Diorama Patra Janaloka


 

 

Aku patung, mereka patung

Cangkir teh hangat namun kaku dan dingin

Meja-meja kayu mengkilap

Wajahmu dibasahi air mata yang dilukis


Tubuh kaku tidak bergerak

Ingin hapus air matamu tapi aku tak bisa

Patung-patung kayu mengkilap

Pikiran mereka kosong memikul peran


Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia

Tapi kita dalam diorama

Harusnya sisa masa ku buat indah menukar sejarah

Tapi kita dalam diorama

Diorama, diorama

Sakit hatimu karena aku

Sakit membekas dalam, jadi bagian sejarah

Tak ada kesempatan untuk berkilah

Untuk selamanya masa itu menguasaimu


Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia

Tapi kita dalam diorama

Harusnya sisa masa ku buat indah menukar sejarah

Tapi kita dalam diorama

 

(Tulus)

 

Layar dibuka

 

Bandara Soekarno-Hatta, suatu siang.

 

Bunyi sepatu berhak runcing milik Adinda berkelotakan beradu dengan lantai terminal keberangkatan domestik bandara Soekarno-Hatta. Aku di belakangnya, berusaha menjejeri sambil menarik koper kecil milikku.

 

“Adinda! Tunggu!”

 

Perempuan dengan seragam pramugari salah satu maskapai penerbangan nasional itu hanya menoleh sekilas saja ke arahku namun tak berhenti berjalan cepat. Kukejar langkah-langkah kaki jenjangnya yang terbalut rok berbelahan tinggi. Kutarik tangannya agar aku bisa bicara. Agar semua ini bisa jelas. Sekalipun tak berakhir seperti yang kuharapkan, aku tak ingin Adinda membenciku. Sekalipun kali ini adalah terakhir kalinya. Sekalipun perempuan bermata cokelat itu melihatku dengan tatapan benci. Sekalipun tak ada yang bisa kami lakukan lagi selain pasrah dan berpisah.

 

“Adinda. Ini yang terakhir kali. Aku janji. Kumohon dengarkan aku dulu. Sebentar saja kuminta waktumu,”

 

aku memegang kedua bahunya erat.

 

Dia menoleh kearah keramaian di sekitar kami. Matanya memicing akibat terik mentari.

 

“Tiga menit. Aku harus bersiap untuk penerbangan ke Medan sebentar lagi,”

 

bibir yang terpoles merah itu kini tak manis lagi tumpahan katanya.

 

“Kau tahu Adinda, aku beristri. Anakku masih kecil. Aku tak mungkin menikahimu. Tapi aku janji, kutanggung semua biaya abor…,”

 

PLAK! Sedetik kemudian yang kurasakan hanya perih. Tidak hanya di pipi, tapi juga di hati. Aku tahu benar ini tak betul. Apa yang kami lakukan salah. Tapi semua telah terlanjur. Hampir tak ada yang tersisa di bagian atas jam pasir kami. Tak ada lagi yang bisa mengeraskan bubur menjadi kembali nasi.

 

“Jangan pernah kamu berani sebut kata-kata itu lagi di depanku, Lex. Kembalilah ke pelukan istri dan anakmu. Tak perlu kau urus aku. Jabang bayi di perutku ini adalah anakku saja dan akan kulahirkan dia ke dunia. Tak perlu ia tahu jika ia punya bapak bajingan seperti kau.  Jangan pernah datang lagi ke hadapanku. Urusan kita sudah selesai.”

 

Adinda menarik kembali kopernya. Meninggalkanku yang terdiam menatap nanar kearahnya. Berjalan menjauh dengan tegar dan tak takut apapun. Aku tahu sedari dulu bahwa Adinda wanita yang kuat. Hatinya kokoh sebagai beton penyangga bangunan yang tak mudah roboh. Menopang dirinya untuk menapak lebih teguh diatas tanah.

 

Adalah aku yang kali ini menjadi laki-laki yang mungkin paling dibencinya di dunia ini. Alexo, pilot partner Adinda di maskapai tempatnya bekerja. Ini sehari setelah ia menunjukkan hasil dua garis positif mengandung di sebuah test pack padaku. Sehari setelah kebingunganku membuatnya muak. Sehari setelah aku tersadar bahwa aku telah menyeret Adinda ke dalam cerita kelam. Ke gerbang masa depan suram.

