Ayah & Perjalanan Pertama


Hari masih sangat muda ketika aku mengerjapkan mata, tersadar dari mimpi tentang miki tikus yang dikejar-kejar gerombolan siberat. Tepat disamping ketika aku menoleh, adikku masih memejam, memeluk gulingnya dalam damai. Mama belum kesini ternyata. Jendela kamar kami belum terbuka. Kuseret langkah menuju jendela, menyibak gordennya, kemudian membentangkan daun jendelanya keluar. Hawa dingin menyergap wajahku. Dingin yang sangat nyaman. Tampak olehku pohon jambu biji yang dibawahnya bergeletakan buah-buah yang telah menguning matang namun telah rusak. Sepertinya bekas dimakan kelelawar. Daging buahnya yang berwarna merah muda terlihat tak menarik lagi bagiku karena bercampur tanah. Ah, itu Pipeko si ayam, bersama anak-anaknya. Pasti dia yang membangunkan mama tadi subuh, seperti hari-hari sebelumnya.

img 0018 216x300 Ayah & Perjalanan Pertama

Aku masih menatap keluar jendela untuk beberapa lama. Memperhatikan pohon nanas yang ditanam ayah, rimbunan daun kayu putih yang sering iseng kupetiki, serta pohon jambu air besar tempat ayah membuatkanku ayunan kecil. Kemudian langkahku kuseret menuju meja disamping tempat tidur. Saat melewati cermin besar dipintu lemari, sosokku yang masih acak-acakan memantul lugu. Anak perempuan umur 5 tahun, berambut bob dengan poni melewati alis, pipi bundar, memakai piyama bergaris merah muda-putih, menatapku balik dari sana. Ya, itu aku.

img 0019 300x285 Ayah & Perjalanan Pertama

Kuacak-acak rak penyimpanan kaset tape milikku yang secara rutin ditambahkan koleksinya oleh mama dan ayah. Ah, bagaimana kalau soundtrack doraemon saja untuk minggu pagi kali ini? Kubuka kotaknya, beberapa saat kaset itu sudah berada dalam tape mungil berwarna merah yang dibelikan ayah untuk kado ulangtahunku yang kelima.

img 0021 206x300 Ayah & Perjalanan Pertama

Soundtrack doraemon pun mengalun seantero kamarku, beradu dengan suara Frank Sinatra yang diputar mama di ruang tengah. Mama pasti tahu aku sudah bangun dan sebentar lagi ayah pasti masuk kekamarku menyuruh mandi. Mari kita hitung mundur. 5…4…3…2…

Inong? Kalo udah bangun itu langsung mandi. Ayah kan udah bilang. Ayo, habis ini sarapan. Mama sebentar lagi selesai masak

img 0020 215x300 Ayah & Perjalanan Pertama

Kepala ayah nongol dari pintu kamar, seperti biasa. Yah, beginilah ayahku. Jangan kau kira karena aku anak perempuan dan baru lima tahun maka hidupku seperti putri negeri impian. Mungkin mama memperlakukanku begitu, memanjakanku. Tapi tidak di dunia ayah dengan semua kedisiplinannya. Aku menyambar handuk motif hello kitty ku dan cepat-cepat beranjak ke kamar mandi sebelum ayah marah.

***

Ayah. Hanya sedikit yang bisa kuingat tentangnya.

img 0025 300x297 Ayah & Perjalanan Pertama

Namun rasa kagumku melebihi semua ingatanku tentang sosok tinggi tegap berwibawa itu. Tegas, super-disiplin, keras. Itu sifat yang menonjol dari ayah. Dia jarang menyatakan dan memperlihatkan rasa sayangnya secara gamblang. Selain itu hanya sedikit yang tertinggal di memoriku. Dia sibuk. Seringkali kudapati dia tertidur kelelahan di ruang kerjanya yang tepat berada di samping kamarku. Pekerjaannya tak hanya duduk diruangan ber-AC. Ayah pernah dengan bangga menceritakan padaku tentang pekerjaannya. Dia lebih suka disebut ‘orang lapangan’ di perusahaan perkebunan kelapa sawit tempat dia bekerja, ketimbang disebut orang kantoran. Bergulat dengan terik mentari, tanah merah, helm pengaman dan sepatu boots yang berlumpur. Mengatur ini dan itu. Saat itu aku memperhatikan dengan mata berbinar kagum. Dan aku berkata sesekali ingin ikut melihatnya bekerja. Dia mengangguk tersenyum. Aku girang sekali.

