Bayar dengan senyuman aja, ya :)


Ketika misalnya kamu memiliki bakat, melahirkan karya, siapa yang kamu harapkan mengapresiasi semua itu setelah tentunya keluargamu? Temen? Temen yang kayak gimana dulu sih. Soalnya ada jenis temen yang kadang malah jadi yang paling tidak menghargai kita, meski dia nggak bermaksud kayak gitu. Oke ini bakal jadi postingan agak curhat sepertinya. Fyuh.

Aku suka nggambar sejak kecil, sampe sekarang. Meskipun itu sama sekali tidak membuat skill gambarku meningkat drastis. Seperti yang mungkin kalian pernah lihat, gaya gambarku ya begitu itu. Kayak gambarnya anak SD. Kekanakan sekali, datar, berantakan. Menyebut diri sebagai ilustrator atau tukang gambar pun sebenarnya aku masih malu. Selama ini aku cukup menggambar untuk diri sendiri aja. Berbeda kasus dengan gambar-gambar produk yang sehari-harinya menjadi makananku dikampus sih ya. Itu mah gaya gambarnya beda lagi.

Ketika beberapa akhirnya memuji bahwa gambarku ‘lucu’, disitu aku mulai percaya bahwa ternyata ada yang menerima dan mengapresiasi karyaku dan itu rasanya menyenangkan. Beberapa teman mulai minta digambarkan karakter kartun untuk dirinya yang aku ingat hingga sekarangpun belum kupenuhi. Diantaranya ada Fuad, Arief, Nuary, Doli, MasJo, dan beberapa lagi yang masih ku ‘iya..tapi entar ya…’ in. Bahkan sejak dulu pengen bikin gambar anak-anak Beswan Surabaya ber-41 aja belom juga. Semoga tidak tertuduh jadi PHP ya~ *ciyum satu-satu*

Aku biasa dimintai menggambar dengan sukarela, memang ikhlas ingin memberi dan membuat orang senang. Beberapa kadang terlalu sungkan dan pada akhirnya memberiku sesuatu sebagai imbalan. Pacar selalu bilang,

Nggak apa-apa  kalo mau gambarin buat temen-temenmu, tapi inget, ketika waktumu untuk yang lain sudah tersita buat menggambar itu, kamu berhak minta imbalan. Jual karya itu gak apa-apa. Masa semuanya gratisan? Kecuali kalo kamu memang lagi lowong, kategorinya jadi iseng-iseng. Tapi ketika menyita waktu, kategorinya jadi kerja. Nyari nafkah“.

Biasanya aku akan mengangguk acuh saja. Menggambar untuk orang itu menyenangkan, tapi kadang menyita waktuku untuk melakukan hal lain. Semua yang dia bilang benar tapi aku masih enggan meminta kecuali diberi untuk sesuatu yang bahkan mencuri waktuku untuk mengerjakan hal lain.

Seperti beberapa waktu lalu, seorang teman menghubungi via telepon, minta dibuatkan karikatur untuk jadi avatar. Aku bilang aku belum bisa menggambar ala-ala karikatur tapi dia bilang tak apa, seperti gambarku yang biasa saja. Aku mengiyakan saja. Dalam fikiranku tentu dia minta gambarkan dirinya sendiri atau pacarnya atau siapalah itu. Dia minta alamat email untuk mengirimkan foto yang dia minta untuk digambarkan.

Selang sehari aku menerima bbm darinya menanyakan kabar gambarnya. Aku menepuk jidat. Mengecek email saja aku belum. Ketika email darinya kubuka aku melongo beberapa detik. Ada 3 file jpeg berisi foto rame-rame dan satu file pdf berisi sekitar 30an foto orang. Dalam hati aku mikir,

Alhamdulillaaah, rejeki. Pas lagi butuh uang dikasih kerjaan gini“.

