Mau Jadi Apa?


419743 267987019997967 868326147 n large 225x300 Mau Jadi Apa?

 

Suatu malam di musim penghujan. Aku berguling dalam selimut tebal. Hujan diluar sana bertambah deras. Kamarku remang, sedikit cahaya masuk dari pintu kaca yang tertutup tirai transparan. Dianugerahi imajinasi seluas jagat, susah buat pikiranku untuk nggak melantur kemana-mana. Dari mulai otomatis mirip-miripin siluet pepohonan yang jatuh menjadi bayangan di lantai kamar sebagai beragam makhluk, hingga membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku mendadak teriak nyanyiin Titanium-nya David Guetta dimalam buta begini. Hingga akhirnya aku sampai pada suatu titik munculnya pertanyaan yang membuat kantukku urung datang. “Aku mau jadi apa?”

Fina kecil punya banyak cita-cita. Pernah suatu kali, di usia empat tahun, dini hari di dapur rumah kami. Mama dengan piyamanya sedang terkantuk mengaduk air hangat dan susu digelasku yang bergambar Hello Kitty sambil setengah menguap. Aku menunggu susu hangat itu siap kuminum sambil duduk dikursi meja makan, memeluk boneka Micky Mouse. Memainkan telinganya, sesekali mengajaknya berbicara. Kemudian pertanyaan itu datang,

Ma, Inong ntar kalo gede mau bikin orang-orang seneng. Kalo jadi pramugari bikin orang seneng, nggak?

Yang kuingat waktu itu mama selesai mencicip susu agar tak terlalu panas untukku, kemudian mengahampiriku di meja makan. Aku menerima gelas yang disodorkannya kemudian meminum susu hangat itu dengan semangat. Iya, kebiasaan lapar ditengah malam ternyata memang tabiatku sejak kecil.

Inong mau jadi pramugari?,” tanya mama sambil tersenyum.

Aku mengangguk kemudian melanjutkan, ” Iya. Abis pramugari kan cantik, tiap hari jalan-jalan keliling dunia. Asyik banget. Tapi Inong juga mau jadi penyanyi kayak mama. Mau jadi tukang gambar yang gambarnya baguuuus kayak ayah. Trus mau bikin buku dongeng tebel buat anak-anak juga. Kalo kayak gitu namanya Inong mau jadi apa, ma?

Mama sudah tertawa sejak kalimat pertama muncul dari mulutku.

Kalo gitu jadi pramugari bersuara bagus, pinter gambar dan jago nulis aja!“, ujar mama sambil mengusap rambutku.

Aku terdiam. Berfikir.

Ya pokoknya Inong mau jadi yang bikin orang-orang seneng aja deh,” pikiran itu muncul dikepalaku kemudian. Cukup panjang soalnya kalau menjelaskan secara spesifik cita-citaku pada bu guru, pikirku waktu itu.

Yang pasti Inong juga harus seneng, sayang,” mama mengambil gelas susu yang sudah tandas kuminum kemudian menggandengku untuk menggosok gigi lagi sebelum kembali tidur.

Cita-cita jadi pramugari masih kupertahankan hingga SMP. Perlahan kusimpan sejak tinggiku tak kunjung bertambah, minus mata bertambah, dan berbagai faktor lain. Pikirku, aku bisa keliling dunia dengan cara lain. Cita-cita menjadi penyanyi terkenalpun perlahan kusimpan rapi. Aku senang menyanyi dan hanya menyanyi untuk orang lain disaat tertentu saja. Menjadi tukang gambar sebagus ayah kini aku jalani, belum sehebat beliau tapi sedang berusaha. Menjadi penulis buku dongeng? Sedang berusaha kuwujudkan.

Malam ketika aku terfikir ‘Mau jadi apa?’ itu sebenarnya setelah pembicaraan tentang cita-cita dengan seorang kawan. Kami sepakat bahwa orang dengan bakat dan minat spesifik di satu bidang saja bisa lebih fokus untuk mewujudkan cita-citanya. Dan aku, dengan minat yang banyak ini, terpuruklah dalam krisis identitas. Aku ini sebenarnya mau jadi apa? Saat kecil cita-cita kita bisa apa saja, semau kita. Tapi diusia segini (Oh, aku nggak percaya akhirnya tiba saatnya aku mengucapkan kalimat ini), cita-cita kudu spesifik. Jadi dokter? Kuliah kedokteran, ambil spesialis. Jadi arsitek? Bankir? Insinyur? Koki? Fashion Designer? Sama.

