Kembali ke Kota Kerang


Selamat datang di Tanjung Balai!

img 00271 300x276 Kembali ke Kota Kerang

Ah, kau sudah kutunggu sejak tadi disini. Teh manis yang kusiapkan telah dingin. Pun bubur podas1 ini, yang langka sekali bila tidak sedang bulan puasa seperti ini. Sengaja kusuruh Unde2 Pat membuatnya khusus untukmu. Kau pasti tak menemukan yang seenak ini di daerah lain di nusantara ini. Rasanya pedas, bentuk dan rasanya mirip kari kental namun dengan potongan wortel, kentang (kadang ubi), dan daging ayam yang diiris sangat kecil. Ini enak sekali bila hangat. Begitupun teh manis ini. Teh disini khas sekali. Cokelat pekat dan manis seperti senyummu. Aduh, jangan memasang tampang seperti itu. Aku bergurau saja. Teh disini manis seperti ini sejak dahulu, konon katanya sengaja agar kita kuat bekerja seharian setelah meminumnya.

Ah sudahlah, nanti kuhangatkan lagi bila kau ingin mencicipi yang tadi kuhidangkan. Sekarang marilah ikut aku berbelanja ke pajak3. Pagi seperti ini pajak akan ramai pedagang dan pembeli. Akan kutunjukkan kau bagaimana lihaiku menawar harga. Tak jauh dari sini, hanya perlu membayar lima ribu rupiah kepada seorang abang betor4, kita sudah bisa sampai disana dalam waktu tak lebih dari lima belas menit. Jangan tercengang, kota ini memang kecil. Kau bisa saling mengenal satu sama lain dengan hampir seluruh penduduk kota jika kau mau.

Ayo naik. Kendaraan ini takkan lebih berisik dari pada betor di Medan sana. Ini hanya becak yang sepedanya diganti dengan kereta5 besar modern. Oh, sepertinya akan ada banyak hal yang membuatmu bertampang bingung seperti itu disini, tapi tenang, aku akan menjelaskan semampuku hingga kau mengerti. Disini, mobil biasa kami sebut dengan motor dan sepeda motor sudah sejak dulu disebut kereta. Lucu memang. Sudah kubilang, takkan kau temui lagi yang seperti ini dimanapun.

img 00261 300x233 Kembali ke Kota Kerang

Kulihat wajahmu terkejut ketika betor mulai berjalan, speaker di bagian depan bawah dekat kaki kita melantunkan house music bollywood bergantian dengan lagu Peterpan dan Ungu. Aku ingin tertawa rasanya ketika abang betor nya sendiri yang menjelaskan bahwa dia adalah anggota semacam paguyuban becak motor yang dinamakan ‘Begal’, alias Becak Gaul. Kamu pun mengangguk-angguk ketika kutambahkan penjelasan bahwa becak motor lebar dan ada musiknya seperti ini biasanya akan mangkal di depan sekolah-sekolah ketika matahari sudah diatas kepala, menunggu anak sekolah pulang beramai-ramai pulang menaiki becak motor. Ini memang bahaya, kadang satu becak bisa dinaiki 5 hingga 7 anak sekolah. Jangan tanya aku bagaimana mereka menyusun konfigurasi duduknya. Kreatif!

Betor melaju. Ini hari Senin, bagaimana jika kita mampir ke pasar baju bekas di seberang Titi6 Silo itu? Kami biasa menyebutknya Pajak Seken. Asal katanya mungkin dari ‘second’. Setelah melihat-lihat kita bisa berjalan kaki ke pajak. Kau mau? Baguslah. Hari Senin banyak barang-barang baru dan mereka mengobral yang biasanya mereka jual mahal. Jangan kaget jika kau melihat merk-merk mahal disana, itu asli dan harganya akan membuatmu tercengang.

11111 300x181 Kembali ke Kota Kerang

Aku selalu ingat dialogmu dengan pedagang sebuah jaket putih bersih yang terlihat baru dengan brand sportwear ternama. Sengaja kubiarkan kau menawar sendiri.

Yang ini berapaan bang?”, tanyamu sambil menunjuk jaket yang sedang digantung dibagian paling depan itu.

Cepek, bang. Asli ini. Macam masih baru pun. Kurasa tak pernah dipakek yang punya dulu. Cocok kali la sama abang ini. Tambah ganteng lah abang makeknya.7”, abang penjual berusaha meyakinkanmu.

Nggak bisa kurang ya, bang?”, tanyamu berusaha menawar

40 ribu deh”, aku menyambar. Disini biasa begitu. Kau tak usah kaget. Kita harus menawar dengan harga paling rendah dulu. Tapi jangan keterlaluan, bisa di maki nanti.

Alahmakjaaaaang, tak dapat lah dek. Bagus ini. Tak pulang modal abang nanti.8”. seperti biasa, upaya pertahanan si abang. Namun akhirnya setelah berfikir-fikir, sebuah harga yang menurutku wajar keluar dari mulutnya.

