Gajah Saja Bisa Berenang


Belakangan kepala seperti jalur rel kereta api yang saling silang di musim perjalanan. Di hari raya. Atau beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal merah. Hal-hal kecil seperti dari sisi mug sebelah mana aku akan menempelkan bibir hingga ke masalah-masalah rumit semacam sidang kolokium dua di depan mata. Semua berseliweran tanpa henti. Riuh. Padat. Ruwet.

Sementara itu, ada yang sepertinya semakin entah apa. Semacam ingatan tentang mimpi indah yang berusaha kau kejar, namun semakin kau berusaha justru semakin pudar dan hilang. Aku tak pernah mengalami sakit kepala jenis ini sebelumnya. Seperti segalanya terlalu penuh sesak dan satu-satunya yang kau inginkan adalah membelah tengkorak, memasukkan otakmu dalam sebuah bak plastik berisi air dan deterjen, kemudian merendamnya di situ agar yang tak penting bisa luntur dan otakmu jadi ringan.

Belakangan banyak orang-orang baru yang entah harus kusyukuri atau tidak, menyumbang banyak hal menyenangkan sekaligus menyesakkan. Aku tahu tak ada gunanya menyesali waktu-waktu yang jatuh teratur pada jam pasir. Aku tak tahu bahwa banyak sekali lini untuk aku bisa disukai, sebanyak kesempatanku beroleh benci. Yang jelas, hal-hal baru ternyata memang mengurangi tempat untuk yang lama. Karena tak seperti balon karet, ‘dirimu’ tak bisa memuai. Meski secara fisik mungkin mudah. Paham kan maksudku?

Aku merasa seperti seorang pemuja laut yang tenggelam kehabisan nafas ketika dipeluk pujaannya. Itulah yang dia inginkan. Mati sesak. Tapi, gajah saja bisa berenang, kan? Aku seharusnya juga.

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 + 2?