 

Sedangkan ia kali ini adalah Adinda Pratiwi. Perempuan yang  minta kunikahi. Anak itu ingin ia lahirkan ke bumi. Tapi aku punya anak istri yang tak mungkin rela berbagi.

 

Kisah kami begini sakit tiada terperi.

 

Layar ditutup.

 

 

***

 

Janaloka nama perempuan itu. Sedang kalut. Mukanya tertekuk cemberut. Diberantakkannya apa yang sudah ia susun di atas meja besar tempat ia biasa bekerja. Kemudian dilemparkannya badannya ke atas kasur. Ia ingin tidur.

 

Isi kepalanya tak jernih. Kalut berwarna abu-abu bergulung disana layaknya lumpur yang mengeruhkan air. Ditatapnya lagi meja besar yang berserakan dengan semua peralatan gunting tempel yang sedari tadi ia tekuni, Mengerutkan kening kesal kemudian membalikkan badan. Menenggelamkan dirinya ke dalam selimut dan bantal. Berharap bisa tidur dan ketika bangun segalanya sudah baik-baik saja.

 

***

 

“Hey… Sssssst. Puan! Puan! Sini!”

“Apa, Tuan?”

“Belakangan ini selalu cerita sedih, ya!”

“Iya. Mungkin ia sedang sedih. Maaf tadi aku menamparmu, Tuan. Aku tak bermaksud…”

“Ssssst sudahlah. Aku mengerti itu bukan maumu. Biar saja. Kita berdoa saja agar segalanya membaik lagi, ya!”

“Iya. Pasti ini ada hubungannya dengan kesendiriannya beberapa hari ini, Tuan. Memang begitu perempuan.”

“Hah! Aku pikir juga demikian!”

 

***

 

Layar dibuka.

 

Dunia Fantasi Ancol, suatu sore.

 

“Kamu kok datengnya lama?”

 

Ia kini jadi Delima. Perempuan cantik nan manja. Dan aku Tito, kekasihnya. Oke, kuharap begitu. Tapi tidak. Ia sahabatku.

 

“Maaf cantik…aku pikir tadi kamu nunggunya di deket komidi putar. Eh ternyata disini lagi makan popcorn. Hehehe…,”

 

aku mencoba membuatnya kembali tersenyum.

 

Berhasil. Senyum itu mengembang manis di wajah mungilnya. Ah, Delima. Selalu aku dibuatnya tergila.

 

Dia lalu menggamit lenganku, menggandengnya, kemudian menarikku agar berjalan bersisian dengannya. Betapa cantiknya ia hari ini. Dress selutut bermotif polkadot berwarna fuchsia dan cardigan warna senada. Rambutnya yang lurus pendek ia tutupi sebagian dengan topi rajutan yang juga berwarna pink. Meski terlihat pucat, ia tetap cantik di mataku.

 

“Kita kemana dulu nih, To, enaknya?”, Delima menggelendotiku sambil berjalan.

 

“Terserah kamu. Kan kamu yang pengen kesini,” aku menjawab sambil curi-curi mengecup puncak kepalanya yang tertutup topi.

 

“Ah, iya ya. Haha. Kalo gitu aku cuma mau naik bianglala sama komidi putar aja. Abis gitu kita keliling semua wahana tapi nontonin orang doang! Gimana? Hahahaha,” Delima berujar sambil tertawa.

 

“Lho? Gimana sih kamu itu. Hahaha. Yaudah… Eh tapi kamu beneran udah izin mama papa kan mau kesini? Gak bakal dimarahin kan?,” aku memastikan.

 

“Nggak lah, To. Aku kan udah sembuh. Niiiiiih, kalo gak percaya niiiiiih aku lompat-lompat niiiiih…,”

 

jawabnya sambil melepaskan lenganku dari pelukannya dan mengambil ancang-ancang mau berjingkrak di tengah keramaian.

 

Aku langsung menariknya kedalam pelukan sambil tertawa. Ia pun tertawa geli. Ah, Tuhan. Betapa aku mencintai perempuan ini…

 

“Tuh kan, kamu yang nggak berani liat aku loncat-loncat kaaaaan? Bweeeek,” Delima mencubit hidungku sambil terkikik geli.

 

Aku hanya tertawa mengusap kepalanya. Anak ini memang selalu ada-ada saja tingkahnya.

