak ada yang namanya kebetulan. Tapi emang cara alam berbicara, cara takdir bertindak, tanpa kita sadari, yang kemudian kita ketahui maksudnya setelah ‘kebetulan’ tadi selesai dengan segala ‘hasilnya’ “ Jelas Fina. Gue, Nuary, dan Wiwin hening selama dua detik.

“Gila! Gue jatoh cinta sama lo fin! Jawaban lo…itu lho….makin nggak ngerti gue!!” Kata gue emang beneran nggak ngerti apa kata Fina. Mungkin sebenernya simpel. Cuma otak guenya aja yang masih pentium 1.

“Beduuuulll… Kambiiiiingggg!!” Fina kesel. Gue dilempar garpu,pisau,cangkir, tusuk gigi dan segala macam benda yang ada diatas meja.

“Hahahah…. tapi ya..menurut gue tuh, kebetulan itu pasti ada sebabnya lagi. Kaya misalnya tadi, gue ketemu cewek cantik di lift. Kalo bukan karena wiwin nelfon gue jam 6 lewat 45 menit, terus gue yang males-malesan dulu di kasur, cuci muka, gosok gigi, gue nggak bakal ketemu si cewek itu men. Ya kan?” Jelas gue santai sambil sesekali meminum oren jus.

“Ya…hampir mirip lah sama yang gue bilang tadi. Tuhan tuh udah nentuin takdir tiap detik apa yang kita lakuin. Termasuk gue ngomong kaya gini tanpa keselek makanan. Itu udah takdir gue. Atau, kita berempat duduk di meja ini. Takdir juga.” Tambah Fina.

“Mungkin lu Cuma kebetulan aja nggak keselek…hahhaa.. eh tapi beneran yah,,, misalnya gue ngomong ‘takdir’ berarti itu emang udah takdir gue ngomong ‘takdir’ ? hahha” Kata gue melanjutkan, sambil melihat raut muka kesel anak-anak yang bersiap-siap melemparkan sesuatu ke gue.

“Iya…mau-mau lu deh dul…Eh tapi, emang cewek yang lu maksud nginep di hotel juga?” Wiwin memotong obrolan.

“Kayanya sih Iya…saoalnya dia tadi turun di lantai 3 gitu sih. Pokoknya dia tipe gue banget lah. Dari cara dia berpakain kayanya dia suka petualangan gitu…ya minimal dia suka sama petualangan Sherina lah..” Kata gue sambil memotong smoked beef.

“Hahaha kampret lu! Jadi penasaran gue kaya gimana sih orangnya?” Kata Nuary.

“Nih ya Nu..lu kalo ngeliat tuh cewek, pasti langsung mau ke kamar mandi.” Kata gue masang muka serius.

“ngapain?”

“Maen PS!”

“Hahaha…”

‘Eh tapi kalo lu Nu? Tipe cewek idaman lu tuh kaya gimana?” Tanya Fina.

“Tipe cewek idaman gue? Simpel sih..Dewasa, Keibuan, dan yang penting jago masak. Kaya…” Jawab Nuary.

“Bu Sisca Soewitomo?hahaha” Potong gue.

“Hahahah bukanlah kambing..udah jempol semua tuh jarinya..kuning semua lagi bekas marut kunyit. Haha. Lu lagi Sisca Suwitomo, Farh Quinn kek kampret.” tambah Nuary.

“HAHAHAHA” Satu meja tertawa.

*Bunyi panggilan masuk dari hape Fina. Lagu Cari Jodohnya Wali*

“Eh bentar…Iya halo…ooh yaudah, kamu ke lobby aja ya, kita sarapan bareng.hehe” kata Fina ngomong di telfon.

“Hahaha keren kali Nu Bu Sisca..masak apa aja serba bisa, bubur yang lu makan aja bisa di daur ulang jadi nasi goreng. Hahaha” kata gue melanjutkan obrolan.

“Hahaha Aneh lu ah…” Nuary sewot.

“Tau nih si Bedul..” tambah Wiwin.

Tiba-tiba Fina melambaikan tangannya ke arah luar restoran.

“Hey Shen…!! Sini Gabung..” Teriak Fina. Gue masih sibuk ngunyah kentang.

“Hey Fin…apa kabar..?? tambah item aja kamu..hehehe” kata seorang cewek yang menghampiri Fina.

“Siaaal ih kamu…makin cantik aja..hehe”

Gue menengok ke arah Fina, dan seketika gue langsung keselek sosis. Gue kaget banget, ternyata cewek yang gue temuin di lift tadi temennya Fina. Mungkin kalo sosis dipiring gue punya jantung, dia bakal lompat karena kaget. Tiba-tiba gue deg-degan.

“Lho…Mas bukannya yang tadi di Lift itu ya?? Temen kamu fin?” Kata cewek lift itu sambil menatap ke arah gue yang udah terlanjur salah tingkah.

“Oh…..jadi cewek yang lu maksud tadi sepupu gue ini dul…Ohhhh…hahaha” Potong Fina.

“Pfffttttt” Wiwin dan Nuary nggak menahan tawa.

“ Jadi kalian sodaraan?bukan temenan?” Tanya gue yang masih kaget.

“Iya dul…cieeeehh…tadi di lift nggak sempet kenalan emang?hahha” kata Fina meledek. Sementara gue masih salah tingkah, sambil sesekali mentap wajah cewek itu. Tambah cantik kalo lagi ketawa.

Peredaran darah di hati gue entah kenapa tiba-tiba jadi lancar setelah sekiaan lama beku.

“HAHAHA” Mereka puas tertawa.

“Kambing lu….hehehe” gue masih menunduk malu.

“Shenia…” Tiba-tiba dia menyodorkankan tangannya ke arah gue. Gue kaget, sekaligus seneng. Dunia gue seakan berhenti dua detik.

“Eh iya…Shenia? Kaya nama mobil… heheh” kata gue bercanda.

“Hahaha sial…” dia tertawa sambil sambil tangan yang kiri menutup mulutnya. Kulit putihnya berubah merah.

“Bedul. Eh tapi jangan panggil mas plis. hehe“ kata gue sedikit grogi.

“Bedul?ppffft…..haha nama kamu kaya binatang” dia bercanda.

“Ah..bisa aja nih Nia…hahha”

“Cieeeeeee…..hahahhaha” Satu meja tertawa.

