#KenangVakansi : Pulau Karang Itu


Jenaka bahwa vakansi kali ini membawa banyak ‘umpama’ berputar-putar masuk ke dalam kepalaku. Setiap perjalanan, persinggahan, setiap jauh pandangan, setiap langkah kaki dan gulungan ombak yang terbelah deru kapal, memunculkan banyak cerita. Melompat-lompat bahkan tersungkur dari kepala jatuh ke hati. Mungkin pula sebaliknya.

Suatu ketika, pada perjalanan kembali ke resort setelah seharian berkenalan dengan ombak dan bergulung bersama pasir pantai Mios Koon, aku melihat dua pulau karang layaknya mengapung di lautan biru cantik yang berbias toska dari laguna disekelilingnya. Jauh. Nun jauh di pandangan, ketika kapal melaju, disaat pertama pandangku jatuh, dua pulau karang itu seolah menyatu. Harmonis. Indah. Namun semakin cepat kapal melaju, semakin kupandangi, semakin terlihat mereka dari sudut yang sama sekali berbeda dengan sudut pertama mereka tertangkap mataku.

Dua pulau karang yang tertutupi rimbunan hijau pohon itu ternyata tak menyatu, bahkan tak dekat sama sekali. Jarak mereka mungkin puluhan meter satu sama lain, kuterka. Aku sedikit kecewa sebenarnya. Tanpa tau alasan mengapa. Langit sore kala itu menyisakan sedikit kelabu. Gerimis bahkan masih menangis tipis-tipis dibalik semburat biru langit dan laut yang bertabrakan. Aku merenung. Duduk diam membiarkan tubuhku berguncang sesekali ketika kapal kami dihempas ombak.

Kala itu, entah mengapa ingatanku menuntun menuju satu sosok yang sebenarnya tak pernah ingin kukenang-kenang. Dua pulau karang. Menjulang indah dibawah langit biru cerah. Kokoh diantara ombak dan pasir yang berdansa tak kenal lelah. Harmoni. Menyatu. Apa yang lebih serasi dari mereka? Mereka. Aku. Dan dia.

Aku dan dia. Sebuah cerita lama. Perlu usaha menggalinya keluar dari ingatan. Kami. Seperti dua pulau karang yang kuamat-amati hingga kapal berbelok arah, ketika pandanganku terhalang oleh pulau-pulau karang lain yang tersebar di seluruh perairan Raja Ampat yang laksana surga.

Kami begitu serasi. Setidaknya begitulah yang dikatakan orang-orang. Kedekatan kami mengundang decak kagum. Keakraban layaknya sahabat sejak kecil. Kemesraan layaknya kekasih. Kesamaaan minat. Perbedaan yang dengan ajaibnya saling melengkapi dan menghasilkan kebahagiaan bagi orang lain.

Kami tentu sedekat itu kan? Kami tentu seakrab dan semesra itu kan? Kami tentu saja semengagumkan itu kan? Serasi. Pantas menjulang dan bersinar bersama.

Sayangnya harus kukatakan, tidak.

Sesungguhnya aku pernah berbohong pada diriku sendiri, seperti yang tanpa sadar telah aku, kami, lakukan selama ini di depan semua orang. Kami memang dekat. Kami memang dekat. Kuucap berulang kali seperti mantra yang hampir saja menguasaiku. Menutupi kenyataan yang sebenarnya. Aku dan dia, tak pernah bermaksud menipu siapapun. Persepsi orang lain entah bagaimana meraksasa, berubah menjadi sosok sutradara diktator yang pelan-pelan mengatur ‘akting’ masing-masing dari kami. Aku dan dia.

Sebenarnya kami tak pernah benar-benar sedekat seperti yang kelihatan. Social media, pertemuan-pertemuan di depan umum, dialog dan obrolan dengan teman-teman, dimanapun yang melibatkan tak hanya kami berdua, kami akan terlihat akrab, kompak, dekat. Namun ketika hanya ada aku dan dia, saat itulah topeng yang kami kenakan tanpa sengaja pelan-pelan luruh dengan sendirinya.

Kami berubah menjadi aku dan dia. Aku yang berbicara dengan kaku dan sungkan kepadanya. Dan dia yang berbicara seperlunya kepadaku. Begitulah kami. Begitulah kami yang kadang membuatku lelah sendiri.

Aku yang memandangi dua pulau karang bisa diibaratkan seperti orang sekitar kami yang sedang memperhatikan aku dan dia. Namun hanya pada satu sudut yang jauh. Jauh sekali. Maka seperti dua pulau karang itu, aku dan dia akan terlihat indah, seperti persangkaan mereka. Dua yang menyatu dalam harmoni.

Berbeda dengan orang-orang yang mengenal lebih aku dan dia. Memandang kami dari sudut lain, yang lebih dekat. Seperti ketika kapal yang membawa pandangku menangkap jarak antara dua pulau karang yang begitu nyata. Jauh. Mereka akan menyadari bahwa sebenarnya kami jauh. Aku dan dia. Jauh yang dekat. Atau dekat yang jauh. Entahlah.

Senja turun. Langit terselubung selendang kuning jingga. Kapal melambat. Merapat di dermaga. Aku mungkin masih akan terduduk menung dalam ingatan-ingatan dan pikiran yang berputar-putar dalam kepalaku kalau kak Suci tidak berbaik hati menyenggol bahuku sambil lalu ketika dia akan melompat ke dermaga.

Udaaah. Kenangan mah dilarung di laut aja.

Senyumku mengembang dan tawaku mendadak keluar dengan lepas. Aku menyusulnya melompat menuju dermaga.

Kak, ntar abis makan malam kita liat bintang lagi, yuk!

Dia melirikku sekilas saja, tanpa menjawab. Tapi tawa kami meledak bersamaan lagi. Sama-sama mengerti bahwa malam-malam dengan ritual melihat langit berbintang di dermaga resort tak akan pernah bebas dari kegalauan. Kali ini juga, sepertinya.

 

tumblr ma7b93FgeN1rdhkg5o1 500 300x210 #KenangVakansi : Pulau Karang Itu

gugusan pulau karang raja ampat

, , , , ,

  1. #1 by sucilestari on March 19, 2013 - 1:21 AM

    Nangis darah nih baca seri kenang vakansinya, kembalikan aku ke Waigeo dan dermaganya, heuheue

  2. #2 by Fina Ladiba on March 19, 2013 - 4:28 AM

    AKU JUGAAA :'((((

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 + 7?