Disapih*


Disapih

 

Adalah dendam tak terucap

Rahasia yang tak terungkap

Inikah perih yang tertahan

Hingga ku tak sanggup melawan?

 

Adanya aku pernah diminta

Sosok terindah yang dipuja

Kini lepas jauh terhempas

Karena mu kan terbang bebas

 

Cintaku dicela

Rasa dilupa

Olehmu

Dan aku disapih

Perlahan jadi buih

Olehmu

 

(Mian Tiara)

 

“Jadi sekarang kamu sama Opal putus lagi, Kin?,” seorang gadis berkacamata dengan rambut pendek sebahu yang sedang menyeruput segelas frappucino itu bertanya pada teman di sebelahnya.

 

Kinnara, perempuan yang ditanya, membuat ekspresi acuh di wajahnya. Mengiyakan. Dua alisnya yang melengkung sempurna dinaikkan, bibir mungilnya mencibir kebawah, kedua bahu diangkat. Kelihatan benar ia tak peduli.

 

Masih dengan pandangan mata kearah layar smartphonenya, Kinnara menambahkan,

 

“Sebentar lagi juga dia bakal merengek minta kembali, Far. Kamu seperti baru kenal Opal saja.”

 

Selesai kalimat itu keluar dari mulutnya, diangkatnya gelas orange juice pesanannya. Diseruputnya dengan anggun.

 

Fara, gadis berkacamata sahabat Kinnara itu menggeleng prihatin. Dialihkannya pandangannya dari layar laptop kepada Kinnara yang sedang terkikik geli. Sibuk membalas pesan dari entah siapa di messenger smartphone-nya.

 

“Kin, kamu mau sampai kapan menyia-nyiakan Opal seperti ini? Kamu kan tahu sendiri betapa tulusnya dia sama kamu. Bolak-balik kamu berkhianat tapi dia tetap maafin kamu lagi, kan? Aku dengar kali ini dia yang mengakhiri. Benar begitu?,” Fara bertanya dengan mimik serius.

 

Kinnara yang awalnya tak acuh tiba-tiba menunjukkan ekspresi terganggu dan kesal. Diletakkannya smartphone yang sedari tadi tak lepas dari genggamnya itu keatas meja. Tangannya bersidekap. Dijawabnya pertanyaan Fara dengan sinis,

 

“Kamu kenapa sih, Far? Aku tak berkhianat. Aku hanya bosan makan bakso dan ingin mencicip soto ayam, nasi padang, rujak cingur… Emang kamu bisa makan bakso terus seumur hidup? Nggak kan?”

 

Fara menatap Kinnara tak percaya. Sahabatnya itu pasti sudah gila. Manusia kini ia samakan dengan makanan.

 

“Dan, iya. Opal yang minta aku mengakhiri hubungan ini. Apa bedanya? Toh selama ini aku yang mengakhiri, dia tetap menerima aku kembali, kan? Dia pasti menyesal lebih-lebih kali ini karena memutuskanku. Kita tunggu saja. Kau tak perlu melihatku takjub seperti itu, Far. Kau mau menyalahkan aku?,” Kinnara menambahkan dengan kesal.

 

Fara menghela nafas. Membereskan laptopnya seraya berujar, kali ini dengan nada pelan, “Kin, kita manusia seringkali buta. Tak merasakan betapa berharganya seseorang. Sampai kemudian orang itu pergi meninggalkan kita, dan tak kembali.”

 

Kinnara diam melirik sahabatnya yang beranjak bangkit dari duduknya itu.

 

“Aku duluan, ya. Ditunggu Pak Bar. Asistensi judul. Kamu hati-hati ya, Kin,” Fara pamit seraya menempelkan pipi kanan dan kiri selayang sebelum ia akhirnya berlalu dari café tempat mereka berdua bercengkerama dua jam belakangan.

 

Tinggal Kinnara sendiri. Diam memperhatikan punggung Fara yang menghilang dibalik pintu kaca café, tertelan lalu lalang manusia di luar sana. Ia menelaah lagi kalimat-kalimat Fara dalam otaknya.

 

Namun tak lama. Sedetik kemudian ia kembali memasang tampang tak acuh. Membereskan buku catatan di meja dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian beranjak keluar café pula. Ke arah berlawanan dari Fara.

 

***

Kinnara sedang duduk di hadapan meja riasnya. Terpantul disana bayangan perempuan jelita dengan fisik nyaris sempurna. Putih, rambut lurus panjang yang hitam berkilauan, mata indah, alis sempurna, hidung bangir dan bibir mungil. Bukankah Kinnara adalah definisi cantik paling umum bagi manusia?

