#KenangVakansi: Dua Pelangi di atas Perairan Waigeo


Perjalanan lain lagi melintasi biru. Sore yang lain, masih dibawah langit perairan Raja Ampat yang kali ini kelabu di beberapa titik. Iya. Fenomena hujan lokal baru kulihat jelas ditempat ini. Sebenarnya yang pertama adalah saat kapal kami baru merapat di Port of Waisai, setelah sebelumnya dua jam bertolak dari pelabuhan Sorong. Kak Lukik menunjukkan foto-foto hasil jepretannya selama nongkrong di dek belakang kapal, ketika aku terlelap selagi menonton National Geographic.

Dengan bersemangat dia menunjukkan foto hujan lokal nun jauh dari kapal yang kami tumpangi. Segumpal besar awan kelabu tampak menaungi laut di kejauhan. Rerintiknya yang berebut menyatu dengan laut mencipta semacam kabut buram antara awan dan permukaan air. Seketika aku teringat salah satu komik petualangan Doraemon dimana ceritanya ada ‘Manusia Langit’ yang sengaja menurunkan hujan badai hanya di satu pulau yang terasing di tengah laut. Hanya untuk menghanyutkan seluruh pepohonannya, seluruh makhluk di pulau itu, melenyapkan mereka tanpa sisa. Foto yang ditunjukkan kak Lukik mirip sekali dengan yang digambarkan Fujiko.F.Fujio di komik.

Kembali ke perairan Raja Ampat sore itu, sejauh mataku memandang mungkin ada sekitar tiga kawasan yang tengah diguyur hujan, termasuk kawasan di depan kami, arah kapal melaju. Rinainya bahkan sudah terasa di wajahku. Awan kelabu raksasa bergulung di depan kami. Biasanya, kalau bisa dihindari dan mencari rute lain, kapal akan dibelokkan, menghindari hujan. Tapi kali ini sepertinya kami tak punya pilihan lain dan harus melewati hujan untuk kesekian kalinya hari ini.

Pak Agus, pemilik resort yang selalu setia menemani kami kemana-mana, duduk di tempatku, menggantikan tempatnya di dek depan yang selalu kusabotase karena ingin menikmati terpaan angin dan sinar matahari hangat saat baju basah akibat habis menyelam atau habis kehujanan. Hujan masih rintik kecil halus ketika pandanganku tertuju pada semburat warna yang tiba-tiba muncul dari balik awan. Berlatar sebuah pulau hijau indah, lengkung hasil bias cahaya yang bertabrakan dengan hujan itu muncul malu-malu.

Aku terpukau dan mulai menunjuk-nunjuk, membuat seisi kapal mencari sumber kehebohanku. Pelangi itu muncul sedikit saja. Setengah lingkaran yang sedang kucari dimana ujung-ujung tumitnya berpijak. Sisanya sepertinya terlalu malu dan berlindung di balik awan. Aku masih mengedarkan pandang, meluruskan telunjuk ke langit, membuat garis lengkung maya berdasarkan segaris kecil warna yang kupikir pastilah bentuk penuh pelangi itu sesungguhnya.

Mulutku kemudian sudah sibuk mengoceh tentang legenda pelangi. Dari mulai legenda turunnya para bidadari yang kubayangkan meluncur anggun memakai tujuh selendang berbeda warna, hingga legenda leprechaun dan emas di kaki-kaki pelangi. Seisi kapal tampaknya sudah terbiasa dengan ocehanku, mereka hanya menanggapi dengan senyum. Kurasa perjalanan seharian membuat mereka lelah.

Aku masih mendangakkan kepala keatas, menunggu awan berbaik hati menyingkir sejenak agar setengah lingkaran pelangi itu tampak seutuhnya. Aku bersorak saat kemudian kaki-kaki pelangi itu mulai terlihat. Satu ujung jari kakinya menginjak sebuah pulau luas di sebelah kiriku dan ujung jari kaki yang lain menyentuh satu pulau di depan, kearah kapal kami menuju.

Saat itu pula sesuatu yang lain segera membuatku semakin takjub. Muncul satu lengkung lagi, berjarak sedikit saja dari lengkung pelangi pertama, berpendar cantik di atasnya. Pelanginya ada dua! Pelangi yang baru muncul itu mungkin lengkungnya lebih besar dari pada pelangi pertama. Seperti seorang kakak yang menaungi adiknya. Kaki-kakinya tak terlihat.

Kak! Liat deh! Pelanginya ada dua! Bagus ya? Tapi cuma tipuan optik. Imajiner. Beda banget sama matahari yang cuma ada satu. Sesuatu yang sejati harusnya emang cuma ada satu…

Aku kembali mengoceh dan kak Suci tertawa seperti maklum. Pak Agus, Erika, dan yang lain sibuk menjepret. Berusaha mengabadikan momen itu. Sayang cahaya sore tampaknya tak terlalu bersahabat dan kelabu langit menambah gelap. Pak Agus bahkan meledekku yang terlalu gembira melihat pelangi padahal pelangi bisa diciptakan sendiri saat menyiram tanaman di siang bolong. Ya mungkin buat pak Agus pemandangan seperti ini sudah biasa.

Pak Agus mungkin benar, pelangi, seperti juga kebahagiaan, bisa kita ciptakan sendiri. Tapi dua pelangi? Dua pelangi yang dihadiahkanNya dengan cuma-cuma tanpa kita harus merekayasa tabrakan cahaya dan butir air? Apakah semua yang indah itu memang cuma buatan dan….tak nyata?

Leprechaun! Bidadari! Mereka berebut turun karena di sini adalah surga bumi. Pasti begitu. Kesimpulan yang kubuat sendiri dalam diam, dibawah langit yang mulai gelap dan angin dingin yang mulai menusuk kulit. Tak usah ramai kuungkapkan saat itu karena hanya akan ditertawakan lagi.

 

 

IMG 5636 300x200 #KenangVakansi: Dua Pelangi di atas Perairan Waigeo

satu pelangi

 

IMG 5652 300x200 #KenangVakansi: Dua Pelangi di atas Perairan Waigeo

dua pelangi! lihat kan?

 

Eh, tapi hanya aku saja atau memang baru kali ini ada dua pelangi muncul di langit yang sama? Fenomena atau biasa? Keindahan yang semu itu… Pertanyaanku kemudian teredam deru kapal yang berlomba dengan senja, siapa yang lebih dulu tiba di dermaga.

 

 

, , , ,

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 times 4?