Sejak kejadian itu, akhirnya sekarang gue bener-bener paham arti kebetulan itu apa. Jadi, menurut gue Kebetulan itu adalah sesuatu yang udah dituliskan oleh Tuhan, baik itu pahit atau manis tanpa ada seorang yang tahu sebab dan kapan datangnya. Beda tipis sama cinta. :)

Kaca dan Cahaya

May 4th, 2013 by faisalabdmusin 13 comments »

Setiap Orang punya cara tersendiri buat Move On dari mantan pacar. Ada yang langsung menghapus semua kontak si Dia, atau memutuskan hubungan pertemanan di jejaring sosial. Kaya Twitter, Facebook, bahkan Friendster. Tapi semua itu percuma kalo lo masih inget semua password akun jejaring sosial si Dia.
twitter-y-u-unfollow-me

Ada juga yang mencoba membakar foto penuh kenangan berdua. mulai foto-foto awal di photo box dengan gaya jari telunjuk di ujung bibir, sampe foto-foto ala pre-wed tidur-tiduran di rumput buat contoh katalog usaha temen. Tapi semua itu percuma kalo lo masih nyimpen 10 GB soft copy foto-foto lo di Hard Disk.
unduhan

Bahkan ada juga yang mencoba menyimpan barang-barang pemberian atau peningglan sejarah waktu jadian ke dalam kotak. Mulai dari kotak musik doraemon, bon-bon waktu makan di restoran, sampai tiket bioskop waktu nonton Petualangan Sherina. Tapi semua itu percuma kalo lo menaruh kotaknya di atas lemari dan lo beri nama “Kotak Kenangan”.
unduhan (1)

Kalo gue sih, nggak perlu melakukan semua itu. Cukup dengan duduk sendirian di Café, dan menunggu apa yang bakal terjadi. hehehe

images

“Bukunya bagus!” Tiba-tiba seorang cewek berkulit putih dengan rambut yang dikuncir kuda menghampiri meja tempat gue duduk.

“Eh iya…” Respon gue sedikit kaget. Dia terlihat anggun dengan kemeja putihnya yang masih rapih.

“101 Cara merenovasi rumah. Hmmmm..lo desainer interior?” Tanya dia sambil langsung duduk di depan gue.

“Oh…bukan..Cuma iseng baca aja..abis… cari buku 101 Cara merenovasi hati nggak ada. Haha”

“Haha…udah gue duga, lo ke sini setiap hari jam 8 malem sampe café tutup. Pesen 1 Hot Chocolate, 1 Iced Thai Tea. Request ke pemain band lagu L.O.V.E. dan..baca buku itu. Apa lagi kalo bukan namanya baru aja kehilangan seseorang.” Kata dia tanpa jeda sambil memainkan jari-jari lentiknya di atas meja.

Gue hening sejenak…

“Hahahaha.. Sok Tau ah..” Seketika tawa gue meledak.

“Dan buku itu..kado pemberian dia kan?”

“Hahaha..Dari mana lo tau?”

“Udah 2 Minggu gue perhatiin, lo baca buku yang sama, dan cuma halaman terakhir aja yg lo baca. Mungkin aja..di situ ada pesan dari dia.”

Gue terdiam sejenak, sambil menyuruput Hot Chocolate gue.

“Yap!. Tebakan lo bener semua. 3 Minggu yang lalu dia meninggal karena kanker otak. Buku ini, kado dari dia pas gue ultah. Dia pengen banget bisa bangun rumah yang nyaman buat kita nanti. Café ini, tempat pertama kali kita ketemu dan jadian 5 Tahun lalu. Setiap ke sini, dia selalu pesen Iced Thai Tea dan Request lagu L.O.V.E. Dan kita belum mau pulang kalo café ini belum mau tutup. Tapi sekarang….” Kata gue sambil menatap ke luar kaca café.

“Udah..ga usah diterusin, gue paham kok. Hehehe”

“Hehe..Thanks..”

“Nih, gue punya sesuatu buat lo..” Dia menyodorkan kaca berukuran kartu pos ke tangan gue.

“Hah?? Kaca?”

“Coba liat mata lo…udah kaya Kungfu Panda gitu..haha” kata dia bercanda.

“Haha..sial lo, iya nih, belakangan susah tidur.”

“Coba lo liat ke belakang juga, udah berapa banyak orang yang nungguin lo untuk bergerak . Masa lalu tuh nggak akan bisa ilang selama lo masih terus diam di tempat. Coba lihat diri lo? Udah banyak kehilangan berbagai hal karena lo diam di tempat. Kegantengan lo juga mulai ilang tuh kayanya..haha”

“Haha..bisa aja lo…Eh.. by the way…Bedul..belom kenalan kita hehe” Gue mengulurkan tangan.

“Cahaya…”

“Nama lo keren..”

“Nama lo nggak banget…Babi kan artinya?”

“Hahaha. Kok tau lo?”

“Yaudah..gue mau beres-beres café dulu ya…” Dia mulai beranjak dari sofa.

“Oke..Thanks Ya…”

“Oke…eh! Gue juga suka banget Iced Thai Tea..!” Dia Tersenyum.Lalu pergi.

Otot-otot pipi gue secara spontan membentuk senyuman. Gue pun beranjak meninggalkan kafe. Gue meninggalkan senyum, serta masa lalu gue di meja Itu.

Di Balik Perempuan Hebat (Fiksi)

April 21st, 2013 by faisalabdmusin 7 comments »

Sewaktu gue SMP, setiap mau berangkat ke sekolah, gue selalu melihat seorang Ibu yang sedang menyisirkan rambut anaknya. Mengoleskannya bedak di kening, pipi, dagu secara merata. Nggak kaya gue dulu waktu masih kelas 1 SD, nyokap gue mengoleskan bedak secara asal-asalan ke muka gue. Alhasil niat dibedakin biar ganteng kaya Umay, malah jadinya kaya Daus mini.

Kebetulan, rumah gue dan rumah Ibu Susi berhadapan. Gue selalu memperhatikan kebiasaan Bu Susi, begitu Selesai mengoleskan bedak ke anaknya, beliau memasukkan kotak bekal ke dalam tas Inge, anak perempuan Bu Susi satu-satunya. Mereka hanya tinggal berdua di Rumah yang sederhana. Ayahnya Inge belum lama meninggal. Dulu gue sering banget diajak lari pagi sama Ayahnya ke Alun-alun. Semenjak Ayahnya meninggal, perut gue kembali buncit karena jarang jogging lagi.

Sambil mengeluarkan sepeda kumbangnya, Bu Susi selalu menyapa gue hangat. Senyumnya begitu manis. Bu Susi selalu terlihat Rapih dengan pakaian dinas hariannya.

“Berangkat Sal…? Ibu duluan ya..” Sapa dia sambil tersenyum.

“Iya Bu…hati-hati..hari ini ngajar di kelas saya kan Bu?” Sahut gue sambil sibuk mengunci pagar rumah.

“Iya…PRnya jangan lupa..Ibu mau nganterin Inge ke Sekolah dulu nih, Ayo naik nak”

“Sini..biar Aa bantuin…Waaaah Inge udah berat nih sekarang” kata gue sambil membantu Inge naik di Boncengan di Belakang sepeda. Inge tersenyum malu.

“Hahaha makasih ya..yaudah Ibu berangkat dulu..sampai ketemu di Sekolah..Assalamualaikum..” Kata Bu Susi sambil mengayuh sepeda kumbangnya pelan.

“Walaikumsalam..Hati-hati Bu….Inge… pegangan sama Ibu” Kat ague sembari tersenyum.

“Iya A…daaahh” Teriak Inge sambil tersenyum.