Aku memastikan foto mana yang harus digambar dan ternyata foto di file pdf itu. Kuteliti satu persatu dan ternyata tulisan berisi keterangan yang ini harus begini dan yang itu harus begitu. Aku belum pernah menggambar sebanyak ini sebelumnya.

Setelah selesai menerangkan padaku bagaimana gambar-gambar itu harus kubuat, dia menambahkan diakhir,

Bisa kan Pin, ya? Pina baik deeeeeeh

Aku mengetik balasan bbm itu dengan cepat,

Bayar ye cus~

Hanya bermaksud memastikan sebenarnya. Gambar sebanyak itu, dengan berbagai kriteria spesifik itu, dengan brief sepanjang itu nggak mungkin dia minta gratisan kan? Nggak kan?

Aku bayar dengan senyuman :)

Ketika kubaca balasan itu aku asli bengong. Lebih lama daripada saat aku pertama membuka email dari dia. What??? Anak ini bercanda kan? Plis bilang kalo ini becanda. Permintaan sebanyak itu? Se-banyak-mau itu? Dengan kalimat menagih kayak nagih utang itu? MINTA GRATISAN?

Aku ketawa. Asli ngakak nggak percaya. Temenku yang satu ini pasti bercanda. Si pacar yang kerjaannya nggambarin muka orang dibayar limapuluh ribu untuk satu wajah. Wajar kalo komplain dan permintaan macam apapun dia layani dengan sabar. Untuk gambar level cetek kayak aku gini jelas aku nggak minta bayaran sebanyak itu. 30 wajah dikali lima puluh ribu? Bisa bayar kuliahku satu semester dan masih sisa dua ratus rebu, bro! Tapi nggak. Karena dia temen, dan gak mungkin ngitungin lima puluh ribu per wajah untuk sekali pesen. Tapi misal dia lebih menghargai aku dengan seenggaknya ngasih aku seribu perak perwajah aja, aku nggak akan sekaget dan se shock ini. Seenggaknya dia ngasih aku sebungkus nasi padang aja udah beda lagi kesannya. GRATISAN? Oh, God.

Ini bukan perkara itung-itungan sama temen. Ini bukan perkara pelit. Ini bukan perkara mata duitan. Tapi ini perkara: plis, man, kamu menghargai aku nggak sih sebenernya? Bukannya temen itu harusnya yang paling mendukung? Bukannya seorang temanlah yang harusnya membayar paling mahal untuk karya temannya biar temennya maju? Bukannya….

Ah. Sudahlah. Mungkin aku yang terlalu sentimentil. Tapi ini serius. Kadang terlalu sakit hati melihat kenyataan bahwa justru orang terdekat kita, temen kita, yang untuk sebuah karya kita malah minta gratisan.

Mari kita beranalogi ngawur. Kamu adalah anak yang pinter bikin cake. Aku, temenmu, minta dibikinin. Dengan keju banyak, stroberi dan coklat disetiap lapisannya, bentuknya harus bundar sempurna, tekstur harus lembut, banyaknya 30 cup, ditagih esok hari, dan ‘Aku bayar dengan senyuman aja ya :)‘. Mungkin sekarang aku sudah mati kau lempar oven.

 

p.s : Bagaimana nasib si ‘teman’ tadi setelah ngirim bbm ‘Aku bayar dengan senyuman :)’? End chat, tentu :|

p.s.s : Buat yang aku masih ada janji gambarin kalian, sabar ya, guys. Tenang, aku nggak minta bayaran kok selama kalian nggak rewel minta ini itu dan nagih kayak rentenir :P *kiss kiss*

 

 

yang lagi ngompres mata pake irisan timun abis nangis,

@Ladibaa

,

  1. #1 by suprayogi on March 10, 2013 - 7:14 PM

    Mindset kebanyakan orang Indonesia adalah menggambar belum menjadi sesuatu yg layak untuk dihargai secara finansial. that’s really bad. Yakali gambar sama dengan minta beliin kerupuk di warung sebelah.