Sialnya, hingga detik ini aku nggak pernah bisa menjawab dengan mantap, hanya dengan satu kata, ketika ditanya mau jadi apa.

Pak Ustadz di tipi pernah bilang (ya walaupun aku kalo abis sholat subuh suka ngantuk, tapi biasanya ceramah di tipi suka ‘gak sengaja’ masuk juga ketelinga), “Manusia, sebanyak apapun kekurangannya, secacat apapun ia diciptakan, pasti memiliki sesuatu untuk ia bagi kepada orang lain.”

Orang yang miskin, mungkin dia dianugerahi kesabaran. Orang cacat, mungkin dianugerahi semangat yang kuat. Tidak diciptakan dengan fisik menarik, mungkin dianugerahi kecerdasan. Kekurangan material, mungkin diberikan tubuh sehat walafiat. Bahkan ‘inspirasi’, menjadi ‘motivasi’ bagi orang lain, itupun sudah termasuk kategori ‘berbagi’.

Waktu itu, aku yang ngantuk terantuk-antuk dibalik mukena langsung terjaga. Sering orang merasa paling sengsara, paling nggak punya apa-apa, paling menderita sedunia. Orang yang bener-bener ‘kekurangan’ aja kalo ngomong gitu aku agak sebel, kalo dia masih sehat walafiat sih. Apalagi kalo yang ngerasa gitu ababil umur belasan awal yang abis diputusin pacar. Gemes! Gemes sama diri sendiri juga sih. Intinya apa? Kurang bersyukur.

Kalo kamu dianugerahi minat yang banyak, kamu jangan malah bingung sendiri. Mending mengasah bakat dan mencari peluang-peluang untuk mewujudkannya. Itu cara bersyukur paling baik. *ngomong sama diri sendiri*

Dan saat ini, tak lagi penting buatku memampatkan segudang cita-cita dan keinginan menjadi satu kata profesi. Yang penting aku bisa menyenangkan orang lain. Yang terpenting aku sendiri senang.

 

Pramugari-bersuara merdu-jago gambar-pinter nulis- wanna be,

@Ladibaa

, , , , , ,

  1. #1 by sucilestari on February 18, 2013 - 7:31 AM

    idiiih, kok bisa sih ? Minggu malem kemarin abis bbman sama lu gw juga ngomongin soal cita2 sama si irwan, hahaha. Tahu gitu kt confrence ber 3 aja Fin, hmm gue rasa gak segeneral itu loh fin, cm mau bikin orang senang, kayaknya harus lebih spesifi, karena tahu sendirilah, kita gak bisa menyenangkan semua orang …dan kadang kita harus mengorbankan kesenangan kita sendiri demi sesuatu yang kita anggap lebih berharga :)

  2. #2 by Finna Ladiba on February 18, 2013 - 9:22 AM

    Muhahah. Boleh kapan-kapan conference lagi :3
    Ya maksudnya nggak ‘semua orang’ juga kali kak, lebih tepatnya ‘nyenengin orang’. Ngorbanin kesenangan demi sesuatu yang kita anggep berharga? Sering udahan kak. Makanya pengen bikin seneng orang-orang yang anggep kita berharga juga kayaknya lebih bagus :P

  3. #3 by johantectona on February 18, 2013 - 9:41 PM

    ttp jadi wanita ya pin, jangan sampe operasi kelamin demi menyenangkan orang lain ahahaha

    mau menjadi apa? cita cita..? bagiku cita cita itu tidak hanya di dunia yang katanya fana ini, namun juga sampai di dunia yang katanya kekal…

    nah klo profesi itu ya cuman salah satu alatnya aja, bukan tujuan akhir,,,

    jadi investor aja, investor kebaikan :D

  4. #4 by johantectona on February 19, 2013 - 3:14 AM

    klo mau ke cikole sih… pasti mampir” dulu gtu di bandung, terus ketemu seseorang juga tentunya, kan ceritanya selama ini hanya ketemuan di BBM aja semenjak saat ituuuu yang sudah berlalu ahahahaha

    suciii mana suciii ahahaha, ayo dong suc lanjutin komen akuuu :p

  5. #5 by Finna Ladiba on February 20, 2013 - 7:30 AM

    Masjo apasih -________- OOT wuoy! *jitak*

  6. #6 by sucilestari on February 24, 2013 - 7:53 AM

    HUAHAHAHAHAHAHAHA.

    Gak tega gue Mas. Hahahaha.

  7. #7 by Finna Ladiba on March 2, 2013 - 10:36 PM

    Aku teraniaya gini sih jadinya yaampun -____-

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 times 3?