Dari belakang, gue melihat seragam Inge yang selalu rapih dan bersih tanpa Noda. Kaos kaki putih panjang yang selalu diganti setiap hari. Sepatu hitam mengkilat. Tapi semua itu berubah menjadi kacau balau ketika Inge pulang sekolah. Inge yang hiperaktif di sekolah selalu mendapat teguran dari Ibunya karena seragamnya kotor oleh tanah. Kata Bu Susi, Inge lebih suka main sama anak laki-laki daripada anak perempuan. Makanya setiap pulang sekolah seragamnya selalu kotor. Akan tetapi, disitu gue melihat kesabaran Ibu Susi dalam mengurus peri tomboy kesayangannya. Inge adalah harta paling berharga miliknya.

Gue pun selalu melihat semangat Bu Susi yang nggak pernah habis ketika lagi mengajar Geografi di kelas gue. Di kelas dia tidak mengistimewakan gue karena kita bertetangga. Beliau menganggap semua murid sama. Hampir setiap pertemuan gue mendapat teguran gara-gara nilai Geografi gue jelek. Iya, dulu gue jarang banget isi LKS. Bahkan gue pernah dihukum push up di depan kelas gara-gara gambar Istrinya Goku telanjang di lembar LKS.

Di hari pertama gue masuk kuliah Desain, hari itu juga Bu Susi dan Inge Pindah ke Bandung. Inge sekarang sudah duduk di kelas 2 SMP. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik persis seperti Ibunya. Tapi masih saja terlihat tomboy. Sementara Bu Susi, masih terlihat cantik meskipun usianya tak lagi muda.

“Sal…Ibu pamit dulu ya…salam buat Ibu dan Ayah kamu nanti kalo udah pulang Umroh” sahut Bu Susi sambil meghampiri ke teras rumah gue

“Iya Bu…Siap..Duh..kenapa Pindah sih Bu,, ntar Inge Siapa yang jagain?hehe” kata gue sambil salim ke Bu Susi.

“Hahaha nggak perlu repot-repot A…Kalo ada yang macem-macem sama Inge, ntar Inge cekek orangnya..” Teriak Inge yang sedang memakai sepatu di teras rumahnya.

“Aih..kamu teh sadis pisan jadi cewek, yang lembut atuh…”

“Biarin sih Bu..abis cowok sekarang udah pada kurang ajar..”

“Iya..hati-hati Bu..cowok jaman sekarang badung-badung. Kemaren aja ada anak SMA merkosa bocah SD gara-gara sering nonton film hentai” kata gue santai.

“Apaan itu Hentai Sal..?Ibu mah nggak ngerti…” kata Bu Susi bingung dan menengok ke arah Inge.

“Itu Lho Bu…Kartun dari Jepang, tapi porno…” Teriak Inge.

“Oh….kaya yang sering kamu gambar di LKS itu Sal??” Seketika Bu Susi melotot.

“Hahahaha…Si Ibu..jangan dibuka gitu dong Bu Aib saya..malu ada Inge..” Gue salah tingkah.

“Oh….hahaha jadi dulu Aa suka gambar porno? Iya Bu?hahha” Kata Inge sambil berjalan ke dalam teras rumah gue.

“Iya tuh, di LKS lagi…” Bu Susi sedikit sewot.

“Hahahah tapi sekarang udah Tobat dong Bu, sekarang mah saya gambarnya masjid di LKS. Hahaha”

“hahahaha” Kita semua tertawa.

“Eh jadi lupa, ini…Ibu teh pindah Karena alhamdulilah… Ibu udah keterima jadi Dosen di UPI Bandung..”. Kata dia sambil menepuk pundak gue.

“Oh…Wah hebat si Ibu…terus tinggal di mana nanti?” Tanya gue kagum, sambil sesekali melirik Inge yang sedang main HandPhone. Mungkin lagi Update Status di Twitter.

“Sementara sih nanti tinggal di Rumah neneknya Inge..nanti main yah ke Bandung kalo libur kuliah, deket ini dari Jakarta. “ Jawab Bu Susi santai.

“Siap Bu…heheh”

“Yaudah Ibu pamit ya..Kuliah yang bener, jangan buat kecewa Orang tua kamu, buat sesuatu untuk bangsa. Ya..”

“SIAP! LAKSANAKAN” Kata gue sambil hormat. Lalu salim lagi.

“Hahahha” Semua tertawa. Mata gue mulai berkaca-kaca.

Gue melihat mobil mereka perlahan mulai melaju meninggalkan komplek. Sesaat gue terpaku mengingat hal serupa 6 Tahun yang lalu. Inge kecil dengan seragam bersih dan rapih, diantar ke sekolah dengan sepeda kumbang sambil memeluk erat Bu susi dari belakang. Nggak lama dia menengok lalu melambaikan tangannya ke arah gue sambil tersenyum.

“Daaaahhh A Isal… sampe ketemu lagi….” Teriak Inge yang mengeluarkan setengah badannya dari jendela mobil sambil melambaikan tangan ke arah gue.

“Daaaahh Inge….hati-hati ya….” Gue langsung membalas lamabaian tangannya. Saat itu air mata gue akhinya keluar. Haru.

Selamat hari Kartini wahai wanita-wanita hebat di Seluruh Indonesia. Cc: @Ingeputri

“Lagi ngapain sih pah…? Main Hape terus…”

“Eh…nggak..Ini mah..aku lagi ngetwit selamat hari kartini..aku mention dan cc-in ke kamu, karena menurutku kamu udah menginspirasi banyak wanita di Indonesia bahkan di Dunia lewat tulisan kamu..hehhe”

“Ah….kamu bisa aja…”

“Eh..Syarel mana mah?”

“Itu di sana lagi asik main pasir…hehhe”

“Oh..hahah kaya kamu kecil dulu yah..aktif..kalo setiap pulang sekolah selalu diomelin Ibu gara-gara seragammu kotor.haha”

“Hahaha biarin..asal jangan sampe kaya papahnya aja suka gambar kartun porno di LKS. WOOOO”

“Hahaha masa lalu ituuu..jangan diungkit lagi ah..haha”

“Tapi pah..aku nggak akan bisa jadi seperti sekarang ini kalo bukan Ibu yang ngedidik aku.”

“Yap..bener banget. Menurutku Ibumu adalah soso Kartini Di zamannya..Setiap hari berjuang tanpa kenal lelah, meskipun menjadi seorang single parent. Sampai akhirnya, beliau berhasil melahirkan kartini baru. Yaitu kamu. Dengan segala kerja dan usaha kamu, akhirnya kamu menjadi seperti ini sekarang. Istri, sekaligus guru buat aku. Buat keluarga kita.” Kata Gue sambil tersenyum melihat Inge yang hanya tersenyum tanpa melepas pandangannya ke Gue. Matanya berkaca-kaca.

“Eh Pah, Minggu depan ke Bandung Yuk..Kangen Ibu..hehhe”

“Ayok…kebetulan minggu depan kantor lagi nggak terlalu Sibuk..hehe”

Sekarang, gue, Inge dan Syarel menetap di Bali. Gue membuat perusahaan advertising yang mengalokasikan 25% keuntungan perusahaan untuk gerakan social di bidang kewanitaan yang digagas Inge. Selain itu, Inge juga aktif menulis buku dan artikel-artikel social mengenai emansipasi wanita di websitenya. Bahkan, dia pernah diundang Michele Obama untuk kegiatan social kewanitaan di Amerika. Lalu Syarel, dia tumbuh menjadi gadis berusia 5 tahun yang cantik. Seperti Ibunya.