Ya. Dan dia sadar betul hal itu.

Opal adalah kekasihnya sejak masih mahasiswa tingkat satu. Laki-laki periang yang suka melucu itu memperlakukan Kinnara bak harta paling berharga. Dicintainya hingga titik darah penghabisan! Begitu ia sering menyeletuk sambil tertawa. Dibalik keceriaannya, Opal adalah lelaki penyabar yang sangat pengertian. Tak gampang marah. Terlalu tak macam-macam. Tak pernah sekalipun ia berpaling pandang kepada lain perempuan. Seperti bulan yang tercipta mengitari bumi hingga kiamat nanti, begitulah Opal kepada Kinnara.

Kinnara merasa tersanjung. Baru sekali ini ada yang mencintainya sebegitu besar. Melindunginya. Hanya Opal yang tau betapa sesungguhnya Kinnara adalah boneka poselen yang rapuh dan mudah pecah. Ia adalah tuan putri yang biasa dipuja. Bertindak semaunya. Egois dan manja.

Tapi Opal terlanjur cinta. Tak bisa ia tanpa Kinnara.

Lalu cintakah betul Kinnara pada Opal? Tak pernah ada yang tahu. Hanya Kinnara pemilik rahasia itu. Orang-orang lebih melihat Opal sebagai pengasuh anak, atau lelaki bodoh yang diperalat. Opal biasanya tak peduli.

Tapi tidak kali itu.

Beberapa hari yang lalu. Di parkiran kampus. Kinnara menunggu dijemput Opal. Opal biasa mengantarnya pulang pergi kampus.

Ketika Opal datang, Kinnara bergegas masuk mobilnya dan menghempaskan pintu. Kesal.

“Kamu kenapa lama sekali? Bisa hitam aku lama-lama menunggu di situ!,” Kinnara merepet.

Opal membelokkan mobil keluar gerbang kampus.

“Maaf. Tadi macet,” Opal menjawab dengan pandangan masih lurus ke depan.

Nada suaranya dingin. Kinnara menyadari itu kemudian menoleh kearah kekasihnya.

“Kamu kenapa? Tumben sekali pendiam begitu.”

“Kamu kemarin sama siapa ke Kuro’s Café?”

Pertanyaan dibalas pertanyaan. Ini bukan pertanda baik. Pikir Kinnara.

Gugup dijawabnya pertanyaan singkat Opal,

“….sama Fara. Kan aku sudah bilang.”

Pandangan Opal masih lurus kedepan, kearah jalanan. Tapi dijawabnya lagi pertanyaan Kinnara,

“Tidak. Kamu tak bersama Fara. Kemarin Fara bertemu aku di toko buku, dan dia bersama Bimo, bukan kamu.”

AC mobil mendadak lebih dingin bagi Kinnara.

Opal lagi-lagi tahu. Ia tahu kemarin Kinnara jalan berdua Gamal, senior Kinnara di kampus.

“Gamal cuma teman! Dia hanya…..,”

“Tak ada teman yang merangkul dan mencium pipi dengan mesra seperti itu, Kinnara. Jangan bodohi aku lagi.”

Suasana dalam mobil kian tak enak. Dingin AC semakin membuat beku. Tak sekalipun Opal melihat ke arah Kinnara yang tertunduk di sebelahnya.

Kinnara tak bilang maaf. Kinnara tak merasa bersalah. Kinnara sebenarnya tak peduli sekalipun Opal mengetahui ia dan Gamal kemarin pergi ke café dan mereka berangkulan mesra.

Kinnara diam hanya agar Opal tahu bahwa Kinnara merajuk. Ya. Aneh bukan? Jelas-jelas bersalah namun masih merasa berhak merajuk. Entah apa yang diharapkan Kinnara lagi dari Opal. Permintaan maaf? Lalu apa yang diinginkan Opal darinya? Permintaan maaf? Berjanji tak akan mengulang lagi?

Bukan sekali ini saja Opal tahu Kinnara bersama laki-laki lain. Dulu ada Tio, Reza, Alfian, Jona, Felix, dan entah siapa lagi. Bahkan Kinnara sendiri tak hapal.

Memangnya kenapa? Pikir Kinnara. Bukankah dia adalah berlian? Kembang tercantik setaman? Boneka paling cantik di dunia mainan? Sudah barang tentu jika ia dipuja banyak lelaki kan? Mengapa Opal tak jua paham? Toh Kinnara adalah pacarnya. Bukan pacar dari semua laki-laki itu. Kinnara hanya suka dipuja. Memperkukuh status sebagai dewi. Bukankah Opal juga memujanya?