Pekerjaan ayah di perusahaan perkebunan kelapa sawit menuntut kami berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya di sekitar kepulauan Riau. Aku tak ingat berapa kali kami pindah rumah. Dari satu rumah panggung kayu mungil, ke satu rumah panggung kayu mungil lainnya. Ketika aku lahir, ayah dan mama baru pindah ke Pulau Burung. Pulau yang terlihat sangat amat baru ‘dibuka’. Rumah-rumah panggung mungil serupa cottage-cottage pinggir pantai berjejer diseberang kanal buatan. Dimana-mana yang terlihat hanya rerimbun tanaman, pohon dan tanah merah. Sepi sekali. Apalagi ketika malam.

img 0024 215x300 Ayah & Perjalanan Pertama

Untuk belanja kebutuhan sehari-haripun mama harus naik feri atau ‘pompong’ untuk menyeberang ke pulau lain. Istilah pompong sendiri aku tak tahu menahu asalnya darimana. Ayah menyebutnya begitu. Perahu dengan tenaga mesin yang ketika berjalan akan sangat berisik sekali bunyinya. Selain berisik, seluruh perahu pun ikut bergetar. Hidung dan telinga geli rasanya. Aku tak pernah suka naik pompong.

Mengimbangi senyapnya suasana sekitar rumah, ada tetangga-tetangga yang mengasyikkan, untungnya. Ibu-ibu rumah tangga maupun teman kantor mama sering berkunjung kerumah. Pun ketika mama memutuskan resign karena kelahiranku, mereka tetap sering berkunjung membawakan makanan. Lucunya, tetangga-tetangga yang notabene semuanya bekerja di perusahaan yang sama dengan ayah, kebanyakan  malah berasal dari luar negeri. Yang paling akrab dengan mama dan aku adalah tante Mary yang berkebangsaan Prancis dan kak Dorothy, anaknya. Mereka sangat senang berbelanja bersama, memasak bersama, bahkan shopping bersama ke Singapur yang paling hanya berjarak sejam dua jam menyeberang dari rumah. Sementara itu kak Dorothy akan menemaniku main rumah boneka.

img 0022 300x281 Ayah & Perjalanan Pertama

Saat usiaku menginjak 3 tahun kami pindah ke Sei.Guntung. Daerah yang lebih memiliki ‘peradaban’ seperti halnya sebuah desa biasa. Tapi tetap, ayah harus naik pompong pergi & pulang kekantornya. Sei.Guntung ini termasuk daerah Indragiri Hilir, Riau. Rumah kami berhalaman luas dan asri, dekat dengan sekolah TK & SD ku nantinya, dan tepat berada di depan kantor kelurahan. Rumah yang ini jauh lebih besar dibanding rumah-rumah kami sebelumnya, meskipun yang inipun masih rumah panggung dari kayu juga. Dengan keahlian mama menata interior, rumah kami terasa nyaman dan indah seperti rumah-rumah kayu klasik bertungku perapian Eropa. Susunan buku-buku yang tak kumengerti bahasanya berjejer rapi di lemari berpelitur hitam mengkilap. Suatu saat lemari itu kupanjat, buku-bukunya berjatuhan dan ayah memarahiku habis-habisan.

***

Dan disinilah kami sekarang, menghadap meja makan. Aku mengunyah roti selai stroberiku dengan kunyahan sopan. Segelas susu disebelah kanan piringku. Aku melirik oren jus punya mama lalu melirik ayah yang sedang membaca koran. Makanku tak boleh bersuara sedikitpun, piring dan sendok tak boleh berdenting nyaring, dan tak boleh mengunyah sambil menenggak minuman. Semua itu akan membuat ayah marah kalau kulakukan. Untuk anak umur lima tahun, table manner ku sempurna. Huh. Sayangnya ketika ayah tak ada maka aku akan sesuka hati makan diatas kasur sambil membaca komik paman gober dan mama akan membiarkanku. Aku tak pernah benar-benar melakukan semua kedisiplinan yang ayah ajarkan dengan kesadaran. Semua karena takut dimarahi. Aku hafal mati. Setelah ini aku harus melipat serbet, mengelap sekitar bibir dengan sopan, lalu beranjak menyikat gigi. Rutinitas.

Yang membuat aku senang, hari ini ayah akan mengajakku melihat dia bekerja. Yeiy! Akhirnya. Hari ini kostumku dan ayah sama, polo shirt putih dan celana pendek cokelat muda, sepatu kets dan topi. Ah senang sekali.

x22 300x250 Ayah & Perjalanan Pertama

Aku melonjak-lonjak karena terlalu semangat namun tersadar beberapa saat kemudian. Aku takut ayah marah. Akhirnya aku duduk manis di teras menunggu ayah selesai sarapan. Ketika akhirnya aku mencium tangan mama yang harum dan mencium pipi adikku digendongannya, aku merasa sangat senang. Ini pertama kalinya aku dan ayah berjalan-jalan berdua saja. Tangannya yang lebar menggenggam telapak tangan mungilku. Sesekali aku mendongak. Ayahku yang tampan ini. Mengapa seperti selalu terasa ada jarak yang jauh diantara kami? Apa karena rasa kagumku yang berlebihan? Apa dia menyayangiku? Berbagai pertanyaan melintas-lintas difikiranku.