“Syareeeelll…hati-hati….jangan terlalu deket laut…” Teriak Inge.

“Okay Mom……” sahut Syarel sambil tersenyum.

SELAMAT HARI KARTINI WANITA-WANITA HEBAT INDONESIA!!!

Happy BirthDay Mumtaz!!

March 19th, 2013 by faisalabdmusin 3 comments »

IMG_4293

Dear Mumtaz Hafizah Tantiana Elhan.

Nggak kerasa, kini usia kamu sudah menginjak angka 3. Padahal..rasanya baru kemaren sore Ncing dado nggak sengaja kena e’ek kamu pas kamu lagi digantiin popok sama Bunda. Sekarang, gigi susu kamu udah pada ompong dan akan segera tumbuh gigi baru. Itu tandanya kamu sudah besar Mum. Yeay!

Tapi yang ncing denger, katanya kamu sekarang makin cengeng ya? Cuma gara-gara kamu minta mobil Mercy tapi nggak dibeliin sama Bunda. Jangan ya nak, bisa-bisa Bunda kamu yang nangis kejer, terus kamu dimasukin lagi keperutnya. Nggak mau kan…?

Tapi Ncing seneng deh, Mumtaz sekarang udah jago ngaji. Udah bisa berhitung 1 sampai 10 pake bahasa Arab. Pinter..Ncing aja sampai kalah. Ncing Cuma hapal sampai 5. Hehehe Tapi Ncing mah hapal dong Do’a masuk WC..Jago kan….

Oh iya kemaren Bunda kamu ngirim video kamu lagi nyanyi. Lucu banget Mum…kaya kamu punya bakat jadi penyanyi deh. Lagu satu-satu aku sayang Allah aja kamu jadiin Jazz. Ncing Do’ain semoga nanti kalo Mumtaz udah gede, bisa jadi kaya Kak Fatin Sidqia. Itu lho Mum..finalis ajang pencarian bakat X-Factor. Suaranya bagus banget kaya Mumtaz.

Eh tapi, katanya Mumtaz ngefansnya sama Coboy Junior ya? Ah Mumtaz jangan ikut-ikutan kaya anak kecil lainnya ya, masih kecil udah nyanyi lagu cinta-cintaan. Ncing takut kalo Mumtaz udah gede nanti, jadi cewek yang susah Move On. Ncing nggak mau hal itu terjadi. Catet yah! Kalo kamu udah bisa baca surat ini kamu inget pesan Ncing baik-baik. Okeh?

Kasian kamu mum, zaman sekarang, di Indonesia udah nggak ada tayangan yang mendidik anak kecil. Nggak kaya Ncing dulu, bangun tidur, di TV udah ada kartun yang bisa bikin kita betah di rumah. Sekarang, begitu bangun, di TV udah ada Olga Syahputra(i) bawain acara musik. Bosen Mum. Jangan sampe deh Mumtaz kalo udah gede ikut-ikutan nonton acara begituan. Yang ada nanti disuruh cuci jemur cuci jemur. Emang kamu pembantu. Kamu kan Plinces..uwuwuwuw.

Di Indonesia sekarang udah jarang banget orang yang jujur Mum. Sekarang banyak banget pejabat yang ketahuan Korupsi, tapi dihukum ringan. Sebenernya bangsa ini kaya banget Mum, tapi miskin peradilan. Nah, ncing doain, kalo udah gede nanti, Mumtaz harus jadi anak yang pinter dan jujur. Biar bisa buat harum nama Indonesia di kancah Dunia Mum. Keren kan?? Mumtaz nanti bisa diundang ke acara Hitam Putihnya Om Dedy Corbuzier. Eh pas jamannya kamu, dia udah gondrong belum ya kira-kira?hehehe.

Kalo udah gede nanti, kamu jangan jadi cewek kaya kebanyakan cewek jaman sekarang ya Mum. Rentan galau, durhaka sama orang tua, gampang memamerkan aurat. Ih jangan sampe deh Mumtaz kaya gitu. Ncing doain semoga kamu tumbuh jadi anak yang sholeha..selalu menjalankan perintah-perintah Allah, karena Cuma itu satu-satunya cara untuk melindungi Mumtaz dari segala kerusakan. Berbakti sama Ayah dan Bunda,Kokong dan Buya (Nenek) dan juga Ncing-ncing kamu.

Maafin Ncing ya, kemaren nggak bisa dateng pas kamu tiup lilin. Mumtaz jadi nggak bisa banyak foto deh, hehehe. Katanya Bunda masak Spagheti ya?? Kok Ncing nggka disisahin? Mumtaz Tega. Tapi Ncing udah nitip kado tuh ke Buya. Dari Teteh Tyas, temen deket Ncing. Cantik orangnya, kaya kamu. Hehehe..

Meskipun Ncing nggak bisa dateng, tapi Do’a Ncing selalu mengalir buat keponakan Ncing yang cantik tapi ompong ini. Hhehehe. Selamat Ulang Tahun yang ke-3 ya Mumtazzzzz. Mmmmuaaaachh

Salam hangat terdahsyat, Ncing Dado.

Oh iya… Buat Hadiah…nih Ncing kasih foto-foto Mumtaz dari lahir sampai sekarang. Cekidot!!

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

66486_10200348840396472_46958228_n

Great Team, Great Work, Great Show!! #3GPTOUR

March 18th, 2013 by faisalabdmusin No comments »

Ge 13

“Terima kasih gue Ge Pamungkas selamat malaaaaaaamm!!!!!” Teriak Ge Pamungkas menutup rangkaian acara Stand Up 3GP Tour Serang. Semua penonton langsung memberikan standing ovation sambil berteriak histeris . Gue pun tersenyum puas dari belakang penonton karena lega melihat antusias penonton yang begitu luar biasa.

Selama Dua Jam Lima Belas Menit! Ge Pamungkas tampil memukau di atas panggung. Ini merupakan rekor stand up terlama Ge Selama melakukan Tur 3GPnya. “Anjing!! Ga ada cape-capenya nih orang..keren banget” kata gue dalam hati sambil asik ngakak di belakang penonton.

Tapi…, 2 Jam 15 Menit penampilan Ge nggak akan pernah terjadi tanpa dukungan Tim dari kedua belah pihak. Merem Melek Management (MMM) dan Komunitas Stand Up Banten Serang Cilegon.
Mulai dari sekitar satu setengah bulan yang lalu, pihak Merem Melek, Managementnya Kohmandan Ernest Prakasa menawarkan untuk bekerja sama mengadakan 3 GP Tour Ge Pamungkas. Tanpa pikir panjang, gue dan teman-teman komunitas langsung menyetujui kerja sama tersebut.

Awalnya, gue sempet ragu begitu membaca rider acara yang diberikan oleh pihak MMM yang megharuskan menyediakan lampu Follow Spot sebagai salah satu syarat acara. Jujur, gue belum pernah membuat event Stand Up yang menggunakan lampu tersebut. Gue mikir, ini pasti bakal makan banyak biaya. Tapi yasudah lah, toh anak-anak komunitas udah pada semangat banget. Jadi, bakal gue usahain.