Dulu, ketika Opal mengetahui bahwa Kinnara pergi jalan dengan lelaki-lelaki itu, mereka bertengkar dan berujung teriakan putus dari bibir Kinnara. Namun setelahnya, ketika Kinnara menangis meminta maaf, Opal akan kembali merentang pelukan untuknya. Opal terlalu lemah dibantai cinta. Meski gadisnya tak setia.

Berkali-kali itu terjadi, namun rentang lengan dan dekap hangat Opal selalu menjadi tempat Kinnara pulang. Karena sebenarnya, tak ada lelaki lain lagi yang mencintai Kinnara seperti Opal mencintainya.Tak pernah ada. Kinnara tahu betul itu, jauh didalam lubuk hatinya. Namun semua itu tertutupi oleh rasa terbiasa. Bukankah gajah di pelupuk mata biasanya tak kelihatan? Bukankah udara yang adalah sumber kehidupan inipun tak kelihatan? Begitulah Opal bagi Kinnara. Luput dari rasa syukurnya.

Bagi Kinnara, Opal itu sebiasa program default di gadget. Memang sudah seharusnya ada. Tak mungkin tak ada, tak mungkin bisa dihapus. Apalagi terhapus sendiri. Maka ketika kalimat itu keluar dari mulut Opal, Kinnara terkejut tak percaya.

“Kita sampai disini saja Kinnara,” Opal berujar lirih setibanya mereka di depan rumah perempuan itu.

Kinnara terduduk kaku menatap ke arah Opal. Sampai disini? Bagaimana bisa kalimat yang biasanya terlontar dari bibir Kinnara itu kini berkhianat dan pindah ke bibir Opal?

“Maksud kamu….,” belum selesai Kinnara mengkonfirmasi apa yang didengarnya, Opal sudah memotong.

“Iya, Kinnara. Kita sampai disini saja. Kamu tak pernah membutuhkan aku. Mulai detik ini, hiruplah kebebasanmu sepuasnya. Tak akan ada lagi aku yang menghalangimu. Kau bebas pergi dengan siapa saja. Hampir empat tahun bersamaku, putus sambung. Kau tentu bosan, kan?”

Kinnara tertawa. Tawanya sumbang.

“Pal. Kamu yakin menyudahi hubungan kita? Kamu bisa tanpa aku? Ka…kamu…,” Kinnara berujar gagap dengan mimik tak percaya.

Kinnara lalu bergegas turun dari mobil Opal. Masih dengan tawa sumbang dan mimik muka terkejut.

“Oke kalau begitu. Kamu akan segera berubah pikiran kan? Baiklah, hati-hati di jalan, sayang,” Kinnara masih mencoba meyakinkan yang ia dengar hanya ilusi.

Opal menggeleng dari balik kemudi. Menutup kaca jendela kursi penumpang, kemudian berlalu. Lirih, tak didengar Kinnara, ia berucap pada dirinya sendiri,

“Tidak, Kinnara. Tidak akan ada lagi yang berubah, karena kamupun tak pernah berubah.”

***

Kinnara hampir terlonjak dari duduknya di kursi meja rias. Dering panggilan masuk dari smartphone-nya membuyarkan lamunan Kinnara tentang Opal dan kali terakhir pertemuan mereka.

Sudah satu minggu lebih sejak Opal menghilang tanpa kabar. Tak pernah selama ini Kinnara tanpanya. Bertengkar separah apapun pasti Opal tetap menghubunginya lagi. Memberi maaf seluas samudera, dan peluk hangat sehangat hangatnya.

Dering itu… Itu pasti Opal yang menelepon! Kinnara berdegup jantungnya. Ia rindu Opal. Ia ingin Opal. Beberapa hari tanpa Opal membuatnya agak linglung.

Namun Kinnara harus menelan kenyataan pahit bahwa telepon itu tidaklah dari Opal, kekasihnya yang hilang. Melainkan dari Fara. Sudah beberapa hari sejak pertemuan mereka di café siang itu.

Diangkatnya telepon itu dengan malas sambil merebahkan diri keatas kasur empuknya yang nyaman.

“Ya, Far? Ada apa?,” Kinnara menjawab sapaan ‘Halo’ Fara.

