#KenangVakansi: Si Mungil Pygmy Seahorse!


Langit sudah gelap di Waigeo. Hampir pukul tujuh malam dan perutku mulai ribut minta diisi. Sehabis mandi sore tadi aku terlalu lelah sepertinya hingga melewatkan satu senja yang biasanya kusambut di dermaga. Kombinasi lelah dipaha akibat berjuang menaiki puncak Wayag untuk menikmati keindahannya dari atas, yang digabung dengan rasa nyaman ketika kepala dan badan yang setelah diguyur air segar segera dipeluk baju hangat dan selimut, menerbitkan kantuk tak terkira yang menggelayuti mata. Hingga lapar memaksa menyeret langkah menuju resto yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari cottage.

Bau harum masakan kak Olla dan bu Lusi membuat laparku semakin tak sabar. Di resto ternyata sudah ramai. Aku dan mbak Eta mungkin yang terakhir makan. Lukik dan Aul sibuk mengunyah sambil menatap lekat layar laptop yang menampilkan film Lord of The Ring. Erika tak ada. Mungkin tertidur dikamar karena kelelahan. Kak Suci sedang khusuk menyantap makanannya sambil sesekali memencet tombol-tombol di BBnya. Oh, iya, sudahkan aku cerita bahwa satu-satunya dari kami yang bisa apdet rutin di sosial media hanya kak Suci? Iya. Karena cuma dia yang menggunakan provider Telkomsel.

Ann, Steve, Holger, Philip, Pak Agus dan Kak Arif berkumpul di meja seberang kami. Seperti hari-hari sebelumnya, Ann akan mereview seluruh hasil jepretan underwater saat diving nya pada malam hari. Mereka semua sepertinya telah selesai makan malam.

Selesai makan, mbak Eta memutuskan kembali ke kamar dan langsung tidur dan sepertinya begitu pula yang dipikirkan dua cowok yang lelah menonton Lord of The Ring itu. Setelah mengambilkan makanan untuk Erika, kak Suci kembali ke resto dan aku yang belum kenyang beranjak membuat segelas oatmeal dengan susu cokelat. Kamipun bergabung di meja seberang.

Hasil foto Ann bagus-bagus. Mereka pasti seharian tadi diving di Manta Point, kawasan laut Raja Ampat yang memang adalah ‘sarang’ buat puluhan manta raksasa. Salah satu spot diving favorit para divers. Selain kawanan manta yang berenang anggun, koral dan pemandangan bawah airnya juga lebih menakjubkan ternyata.

Hasil foto Ann ini tampaknya membuat gemas Holger dan Phillip. Pasalnya dua turis Jerman yang ganteng-ganteng ini tak dibolehkan diving disana. Selain harus ada sertifikat, kamu juga harus berpengalaman diving minimal dua puluh kali. Begitu yang diwanti-wanti Steve sambil tertawa menggoda kearahku yang bahkan snorkeling saja masih takut-takut.

Foto-foto Christmas Tree (semacam tumbuhan putri malu, tapi ini dalam laut), ikan-ikan berwarna warni, manta-manta raksasa yang berenang melewati mereka seperti seorang nyonya gemulai, kawanan clownfish, koral warna-warni, nudibranch dengan warna menyolok, hingga sesuatu yang menurutku terlihat seperti kipas raksasa, semua kami lihat dengan seksama dan terkagum-kagum.

Benar saja. Sesuatu yang kubilang kipas raksasa tadi memang benar bernama Seafan. Warnanya putih kemerahan sehingga semburat merah jambu. Ann dan Steve sibuk men-zoom foto-foto seafan itu. Apa yang mereka cari? Holger, Phillip dan yang lain kulihat juga memperhatikan dengan seksama. Kusuap sesendok oatmeal kental kedalam mulut sambil ikut memperhatikan. Siapa tau kutemukan sesuatu yang mereka cari-cari.

Beberapa saat kemudian Ann akhirnya berseru,

Ah! Look! That’s the pygmy!

Mataku mencari-cari kearah telunjuk Ann. What pygmy?

Semua mendesah kagum, tinggal aku sepertinya yang belum menemukan this ‘wow so adorable’ pygmy lalala. Kudekatkan lagi wajahku hingga akhirnya si pygmy ini ‘mewujud’. Wow! A seahorse! Kuda laut paling mungil dan cute yang pernah aku lihat. Aku langsung mahfum mengapa kalau tak jeli betul, maka si lucu ini bisa saja luput dari pandangan.