Persiapan pun mulai dilakukan. Awal Februari, gue punya ide untuk membuat tur komika lokal ke SMA-SMA yang ada di kota serang sebagai tujuan promosi #3GPTour. Sialnya, semua pihak sekolah yang sudah gue ajak kerja sama tidak mengijinkan acara tersebut, dengan alasan sebentar lagi mau ujian.

Waktu terus berjalan dan semakin mepet. Sudah H-30, tapi belum ada gembar-gembor promosi dari admin komunitas di twitter. Ini yang membuat gue sempat kesal. Tapi ya…gue berpikir positif aja. Mungkin adminnya lagi sibuk dengan urusan pribadinya. Sangat bisa dimaklumi.

Gue terus memutar otak gue, bagaimana caranya selama 1 bulan, 200 tiket yang disediakan bisa sold out. Mengingat event-event Stand Up sebelumnya, waktu 1 bulan nggak cukup membuat tiket terjual habis. Akhirnya gue berinisiatif membuat 100 ‘Silver Tiket’. Untuk 100 orang pertama yang membeli Silver Tiket akan mendapatkan tempat duduk paling depan dan mendapatkan merchandise berupa Pin.

Hasilnya cukup efektif menurut gue. Dengan bantuan ekstra teman-teman komunitas yang baru gabung, tiket sudah hampir Sold Out dalam selang waktu seminggu. Gue pun membuat fixed meeting setiap hari selasa di Saung kampus Untirta atau di tempat nongkrong yang ada di serang. Tujuannya biar bisa follow up persiapan acara, sambil setor uang tiket yang udah terjual. Hehehe

Akhirnya sampai H-15, Silver tiket 3GP Sold Out. Gue langsung mencetak 100 tiket lagi dan mengultimatum tim gimana caranya 100 tiket ini bisa habis dalam seminggu. Mereka menanggapinya dengan penuh semangat. Gue seneng.

Tanggal 8 Maret, kebetulan Jadwalnya 3GP Tur di kampus UI. Gue berniat datang ke UI dengan tujuan untuk melihat seperti apa konsep nyata acaranya. Selain itu juga, gue mau melihat Hadi, salah satu komika kebanggaan @standupBSC yang sedang naik daun di Kampusnya, jadi openernya Ge. Sialnya, gue tiba di UI 2 menit setelah Hadi turun panggung. Kampret. Semua gara-gara macet. Tapi gapapa, yang penting gue bisa dapat gambaran gimana jalannya acara. Konsepnya keren banget ternyata. Tapi sampai hari itu juga, gue masih belum mendapatkan sewaan Lampu Follow Spot. Padahal itu yang penting.

Akhirnya, gue berinisiatif dengan bertanya ke akun twitter @infoserang. Alhamdulilah ada yang ngebales memeberitahukan tempat sewaan lampu follow spot di Cilegon. Gue pun langsung menyuruh AL, anggota @standupBSC untuk segera membooking lampu tersebut. Masalah terselesaikan.

AL gue tunjuk sebagai komika lokal yang jadi openernya Ge. Dia seneng banget, kelihatan dari mukanya pas gue bilang “Al, lo jadi opener Ge ya nanti!” matanya berkaca-kaca dan mau nangis. Begitu juga Gebby, begitu gue tunjuk jadi openernya Ge, dia langsung semangat banget. Dia sampai lari keliling alun-alun tanpa mengenakan baju.

Gebby ini bisa dibilang cukup lama bergabung di komunitas. Tapi sangat minim jam terbang. Beda sama AL, yang udah sering manggung kesana kemari. Akan tetapi, setiap kali open mic rutin, gue melihat perkembangan Gebby tuh cukup bagus. Teknik Stand Upnya pun udah jago. Gue yakin suatu saat dia juga bisa kaya Hadi dan Idham yang lucunya udah kebangetan.

Pada H-2, tepatnya hari Jumat, Gue melihat di samping baliho acara 3GP Tour yang gue pasang terdapat baliho acara lain yakni kuliah umum bersama CEO MNC Group, Harry Tanoe Sudibyo. Mungkin lebih tepatnya….kampanye untuk Ormas yang baru dia buat kali ya…

Acaranya bakal diseleggarakan pada hari Minggu, 17 Maret 2013 jam 07.30 di Auditorium Untirta. Tempat di mana acara 3GP Tour akan berlangsung. Hal itu seketika merusak mood gue. Tanpa pikir panjang, gue langsung menelpon CP panitia acara tersebut, yang kebetulan wakil presiden mahasiswa, untuk meminta kejelasan acara mereka. Dia bilang acaranya Cuma sampai jam 10 Pagi. Oke nggak masalah buat gue karena masih ada cukup waktu.

Sampai tiba hari H, gue mendapatkan kabar yang nggak enak dari panitia acara kuliah ‘kampanye’ umum oleh CEO MNC Group kalo acara mereka mundur jadi jam 10. Gue mulai sedikit panik bercampur emosi. Seenak jidadnya aja mereka ngacak-ngacak jadwal acara. Gue langsung menelpon pantia untuk memastikan paling lambat jam 12 Siang, ruangan Audit harus segera dirapihkan.

Kabar lebih buruk lagi datang setelah gue tau petugas yang memegang kunci ruang control audit ngebatalin janji. Ini ngeselinnya sama aja kaya Pacar lo maksa minta beliin BH motif macan tutul, terus lo yang disuruh pake.

Gue bingung mampus. Sampai jam setengah 12, CEO tersebut belum juga datang. Kampretnya makin jadi. Anak-anak juga jadi ikutan panik “Gimana nih Ka, ga jadi ya acaranya?” Tanya Andhika, salah satu anggota komunitas yang paling muda. “Jadi!! Udah lo tenang aja pokoknya.” Jawab gue sedikit membentak. Anak-anak yang lain juga pada nanya begitu. Tapi gue berusaha untuk lebih santai.

Akhirnya, tepat jam 12, CEO yang ditunggu-tunggu datang juga. Gue mulai sedikit lega, tapi masih sedikit panik juga karena belum mempersiapkan sound cadangan. Akhirnya gue mengajak kerjasama panitia acara kuliah umum agar dipinjamkan sound dan AC yang mereka pakai sebagai ganti karena mereka nggak sesuai jadwal. Mereka setuju.

Jam 13.30, acara mereka selesai. Semua tim pun langsung membantu membersihkan ruangan dengan dibantu OB yang udah dibayar. Alhamdulilah, semua persiapan beres. Jam 14.30, Ge bersama timnya, Dimas dan Awan tiba di venue untuk melakukan Gladi Resik.

Melihat semua tim bekerja sampai pada Gladi Resik terakhir itu membuat gue bangga. Ada perasaan yang beda ketika melihat kerja keras mereka yang mau ngebantu dari awal sampai akhir. Jujur, mata gue sempat berkaca-kaca. Tapi gue berusaha menahannya. Ternyata, menahan tangisan lebih mudah daripada menahan berak.