“Kin, kamu benar-benar sudah tidak bersama Opal lagi, ya?,” suara Fara di seberang sana penuh rasa ingin tahu. Sudah seminggu lebih sahabatnya itu dikabarkan putus dari Opal. Rekor terlama mereka putus sebelum ini adalah dua hari saja. Fara agak khawatir dengan Kinnara.

“Kenapa sih, Far?,” Kinnara menjawab dengan pertanyaan. Enggan menjawab.

“Aku tadi bertemu dia di kantin kampus, sedang makan bersama Olivia. Adik tingkatnya yang cantik dan pendiam itu, lho, Kin. Mereka terlihat mesra….,” Fara menjelaskan.

Kinnara merasa ada yang menghimpit peparu dan jantungnya. Tak sanggup ia berkata-kata. Perasaan apa ini? Kinnara tak pernah mengenalnya.

“…Kalian kan biasanya putus sebentar lalu nyambung lagi tak lama setelahnya, Kin. Aku cuma ingin memastikan bahwa Opal tidak sedang balas menyelingkuhimu…,” Fara melanjutkan lagi.

Kinnara menekan dadanya yang sesak. Lengannya gemetar. Telepon yang digenggamnya melorot jatuh keatas kasur tanpa sempat dimatikan. Di seberang sana Fara kebingungan memanggil-manggil Kinnara.

Kinnara terhuyung bangkit. Ditatapnya bayangannya di kaca besar kamarnya dengan nanar.

Opal…. Benar-benar pergi?

***

“Opal! Opaaaaal!,” Kinnara akhirnya menemukan Opal setelah mencarinya kemana-mana beberapa hari ini.

Lelaki periang itu masih terlihat tampan seperti biasanya. Dengan tshirt merah polos dan jeans seperti itu saja dia sudah mempesona.

Opal melihat kearah Kinnara. Yang membuat Kinnara terhenti sesaat ketika ia sudah berada di depan Opal yang siap masuk mobil itu adalah tatapan laki-laki itu. Dingin. Hati Kinnara  menggigil dibuatnya.

Kemana tatapan hangat penuh cinta Opal yang dulu hanya untuknya? Kemana hilangnya ceria dan semua tingkah lucu Opal yang dulu ditunjukkannya hanya untuk menghibur Kinnara? Kemana?

“Apa lagi?,” Opal tak melihat Kinnara, melainkan kearah langit dan sekitar mereka. Kemana saja asal tak menatap Kinnara.

“Kamu… Kamu kemana saja, Pal? Kenapa tak menghubungi aku? Kamu kenapa tak cari aku? Ini sudah hampir dua minggu, Pal… Biasanya kamu…,” rentetan pertanyaan Kinnara terpotong oleh Opal.

“Tak ada lagi yang biasanya, Kin. Semua sudah berakhir…,” Opal berujar pelan. Kali ini ia tertunduk bersandar di sisi mobilnya.

Kinnara muntab. Ia berseru dengan nada tinggi,

“Maksud kamu apa, Pal? Kamu gila, ya? Kamu cinta kan sama aku???! Kamu yang bilang kalau aku satu-satunya…”

“Tapi aku bukan satu-satunya, Kin! Itu masalahnya!”, Opal akhirnya menatap mata Kinnara yang kini berkaca-kaca.

“Pal… Tolong jangan begini… Selama kamu tak ada, aku sudah merenung. Aku sadar cuma kamu yang sayang tulus sama aku. Yang lain tidak. Aku tak bisa tanpa kamu, Pal… Kamu tak boleh begini… Kamu selalu janji untuk jaga aku, kan? Untuk selamanya sayang aku kan?”

Kinnara putus asa. Ditubruknya tubuh Opal. Dipeluknya seolah Opal adalah hal paling berharga dalam hidupnya. Satu hal yang baru ia sadari setelah Opal tak ada. Satu hal yang sudah diwanti-wanti Fara padanya. Satu hal yang tak pernah ia rasa hingga saat ini, Opal tak lagi peduli padanya.

Kaku, Opal mengusap rambut Kinnara. Gadis cantik yang pernah sangat dicintainya itu. Gadis jelita pujaan lelaki itu. Gadis yang selama ini tak pernah menganggap Opal ada.

“Kin… Kamu tak seharusnya seperti ini. Kamu tak pernah benar-benar mencintai aku. Kamu hanya terbiasa ada aku. Aku selama ini kamu anggap hanya sebagai orang bodoh tempat kamu mencurahkan semua kesal, tempat pulang ketika pestamu usai. Aku ini supir, jongos… Iya kan?”