 

Kami menuju bianglala saat tiba-tiba Delima berkata ingin meminjam telepon genggamku.

 

“Buat apa?,” tanyaku heran. Tapi kuserahkan juga benda pipih itu ke tangannya.

 

Kulihat ia kemudian menekan tombol power. Ia mematikan alat itu kemudian menyerahkannya kembali padaku.

 

“Biar nggak ada yang ganggu kita jalan, To. Aku juga udah matiin nih. Hari ini mau jalan sama Tito sampe puaaaaas. Kan aku udah lama banget nggak jalan-jalan gini. Udah yuk ke bianglala yuk!,” Delima menyeretku mengikuti langkahnya yang riang.

 

Aku menggeleng lagi. Delima hari ini benar-benar aneh. Tadi tiba-tiba menelponku dan mengajak bertemu disini. Dia bilang dia sudah sembuh dan sudah boleh jalan-jalan.

 

Sudah berapa bulan ini Delima dirawat di rumah sakit. Waktu itu ia terpeleset dari tangga rumah dan kemudian tak sadarkan diri hingga beberapa hari. Mengalami pendarahan otak dan sempat lupa ingatan. Untungnya sekarang ia sudah sembuh.

 

Aku baru kemarin malam tiba dari Semarang. Menyempatkan diri menjenguk Delima ditengah kesibukan semester akhir kampusku. Belum sempat kuhubungi, ia sudah menghubungiku duluan. Mengajak ke Dufan. Berdua saja.

 

Delima itu sahabatku dari kecil. Hingga SMA kami selalu bersama. Baru saat aku diterima di salah satu universitas di Semarang saja kami kemudian berpisah.

 

Sesungguhnya sejak lama aku mencintai Delima. Namun sepertinya ia hanya menganggapku kakaknya.

 

“Titoooooo! Ayoooo! Antrinya lumayan panjang lho! Liat deh,” Delima menunjuk antrian pengunjung yang ingin menaiki bianglala di depan kami.

 

“Iyaaaa. Udah yuk ikutan antri!,” aku menggamit lengannya.

 

Hari sudah gelap ketika itu. Tapi bukankah naik bianglala memang lebih indah ketika malam tiba? Memandang tiap sudut Jakarta dari ketinggian. Gerak cepat lampu kendaraan di jalan yang menciptakan garis-garis cahaya tak putus-putus. Delima menyukai bianglala. Aku menyukai segala yang disukai Delima.

 

Kami akhirnya naik juga. Delima melonjak lonjak gembira. Sejak saat kami mulai merangsek naik keatas, hingga tiba di puncak bianglala, wajah Delima tak henti memancarkan ekspresi berbinar bahagia. Ramai celotehannya tentang kota Jakarta malam hari. Cahaya lampu yang menyatu cahaya bintang, seperti kunang-kunang. Ia berkata ingin terbang.

 

Ketika pada akhirnya ia tiba-tiba duduk terdiam di sisiku, aku merasakan beberapa detik kesunyian yang ganjil.

 

“Dingin?,” tanyaku ketika ia merapatkan tubuhnya ke sisi tubuhku.

 

Dijawabnya dengan anggukan. Aku membuka kemeja flannel yang melapisi tshirtku, memakaikannya ke tubuh mungil Delima. Ini putaran entah keberapa. Aku tak ingat. Yang aku tahu, Delima kini memelukku erat. Erat sekali.

 

“Delima…? Kamu nggak apa-apa kan? Kok tiba-tiba diem begini?,” aku bertanya sambil mengangkat wajahnya ke hadapanku.

 

Dia melihatku dengan tatapan sayu. Wajahnya terlihat lebih pucat.

 

“Makasih, ya, To. Kamu udah nemenin aku kesini. Waktu di rumah sakit, aku berkali-kali mimpi naik bianglala. Tapi sama kamu…,” Delima berujar lirih.

 

Aku mengusap punggungnya sambil tersenyum.

 

“To…aku pusing….lemes, To…,”

 

Aku mulai merasa ada yang tidak beres.

 

“Kamu kenapa, Del? Sakit apanya? Pusing banget ya? Del… Kamu jangan bikin aku takut, dong,” kupegang erat kedua bahunya hingga tubuhnya yang mendadak lemah itu tepat berada di depanku. Mata coklat itu terlihat lebih redup.