Udahlah, limpul ajalah ambil itu. Gawat kali adek ni menawar9

Lima puluh ribu deh bang aku ambil jaketnya.”, ujarmu lugu.

Aku dan si abang penjual bengong. Kemudian tertawa bebarengan melihat mukamu yang bingung.

Abah, bejayo. Lima puluh ribu lah memang limpul tu bang10

Akhirnya jaket itu berpindah ke sebuah kantong kresek hitam yang kau genggam. Ketika kita berjalan menuju pajak, ditanganmu sudah ada satu jaket sport tadi, satu jaket cokelat jeans dan satu tas kulit yang terlihat mahal. Aku tesenyum melihat wajahmu berseri-seri saat berbicara tentang prospek bisnis yang bisa kita manfaatkan disini.

Kita berjalan dibawah terik matahari sore, menatap Sunge11 Silo yang terbentang dibawah jembatan yang kita jalani. Kau begitu bersemangat ketika kujanjikan mengajakmu ke Boting Kopah yang berupa sebuah gundukan pasir lebar serupa pulau kecil yang muncul ketika laut surut yang bisa dicapai dengan naik sampan beberapa menit. Kita bisa mencari kopah disana, sejenis tiram kecil bercangkang cokelat muda. Bisa dibawa pulang dan dimasak sendiri. Tapi sebelum sore kita harus segera naik ke sampan sebelum air pasang menenggelamkan boting gundukan pulau pasir tadi. Kau juga harus tahan saat mukamu merah mengelupas. Panas sekali disana. Kapan-kapan saja, ya?

2222222 231x300 Kembali ke Kota Kerang

Pajak Bengawan12 ramai sore ini. Aku berencana akan belanja dan memasakkanmu makanan yang mungkin takkan kau temui dirumah. Wak Nina berjanji akan membantuku dengan senang hati, pun mama akan senang melihatmu makan dengan lahap dirumah kami. Kau menemaniku menawar tiga kilo kerang bulu besar-besar (ini hanya berat kulitnya, percayalah), dua kilo ikan gembung, dua kilo udang galah, sekilo sotong, sekilo buah markisa dan terong belanda. Cabai dan rempah lain sudah ada dirumah.

xx 300x218 Kembali ke Kota Kerang

Kita pesta nanti malam.”, ujarku tersenyum sambil mengangsurkan ikan laut segar-segar itu ke tangannya untuk dibawa naik ke becak motor.

Sepanjang jalan kuceritakan dengan singkat betapa kota ini dijuluki kota Kerang, kota pesisir pantai yang terik namun berlimpah hasil laut segar. Setiap tahunnya saat ulang tahun kota ini di akhir tahun akan diadakan ‘Pesta Kerang’ selama seminggu yang berpuncak di malam tahun baru. Sayang ini baru September.

Ini sudah hampir jam 5 sore namun langit masih terang. Disini langit baru akan berangsur gelap pukul setengah tujuh, ketika senja akhirnya tertelan malam dan adzan maghrib berkumandang. Sebelum itu jalan besar Sudirman yang kita lewati ini akan dikuasai para remaja yang berjalan-jalan berkeliling naik sepeda motor beramai-ramai seperti konvoi mengitari tengah kota di jalan dua arah, berputar balik lagi, begitu seterusnya sampai bosan.

img 0028 Kembali ke Kota Kerang

Jalan Sudirman ini seperti panggung. Catwalk. Anak muda yang ingin membuktikan eksistensinya, rambut baru, baju baru, motor baru, pacar baru, nge-geng, duduk ramai-ramai dipinggir jalan, adalah pemandangan biasa di sore hari kota ini. Belum lagi saat malam minggu, dan malam kamis. Mungkin kau bingung, mengapa malam kamis? Ah ya, lupa kuceritakan, anak muda disini memiliki malam-apel-semi-wajib selain malam minggu yaitu malam kamis. Aku tak pernah tahu asal usulnya namun sejak dulu sudah begitu adanya.

***

Malam ini kita gelar tikar dihalaman rumah. Langit cerah berbintang dan malam ini purnama. Sepoi angin semilir menyusup dari balik rerimbun pohon kelapa dan semak sereh seperti bersiul. Bau ikan sombam13 yang sedang dibakar wak14 Nina di panggangan membuat perutku semakin lapar. Di tengah tikar sudah terhidang semangkuk besar kaca berisi jus buah markisa dan terong belanda yang dicampur dengan tomat, sedikit wortel dan air perasan jeruk yang di jus bersama. Ini namanya jus Martabe. Jus sehat yang rasanya kecut-kecut seger ini nggak bakal kamu temuin di Jawa sana.

