Bencana Bejana


Aku selalu percaya bahwasanya setiap manusia, sebebas apapun, selalu punya batas. Bahkan langit dan laut yang sepertinya tak berujung pun. Setidaknya bagi indera penglihatan kita. Masing-masing kita adalah sebuah lingkaran, yang bisa saja terisi, bisa saja lengang. Setiap saat dia bisa saja terlalu luas untukmu sendiri atau justru terlalu sesak hingga membuatmu tak bisa bernafas.

Kupikir aku tengah berada di batas itu.

Pada titik terjauh lingkaranku. Dimana meski kucoba bergerak, melangkah , yang kulakukan tak ubahnya hanyalah apa yang dilakukan jarum detik pada jam dinding: berputar, disekeliling garis terluar lingkaran itu. Aku telah sampai pada batas itu.

Apa yang kau pikir sedang kulakukan saat ini? Tepat. Aku sedang telungkup bertumpu kedua siku, mengetik, di atas single bed yang selalu menjadi tempat pelarian dan persembunyianku. Tentu lampu kamar kumatikan. Hingga sempurnalah wajahku tersorot cahaya dari layar komputer jinjing ini. Dan, yeah. Badanku masih saja panas, kalau kau mau tahu. Bahkan paracetamolpun mengkhianatiku.

Banyak sekali hal di dunia ini yang tak berjalan sesuai kehendak dan rencanamu. Terlalu banyak malah. Ekspektasi adalah alat pembunuh paling kejam, kalau kau belum tahu. Dan dia telah membuatku mati berulang kali. Termasuk kali ini.

Segalanya selalu datang dan pergi. Untuk itulah ada pintu. Tapi karena pintuku telah kulepas dari engselnya, maka tak masalah. Setidaknya tak ada seorangpun yang akan membantingnya ketika berbalik pergi, bukan?

You know? Kadang aku sendiripun tak mengerti apa yang sedang kulakukan. Apalagi menebak apa yang sebenarnya terjadi dalam konspirasi antara otak, hati dan tubuhku. Namun kali ini aku bersyukur. Untuk segala hal yang membuatku begitu penuh. Aku belakangan amat percaya bahwa kita adalah sebuah bejana pejal. Apapun yang mengisinya hingga penuh tak akan mampu membuatnya menampung hal lain lagi. Sesuatu yang telah tumpah keluar darinya tak akan pernah bisa masuk tanpa mengeluarkan yang lainnya terlebih dahulu.

Dan aku bahagia. Betapa semua kesibukan dan beban pikiran atas ‘hal lain yang lebih penting’ membuat ‘hal kurang penting’ tak bisa masuk dalam bejanaku. Aku hanya sangat berharap bahwasanya tubuh dan perasaanku tak akan cepat habis obat biusnya. Karena aku mulai khawatir kalau-kalau ‘hal kurang penting’ itu mendesak masuk, berhasil, dan membuat segala keteraturan dan kehening-nyamanan bejanaku menjadi rusak.

Baiklah. Aku lagi-lagi menulis sesuatu yang tak beraturan dan tanpa suntingan.

Ah, ya. Akan jadi apa sebuah rumah tanpa pintu?

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 + 2?