This pygmy seahorse ‘berpenampilan’ hampir identik dengan seafan tempatnya ‘bertengger’. Putih dengan bulatan-bulatan pink kemerahan. Menyaru dengan sempurna! Terlebih ukurannya yang sangat mini, paling mini dari jenis seahorse lainnya di dunia. Kalo tak seksama memperhatikan, agak susah menemukannya dengan kamuflase yang sempurna itu. Subhanallah ya :D

Kutinggalkan mereka yang masih melihat-lihat foto lewat laptop Ann dan beranjak ke meja lain sambil membopong salah satu ensiklopedi yang memang disediakan di resto untuk dibaca-baca. Ada beberapa ensiklopedi, buku dan majalah yang rata-rata membahas kehidupan laut, diving dan keindahan Raja Ampat. Yang kubopong ke mejaku adalah ensiklopedia tentang ikan. Berbagai jenis ikan. Seahorse termasuk ‘ikan’ kan?

Pertanyaanku itu terjawab saat aku menemukan keterangan tentang berbagai jenis seahorse yang ada di dunia. Astaga mereka cantik-cantik sekali. Kutemukan si pygmy diantara mereka. Hippocampus Bargibanti. Kecil dan menggemaskan! I think I’m in love with this cute seahorse. At the first sight! Haha.

Kembali ke kamar masing-masing, aku melanjutkan rutinitas mencatat poin-poin penting tentang semua pengalaman seharian di buku catatan kecil yang memang kubawa sengaja. Mbak Eta sudah terlelap sejak tadi sepertinya. Selesai menulis, kulirik DiveMagz di nakas. Ah, ya. Aku tadi menemukan majalah ini di kamar kak Suci dan Erika dan kebetulan topik yang sedang dibahas adalah Pygmy Seahorse. Yeiy!

Pygmy seahorse adalah salah satu favorit para penyelam sepertinya. Menemukan mereka diantara seafan besar yang bergoyang anggun mengikuti gerak air adalah kepuasan tersendiri. Mengabadikan mereka melalui kamera apalagi. Ukuran mereka yang hanya berkisar antara 14-27 mm (perkiraan termasuk ketika ekor mereka yang bergulung itu diluruskan) sepertinya menjadi tantangan tersendiri. Kecil dan tersamar sempurna.

pygmy 300x225 #KenangVakansi: Si Mungil Pygmy Seahorse!

pygmy seahorse!

 

 

pygmy seahorse 300x225 #KenangVakansi: Si Mungil Pygmy Seahorse!

perbandingan ukuran pygmy seahorse dengan telapak tangan (underwater.com.au)

 

Yang lebih menarik dari kuda laut mini ini adalah kisah cintanya. Aih. Bahkan  kuda laut pun punya kisah cinta, ya? Haha. Makhluk mungil ini ternyata penganut monogami. Pemegang prinsip ‘..till death do us apart’. Janji setia yang ironisnya banyak diingkari makhluk bernama manusia. Mereka hanya akan ‘mencintai’ satu pasangan seumur hidupnya, jodohnya. Bila salah satu dari mereka mati terlebih dahulu, akan susah bagi mereka buat ‘move on’, mencari pengganti. Seringnya akan sendirian hingga mati atau stress hingga warna kulitnya berubah karena sedih. So sweet kan? :’)

Dengan kisah cinta semengharukan itu, fisik semungil dan semenggemaskan itu, mata lugu dan warna yang manis itu, pantaslah jika Pygmy Seahorse ini diidolakan para penyelam dan penikmat keindahan bawah laut. Sehingga mereka menjaga, ketika melihat, atau mengambil gambar lewat kamera, diupayakan agar tidak mengganggu atau menakuti si kecil ini. Blitz kamera bahkan bisa membuat mereka terganggu dan stress.

Aku menutup majalah, merapikan catatan, menutup kelambu tempat tidur. Sudah jam setengah satu dini hari. Debur ombak mulai sayup. Aku hafal saat ketika suasana terlalu sepi dan debur ombak hilang dari pendengaran. Sebentar lagi lelapku pasti datang.

Konsep setia para pygmy seahorse ini mengagumkanku. Sama seperti haru saat mengetahui bahwa kelinci bisa mati karena kesepian dan ayah kuda laut lah yang ‘mengandung’ anak-anaknya. Para lelaki pygmy seahorse, para ayah yang penyayang dan setia. Manis, ya?

, , , ,

  1. #1 by sucilestari on March 19, 2013 - 1:17 AM

    Lengkapi dengan foto dong Piiiiin :D

  2. #2 by Fina Ladiba on March 19, 2013 - 4:32 AM

    udaaaaaah. walaupun tidak memuaskan. muhehe

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?