Aku dengan langkah kecilku berusaha menjejeri langkah ayah. Kami berjalan kaki menuju dermaga. Ya, kami akan naik pompong menyebalkan itu hari ini. Kuharap dia tak terlalu membuat hidungku geli ketika bergetar. Perjalanan ini cukup jauh. Kubayangkan ayah selalu jalan kaki setiap hari seperti ini. Betapa hebat. Ayah bilang, dia selalu membiasakan diri berjalan kaki semenjak kuliah. Ketika kutanya bagaimana rupanya negeri Belanda itu ayah menyodorkan berbagai kartu pos yang dia kirimkan untuk mama. Kincir angin, padang bunga tulip, langit biru. Betapa indah. Selama kuliah ayah senang berjalan-jalan sekitar eropa, namun favoritnya tetap Belanda. Ayah bilang suatu saat aku harus bisa berkeliling Eropa pula. Aku mengamini dalam anggukan kecilku.

Kami melewati jembatan yang lengang ketika ayah bertanya bagaimana sekolahku. Kujawab dengan bangga dengan menceritakan prestasi-prestasiku. Aku selalu ingin membuat ayah bangga. Akulah anak ayah yang membanggakan, tanpa cela. Aku mau dia berpikiran seperti itu. Kutatap senyumnya. Ayah sepertinya bangga. Baguslah. Aku akan melahap buku soal kelas dua SD lagi nanti malam agar tak pernah bisa ketinggalan. Padahal saat itu aku masih kelas 1 SD. Aku berpikir, kadang. Apa yang ayahku tak bisa? Dia mengajariku mengerjakan PR dengan baik. Menemaniku bermain puzzle, lego dan origami. Bernyanyi dan menggambar dengan sempurna. Aku tak boleh kalah. Semua itu membuatku kagum sekaligus membuat jarak diantara kami. Apa dia menyayangiku?

***

Kami tiba di dermaga akhirnya. Aku lelah sekali namun tak kutunjukkan. Bukankah aku anak ayah yang tanpa cela? Ayah duduk disampingku. Dibiarkannya aku duduk dipinggir. Bersebelahan dengan air kecokelatan dingin yang memercik terbelah laju pompong.

img 0023 275x300 Ayah & Perjalanan Pertama

Angin menerpa wajahku. Topiku hampir terbang. Kupegangi sambil melihat wajah ayah. Ekspresinya datar saja, namun tangannya merangkulku erat. Ah hidungku geli sekali. Pompong ini berbunyi nyaring, seperti meletup letup dan bergetar hebat. Aku berharap cepat sampai.

Kakiku menjejak tanah merah. Sekitarku banyak buldoser dan entah apa lagi namanya, sedang bekerja mengeruk tanah. Sepertinya kami tak akan kesana terlalu dekat. Ayah tak menyuruhku memakai sepatu boots, pun dia tak memakainya. Kami ternyata berjalan kekantornya. Hawa dingin AC menyergap kulitku. Semua mata memandang ke arahku yang berdiri kaku disamping ayah.

Ya ampun, ini pasti Fina ya, Yah? Aduh lucunyaa. Mau ikut ayah kerja ya, sayang?

Seorang wanita berjongkok didepanku, mengusap pipiku lembut. Aku mengangguk dan tersenyum. Wanita tadi kemudian diikuti om dan tante lain yang mengerubungiku. Aku baru tahu saat itu bahwa semua orang dikantor memanggil ayahku dengan sebutan ‘Ayah’ pula.

Kepengen lihat buldoser katanya.”, ayah menyahut sambil tersenyum meraihku dari kerumunan teman-teman kantornya.

Aku menghela nafas lega. Aku tak sabar ingin bertanya pada ayah akan kemana kami pertama kali. Saat aku mendongak kearahnya, dia menunduk kearahku sambil bertanya,

“Inong haus? Capek?”

Seperti biasa, ayah memanggilku Inong. Panggilan sayangnya padaku. Aku mengangguk. Ayah membawaku ke ruangannya. Cukup luas. Aku duduk di kursi kerjanya. Ayah pamit ke kantin membeli minuman ketika aku beranjak turun dari kursi, menuju meja kerjanya. Kulihat fotoku sedang digendong mama ada didalam pigura putih. Foto adikku saat baru lahir ada disampingnya. Lalu dibawah lapisan kaca mejanya kulihat fotoku saat berumur sekitar 8 bulan. Tepat dibawahnya ada tulisan tangan ayah yang sangat kukenal,

Kata orang, aku ini duplikat ayah…. – Fina ‘Inong’ Ladiba

copy of img 0018 300x282 Ayah & Perjalanan Pertama

Seketika aku merasa jahat telah meragukan rasa sayang ayah. Mengapa ayah terlalu lama membeli minuman? Aku tak sabar ingin memeluknya. Aku tahu semua kedisiplinan yang ia terapkan, semua hukuman atas kesalahanku, semua sikap tegasnya, itu semua hanya karena dia terlalu sayang.