Kinnara tangisnya semakin keras. Ia tersengguk-sengguk. Airmatanya membasahi bagian depan tshirt Opal.

“Kamu tak butuh aku, Kin. Cintaku utuh buat kamu. Cinta kamu mana buat aku? Aku dulu selalu percaya, Kin, suatu hari nanti akan ada saat dimana cinta kamu akan hanya buat aku. Hampir empat tahun aku menunggu tapi yang aku dapat lagi-lagi hanya cerita tentang pengkhianatan kamu…”

“Sekarang cinta aku cuma kamu, Pal! Cuma kamu!,” Kinnara berusaha berucap disela isaknya.

Opal melepaskan pelukan. Lesu masuk ke dalam mobil. Dibukanya kaca di sisinya. Diulurkannya tangan untuk mengusap airmata Kinnara yang menderas.

“Kinnara, seperti yang selalu kamu bilang, kamu memang berlian. Kamu dewi. Kamu pantas dipuja-puja.Aku harap kamu menemukan orang yang benar-benar mencintai kamu dan bisa menerima kamu. Tapi, maaf. Orang itu bukan aku…,” Opal lalu menutup kaca jendela mobilnya kemudian berlalu dengan mendung menggelayut wajahnya.

Kinnara masih tersedu ditempat ia berdiri. Menatap mobil Opal yang menjauh. Menatap ketulusan yang akhirnya menghambur menjadi abu. Menatap penyesalan yang pecah berkeping dalam genggamannya, yang sekarang tak lagi berguna.

Kinnara, dewi jelita yang dipuja itu, kali ini merasakan kosong melompong hampa di hatinya yang biasanya penuh sesak oleh berbagai nama. Tapi tangis dan sesal kini tak pernah ada gunanya.

Kinnara, baru menyadari betapa Opal sudah menempati ruang yang tak hanya hatinya, tapi juga hari-harinya, deras alir darah di nadinya, mengisi ruang kosong disela jemarinya, mengisi semua antara yang kini jelas terasa hampa baginya.

Opal pergi. Kinnara dilepas paksa, dengan penyesalan yang selaksa.

 

24 Juni 2013

@Ladibaa,

Entah kenapa nyesek sendiri pas nulis dan baca ulang cerpen ini sekaligus mendengar merdu suara Mian Tiara yang melantunkan Disapih, inspirasi tulisan kali ini.

*Disapih dalam terjemahan bebas berarti ‘dipisahkan’ atau ‘diceraikan’. Biasa dipakai untuk bayi yang oleh ibunya diberhentikan pemberian ASI-nya. Mis: Bayi itu sudah disapih ibunya. Artinya bayi sudah tak lagi diberi susu ibu.

  1. #1 by johantectona on June 25, 2013 - 5:39 AM

    aku seperti membaca cerita yang tidak asing, ini sepertinya aku kenal, ini sepertinya aku mengalaminya.. entahlah, semoga si opal bahagia dengan keputusan tepatnya :P

  2. #2 by Fina Ladiba on June 25, 2013 - 6:44 AM

    ooh jadi itu tepat yah? nyahahahahha. amin 0:)

  3. #3 by Amelia Yuwita on June 25, 2013 - 8:37 AM

    Opal deserve whats the best for him :( Screw Kinara.

    Bagus mbaa Piiiinnnnn hehehe,,, Aku memang gatau lagunya Mian Tiara, tapi aku baca ini pas sambil ngedengerin lagunya M2m dan pas banget, :P

    “Why do we never know what we got till its goneeee~~~ How could I carry on, the day you went awaaay~~~”

  4. #4 by Fina Ladiba on June 25, 2013 - 1:48 PM

    HYAHAHAHHHAHA maacih adiiiiis :3
    Tapi aku emang gak mungkin juga sih makan bakso seumur hidup~ *dikeplak Opal*

  5. #5 by okyruslan on June 26, 2013 - 5:05 AM

    Kinnaranya buat saya saja mbak, mana manaa :D
    Baca ini sambil dengerin nyanyian hati. sudah cukup, :)

  6. #6 by Fina Ladiba on June 26, 2013 - 6:29 AM

    hahahhaha emangnya mau kamu dibanyakin sama dia? :p

  7. #7 by sucilestari on June 27, 2013 - 3:40 AM

    Opal harusnya maafin Kinnara, Kinara kan gak serius *keukeuh*

  8. #8 by Fina Ladiba on June 27, 2013 - 11:14 AM

    Kaksuc #TeamKinnara banget nih. Huahahahhahah

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 plus 9?