Gladi Resik berjalan cukup lancar walaupun ada sedikit kendala di bagian sound. Tapi over all, ini pasti bakal keren. Kata gue dalam hati. Gate pun udah mulai di buka. Semua penonton sudah memasuki venue pas jam 15.30. Acara akan segera di mulai.

Suasana sebelum show di mulai

Suasana sebelum show di mulai

Sebelum acara dimulai, gue menghampiri Gebby yang lagi deg-degan sambil duduk di belakang panggung untuk memberikan semangat.
“Gila..gue deg-degan banget nih bang. Sumpah” Kata Gebby yang terlihat gugup .

“Udeh Selow aja…lo pasti bisa Geb..Do your best” Kata gue sambil memberikan tos ke Gebby.

Saat itu gue nggak melihat AL. Nggak tahu deh kemana tuh bocah. Tapi yang gue tahu, katanya dia sempat nangis dua kali sebelum acara. Mungkin dia terharu banget bisa jadi openernya Ge Pamungkas. Idolanya.

Acara pun dimulai dengan VO dari Dimas memberikan arahan. Gebby, yang menjadi penampil pertama, sukses membuat seluruh penonton tertawa. Bahkan sampai memberikan applause. Jangankan dia, semua anak-anak komunitas yang melihat penampilan dia pun kaget. Keren banget ternyata. Beda sama pada saat dia open mic.

Gebby sedang mengeluarkan bit andalannya

Gebby sedang mengeluarkan bit andalannya

Begitu Gebby selesai, giliran AL naik ke Stage. Seperti biasa, dia punya kepercayaan diri yang tinggi. Nggak kaya gue. :P. AL membuka bit pertamanya dengan one liner cemerlang.
“Ge itu Cuma nama buat orang Jakarta dan Bandung. Kalo di Serang mah GEH!”. Tawa penonton pecah. Selama 10 menit, AL membawakan materinya dengan baik.

AL terlihat keren dengan setelan putih-putihnya

AL terlihat keren dengan setelan putih-putihnya

Setelah AL, giliran Awan Pamungkas naik ke atas panggung. Belum ngomong apa-apa, penonton udah ketawa duluan ngeliat mukanya. Soal performa Awan di atas panggung nggak usah diragukan lagi. Hampir 20 menit Awan Stand Up, Auditorium dibikin pecah olehnya!.

This is It Awan Pamungkas!!

This is It Awan Pamungkas!!

“Yak…Ini dia, comic yang kalian tunggu-tunggu. Langsung aja gue Panggil.. Ge….Pamungkas…!!!” Teriak Awan setelah selesai tampil.

Seluruh lampu ruangan mati berbarengan dengan Backsound yang mengiring Ge ke atas panggung. Ge Pamungkas muncul dari belakang penonton dan berjalan menuju ke atas panggung sambil diikuti oleh lampu follow spot. Penonton pun teriak Histeris sambil bertepuk tangan keras.

“Selamaaaat malam…Seraaaaaaanggggg!!!!!!” Ge Pamungkas membuka penampilannya dengan penuh semangat. Penonton yang cewek semakin teriak histeris. Dari kejauhan gue juga mendengar suara cowok yang teriak histeris. Beruntung nggak ada yang pingsan atau kejang-kejang.

Penampilan Ge sih nggak usah ditanya. 2 JAM 15 MENIT! dan penonton sampai capek ketawa. Gila! Kalo gue jadi Ge, mungkin gue udah ada di akhirat, ketemu bidadari, terus balik lagi ke dunia gara-gara grogi.

Ge Pamungkas In Action!

Ge Pamungkas In Action!

Photo by 9's Photography

Photo by 9’s Photography

Ge 2

Ge 3

Ge 4

Ge 5

Ge 6

Ge 7

Ge 8

Ge 9

Ge 10

Ge 11

Ge 12

Ge 13

Ge 15

Ge 16

Selesai acara, perasaan gue lega banget, karena acara berjalan cukup lancar sesuai rencana. Gue menyalami tim gue satu persatu dan berterima kasih sama mereka. Tanpa bantuan mereka, acara ini nggak akan bisa terlaksana. Bisa, mungkin amburadul jadinya. Untungnya gue bisa melihat wajah puas dan lega dari wajah mereka. Haru.

Untuk itu, gue mau berterima kasih yang sebesar-sebesarnya atas kerjasama yang udah diberikan oleh tim @standupBSC : Isal, Aldi, Nata, Nikson, Gebby, Ardi, Andhika, AL, Idham, Hadi, Adit, Panji, Dhanang, Hanif, Woro dan Yaya. Good Job Guys!!  Gue ngerasa, ini adalah hasil belajar dari kesalahan.

_MG_6812

PS : Harusnya Pak Hary Tanoe Jangan pulang dulu…Tapi ikutan nonton 3GP!! hehehe

Senyum Yang Tertinggal Di Kampung Rinca

March 10th, 2013 by faisalabdmusin 5 comments »

IMG_3463
Bulan Novemeber tahun lalu, gue berkesempatan berlibur gratis selama 5 hari ke pulau komodo bersama 5 pemenang Blog Competition lainnnya. Pada hari kedua, perjalanan kita sampai di Kampung Rinca. Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo.

Cuaca yang panas, mengharuskan gue dan kawan-kawan memakai sunblock. Padahal, waktu baru menunjukan pukul 7 pagi. Gue nggak kebayang kalo Syahrini main ke pulau Rinca, mungkin dia bakal bawa-bawa tenda biar nggak kena panas.hehehe

Begitu turun dari kapal, gue langsung nggak bisa diem dengan kamera gue. Membidik objek kesana kemari, cari angel yang pas, sampai akhirnya gue diomelin sama temen-temen karena kelamaan ambil gambar. Perjalanan gue dan teman-teman ke kampung Rinca dipandu oleh 2 awak kapal yang kocak. Bang Syarif dan Bang Bahar. Kebetulan, bang Bahar ini asli orang kampung Rinca. Makanya dia kelihatan seneng banget. Sekalian pulang kampung katanya.

DSC_0533

Warga kampung Rinca, seperti orang Indonesia pada umumnya yang murah senyum, menyambut kita layaknya turis. Anak kecil beriringan mengikuti kemana pun kita pergi. Sesekali gue menyapa anak kecil tersebut dengan bahasa inggris. Biar dikira turis asing beneran.

“Hello..What is your name” kata gue. Anak kecil itu Cuma diam sambil menyedot ingusnya. Gue Cuma bisa tertawa. Dengan populasi sekitar 1000 orang ini, sebagian besar warga kampung Rinca adalah nelayan. Rata-rata, nelayan di kampung Rinca ini menangkap Teripang untuk dijual ke pasar lokal. Nggak Cuma itu aja, ikan asin dan ikan teri pun ramai dijemur hampir di setiap halaman rumah warga.
Warga kampung rinca sendiri tinggal di rumah panggung. Kata bang Bahar, untuk mencegah komodo masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba gue kaget.

IMG_2401

IMG_2305

IMG_2311

“Wah, emang suka ada komodo yang dateng ke kampung Bang??” Tanya gue sambil wasapada melihat sekitar jalan takut tiba-tiba ada komodo menyerang dari belakang.
“Oh sering…biasanya kalo dia lapar, dia suka datang ke sini cari makan” Jawab Bang Bahar dengan logat timurnya.