 

“To… Aku sayang kamu….,”

 

Deg! Jantungku berdebar tak karuan. Delima…

 

“Aku udah lama, To, sayang sama kamu. Tapi kamu jauh banget. Kemarin aku denger dokter bilang ke mama papa kalo aku gak bakal bisa bertahan lebih lama lagi. Aku takut, To. Aku takut nggak bisa ketemu kamu lagi….,”

 

Delima menyurukkan wajahnya di leher dan bahuku. Ada sesak di dadaku yang begitu menekan hingga membuatku sulit bernafas. Apa artinya semua ini???

 

“To… kalo misalnya nanti aku udah nggak ada, kamu jangan lupain aku ya? Aku tau kamu cuma anggep aku adek. Tapi aku pengen kamu tau. Nggak lebih. Karena aku gak mungkin nyimpen ini lagi tanpa ada yang tau. Maaf, aku bohong. Aku tadi kabur dari mama papa. Mereka nggak tau aku disini sama kamu. Makanya aku matiin handphone…”

 

Delima… Kamu tak kuizinkan meninggalkan aku ketika kebahagiaan baru saja kau beri lewat kata-katamu barusan… Astaga Delima, apa yang kau lakukan??? Aku pasti akan dibunuh mama papa!

 

Sementara tak satu patah katapun terucap dari bibirku dan dingin langit Jakarta membuat beku, tubuhmu menjadi begitu kaku dalam pelukku. Tidak, Delima! Tidak sekarang!

 

***

 

 

GRUBYAK!!!

 

Janaloka mengibaskan tangannya ke susunan bentuk-bentuk dari gabus di atas meja. Berhamburan sudah pekerjaannya berjam-jam itu. Sebuah kain hitam ia campakkan menutupi semua berantak yang telah ia sebabkan. Kemudian terduduk ia dalam sedu sedan.

 

Patra…. Aku tak bisa…

 

***

 

“Tuan… Tuan!”

“Sudah kubilang. Lagi-lagi kesedihan. Tragedi!”

“Harusnya tak begini. Aku bosan, Tuan! Karina & Beno, Citra & Faisal, Adinda & Alexo, Delima & Tito, semua berakhir tragis!”

“Sabarlah sedikit, Puan. Sebentar lagi. Aku yakin semua ini akan berakhir. Kita tunggu saja.”

 

***

 

Pintu membuka. Seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan rambut hitam agak bergelombang masuk. Dipunggungnya sebuah ransel hitam dan ditangannya ada bungkusan  besar berisi gabus, kertas krep dan berbagai barang temple menempel lainnya.

 

Diletakkannya tas dan semua bawaan di atas sofa. Dilihatnya sekeliling ruangan. Betapa berantakan. Dilongokkannya wajahnya kedalam kamar. Janaloka pulas dalam pelukan selimut dan bantal.

 

Lelaki itu tersenyum menghampiri perempuan yang sedang tidur pulas membelakanginya itu. Naik kemudian ia ke tempat tidur, memeluk tubuh mungil kecintaannya. Dikecupnya belakang kepala perempuan itu sambil berbisik,

 

“Jana… Sayang… Aku pulang…”

 

Perempuan yang tidurnya terusik itu terbangun. Menggumamkan suara tak jelas sebelum akhirnya menyadari bahwa suaminya sedang memeluknya.

 

Masih dengan mata yang setengah terpejam Jana berujar dengan nada tanya,


“Patra? Kamu… Kamu kapan pulang?”

 

Akhirnya berhasil dikumpulkannya kesadaran seutuhnya kemudian balas memeluk suaminya yang masih berpakaian lengkap, bahkan bersepatu itu.

 

“Barusan, Sayang… Kamu kenapa kok sampe berantakan gini rumahnya? Hm?,” Patra, lelaki tampan itu mengelus rambut Jana lembut sambil mengecup keningnya.

 

“Aku sebel! Kamu pergi dua hari kayak dua abad rasanya! Aku nggak bisa kerja, Tra! Dioramaku berantakan semua! Yang aku hasilkan cuma cerita sedih! Kemarin aku mendandani Puan dan Tuan sebagai pramugari & pilot yang terlibat skandal. Lalu menjadi dua remaja yang saling cinta tapi salah satunya mati! Semua kubongkar lagi! Apa artinya dioramaku tanpa ceritamu, Tra! Aku benci!”