Ketika ayah datang membawakanku sekotak susu kedelai dingin, aku berlari menghambur ke pelukannya. Dan berkata aku sangat menyayanginya. Dengan wajah heran dia menggendongku, kemudian kurasakan hangat senyumnya mengalir lewat dekapnya ditubuh kecilku.

Hari itu aku diajak berkeliling kantor. Berjalan melihat traktor dan buldoser raksasa yang menyeramkan walau dari jauh. Pada akhirnya, setelah digigit nyamuk hutan, sepatu belepotan lumpur, perjalanan naik pompong (lagi) dan lelah luar biasa, aku tertidur dalam gendongan ayah ketika kami berjalan pulang kerumah.

xxx 300x297 Ayah & Perjalanan Pertama

Ransel mungilku terisi nata de coco dan santan kemasan produksi kantor ayah, oleh-oleh untuk mama. Dalam tidur aku bermimpi sedang berdiri diantara hamparan tulip kuning merah, dengan ayah duduk santai di depanku, dibangku panjang dari kayu, membaca koran.

Ini adalah perjalanan panjang pertama sekaligus terakhirku berdua saja dengan ayah. Tiga tahun setelahnya ketika ayah memutuskan tetap di Surabaya sementara aku, mama & adik di Medan, setiap minggu aku menerima surat dari ayah. Seperti biasa, dengan bolpen bertinta hijau, menyatakan kangen dan sayangnya pada kami yang amat sangat. Sampai akhirnya di pertengahan Desember tahun 1999 ayah pergi meninggalkan kami semua.

blog12 Ayah & Perjalanan Pertama

dari yang kangen teramat sangat,

@Ladibaa

  1. #1 by salmanfariz on July 28, 2012 - 2:31 AM

    terharu mbacanya :’D
    semoga yg adek fina cita citain waktu jalan2 bersama ayah semuanya terkabulkan.amin :)

  2. #2 by Andrey on July 28, 2012 - 9:47 AM

    Yang difoto itu Fina kah…

  3. #3 by finaladiba on July 28, 2012 - 10:30 PM

    @salman fariz allutfi : aaak dikomen :) thanks masnyaa

    @andrey: iya aku itu :P

  4. #4 by Ihsan on September 21, 2012 - 2:35 AM

    Terharu, tulisannya ngalir banget… walaupun cukup banyak orang juga ga bosen bacanya…

    Mungkin kebanyakan orang tua terutama ayah gak pernah memperlakukan kita layaknya putri atau pangeran, tapi perlakuannya itu lah yang kelak membentuk kita menjadi putri dan pangeran :)

  5. #5 by ayu on September 21, 2012 - 7:40 AM

    finaaaa aku suka ilustrasinya huhuhuhuu ngiri nii aku gak bisa gambar…

  6. #6 by fuad on September 21, 2012 - 8:19 AM

    tantepin, udah beberapa kali baca ini, aku terharu sama paragraf terakhirnya, huaaaa :(

  7. #7 by finaladiba on September 25, 2012 - 1:55 AM

    Bisma :

    Roman yang menyentuh bgt :’) tetep senyum semangat ya..

    thanksomuch kakak ganteng :”)

    ayu :

    finaaaa aku suka ilustrasinya huhuhuhuu ngiri nii aku gak bisa gambar…

    hiyaaaa jangan ngiriiiii. ahahhahaha :*

    fuad :

    tantepin, udah beberapa kali baca ini, aku terharu sama paragraf terakhirnya, huaaaa

    yaaah bikin nangis berapa orang ya ini :’)

  8. #8 by finaladiba on October 29, 2012 - 9:40 AM

    Ihsan :

    Terharu, tulisannya ngalir banget… walaupun cukup banyak orang juga ga bosen bacanya…
    Mungkin kebanyakan orang tua terutama ayah gak pernah memperlakukan kita layaknya putri atau pangeran, tapi perlakuannya itu lah yang kelak membentuk kita menjadi putri dan pangeran

    haha kebiasaan jelek nih kalo nulis suka kepanjangan :”) Anyway, iya bener :)

  9. #9 by rezkyraven on October 11, 2013 - 6:27 AM

    *telat* Baru baca cerita mba yang ini. Dad :((

  10. #10 by Fina Ladiba on October 11, 2013 - 10:16 AM

    Hehehe. Disayang ya papanya :’)

  11. #11 by muhammadilyas on January 31, 2014 - 2:02 AM

    :'((

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 times 5?