Aktifitas warga di pagi hari cukup beragam. Ada yang menjemur ikan, pakaian, membuat jamu, bahkan ada suami yang asik menemani istrinya mencuci.

IMG_2307

Langkah kami terhenti pada sebuah, bahkan satu-satunya sekolah dasar yang ada di kampung Rinca. Pagi itu mereka sedang bersiap-siap melakukan senam pagi. Apa yang gue lihat saat itu, sangat menggetarkan hati gue. Senyum gue perlahan hilang ketika melihat keadaan sekolah yang menurut gue sama sekali sudah tidak layak dijadikan sebagai tempat belajar.

IMG_2321

IMG_2336

IMG_3507

Namun, hal yang membuat gue salut adalah semangat mereka yang tidak pernah hilang meskipun harus belajar di tempat yang tidak layak. Semangat mereka sama seperti anak-anak yang ada di cerita Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata.

Melihat mereka sedang asik senam, gue dan teman-teman lainnya tergoda untuk ikut ke dalam barisan. Mereka tetap bersemangat mengikuti gerakan dengan iringan music, meskipun ada yang tidak menggunakan alas kaki sama sekali.

IMG_2361

IMG_2346

Senam pun selesai. Gue langsung berkenalan dengan salah satu anak yang berdiri di samping gue.
“Halo Ade..namanya siapa?” Kata gue sambil tersenyum.

“Faisal” Jawab dia pelan.
“Siapa?” Tanya gue lagi.
“Faisal…”
“Hah??Faisal?? Waaaaaaahhh nama kita sama! Hahaha keren, pas banget!! Tos dulu kita” Seru gue. Faisal pun tersenyum malu-malu.

IMG_2328

Selesai senam, seluruh murid dari kelas 1 sampai kelas 6 disuruh gurunya untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di pinggir pantai. Ternyata memang sudah kewajiban murid setiap hari Jumat untuk membersihkan pantai. Meneurut gue, ini luar biasa banget. Sejak dari kecil mereka sudah diajarkan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Gue pun dengan senang hati ikut membantu mereka membersihkan sampah-sampah yang ada di pinggiran pantai.

IMG_2383

IMG_2372

Selesai membersihkan pantai, Bang Bahar mengajak untuk pergi melihat air sumur payau. Tempat di mana setiap hari warga datang ke sumur untuk mandi atau sekedar mengambil air. Uniknya, di setiap rumah memasang SPAH (Sistem Penampung Air Hujan). Jadi ketika musim hujan, mereka bisa menggunakan air hujan untuk keperluan sehari-hari. Entah kenapa gue jadi kepikiran untuk buat SPAM (Sistem Penampung Air Mata) untuk para jomblo. Setidaknya, kehidupan mereka bisa bermanfaat. Haha

IMG_2400

Di sana, gue bertemu sama Uncle Lewis, seorang Ranger yang usianya tidak lagi muda namun masih gagah. Dengan selalu membawa tongkat berbentuk huruf Y, beliau menyalami gue dan teman-teman satu persatu.

IMG_3573

“Selamat datang di kampung rinca” Sambut beliau. Beliau bertanya asal kita dari mana dan langsung menceritakan tentang pulau komodo, khususnya kampung Rinca. Belum selesai beliau bercerita, gue langsung bertanya kepada beliau.

“Uncle, itu tongkat yang dipegang uncle buat apa ya?” Tanya gue penasaran.
“Oh ini untuk jaga-jaga kalau ada komodo..”jawab uncle dengan logat timurnya yang khas.
“Ooooohhh” sahut gue dan teman-teman.
“Nah ujungnya ini untuk menahan lehernya kalo dia menyerang” kata uncle sambil mencontohkan caranya. Beruntung nyontohinnya nggak ke leher gue.

Jantung gue semakin deg-degan ketika Uncle lewis bercerita kalau seminggu sebelum gue dan teman-teman datang ke sini, ada warga yang tewas diserang komodo. Ini serem banget. Semua pasti tahu, kalau komodo ini merupakan predator paling berbahaya di dunia. Dan gue, sedang berada di pulau mereka. Akan tetapi, gue mendapatkan banyak informasi dan juga ilmu dari uncle Lewis. Beliau banyak mengajarkan gue dan teman-teman untuk menjaga lingkungan.

Bang Bahar dan Bang Syarif mengajak kita untuk segera kembali ke kapal karena waktu sudah siang dan harus segera melanjutkan perjalanan. Ketika sedang jalan menuju kapal, geu melihat seorang warga yang berjualan patung komodo dan segala pernak perniknya. Ternyata warga kampung rinca juga sudah diajarkan membuat patung komodo dari kayu untuk dijual kepada wisatawan lokal maupun asing. Tapi sayang, harganya cukup mahal untuk mahasiswa kaya gue.

IMG_2430

Sebelum ke dermaga, gue bertemu dengan murid-murid sekolah yang tadi pagi. Mereka ternyata megantarkan kita sampai ke kapal. Mereka juga menyanyikan lagu daerah pulau komodo. Gue dan teman-teman nggak pernah berhenti tersenyum. Anak-anak kampung Rinca ini begitu menyenangkan. Gue pun mengambil sedikit makanan dari kapal dan memberikannya kepada mereka. Terlihat raut wajah bahagia dari mereka.
Mesin kapal sudah menyala, saatnya gue dan teman-teman pamit. Dari mereka, gue banyak belajar tentang bagaimana kita menjaga lingkungan yang telah diberikan oleh Tuhan. Dari senyuman mereka gue bisa melihat harapan akan masa depan Indonesia ada di tangan mereka.

IMG_2437

“Dadahhhh…..sampai ketemu lagi yaaaaaaaa…..” Teriak gue sambil melambaikan tangan. Mereka balas melambai. Sebagian dari mereka terdengar menyanyikan lagu daerah pulau komodo kembali. Gue tersenyum dan berpikir dan berharap, bisa bertemu mereka kembali.

IMG_2442

Kapan Terakhir Kali Kalian Menangis?

January 31st, 2013 by faisalabdmusin 1 comment »

images

Setiap orang pasti pernah menangis. Mulai dari pertama kita lahir di dunia, ketika kita terjatuh waktu belajar naik sepeda untuk pertama kalinya, ketika kita kalah bertengkar dengan teman karena rebutan gimbot, ketika kita gagal lolos ujian sekolah idaman, ketika kita gagal mempertahankan hubungan dengan pasangan yang sudah berjalan 1 dasawarsa, ketika kita berhasil lulus dengan nilai sempurna, bahkan ketika kita kehilangan orang tersayang.

Akan tetapi yang menjadi pertanyaan gue adalah, kapan terakhir kali gue atau kalian menangis?. Menangis yang benar-benar menangis bukan sekadar menangis karena habis bantuin nyokap ngupas bawang.
Gue pun nggak ingat kapan terakhir kali gue menangis sampai sesegukan. Mungkin ketika gue masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Ketika sekolah gue sedang melakukan wisata ke Ancol. Waktu itu setelah selesai menonton pertunjukan lumba-lumba bareng nyokap dan rombongan lainnya, kita semua berpencar. Gue dan nyokap pun memisahkan diri karena nyokap saat itu mau ke toilet.

