#KenangVakansi: Pagi Pertama


Pagi di Raja Ampat mengirimkan cahaya matahari yang masih sangat muda masuk melalui jendela. Jam di layar ponsel menunjukkan angka 03.40 digital. Sepertinya aku lupa mengatur ulang settingan waktunya. Waktu disini jelas berbeda dua jam dari di Jawa. Disini sudah hampir jam enam pagi. Masih pusing. Sepertinya jetlag, penerbangan tiga zona waktu ditambah terapung apung di laut berjam-jam diatas feri dan boat cukup membuatku sempoyongan berjalan kearah wastafel.

Kamar yang kutempati berdua dengan mbak Eta ini berupa cottage kayu dengan dua single bed lucu berkelambu putih, perabotan kayu, dengan kipas angin (jangan berharap ada AC disini), wastafel dan satu kamar mandi dengan kloset dan shower yang langit-langitnya terbuka. Ketika pagi kau akan dengan senang hati melihat rimbunan pohon menaungi diatasmu dengan langit yang mengintip dibaliknya dan suara-suara cericit burung yang ceria. Tapi ketika malam kau akan berpikir sekian kali untuk berlama-lama duduk di kloset atau mandi sendirian.

DSCN1679 300x225 #KenangVakansi: Pagi Pertama

 

DSCN1675 225x300 #KenangVakansi: Pagi Pertama

single bed dengan kelambu yang lucu :)

 

Di cottage sebelah, kak Suci dan Erika mungkin juga sudah bangun karena terdengar guyuran air. Lukik dan Aul? Aku tak yakin. Dua tukang tidur itu jika disatukan bila ada gempa bumi pun kurasa tak akan bangun. Mbak Eta sedang menunggu giliran mandi sambil menyiapkan barang yang akan dibawa untuk perjalanan hari ini sambil memperhatikan dengan seksama lembaran kertas berisi itinerary dan jadwal perjalanan kami.

Guyuran air sejuk dari shower menggigilkan badanku, namun kesegarannya membuat melek. Setelah ganti baju dan mempersiapkan barang bawaan berupa snorkel, handuk, topi lebar dan sunblock, aku menyambar sandal jepit hijau lime-ku kemudian berjalan menuju cottage yang ditempati Lukik dan Aul yang berjarak sekitar lima atau enam meter di sebelah cottage kami.

Ombak pecah di bibir pantai. Angin berhembus sejuk. Anak-anak kucing pemilik resort, pak Agus, berkeliaran disekitar pantai. Kurasa mereka terbiasa dengan air. Cepat kulangkahkan kaki menaiki tangga cottage mereka yang memang seperti didirikan diatas karang. Bertingkat. Kubuka lebar kamar itu dan benar saja, kudapati dua laki-laki itu masih meringkuk nyaman dalam selimut.

Kubuka jendela kamar mereka lebar-lebar hingga angin laut dan cahaya matahari bisa masuk leluasa untuk membangunkan mereka.

KAK LUKIIIIK! KAK AUUUUUL! BANGOOOOONNNNNN!

Aku berteriak sambil menarik selimut mereka satu persatu. Tak bergeming, kutarik kaki mereka. Sia-sia liburan ditempat seindah ini jika dihabiskan dengan tidur hingga siang. Lagipula pagi ini kami akan mengunjungi kampung Arborek.

Kak Aul bangkit malas-malasan dan berjalan sambil setengah merem kearah kamar mandi. Setelah kupesani untuk membangunkan kak Lukik setelahnya, mereka berdua kutinggalkan. Kulangkahkan kaki ke pantai depan cottage. Pantai yang berjarak hanya sekitar tiga meter saja dari teras cottage itu berpasir sangat halus, lembut dan putih. Kakiku yang beralas sandal jepit hijau lime itu terbenam didalamnya karena berat tubuhku.

DSCN1685 300x225 #KenangVakansi: Pagi Pertama

DSCN1684 300x225 #KenangVakansi: Pagi Pertama

Aku tergelak sendirian kemudian memutuskan mencopot sandal itu dan menaruhnya diatas batang kayu mati agar tak terbawa ombak. Perlahan mulai kususuri pantai dengan langkah sempoyongan karena kaki yang seringkali terbenam dalam pasir. Rok panjangku yang kucincing keatas kini sudah tak bisa terelakkan lagi disapa oleh gulungan ombak. Basah sudah. Aku tergelak lagi.

Langkahku tak terasa menuju kaki-kaki dermaga. Anak-anak kucing tadi masih berkejaran dengan riang dipinggir pantai dalam jarak cukup aman dari sapuan ombak. Aku tersenyum. Kemudian kusadari aku tak sendirian memperhatikan mereka. Phillip, bule Jerman yang tiba beberapa hari sebelum kami di resort, tengah berdiri memperhatikan mereka juga dari atas dermaga. Dia melambai kearahku yang kubalas dengan senyum. Phillip memang jarang bicara, hal itu kuketahui setelahnya. Holger, teman seperjalanannya, lebih humble. Apalagi suami istri Steve-Ann, turis Belgium itu sungguh suka bercanda.

Selain kami berenam, merekalah tamu di resort ini. Sisanya adalah pak Agus dan bu Lusi yang merupakan pemilik resort, kak Arif sang dive master yang bertugas mendampingi aktivitas diving kami, para boat crew; kak Ahmad, kak Julian, dan para koki handal restaurant; kak Olla dan teman-temannya yang sering kami repotkan.

Ketika aku berbalik, sudah ada Erika dan mbak Eta di belakangku. Erika menggulung celananya agar tak basah, mengalungkan kamera dan menjepret sana sini. Mbak Eta dibelakangnya, berjongkok mengumpulkan kerang-kerang dan pecahan terumbu karang. Tak berapa lama pak Agus lewat dan menyuruh kami segera sarapan. Kemudian menyusul Lukik dan Aul.

DSCN1702 300x225 #KenangVakansi: Pagi Pertama

restoran. wilayah kekuasaan kak Olla :D

 

Sarapan dan kemudian Arborek!

, , , ,

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is melted ice?