Mesin Drama Portabel


Hari ini teman saya, Pramita Larasati alias @kumiwh, mau tak mau harus mengakui saya sebagai perempuan dengan takdir pembawa drama. Semacam makhluk penyebar wabah atau pembawa gen penyakit turunan yang setiap saat bisa menularimu drama tanpa kau sanggup menolak dan mencegah. Ketakjuban sahabatku, perempuan cantik berkacamata itu, menerbitkan ekspresi “Apa kubilang!” di wajahku.

Semua berawal dari sebuah sore yang acak dimana aku memutuskan untuk pergi ke kampus dan mengambil berita acara kolokium dua yang kuabaikan di meja ruang baca karena sakit kepala, dua minggu yang lalu. Kumi dengan baik hati menemani dan kami memutuskan untuk ngopi cantik setelahnya. Pilihan jatuh ke Oost Koffie & Thee, kafecozy dengan interior nuansa Jawa-Belanda di bilangan Kaliwaron, tak jauh dari kampus ITS.

Karena sama sekali tak berniat untuk singgah kemana-mana, aku hanya membawa dompet dan hanya bisa mengeluh pasrah melihat batere smartphone yang tinggal sembilan persen. Mendapat tempat dengan colokan yang menganggur manis membuat semakin gregetan. Seorang ‘punggawa‘ (begitulah para pelayan kafe ini disebut) dengan perawakan sedang datang membawakan menu. Aku (lagi-lagi) memesan segelaschocolademelk soft dan Kumi memutuskan ingin minum segelas frappucino. Tak hanya itu, aku kali ini punya pesanan ekstra.

“Mas, maaf. Punya charger smartphone kayak gini nggak? Boleh pinjem?”

Laki-laki bermata sipit dengan kumis dan brewok tipis ala Rio Dewanto itu mengangguk dan tersenyum mengiyakan.

Aku dan Kumi saling lirik penuh arti lalu terkikik bersamaan. Aku paham meskipun kami tak membahas secara langsung, ia tahu betul apa yang sedang kupikirkan. Yeah, aku sudah memberitahunya bahwa pelayan di sini kebanyakan mahasiswa-mahasiswa cakep. Kumi yang doyannya sama komik serial cantik yang ceritanya tentang kafe penuh pelayan ganteng tentu saja berasa berada di surga. Impian dia tuh bikin kafe macam itu. *digetok*

Beberapa saat kemudian segelas chocolademelk dan frappucino tiba, plus chargertentunya. Aku dan Kumi tenggelam dalam obrolan yang diselingi aktivitas jempol di jejaring sosial dan aplikasi chatting masing-masing. Kadang perhatian kami beralih ke buku di masing-masing pangkuan. Rayuan maut Zarry Hendrik di genggaman Kumi, cerita Calon Arang si tukang teluh perempuan karya Pramoedya Ananta Toer di tanganku. Berjam-jam terlewat hingga akhirnya punggawa tadi menghampiriku dan dengan sopan meminta kembali charger miliknya lalu bergegas menuju pintu keluar. Kupikir pastilah shift-nya telah selesai dan pacarnya menunggu ditemui, atau hal-hal semacam itu. Tak lama setelahnya, aku dan Kumi pun memutuskan makan di luar.

Berdiri di kasir, kami berdua kebingungan. Tidak. Lebih tepatnya kami berdua, plus para punggawa Oost. Yang menjadi pangkal rupa-rupanya adalah bill kami yang sudah keluar dan terbayar. Tersangka adalah punggawa baik hati yang meminjamkan charger miliknya padaku tadi. Aku mencetuskan teori bahwa mungkin saja ia salah mengeluarkan bill dan ada orang lain yang membayar untuk pesanan kami. Di lain pihak, bill orang tersebut disangka adalah bill untuk pesananku dan Kumi. Tertukar. Mungkin saja kan?

Namun, para punggawa menyangkal. Mereka berkata bahwa yang tersisa di kafe adalah para pengunjung yang baru datang sedangkan yang lama semua telah keluar dan membayar. Tak ada sisa. Mereka mencoba menghubungi si punggawa ‘tersangka’ tadi namun tak bisa, nomernya tidak aktif karena ia ternyata tadi terburu-buru ke kampus. Ia mengambil kelas malam program magister di sebuah universitas negeri ternama kota ini. Aku beranggapan bahwa kami tetap membayar saja agar urusan beres. Toh kami tak merasa mengenal laki-laki itu jadi tak mungkin kami ‘ditraktir’. Tapi mereka menolak menerima uangku dan Kumi. Sebagai gantinya mereka memberi kontak punggawa itu. Lengkap. Nomer handphone, kontak Line, dan username Twitter. Mereka juga meminta kami meninggalkan nomer yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. Karena tak bisa dihubungi lewat telepon, aku meng-add ID Line-nya namun gagal karena koneksi internet tak stabil. Pada akhirnya aku memutuskan untuk me-mention-nya di Twittermeski hingga saat aku mengetik ini sama sekali belum ada balasan.

Aku dan Kumi terbahak terus karena kejadian absurd ini. Sepanjang jalan ia bercerita tentang betapa dia, sebelum bertemu denganku, tak pernah percaya bahwa cerita di sinetron, telenovela, atau FTV itu bisa saja benar terjadi. Bahkan cerita-cerita hidupku yang pernah kutumpahkan padanya pun ternyata masih meninggalkan jejak ragu, “Masa sih bisa gitu? Sinetron banget!”. Kali ini, ia mau tak mau harus mengakui bahwa berdekatan denganku membuatnya harus siap mengalami drama. Mendengarnya aku lagi-lagi hanya bisa tertawa.

Setiap orang yang dekat denganku hampir pasti akan mengalami kejadian-kejadian absurd seperti dalam sinetron atau opera sabun. Tak terkecuali ‘dipinjami-charger-dan-ditraktir-pelayan-kafe-ganteng’. Tidak percaya? Ah, kau sesekali harus jalan berdua denganku seharian, si Mesin Drama Portabel. *wink*.

 

P.S: Belum ada kabar dari si punggawa. Jika sudah, akan kuceritakan lagi :>

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?