    Tapi masih banyak sebagian yg agak “melek” koks, mereka adalah orang2 yg akan menghargaimu sesuai yg kamu harapkan. #maknyak bijak bangeuuttt uweee. haha

  2. #2 by Finna Ladiba on March 10, 2013 - 9:27 PM

    ayu :

    aku setuju banget sama pacar kamu fin. ketika lowong, itungannya iseng. ketika menyita waktu yah itu namanya kerjaan.
    kita senasib

    huweeeee! iya yu! eh senasib? ternyata aku nggak sendiriannnn T_____T *peyuk*

  3. #3 by Finna Ladiba on March 10, 2013 - 9:30 PM

    suprayogi :

    Mindset kebanyakan orang Indonesia adalah menggambar belum menjadi sesuatu yg layak untuk dihargai secara finansial. that’s really bad. Yakali gambar sama dengan minta beliin kerupuk di warung sebelah.
    Tapi masih banyak sebagian yg agak “melek” koks, mereka adalah orang2 yg akan menghargaimu sesuai yg kamu harapkan. #maknyak bijak bangeuuttt uweee. haha

    iya mas. bener banget itu. beda banget sebenernya sama keahlian bikin kue yang jadi analogi ngawur dibawah itu. hahahah. tapi aslinya kan konsepnya sama. :P

    huweee semoga masih ada yang menghargai profesi tukang gambar ya mas. soalnya kadang jurusanku sendiri banyak yang mencemooh. ‘idih anak desain, kuliah nggambar tok kok ya lama banget, sok stress pula kayak yang susah aja’. DUH. *curcol* :p

  4. #4 by sucilestari on March 15, 2013 - 12:40 PM

    Bukan soal menggambar aja sih menurut gue. Gue kadang mikir pola kekerabatan di kita tuh masih agak gnajil. Kayak kalo misal si A bikin buku, terus karena ngerasa deket, banyak temennya yang minta gratis. Menurut gue, itu gak etis banget. Harusnya karena temen lah, maka harusnya mendukung dengan membeli karya tersebut bukan minta gratis. Gue suka heran kalo ada yang mention artis terus nanya link download, situ okeh ??#sinis.

    Moga aja temen lu itu baca postingan ini ya pinpin :)

  5. #5 by Finna Ladiba on March 17, 2013 - 3:53 AM

    Hahaha setuju abis! Ganjilnya ganjil banget. Makin ngerasa deket malah makin minta gratisan. Mending ngutang.
    Kayaknya sih dia nggak bakal baca kak -___-

  6. #6 by johantectona on March 18, 2013 - 4:50 AM

    gue sih ga minta gratisan ya, tapi cuman minta semacam hadiah aja dari kamu :D | sebagai hadiah atas setiap nomention yang kadang nyebelin, atau juga sebagai hadiah dari “nyepet-nyepet” yang disengaja, atau bahkan dari semuanya yang tak mungkin ditulis disini muahahahhaa

    emangnya lo siapa jo? wakkakaaka

    intinya minta, dengan sangat memaksa dan tidak bisa ditunda!!

    heheheeee :D mana pin mana gambarnya!!!!

  7. #7 by Finna Ladiba on March 18, 2013 - 9:38 AM

    HAHAHA. sebagai salah satu senior paling berjasa se-beswan raya kamu emang layak dikasih hadiah mas. aku pasti ngasih sih tapi gatau kapan~ syududududu

  8. #8 by Nuary on May 19, 2013 - 7:28 AM

    Oh, si Nuary juga belom dibikinin toh? Emang dia pernah bilang minta gratisan? Jangan dibuatin lah yah klo mau gratisan gitu mah.. hahaha

  9. #9 by Fina Ladiba on May 19, 2013 - 7:53 AM

    Ahahahhahaha udah sih tapi belom selese diwarna. Males gue :P Gaapa apa gratisan kalo gue seneng sih.

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?