“Kamu tunggu di sini dulu ya nak, Ibu mau ke toilet sebentar..” Kata nyokap sambil mengalungkan botol minuman bergambar Power Ranger ke leher gue.

“Yaudah..tapi jangan lama-lama..” kata gue polos. Nyokap membersihkan ingus yang ada di hidung gue, lalu kemudian pergi.

Nggak lama setelah nyokap pergi ke toilet, mata gue mulai celingukan. Gue berdiri di bawah pohon dan di sebrang tempat gue berdiri, ada sebuah galeri patung. Di situ gue melihat sesosok pria berambut gondrong yang dikuncir berantakan, berkulit gelap, dan tangannya penuh dengan tattoo. Sekilas mukanya mirip Sujiwo Tedjo.

Gue melihat ke arah pria tersebut dengan perasaan takut. Tiba-tiba dia melihat ke arah gue dengan tatapan yang menurut gue serem banget. Gue mencoba mengalihkan pandangan gue ke arah lain. Akan tetapi, yang gue lihat adalah seseorang yang memakai topeng badut. Gue takut banget sama orang yang memakai topeng badut sambil mengamen. Itu topengnya serem banget untuk ukuran bocah usia 5 tahun. Nggak ada lucu-lucunya sama sekali. Gue semakin takut.

Bibir gue mulai gemetaran, mata mulai berkaca-kaca dan nggak tahan mau pipis di celana. Saat itu gue takut diculik sama pria berwajah mirip Sujiwo Tedjo tersebut. Akhirnya gue memutuskan untuk menyusul nyokap ke toilet. Tapi bodohnya, gue nggak tau toiletnya di mana. Gue pun berjalan ke segala arah tanpa mau bertanya karena gue udah takut banget waktu itu. Mata gue semakin berkaca-kaca. Dada gue mulai sesak. Saat itu gue tahu, kalo gue udah kehilangan jejak nyokap. Gue menangis kejer sambil menyebut Ibu berkali-kali.

Cukup lama gue mondar-mandir ke sana ke mari tapi nggak juga menemukan nyokap. Tangisan gue makin kejer sampai akhirnya gue ketemu sama Ibu Yoyoh. Kepala sekolah gue.

“Kamu kenapa nak…kok nangis..Orang tua kamu ke mana?” Tanya Bu Yoyoh sambil membasuh air mata di pipi gue.

“Eng..eng..gak tau bu…tadi Ibu ke toilet..a…aku di suruh tunggu tapi takut..ada preman sama badut…hik..hik..hik..” Jawab gue sambil sesegukan.

“Oala…Preman?? Yaudah cep..cep..jangan nangis anak ibu…cakep..” Bu Yoyo berusaha menenangkan gue. Tapi gue masih tetep sesegukan.

Bu Yoyo menggandeng gue menuju loket Informasi. Di situ gue ditanya nama dan kelas apa.

“Perhatian..perhatian…kepada ibu Surayah Fadil dari rombongan TK AMANAH Tangerang, segera menuju ke loket Informasi karena ditunggu anaknya yang bernama Faisal Abdul. Sekali lagi…..” petugas informasi menyiarkan pengumuman melalui Microphone dengan lantang. Mudah-mudahan nyokap gue nggak lagi di dalam kamar mandi sambil ngeden sehingga suara petugas informasi tersebut nggak kedengeran.

Selang beberapa menit, gue melihat nyokap dari kejauhan sedang berlari kecil. Wajahnya terlihat pucat dan panik. Gue pun segera berlari ke arah nyokap. Kita udah kaya di acara Tali Kasih. Gue langsung memeluk nyokap gue erat. Gue menangis sesegukan di pelukannya.

“Kamu kenapa nggak nungguin Ibu..??” tanya nyokap sambil mengusap pipi gue yang basah. Sesekali gue menatapnya, matanya berkaca-kaca.

“Tadi ical ngeliat preman serem..takut diculik bu…hiks…hiks..Ibu jangan pergi lagi..” jawab gue sesegukan.

“Preman?? mana ada preman di sini…yaudah..cep..cep jangan nangis ah ibu nggak suka…Iya..Ibu nggak akan kemana-kemana lagi.” Tangisan gue perlahan mereda. Hati gue mulai tenang. Gue berjalan lagi memegang tangan nyokap dengan kuat sambil minum air jeruk dari botol Power Ranger.

Semenjak kejadian itu, gue jadi jarang nagis lagi. Bahkan, waktu gue disunat pas lulus TK, gue sama sekali nggak nangis. Tapi langsung kejer pas obat biusnya habis. Gue rasa cowok sekelas Ade Rai pun pas disunat terus obat biusnya habis, dia juga pasti bakal nangis.

Semakin gue besar dan tumbuh dewasa, gue sama sekali nggak pernah nangis. Bisa dibilang gue ini orang yang paling susah nangis meskipun momennya memungkinkan buat nangis. Misalnya waktu acara malam doa bersama sebelum Ujian Nasional SMA. Hampir semua temen-temen gue nangis begitu selesai disinggung soal dosa kepada orang tua. Biasanya yang nangis tuh yang suka nilep uang bayaran sekolah.

Alhamdulilah gue nggak pernah kaya gitu. Gue pun sampai berdoa dalam hati “ Ya Allah kenapa saya nggak mau nangis..apa saya nggak punya perasaan??” sambil berusaha buat nangis. Tapi gagal.

Waktu perpisahan sekolah juga gitu. Temen-temen cewek gue, termasuk mantan pacar gue juga nangis. Mungkin saat itu dia nangis karena bahagia nggak akan ketemu gue lagi. #miris Cowok pun ada juga yang nangis sampai kejer. Iya..dia baru aja diputusin pacarnya pas perpisahan.

Sedangkan gue? Sama sekali nggak nangis. Sedih sih, bakal pisah sama temen satu tongkrongan, pisah sama guru, pisah sama mantan #uhuk. Tapi gue berpikir saat itu, apakah sebuah perpisahan harus berakhir dengan sebuah tangisan? Mungkin luapan emosi masing-masing orang berbeda. Ada yang kesentuh hatinya sedikit aja nangis dan begitu sebaliknya. Tapi gue tetep nggak bisa nangis
Sampai akhirnya suatu hari, ketika nyokap gue lagi sakit parah, gue berdoa setelah solat malam. Mata gue berkaca-kaca dan perlahan mengeluarkan air mata. Walaupun Cuma sedikit tapi entah kenapa gue berasa lega pada saat itu. Haru.

Terkadang gue berpikir ingin sekali menangis seperti waktu gue hampir jadi anak hilang di Ancol, ketika gue sedang berhadapan dengan masalah yang begitu berat. Gue berpikir dengan menangis, gue bisa menjadi pribadi yang baru. Menjadi pribadi yang lebih baik. Gue berpikir, dengan menangis, semua beban pikiran bisa menjadi lebih ringan.

Gue ingin menangis kaya dulu, waktu gue masih belum kenal yang namanya malu. Bahkan gue juga rindu ketenangan sehabis menangis tersedu.