 

Jana merengek sambil memukul pelan suaminya. Yang dipukul hanya tersenyum-senyum kecil.

 

Patra dan Janaloka adalah pasangan unik. Patra suka melucu dan membuat cerita lucu yang romantis. Sementara Jana suka menggambar dan merangkai diorama dari cerita-cerita yang ditulis Patra. Cerita Patra dan diorama Janaloka adalah paket menikmati cerita cinta yang romantis dan jenaka paling unik sedunia.

 

Tuan dan Puan adalah boneka laki-laki dan perempuan yang menjadi tokoh sentral dalam setiap cerita. Yang akan didandani Jana sesuai dengan peran mereka dalam cerita Patra.

 

Dua hari ini Patra keluar kota untuk mengisi seminar sebuah acara kampus, dan Jana, istrinya yang manja itu sudah kelabakan saja ditinggal suaminya. Perempuan melankolis itu akan memburuk moodnya ketika menjelang datang tamu bulanan, apalagi jika Patra tak ada disampingnya. Uring-uringanlah  ia.

 

Saat Patra tak ada, Jana mencoba mengarang cerita sendiri dan membuat diorama dari ceritanya. Namun hormon dan melankoli sepertinya bersekongkol mengerjainya. Ia hanya bisa menuliskan kesedihan. Cerita cinta dengan akhir pedih yang menyakitkan. Padahal ia ingin membuat cerita yang manis.

 

Sejak menikah tujuh tahun lalu, mereka masih saja berdua. Belum ada tanda-tanda aka nada Janaloka atau Patra kecil mengisi hari-hari mereka. Namun mereka tak pernah berkesah. Karena bagi mereka, satu sama lain sudah lebih dari cukup. Urusan anak biar Tuhan yang punya kerja.

 

 

Bagi Janaloka, Patra adalah penyeimbangnya. Kesenduannya dibalas keceriaan Patra. Manjanya dipeluk sabar dan kasih Patra. Keseriusannya diimbangi jenaka Patra. Jana tanpa Patra timpang. Seperti meja hilang kaki. Seperti siang hilang mentari. Maka mereka berikrar bersama hingga mati.

 

“Yaudah…jangan nangis dong, cantik. Masa suaminya pulang ditangis-tangisin begini, sih? Besok aku bikin cerita baru ya, biar kamu bisa bikin diorama yang manis lagi…,” Patra mengusap pipi istrinya yang jelita itu penuh kasih.

 

Jana tersenyum dan mengangguk.

 

“Dipeluk lagi dong. Katanya kangen…,” Patra merentang tangan menggoda Jana yang sedang mengusap airmata.

 

“HAP! Aku gulingiiiiiiiiiin!,” Jana tiba-tiba memeluk Patra sambil melingkarkan kakinya di pinggang suaminya itu. Mereka tertawa bersama. Sebelum disadarinya sesuatu yang akan membuatnya meledak lagi .

 

“Eh, kok sepatunya belom dibuka, sih?? Ini juga bajunya belom ganti piyama! Pasti dari luar langsung kesini ya?! Ih Patraaaaaaaaaa kebiasaan iiiiiiiih!,” Jana melepaskan pelukan dan mengomeli suaminya yang langsung bangkit dan berlari untuk menghindari cubitan dan omelannya.

 

“Iyaaaaaaaaa ini digantiiiiiiiii! Kan tadi mau kangen-kangenan duluuuuuuuu. Hahahahahaha,”

 

“Patraaaaaaaaaaaaaaaa ini tasnya kok ditaroh atas sofaaaaaaa! Pintunya juga gak kamu kunci! Ih dasaaaaaaaaaaaar!”

 

Rumah itu riuh kembali. Tapi bukan oleh suara diorama gagal yang dibanting Jana, melainkan oleh cinta.

 

***

 

“Hihihi!”

“Apa kubilang, Puan! Cuma sebentar kesedihan itu! Jana memang manja. Mana tahan dia ditinggal Patra. Makanya sedih dan kelabu dimana-mana!”

“Iya, Tuan. Setelah ini kisah kita pasti manis lagi ya?”

“Pasti!”

 

Layar ditutup.

 

***

 

 

25 Juni 2013,

 

@Ladibaa,

 

Terinspirasi lagu Diorama oleh Tulus :))

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 3 times 7?