Sepiring risoles jumbo bikinanku yang baru digoreng terhidang dengan sepiring kecil cocolan sambel botol. Eits, itu bukan risoles biasa. Ragoutnya tadi kucampur potongan sotong (semacam cumi-cumi) dan udang tanpa kulit yang sudah diiris. Dua-duanya seafood favoritmu kan? Ini segar dan rasanya pasti lebih enak. Manis. Tak jauh dari situ mengepul sepanci kerang rebus dengan sambal kecap khas wak Nina, udang galah (udang besar) rebus, dan setermos nasi panas. Kita tinggal menunggu ikan sombam matang dan bisa mulai berpesta. Nah, itu dia sudah matang!

Berada ditengah-tengah keluargaku, dikampung halaman, adalah hal istimewa. Ada kamu beserta mereka disini adalah anugerah. Seolah rasa sayangNya mengalir langsung di setiap desir dan detakku. Iya, perasaan hangat disini. Di hati ini. Pesta malam ini kita akhiri dengan mematikan api unggun bekas memanggang ikan. Kuakhiri dengan menatap sembunyi-sembunyi wajahmu yang terpendar cahaya api unggun yang mulai padam.

xx1 Kembali ke Kota Kerang

***

Awan putih bergulung-gulung di luar jendela. Aku duduk terdiam setelah melonggarkan seatbelt. Kita baru baru lima belas menit lepas landas dari bandara Polonia. Empat hari di Tanjung Balai dan dua hari di Medan sudah kita lewati. Entah mengapa rasanya masih enggan kembali ke rutinitas Surabaya yang menjemukan. Perasaan tak enak seperti ini selalu ada saat kau dalam perjalanan kembali ke rutinitas. Rasa enggan yang sedih sekali. Apalagi beberapa hari kemarin terasa menyenangkan. Kulirik dirimu yang mulai membaca majalah. Kau menoleh menyadari kegundahanku. Menggenggam tanganku lembut dan berkata,

Iya, kita pasti balik lagi kesana nanti. Secepatnya.”

Aku mengangguk dan menyandarkan kepala ke bahumu. Memejamkan mata meresapi harapan dalam kalimatmu tadi. Iya. Akan ada perjalanan-perjalanan lain yang menanti kita didepan. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menapak kedepan. Mengejarnya.

img 0029 300x244 Kembali ke Kota Kerang

Ket.:

1 Bubur Podas = Bubur Pedas, makanan khas Tanjung Balai

2 Unde = Adik dari ibu atau ayah.

3 Pajak = bahasa Tanjung Balai untuk ‘Pasar’

4 Betor = Becak bermotor

5 Kereta = Sepeda motor

6 Titi = Jembatan

7 “Seratus, bang. Asli ini. Masih seperti baru. Kayaknya gak pernah dipake sama yang punya dulu. Cocok sekali buat abang. Pasti tambah ganteng kalo dipake.”

8Aduh, nggak bisa dek. Bagus ini. Ntar abang nggak balik modal.”

9Udah deh, lima puluh ribu aja ambil deh. Nawarnya jago banget

10Aduh gawat nih. Limpul itu ya lima puluh ribu bang

11 Sunge = Sungai

12 Pajak Bengawan = Pasar Bengawan

13 Sombam = Panggang

14 Wak = Bude, kakak dari ibu atau ayah

, , , ,

  1. #1 by Andrey on August 12, 2012 - 12:41 AM

    tertarik sma mkanannya…..

  2. #2 by finaladiba on August 12, 2012 - 12:59 AM

    nyam :9

  3. #3 by Zulfika Satria on August 15, 2012 - 12:34 PM

    Jus Martabe itu apa ya? Nice story :)

  4. #4 by fitri on August 26, 2012 - 3:22 AM

    keren bnget kk critany

  5. #5 by finaladiba on August 30, 2012 - 1:47 PM

    Zulfika Satria :

    Jus Martabe itu apa ya? Nice story

    jus martabe itu ya mix juice mbak. campuran dari markisa, terong belanda, tomat, wortel sama jeruk :p

  6. #6 by finaladiba on August 30, 2012 - 1:48 PM

    fitri :

    keren bnget kk critany

    makasih, dear :)

  7. #7 by finaladiba on September 13, 2012 - 5:53 AM

    dodod :

    Bahasanya agak gak umum tapi terdengar indah dan romantis…. Mupeng bgt abis baca ceritanya fina… #jombloGalauNgisepJempol

    ihih nih permen buat diisep mas :p
    hahahahhhahahah pujian kan ini? maacih masdooooooooood uwuwuwuwu :3

  8. #8 by finaladiba on December 20, 2012 - 12:44 PM

    Ahahaha. Makasih, Madhan :)
    Iya nih tiap baca ini bawaannya pengen pulang :D

  9. #9 by finnaladiba on January 24, 2013 - 8:12 AM

    Iya kaaak :3

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?