#KenangVakansi: Manta Point!


Apa itu Manta Point? Manta Point merupakan satu titik perairan dangkal dimana biasanya para manta berenang untuk membersihkan diri. Lucu ya? Kawanan manta ini akan dengan mudah ditemukan di kawasan ini dan kita bisa snorkeling dan berenang bersama mereka.

Sekitar Manta Point sedang hujan rintik-rintik saat kami tiba disana. Apa mau dikata? Namanya juga kami datang saat desember dimana musim sedang penghujan. Setelah berganti baju, memakai goggle diatas kepala dan fin, aku terseok-seok berusaha melompat turun dari boat. Pertama kali menjejak dasar aku hampir terjungkal.

Fin alias kaki katak ini membuatku tak leluasa berjalan seperti biasa di dalam air. Salah-salah langkah aku bisa terjungkal dan megap-megap di air setinggi lutut ini. Karena tak mau terlihat konyol begitu aku memutuskan berjalan mundur saja. Karena jika memutuskan tak memakai Fin aku harus rela telapak kakiku luka-luka tergores karang. Dasar perairan disini tajam-tajam sekali. Maka berjalan mundur kupikir adalah solusi yang sangat tepat.

Keputusanku ini diiyakan oleh pak Agus yang menunggu dengan sabar di boat kami.

Bener tuh, gitu. Biar jalannya nggak kejungkel. Nyampe di yang agak dalem baru renang”

Renang? No way. Rekor renangku selama ini cuma renang bolak-balik sisi kolam renang sepanjang beberapa meter saja. Itupun saat SMA dan tak pernah bisa berenang lurus. Berenang di laut? Bisa-bisa aku berenang melenceng kea rah tak terduga dan berakhir terseret ombak entah kemana. Aku memikirkan kemungkinan buruk itu sambil bergidik.

Di kejauhan Lukik melambai-lambai ke arahku. Dia sepertinya sudah biasa snorkeling. Dengan leluasa kesana kemari. Begitupun mbak Eta dan Aul. Kulihat kak Suci akhirnya menyerah dengan snorklenya dan beralih konsentrasi dengan kamera dan case anti airnya. Berusaha menjepret dari bawah air di perairan dangkal. Erika sedang terseok juga dibelakangku. Berjalan mundur. Kami benar-benar kelihatan konyol.

Sampai di perairan setinggi pinggang, aku berusaha berenang menuju Lukik. Dia mengajariku cara bernafas lewat mulut, cara menenangkan diri, cara agar bisa tetap terapung dengan santai, yang merupakan dasar-dasar yang harus kau ketahui jika ingin snorkeling. Seperti biasa, teorinya sungguh mudah. Berkali-kali aku mencoba dan berakhir dengan tersedak air asin.

Akhirnya aku hanya berpegangan dengan pelampung Lukik sambil sesekali berusaha menenggelamkan kepalaku dalam air. Ini benar-benar konyol. Ketika aku berusaha terapung dengan tenang di air dan berani melepaskan pegangan dari Lukik, aku sok berenang kesana kemari sendirian. Mencoba menelupkan kepalaku lagi dalam air. Kemudian satu teriakan kudengar. Itu pak Agus.

“Fin! Jangan jauh-jauh! Jangan Kesana!”

Aku mengangkat kepalaku dan kaget setengah mati. Kulihat sekitarku air berbias biru lebih gelap, pertanda bahwa aku sedang terapung di perairan yang cukup dalam. Degup jantungku mulai tak beraturan. Aku sendirian, jauh, tak bisa berenang. Ketika mencoba mengecipakkan kaki dan mendayung kearah yang lain, aku malah terdorong ombak semakin jauh. Panik. Aku memanggil Lukik yang berada paling dekat denganku, minta ditolong.

Lukik berenang kearahku, menarik pelampungku. Kucengkeran erat-erat pelampungnya. Wajahku beberapa kali terbenam dan tersapu kecipak air. Ketika berada di perairan yang lebih dangkal degupku mulai beraturan kembali. Aku terpingkal-pingkal sendiri mengingat tadi yang kupikirkan adalah bagaimana jika dibawahku ada hiu? Bagaimana jika tiba-tiba ada manta yang marah berenang kearahku dan aku ditampar dengan sisi tubuhnya? Aku bergidik lagi.

Aku berenang mendekat kearah boat ketika menyadari bahwa snorkelku sudah tak berada ditempatnya. Mungkin hanyut terbawa air saat aku berenang heboh saat diselamatkan Lukik tadi. Ah sudahlah. Saat itu yang aku tau aku kapok snorkel lagi.

Aku menunggu yang lain diatas boat bersama pak Agus yang terbahak geli. Dia berkata bahwa aku kelihatan panik saat diteriakinya. Padahal maksudnya bukan menakuti melainkan jika aku snorkel ditempatku tadi maka yang kulihat hanyalah air biru gelap dikarenakan aku berada di perairan yang dalam. Aku ikut terbahak.

Disebelah kiri kami, Erika, mbak Eta, Lukik dan Aul sedang diajak snorkel bersama manta oleh kak Arif, dive master kami. Aku yang berulang kali diajak berkilah bahwa snorkleku hilang. Kak Suci masih berusaha menangkap momen dengan kameranya. Belakangan dia menunjukkan foto seekor ikan kecil yang mengingatkanku pada Dory di finding nemo.

Perut yang mulai keroncongan menjadi tanda bahwa kami harus segera makan siang. Yang kusukai dari perjalanan disini adalah, kita bisa saja mampir ke suatu pulau asing yang terpencil hanya untuk singgah menumpang makan bekal yang sudah dibawa dari resort.

Maya Dream island adalah tujuan kami selanjutnya.

, , , , ,

  1. #1 by faisal abdul musin on March 25, 2013 - 10:17 PM

    Yahhhh sayang banget Finn ga snorkling?? Padahal manta itu luar biasa banget!!!

  2. #2 by Fina Ladiba on April 12, 2013 - 7:17 AM

    iyaaaa abisan pas itu snorkle nya hanyut terbawa air gatau kemana :p

  3. #3 by ayu on April 28, 2013 - 1:00 AM

    aaaahhhh kamu melewatkan hal yang paling luar biasaaaaaa hahahaha manta itu bentang sayapnya ampe 4 meter. gede banget kayak pesawat silumannya tentara AU amerika ahahhaha. trus mulutnya nga-nga lebar bisa ampe 1 meter. buntutnya panjang runcing sampe 2 meter. kalo berenang ada suara woooozzz woooozzzz

  4. #4 by finaladiba on April 28, 2013 - 1:45 AM

    ga ape ape yu, yang penting sempet ‘tos’ sama mama manta super gede pas di manta highway. disitu mantanya ada puluhan rame banget kek ikan sarden. Hahahaha. Asli keren yaaaaa itu manta :’)

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is frozen water?