Dialogue: Makara & Kayana #3


Ra, kamu kapan wisuda? Aku tadi malem mimpi foto sama kamu pake toga \(^o^)/. Selamaaat. Selamaaat.

Semester depan dong.

Amiiin.

Haha. Kamu ngingetin aku buat segera menyelesaikan. Thanks ya. Btw aku ada film yang pengen kamu tonton. Into the wild.

Mauuuu. Ayok nonton.

Yok. Aku ambil dulu dikampus.

Kapan?

Besok aja. Ato aku kasih kamu filenya aja?

Jangan besoook. Emoh nonton sendirian.

Iya iya.

Yeiy~

Ngapain statusmu selamat senen, Na? Belum Senen.

Suasananya udah Senen.

Suasana masih Minggu.

Enggak,

25 Januari temen gue wedding. Time flies.

Uwoaaaa

Di Bali

Ah, temen gue malah anaknya udah gede

Dan bingunglah saya kesana sama siapaa~ Temen SMA. Satu angkatan.

Halah. Bilang aja mau ajak Agni.

Gue nggak bilang lo yaaa.

Gue mengutarakan isi hati elu yang terpendam doang kok.

Gue juga gak berpikiran lho yaaa

Ah gak mungkinnnn

Gua ajak yang lain aja

Yakiin?

Iya. Atau ya nggak balik.

Dih. Ntar tau-tau sama Agni aja.

Enggak kok enggak.

Iya juga nggak masalah kan

Enggak kok enggak

*jitak*

Hahaha. Mandi dulu ah. Ntar aja dipikirin. Ah nggak moooooood. *guling guling dengan celana panjang dan sweater* Hmmmm..i love sweater

Gih mandi duluu. Ga enak tidur pake celana panjang. *seret ke kamar mandi*

I need new sweater

Ya beli

Ntar nabung dulu. Hiks.

***

Besok ikut nonton 5cm yuk. Sama anak-anak. Sunny mau beli tiket tuh.

Yuk deh.

Yeiyyyyy.

I made something last nite.

Apa?

Rumahku rumah angan-angan. Terdampar di lorong jalan, tenggelam di lautan. Rumahku rumah angan-angan. Tertimbun di bebatuan, terbang keatas awan. Rumahku rumah angan-angan. Benderang penuh kenangan, temaram dalam kutukan. Rumahku, rumahmu. Diam bagai batu. Satu titik dua titik. Laba-laba cantik menyulam pelan dalam rintik. Bongkahan mana lagi menghunjam dinding kita? Satu purnama lagi dan kita satu. Rumah itu ada, rumah itu kamu! Rumahku rumah angan-angan. Maukah kau tinggal bersamaku?

Bagus :D

Nih aku bikin lagi: Deru peluru itu bernama rindu. Satu selongsong tak cuma satu. Kau hujamkan satu persatu padaku. Pertama kau lepaskan, perih. Kedua kau lepaskan, luka. Ketiga kau lepaskan, mati. Namun peluru itu tak cuma satu. Jangan kau bunuh yang lain dengan itu.

Aaaaaaaakkkk!!!

Aku menghentikan idiomasi. Jalan setapak membirukan hibernasi. Ah, televisi ini begitu berisik. Koran-koran terbang dalam gemerisik. Satu batang, ini saja. Lalu akan kubakar sajak-sajak. Kularung bersama suka duka.

Hmmmm..

Manusia tanpa hati jangan kau goda aku. Aku berpendidikan, tapi kamu telanjangi aku. Manusia tanpa hati, jangan lagi kau setubuhi aku. Aku menikmatinya, rintihmu, rintihku. Manusia tanpa hati, jangan kau cium aku. Aku mendesah, aku pasrah. Tapi hatimu bersenggama dengan wanita lain.

Semua sajakmu aku copy di memopad. Hahaha

Sebelum aku bakar.

Lagi! Lagi!

Kasih ke Agni juga percuma.

Here we go agaaaaiiiin…

Iyadeh enggaaak. Males buang waktu untuk hal nggak prinsipil.

Ahsek

Setidaknya aku nggak bergantung sama orang lain

Nyindir? *keplak* Mana lagiiii?

Kamu mau memerkosa imajinasiku sampe mana? Kamu mau imajiku orgasme berapa kali? Bawakan aku sesajen, konon itu obat kuat inspirasi.

Aku kali ini ingin pasrah saja. Menyesap tetes demi tetes kalimat yang keluar dari fikirmu.

Lalu tetes itu keluar dari pori kulitmu kemudian terseka oleh sapu tanganmu?

Lebih mungkin dia keluar dari mata, dengan sedikit haru didada, namun bibir terbuka. Tertawa. Suka.

Lalu tanganmukah atau tangannya yang akan menyeka?

Aku lebih ingin tanganmu. Mungkin.

Meskipun jemari kedua tanganku menggenggam jemari dua wanita berbeda?

Kau masih bisa menyekanya dengan bibir. Tak masalah buatku.

Maka biarlah bibirku merajut sapu tangan senyum itu.

Haha :D

Sajakku itu sepi, jangan kau lepas di keramaian. Aku takut nanti dia kesasar. Sajakku itu malam, jangan kau jemur di terik. Aku takut nanti dia hitam.

Akan kutemukan segera. Kau tau cintaku punya semacam radar. Pun teduhku, adalah tempatnya bernaung.

Sebaliknya sajakku itu peta, biar ia bermanfaat kala sepi, lebih diperhatikan. Sajakku itu bintang, tak kelihatan jika siang.

Hai, Tuan. Lupakah kau matahari pun bintang?

Aku malu, tak mau terang sendiri, aku mau terang saat malam. Sama-sama. Itu hangat.

Itu dingin, Tuan. Malam tak pernah hangat, rasa-rasaku.

Aku berharap ada seribu lilin saat malam, akan lebih terasa hangat. Alih-alih sepercik api saat siang. Panas. Aduh aku lupa belajar kuis besok -__-

Bahahahahha. Yasud belajar sono.

Tidur aja deh.

Menyenangkan sekali yaa

Nggak mood.

Yaudah bapak jenius, tidur saja.

Ah aku berharap nggak perlu tidur

Jadilah vampire

Yes. I will.

***

Lihat, Agni. Makara sekarang bertambah-tambah urat puitisnya. Kau bacakah sajak-sajak itu? Dia luka. Kayana memang masih disampingnya, menyambut sajaknya, menemani kesahnya. Tapi luka itu? Kayana tak bisa berbuat apa-apa.

, , ,

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 multiplied by 5?